Gadis Pilihan Tuan Penguasa Season 2

Gadis Pilihan Tuan Penguasa Season 2
Antara Realita dan halusinasi


__ADS_3

Tristan fikir mungkin dia juga nyaris menjadi gila karena perempuan itu, Seketika dia menjadi manusia paling panik saat membawa perempuan itu melesat menuju ke arah kota, membawanya dengan ekspresi paling mencengangkan untuk semua orang dan penuh ke khawatiran saat tiba di rumah sakit.


"Aku bilang semua yang menyentuh dan mengurus nya adalah perempuan, jangan ada satu laki-laki pun yang menyentuh atau bahkan berada di dalam"


"Tapi tuan"


"Kau berani membantah ku"


teriak Tristan penuh kemarahan


"Baik tuan Xavier"


"Kriss"


seorang perempuan Tampak mematung menatap nya, pandangan matanya tampak bingung melihat ekspresi tristan yang belum pernah menjadi seperti itu dalam seumur hidupnya.


"Dia siapa?"


Tristan mengeratkan rahangnya


"Bisakah kau tidak menanyakan hal itu sekarang, Joyce?"


bentak nya kasar


perempuan itu tampak diam, Kemudian dengan cepat menggunakan blazer putih nya Kemudian segera masuk ke dalam ruang UGD itu.


dan jelas tidak ada yang berani membantah perintah sang Tristan meskipun kadangkala permintaan nya terasa tidak masuk akal.


Waktu yang di lewati terasa cukup panjang, Tristan terus mondar-mandir di depan ruang UGD dengan perasaan begitu gelisah, bahkan dia sudah berapa kali mengubah posisi nya, dari duduk, berdiri, berjalan atau bahkan merapat kan tubuhnya ke dinding.


Tristan fikir apa yang harus dia lakukan jika hal yang buruk terjadi pada perempuan itu, fikiran-fikiran buruk terus berkecamuk didalam kepalanya.

__ADS_1


Ali hanya duduk di samping ruang UGD tanpa mengeluarkan suara apapun, kepalanya terasa begitu sakit, kebingungan melanda hatinya, antara menuruti kata-kata Tristan atau memenuhi permintaan Gao.


"Kau tahu apa yang harus kau lakukan bukan?"


sekelebat ingatan soal ucapan Gao yang bicara sambil mengacungkan pistol ke arah kepalanya malam kemarin terus terpatri jelas di ingatan nya.


Seketika pintu ruang UGD terbuka, dokter perempuan itu keluar bersama dengan beberapa dokter yang lainnya.


"Bagaimana?"


Tristan Bertanya cepat


"Apa dia begitu penting untuk mu?"


alih-alih menjawab Joyce malah balik Bertanya cepat ke arah Tristan


Bola mata Tristan tampak memerah, dia tidak suka kehidupan pribadi nya tampak di urusi


"Aku harap kau tidak lupa, jika Kau sudah bertunangan dengan Lana Lan"


"Aku tidak peduli pada gadis itu, yang aku tanyakan sekarang bagaimana keadaannya?"


bentak nya lagi


Joyce menarik pelan nafasnya


"Dia terkena hipotermia, tubuhnya nyaris membeku"


"Kami sudah mencoba menghangatkan nya, jika dia kekasih mu yang baru, kamu bisa terus berada di atas tempat tidur nya untuk bantu menghangatkan tubuhnya"


"Apa?"

__ADS_1


Tristan tampak terkejut


"Mereka akan memindahkan nya ke ruang VVIP dengan penghangat khusus, tapi bantuan penghangat tubuh orang terkasihnya itu lebih baik lagi"


"Aku hanya bingung, apakah dia milik gaohan?kau mencuri milik nya? dia mengigau nama Gao sejak awal masuk ke dalam"


"Alih-alih membutuhkan mu, dia mungkin lebih membutuhkan gaohan di samping nya saat ini"


"Aku hanya mengingatkan mu Kriss, perempuan juga punya hati, berikut nya itu urusan mu"


setelah berkata begitu Joyce dengan cepat berlalu dari hadapan Tristan.


seketika Tristan terdiam menatap punggung Joyce yang mulai menjauh, beberapa dokter tampak mulai memindahkan tubuh Ayana yang pakaian nya telah di ganti dengan pakaian lain.


Tristan mencoba mengikuti langkah mereka hingga semua selesai di persiapkan, tubuh gadis itu mulai dihangatkan dengan penghangat ruangan khusus di ruang VVIP elite room keluarga Xavier.


Tristan mencoba mendekati tubuhnya ke arah perempuan itu, menatap wajah indah itu lekat-lekat. Seperti kata Joyce nama Gao terus disebutkan dalam ketidak sadaran nya.


Tristan Mencoba semakin mendekat kan wajah mereka, tidak tahu perasaan apa itu, tapi dia benar-benar merasakan perasaan menggebu-gebu saat menatap wajah itu. Sejenak akal warasnya seakan tidak berjalan saat perempuan itu tiba-tiba kembali menggigil kedinginan, dia fikir dia ingin mencoba naik ke atas kasur itu dan memeluknya dengan cara yang hangat.


*******


Rasa dingin mendominasi tubuh Ayana, dia menyebutkan nama Gao Berkali-kali, berharap sang suami meraih tangan dan tubuhnya saat ini, hingga Terasa gerakan lembut seakan naik ke atas tempat tidurnya, suara halus Gao seakan terdengar di balik telinga nya.


"Sayang"


Iya itu Gao, Gao nya, dia berusaha membuka mata nya tapi terasa begitu sulit, dia menangis dalam diam saat terasa tangan itu menyentuh wajahnya, usapan nya terasa begitu lembut sama seperti milih gao nya, aroma tubuh yang begitu dia rindukan Beberapa hari ini yang terus menghilang entah kemana.


Ayana fikir apakah dia tengah berhalusinasi ketika tubuhnya terasa menghangat karena sebuah pelukan, bahkan ketika bibir nya terasa disentuh oleh seseorang, rasanya sama seperti milik Gao nya.


dia sangat merindukan nya, benar-benar merindukan nya.

__ADS_1


"Gao...Gao..."


Bahkan air matanya tidak mampu berhenti untuk tumpah.


__ADS_2