
"Kemarilah"
Gao bicara sambil menggenggam erat tangan Ayana, mencoba menatap dalam bola mata indah itu yang terus merunduk karena kalut dan sedih.
Ayana masih terisak, sisa tangis yang pecah tadi belum kunjung reda.
Penyesalan jelas terpatri dihatinya, andaikan dia lebih bersabar sedikit lagi saja, tidak tergesa-gesa membuat keputusan bodoh, mungkin keadaan kemarin tidak akan terjadi.
"Sayang, lihatlah aku"
Ayana menatap dalam bola mata Gao
"Kenapa tidak bilang dari awal kalau kamu menunggu ini?"
Ayana masih terisak
"Karena aku takut lagi-lagi memberikan harapan palsu, karena itulah aku menahan nya selama 1 tahun ini, bukan kah aku selalu bilang, bersabar lah sedikit lagi hmm'?"
"Dan rupanya disini akulah yang tidak sabar dan tawakal"
Ayana kembali meneteskan air matanya
"Aku khilaf dan mulai kehilangan pegangan, sudah mulai menyalahkan Tuhan, mulai tidak percaya dengan hadiah dari buah kesabaran"
ucap Ayana pelan
"Padahal kamu selalu mengingat kan aku agar bersabar"
"Agar saling menggandeng kan tangan untuk saling menguatkan, tapi aku..."
kalimat akhir Ayana menggantung
"Aku telah khilaf"
Gao mengelus lembut wajah Ayana, dia tersenyum
"Bukankah kita hanya manusia biasa? kita tidak luput dari khilaf dan dosa? tapi masih dalam batasannya bukan? selama bukan dalam perzinahan atau khilaf dan dosa yang melampaui batasan"
"Lalu apa yang harus aku lakukan? aku, aku.."
bagaimana Ayana harus mengatakan nya?
meminta Gao menceraikan Morena? padahal pernikahan mereka baru seumur jagung? padahal jelas-jelas Ayana yang memaksakan kehendaknya.
"Apa yang harus aku lakukan?"
tangis nya kembali tumpah, tiba-tiba rasa tak rela menggelayuti diri nya.
"Pandang lah mata ku, biarkan aku bicara"
Ayana menggeleng, tidak mau menatap wajah Gao, dia sudah terlanjur bersedih juga malu dengan ke khilafan nya
"Sayang"
__ADS_1
"Gao..."
Seketika Gao terkekeh
"Kamu kalau menangis imut sekali"
"Gao .."
Tangis nya malah semakin menjadi, dia merasa kesal karena ditertawai, dia fikir kenapa Gao tidak paham soal perasaan nya saat ini.
Tega sekali.
Ayana terus menangis tidak mau berhenti.
"Biar aku bicara dulu, Coba lihat mata ku hmm"
Gao menarik wajah Ayana dengan kedua belah tangannya.
"Aku harus bagaiman?"
Dia menatap Gao masih terus menangis sesegukan.
"Aku tidak pernah benar-benar menikah dengan Morena"
Saat Gao berkata begitu, seketika Ayana terdiam, hanya tersisa isakan dalam, berusaha menatap bola mata Gao sedalam-dalamnya.
"Apa?"
Tiba-tiba cekukan nya datang
Hikh..
"Kau bilang apa?"
Hikh..
Seketika tawa Gao pecah, merasa geli melihat ekspresi istrinya.
"Gao..."
Ayana kembali menangis di sertai cekukan panjang nya, memukul dada sang suami dengan perasaan kesal.
"Aku tidak pernah menikahi Morena malam itu'
ucap Gao lagi.
"Yang menikah saat itu ahran dan morena"
"Kamu bilang apa?"
hikh...
cekukan nya tidak mau berhenti
__ADS_1
Gao terus tertawa, berusaha beranjak, mencari minuman di dalam lemari pendingin, menuangkan nya kedalam gelas dan memberikan nya pada Ayana.
"Minuman lah secara berlahan sayang"
Ayana langsung meminum nya, beberapa waktu hingga cekukan nya menghilang.
"Lalu?"
Ayana masih terisak, menatap Gao dengan perasaan berdebar-debar.
Gao melebarkan senyumannya.
"Aku tidak pernah menikah dengan Morena"
ucap Gao lagi
Seketika Air mata Ayana tumpah
"Kau hanya berusaha untuk menghibur ku"
Gao menggeleng pelan, mengeluarkan handphone nya, kemudian berkata
"Kita coba melakukan panggilan Vidio dengan mereka"
ucap Gao sambil berusaha melakukan panggilan.
********
"Berhenti lah melakukan itu Morena"
Ahran tampak kesal ketika Morena tekus meraba dadanya, naik ke atas tubuhnya lantas dengan nakal masuk ke ceruk leher nya.
"hmm"
Morena hanya ber hmm ria tanpa peduli peringatan dari ahran.
Seketika handphone nya berbunyi, tampak Gao melakukan panggilan Vidio, dengan cepat Morena mengangkatnya masih dalam posisi berguling di atas tubuh ahran.
Dia meletakkan handphone nya di atas nakas dengan posisi menyamping dan bersandar di sebuah hiasan keramik.
"Ya om?"
"Ucapkan assalamualaikum"
gerutu ahran kesal
"Ommo"
begitu menyadari siapa yang ada di balik layar, Morena langsung panik, turun dengan cepat dari atas tubun Ahran. Ahran juga dengan cepat menjauhkan tubuhnya dari Morena.
"nyonya?"
"Tan..tee..?"
__ADS_1
Mereka sama-sama tercekat, sedang kan diseberang sana, Ayana jelas terbelalak, Gao hanya mengulum senyum karena geli.