
Setelah usai melaksanakan sholat subuh bersama, Ayana tampak berdiri didepan beranda kamar yang menghadap langsung menuju ke Cakrawala, warna langit masuh sangat gelap, Gao secara berlahan berjalan mendekati dirinya kemudian memeluk pinggang Ayana, sedikit berjongkok karena mengimbangi tubuh mungil sang istri.
"Kenapa?"
Ayana buru-buru menghapus air matanya, menggeleng pelan masih terus menatap ke arah depan.
"Maafkan aku"
ucap Gao pelan
"Masih belum bisa membahagiakan kamu"
Ayana menggeleng cepat lantas dia menunduk dalam, kemudian berusaha untuk mendongak sejenak.
"Akulah yang tidak bisa membahagiakan kamu Gao"
Suara Ayana terdengar sayup dan senduh
"Tidak sayang, semua hal yang kamu berikan jelas adalah sejuta kebahagiaan dalam hidup ku, tanpa rasa kurang sedikit pun"
Gao bicara sambil mengelus lembut tangan Ayana
__ADS_1
"Semua akan baik-baik saja hmm"
"Kita tidak pernah tahu rahasia Allah kan? bahkan siapa tahu besok kita sudah tidak membuka mata kita lagi, sama perihal nya kiamat, bahkan kita tidak pernah tahu kapan itu akan terjadi"
"Jadi Kenapa kita harus khawatir sayang?"
"nikmati saja, anggaplah kita tengah berada di titik paling terendah dalam hidup kita, satu hari ketika Allah memberikan apa yang menjadi harapan kita, membuat kita ingat dan tidak menjadi sombong"
"Suatu saat kita akan ingat tiap moment berharga nya, kita akan tiba-tiba merindukan nya"
Ayana mengangguk pelan
"Aku tidak setegar diri mu,Gao"
"Itulah fungsi sebagai pasangan, saling mengingatkan, saling menguatkan dan saling melengkapi hmm"
"Jika kita sama-sama jatuh dan tumbang akan jadi apa pernikahan kita? andaikan kita sama-sama tegar dan kuat bukankah akan terlihat tidak adil untuk kebanyakan orang?"
"Kita diberikan Rizki yang berlimpah, kebugaran dan kesehatan luar biasa, bisa mendapatkan apapun yang kita inginkan, lalu Rizki anak-anak yang berlimpah, apa kata orang-orang yang dilanda ujian kemiskinan? yang dilanda ujian kesusahan? alangkah tidak adil nya hidup bagi mereka bukan?"
"Karena pada hakikatnya tidak ada kehidupan yang sempurna didunia ini"
__ADS_1
"Allah itu adil sayang, dia selalu tahu apa yang terbaik untuk umat nya"
Gao mencium lembut puncak kepala Ayana untuk waktu yang begitu lama, terus mempererat pelukannya.
"Kita akan mengikuti program janin dari orang yang sudah meninggal seperti kata profesor john, dibalik berhasil atau tidak, sebaik-baik nya pengatur hanyalah Allah, kita hanya boleh berdoa dan berusaha"
"Kita akan ke Jepang bulan depan, tetap sesuai rencana awal, melakukan bulan madu yang tertunda"
"Berjanjilah pada ku sayang, seandainya kesabaran Kita kali ini pun masih tidak membuahkan hasil, jangan lagi mengungkit soal anak-anak, aku sudah ikhlas sejak lama"
"Tidak ada lagi permintaan untuk mendatangkan orang ketiga, tidak ada lagi pemaksaan"
"Ingatlah sayang, mungkin ini adalah karma atas kelakuan buruk ku dimasa lalu, yang selalu tidak menghargai mahkluk yang dipanggil perempuan, lupa kalau mereka punya hati, seenak hati mempermain kan mereka, mendapatkan mereka kemudian mencampak kan mereka"
"Bukankah kita tahu,tingkah laku buruk akan mengakibatkan sebuah keburukan juga"
"Bukankah kamu sendiri pernah bilang dulu, karma ada lah perihal timbal balik yang lamban laut akan berbuah sesuai waktu nya"
"Demi Allah aku tidak akan pernah menyesali nya jika kita masih gagal mendapatkan buah hati dari diri kita sendiri, kita akan mengadopsi anak-anak setelah kembali ke Indonesia hmm"
"Jadi jangan menangis lagi, aku paling tidak bisa melihat mu menangis sayang"
__ADS_1
"Jangan lagi menyalahkan diri mu, karena bisa jadi sesungguhnya Allah sedang menghukum ku melalui kamu sayang"
Gao kembali memeluk erat tubuh Ayana, begitu dalam dan penuh cinta.