
Setelah kemarahan nya kemarin malam tiba-tiba Abang Hanif tidak pulang, Ayana merasa agak heran, bahkan hingga malam nya lagi pun sang abang tidak pulang juga ke rumah mama, padahal Abang Hanif tahu hari ini keluarga hillatop datang ke kediaman utama Abimayu untuk membicarakan pernikahan.
"Abang kamu ini kenapa aya? kok belum juga nongol dari tadi?"
sang mama Ayana, Ayudia tampak bicara sambil membantu bik Ning membereskan sisa sarapan pagi. dia adalah istri ardhan wanita bertubuh mungil sama seperti Ayana dengan wajah cantik yang masih terlihat sangat awet muda.
"Sudah ditelpon ma?"
Ayana bertanya pelan
mama nya Tampak diam sejenak, kemudian menjawab
"Sudah,malah nggak di angkat"
Ayana tampak diam, mencoba membantu menyusun piring yang sudah bik Ning cuci
"hape mama bunyi, itu Abang mungkin"
Ayana bicara cepat
"Angkat gih"
Ayana menggeleng
"Mama saja"
jelas dia takut kalau Abang nya yang telepon, masih teringat kejadian malam itu saat Abang Hanif menghajar Gao Beberapa kali
"Aya bantu bik Ning, mama angkat saja"
sang mama mengangguk, kemudian kemeja depan melihat siapa yang telepon
"Loh, danisa yang telpon"
Ayudia mengerutkan dahinya, tumben danisa keponakan bik Ning telpon.gadis cantik yang cerewet juga ceria itu berasal dari kampung, ke Jakarta buat kuliah, beberapa bulan ini kerja ditempat Hanif untuk beres-beres di apartemen nya, masak beberapa makanan untuk Hanif khusus makan malam Hanif.
ini bulan ke tiga gadis ceria itu kerja disana, herannya waktu di tanya sudah tatap muka sama Hanif belum, malah belum pernah katanya.
Bagi sang mama, Hanif agak ribet orang nya, sudah berkali-kali ganti orang yang kerja di apartemen nya, terlalu perfeksionis seperti nya. segala sesuatu malah mesti sempurna, dikit-dikit periksa bagaimana hasil kerjanya, makanan pun agak pemilih, kalau tidak cocok dilidah pasti langsung dibuang. dan Alhamdulillah setelah perjuangan panjang tiap bualn ganti pekerja, baru sama danisa ini nggak pernah buka suara.
Danisa kuliah di universitas ......... jakarta jadi sebelum Hanif bangun dia pasti sudah selesai beres-beres Kemudian keluar dari apartemen, dan sebelum Hanif pulang pasti sudah selesai kembali beres-beres dan masak Kemudian melesat pulang ke rumah kontrakan nya.
Demi menambah biaya untuk meringankan beban orang tua dia rela kerja seperti itu, karena nya mengingat kan ayudia soal perjuangan dia dulu waktu sekolah SMK sebelum nikah sama ardhan. karena itu ayudia begitu menyayangi danisa, sebab sosok anak itu bagaikan cermin untu dirinya sendiri.
__ADS_1
"kenapa Isa? kok tumben telpon mama?"
terdengar suara isakan tangis dari seberang sana
"Mama ayudia..danisa...mau... berhenti kerja di... apartemen tuan Hanif"
bahkan suara nya terbata-bata
"Kamu kenapa? di marahin sama Hanif?"
jelas saja ayudia jadi kaget
dan tidak ada penjelasan pasti yang diberikan danisa, dia hanya ingin berhenti, minta tolong jangan bilang sama Hanif kalau dia yang kerja disana selama ini
'Lah?"
tapi karena keburu keluarga hillatop datang, Ayudia kehilangan kata-kata, menyingkirkan pemikiran soal danisa dan fokus pada Ayana
********
All sedari tadi memperhatikan gadis pilihan putra nya itu, oke dia akui gadis itu memang sangat imut dan cantik, tapi yang sedikit menjadi permasalahan untuk nya adalah, Gao memutuskan untuk pindah keyakinan
"Yakin?"
anaknya mengangguk dengan mantap
"dengan keyakinan penuh, dad"
oke baginya mencinta seseorang memang bisa membuat kita gila, like father like son, seperti apa dia mencintai Nadya bisa jadi seperti itulah Gao mencintai Ayana,dan seketika dia kehilangan kata-kata.
******
seketika semua orang kembali, Ayana menaikkan alisnya saat sebuah panggilan masuk
Sandi calling
Ayana tidak berniat menggubris nya, namun sebuah pesan yang ditulis sandi meluluhkan perasaan
Biarkan aku melihat mu dan bicara dengan mu untuk yang terakhir kalinya sebelum kamu menikah, ku mohon!!!!
aku ada diseberang arah jam 9
pada akhirnya ayana melangkah juga kedepan, menemui laki-laki itu dengan perasaan enggan.entahlah firasat yang dirasakan nya sedang tidak baik, tapi demi menghargai permintaan sandi dia berjalan keluar juga menemui laki-laki itu
__ADS_1
"Bisakah kita bicara nanti? aku sedang menemui seorang teman"
Ayudia bicara lembut di balik ponselnya sesaat setelah dia melihat sandi berdiri tepat dihadapan nya, senyum manis terpatri diwajah laki-laki itu.
"Katakan lah"
Ayana bicara sedikit gusar, tampak disekitar mulai menggelep, sudah sedikit orang berlalu Lalang Begitu juga beberapa kendaraan.
"Kamu yakin dengan pilihan mu?"
Sandi bicara cepat, mencoba mendekati Ayana. tapi gadis itu mundur beberapa langkah
"Iya, InsyaAllah "
"Benar-benar tidak ada kesempatan untuk ku?"
"San, Dyah lebih membutuhkan mu"
sandi tampak diam
"Kamu harus menikahi dia"
tampak ujung bibir sandi melengkung
"As you wish"
"Itu membuat ku lega"
sandi kembali tersenyum
"Aku kembali kedalam"
sandi tampak mengangguk
Ayana kemudian mencoba membalik tubuhnya, tapi tiba-tiba dengan gerakan refleks sandi maju dan memberikan sesuatu ke arah mulut dan hidung ayana
Ayana tersentak kaget, namun dalam hitungan detik tubuhnya oleng seketika, matanya terpejam secara berlahan dan dalam hitungan detik tubuhnya masuk ke dalam dekapan sandi
"Bukankah sudah pernah aku bilang, aku bukan type orang yang gampang menyerah"
bisik sandi pelan di balik telinga nya
"Malam ini milik kita"
__ADS_1