
Sesaat ayana mencoba membuka bola matanya, samar-samar terlihat semua orang berbicara dengan panik di ujung kanan arah jam 9, entah apa yang dibicarakan tapi terlihat sangat jelas kepanikan diwajah semua orang, mommy Nadya, bibi shaikha, Nadine dan paman Ibra.
Seketika bola mata Nadya menangkap bola mata Ayana, secepat kilat mendekati Ayana.
"Semua baik-baik saja? apa ada yang sakit?"
Tanya Nadya penuh kecemasan, menyentuh wajah Ayana sambil mengelus nya lembut.
"Bagaimana dengan Lana?"
Nadya bertanya pelan
"Dia baik-baik saja, teman dan keluarga nya sudah membawa nya pulang"
Ayana mengangguk pelan, berusaha memejamkan kembali matanya, tiba-tiba dia ingat Gao, bukankah suami nya juga ikut terjun ke kolam untuk menyelamatkan dia dan Lana Lan?
"Dimana Gao?"
Mama mertua nya tampak diam sejenak
Jelas Ayana mengerutkan alisnya, tampak mulai panik.
"Dimana Gao?"
Ayana berusaha bangun dengan cepat, raut khawatir jelas terlihat di wajahnya.
"Ayana"
"Dimana Gao mommy?"
Ayana tampak panik, berusaha berdiri dan berjalan dengan sempoyongan, bibi shaikha langsung meraih tubuhnya.
"Ayana"
"Dimana Gao?"
suara nya terdengar serak, dia fikir kemana Gao, bukankah tadi mereka terjun dikolam bersama? kenapa dia tidak melihat Gao sekarang?
"Kak"
__ADS_1
Nadine tampak panik melihat tingkah Ayana yang kebingungan.
klekk..
terdengar suara pintu terbuka
"Sayang?"
Suara Gao mendominasi, masuk sambil menatap wajah Ayana dengan ekspresi bingung
"Ada apa? apa ada hal buruk?"
seketika bola mata Ayana berkaca-kaca, dengan cepat masuk ke dalam pelukan Gao.
"Aku fikir kamu kenapa-kenapa"
2 tangan Gao terangkat keatas, ekspresi nya masih bingung, kemudian dengan cepat membalas pelukan Ayana.
"Bukannya yang seharusnya khawatir itu aku sayang? kamu yang terjun ke kolam, bukan aku"
rutuk Gao, kemudian dengan gerakan cepat menggendong Ayana menuju ke atas kasur.
ucap shaikha cepat
"Aku harus kembali ke acara Sanna "
Nadine bicara cepat
"Dimana paman Ibra?"
tiba-tiba Gao bertanya setelah meletakkan Ayana ke atas kasur, menoleh cepat ke arah mommy nya
Seketika jantung Nadya menjadi tidak beraturan, pemikiran konyol hadir dalam kepalanya, dia fikir apakah Gao mulai mengingat jati diri nya? Dia bukan tidak ingin Gao mengingat jati dirinya, dia takut anak nya kembali mendapatkan masa trauma di saat kemarin, sangat sulit sekali menciptakan kehidupan baru untuk Gao, mereka berjuang dalam jangka waktu lama untuk membuat Gao bisa kembali hidup normal layaknya anak-anak yang lain. 2 tahun merupakan perjuangan panjang untuk mereka tidak mendengar kesedihan Gao, bahkan Nadya sama kesulitannya menerima kenyataan, 1 putra nya harus pergi, berganti putra yang lupa soal jati dirinya sendiri, membohongi dunia soal siapa yang pergi siapa yang bertahan bahkan membohongi suami nya sendiri.
"Ada apa?"
lidahnya kelu saat menanyakan soal itu pada Gao, dia menelan salivanya pelan, pandangan nya mencoba meneliti mata sang putra, mencari sesuatu di balik bola mata itu dalam waktu lama.
"Hanya soal perusahaan,butuh sedikit konsultasi"
__ADS_1
Gao bicara seolah mencoba menyakinkan mommy nya
Nadya menarik pelan nafasnya
"menuju ke mari, masih dalam perjalanan"
"Hm.."
Gao mengangguk pelan, semua keluar berlahan dari kamar itu meninggalkan Gao dan Ayana dalam keheningan. Sejenak Gao menatap dalam bola mata Ayana, mengelus pelan wajah nya.
"Tidurlah"
ucap Gao pelan
Ayana diam, menatap dalam bola mata Gao.
"Sayang, ada yang ingin aku bicarakan"
tiba-tiba Ayana membuka suaranya
Gao mengerutkan alisnya
"Ada apa?"
"Ini soal benang merah milik kita"
"Ya?"
Gao tercekat, menatap Ayana dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Dan Gaohan"
lanjut ayana
Seketika Gao tercekat, menatap bola mata Ayana secara bergantian.
"Sejak kapan...?"
jantung nya berdetak kencang, menatap sang istri dengan pandangan nanar, kebingungan menghantam dirinya, Seketika dia kehilangan kata-kata.
__ADS_1