
Nimbang Bunting Adat Palembang
Untuk ritual 7 bulanan disepakati pakai adat Palembang oleh mama ayudia dan papa ardhan, persiapan jelas di lakukan sejak bulan kemarin dan semua persiapan selain mama dan kak Mikhayla anak kak eta, kak danisa dan Abang Hanif juga sibuk mempersiapkan semuanya.
Jahat memang tapi sepertinya gara-gara sibuk mengurusi soal 7 bulanan Ayana hubungan Abang Hanif nya dan kak danisa jadi lebih baik jauh dari sebelumnya.
Terlihat jelas beberapa kali sang Abang kelihatan fokus mengurusi kak danisa, bertanya apakah lelah atau tidak, kadang meminta kak danisa untuk istirahat dikamar saja bersama Ayana.
Apalagi usia kandungan kak danisa sudah masuk pada bulan lahirannya.
*******
Gao sejak semalam hanya terus menggoda Ayana, bahkan menempel tanpa henti. Tidak tahu kenapa ada secarik kekhawatiran di hatinya, seakan-akan sesuatu akan terjadi, perasaan nya sejak beberapa hari ini terasa tidak enak, gelisah dan terus-menerus merasa khawatir.
"Kenapa?"
Ayana mengerutkan dahinya saat sang suami tidak kunjung tidur sejak tadi, diliriknya jam di atas meja, sudah pukul 3.10 dini hari.
"Hmm"
Dalam posisi tiduran miring saling menghadap, Gao langsung memeluk erat tubuh Ayana, tidak tahu yang jelas dia benar-benar merasa gelisah dan khawatir.
"Entahlah, mungkin karena besok hari H nya jadi sedikit gelisah"
ucapnya pelan masih terus memeluk erat tubuh sang istri.
Ayana jelas terkekeh geli.
"Sayang ini hanya acara 7 bulanan, bukan acara pernikahan"
ucap Ayana pelan.
"Waktu resepsi kamu malah biasa-biasa saja, hmmm dasar.."
Ayana bicara sambil mengelus punggung Gao pelan.
"Bayi besar ku ternyata bisa khawatir juga"
Ayana terus bicara sambil mengelus punggung Gao untuk beberapa waktu, dia masuk ke dalam pelukan Gao sesaat, kemudian tiba-tiba mendongak.
"Mau sholat malam bersama?"
Bisik Ayana lembut.
"Masih ada waktu"
Lanjut nya lagi.
"Bisa menghilangkan kegelisahan dan perasaan khawatir"
ucapnya lagi masih mengelus lembut punggung Gao.
__ADS_1
Gao memejamkan matanya sejenak, menautkan kening mereka, kemudian mengangguk pelan.
"He em"
***********
Ayana tampak sudah duduk manis di papan pasang menggunakan pakaian adat palembang, dia sudah menggunakan Kain (sewet) yang dililitkan seperti kemben menutupi tubuh. Kedua tangan nya diletakkan di atas timbangan untuk ditimbang. Berat tangan itu yang menentukan berat sewet yang akan digunakan.
Tubuh ayana sebelum menggunakan pakaian adat sudah dibaluri dengan bedak tiga warna, yakni warna putih, merah, dan hijau. “Tiga warna ini melambangkan hidup warna-warni yang akan dijalani oleh sang bayi setelah itu baru tubuhnya dililitkan kain sewet.
Acara siraman di awali oleh sang mama, kemudian mommy Nadya, dilanjutkan oleh beberapa orang terdekat. Tiap kali siraman kain sawet Ayana akan diganti, 1 orang yang menyiram 1 sawet yang digunakan.
Gao sampai pusing melihat adat istiadat aneh yang di saksikan nya sejak tadi pagi.
Setelah itu Ayana di suap kan nasi kunyit panggang ayam setelah acara ritual selesai.
*********
Ayana tampak berguling di kasurnya setelah semua acara selesai, entah Gao kemana sejak tadi belum juga kelihatan batang hidungnya.
Sejak tadi handphone Ayana berdering tidak berkesudahan, Ayana sebenarnya cukup enggan menghiraukan nya, tapi tidak tahu kenapa tanpa sengaja dia membuka laci nakas nya sesaat dan tampak di layar muncul nama Dyah di sana.
Ayana jelas mengerutkan dahinya.
Hatinya cukup ragu untuk mengangkat, tapi Fikiran nya jelas tidak sejalan, seolah memaksa untuk mengangkat nya. Pada akhirnya Ayana meraih handphone nya kemudian mengangkat panggilan itu.
"Assalamualaikum Dyah?"
"Ya?"
Ayana tampak menimbang, terlihat raut wajah khawatir di balik wajah cantik nya
"Dimana?"
"Aku akan kesana"
**********
Sandi masih menarik keras rambut Dyah kebelakang, sebuah pisau tampak mengarah ke wajahnya, di depan Dyah terdapat layar yang menampilkan 2 gambar dimana di samping kanan tampak sang ayah yang berada di rumah sakit dipenuhi selang-selang, seorang laki-laki tampak sudah bersiap mencabut selang dari mulut sang ayah. di sebelah kiri terdapat gambar sang adik perempuan yang tengah terikat di tepi ranjang, dengan tubuh terikat dan mata tertutup, disampingnya terdapat seorang laki-laki yang siap menerima perintah.
"Pilih lah, kamu ingin yang mana lebih dulu untuk dihabisi?"
bisik sandi pelan di balik telinga nya
Dyah tampak menangis, dia menggeleng cepat.
"Telepon? atau salah satu dari mereka akan habis"
"Kau gila san, Ayana sudah bahagia dengan kehidupan nya"
"Kau.."
sandi mengencangkan tarikan rambut ditangannya.
__ADS_1
"Lepaskan selang ayahnya"
teriak sandi pada laki-laki disamping ayah Dyah
dalam hitungan detik selang nya terlepas, terlihat ayahnya kesulitan menarik nafasnya.
"Tidak, tidak sandi,jangan, aku mohon"
"Kalau begitu telepon dia Sekarang"
seketika air mata Dyah tumpah, dia menerima telpon sandi dengan tangan bergetar.
"Aku percayakan semuanya pada mu"
Bisik sandi sambil menyeringai lantas tertawa terbahak-bahak.
"Kau memang perempuan yang baik"
Bisiknya lagi sambil mencium wajah dyah dalam sambil menyeringai senang dengan wajah mengerikan penuh kesenangan.
*******
Seketika Ayana menyadari sesuatu, dia mundur beberapa langkah saat tahu siapa yang ada dihadapannya.
"Hallo Nyonya Gaohan"
"Kau.."
suara Ayana tercekat
"Lama tidak berjumpa, sayang"
********
Catatan \=
Tradisi Palembang 7 bulanan
Nimbang Bunting
Upacara sacral ini terdiri dari dua kata yaitu,
nimbang diartikan suatu kedekatan bathin antara si ibu dan sang janin, ikatan bathin ini akan semakin terasa apabila disebutkan kalimat-kalimat thayibah.
Sedangkan kata bunting berarti telah terbentuknya seorang manusia dalam rahim sang ibu, yang saat ini sudah memasuki usia 7 (tujuh) bulan.
Itulah sebabnya upacara nimbang bunting dilakukan pada usia kehamilan memasuki 7 bulan yakni sebagai ungkapan rasa syukur kehadirat Allah SWT atas karunia yang diberikan kepada keluarga yang baru menikah berupa kehamilan yang sudah berusia 7 bulan. Dalam ungkapan rasa bersyukur ini juga dimohonkan doa-doa kehadiran Allah SWT kiranya diberikan keselamatan, kemudahan dan kesehatan bagi si ibu dan sang bayi sampai saatnya tiba untuk melahirkan serta terhindar dari pengaruh roh-roh halus yang akan berbuat jahat. Karena sarat dengan nilai-nilai spiritual keagamaan sebagian masyarakat Pelambang masih mencoba melaksanakannya. Ini juga sebagai upaya masyarakat agar nilai-nilai budaya lama tetap lestari jangan sampai hilang begitu saja.
Satu minggu sebelum pelaksanaan upacara disiapkanlah perlengkapan yang akan dipergunakan, termasuk mencari pemimpin upacara.
Yang perlu disiapkan adalah : ruang tengah untu para ibu yang hadir, ruang belakang untuk memandikan si ibu dengan kembang 7 rupa, kamar untuk si ibu berhias. Sarana pelengkap terdiri dari : busana pengantin, lamat kecik songket, tapak sari angkutan, nasi ketan kunyit, panggang ayam, jambangan, sewet batik, bedak tiga warna, beberapa jenis puding, beberapa jenis jamur, batang penumpung tujuh potong, buyung kecik, nasi gemuk, telor bebek rebus, buyung besar, kembang setaman, papan pesaung, sewet telasan, sewet salinan, air bersih, kitab munakib syekh Muhammad Saman, stoples besar, lehar, AlQuran dan surat Yasin, dogan, dan parang. Masing-masing bahan di atas mempunyai makna, seprti air khol diyakini dapat dijadikan obat berbagai penyakit, termasuk untuk ibu-ibu yang belum dapat keturunan.
Acara dimulai dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Quran, surat Yasin dan doa-doa.
__ADS_1