
"Jadi yakin akan melakukan persalinan di Prancis dari pada di Brazil?"
saat paman Ijal bertanya Gao mengangguk dengan mantap.
"Beberapa dokter baru pasti ada, tapi dokter John dan dokter Joyce jelas selalu standby di sana nantinya"
jelas paman Ijal cepat, dokter John tampak berada di panggilan Vidio dari laktop Gao.
"Brazil cuaca nya sedikit ekstrim, karena itu aku fikir sebaiknya melakukan persalinan dan operasi di Prancis saja, cuaca di sana tidak se ekstrim di Brazil"
dokter John tampak mengangguk pelan.
"Kondisi kandungan baik semua Ijal?"
paman Ijal mengangguk cepat
"Ke dua-duanya Alhamdulillah aman, sehat, baik dan cukup bergerak lincah"
Gao mengulum senyum.
"Diluar ekspektasi, kami fikir hanya satu, rupanya kembar "
rona bahagia tampak terlihat jelas dari balik wajah dokter John.
"Kalian luar biasa Gao, ini adalah pasien pertama dengan kehamilan dan kelahiran kembar"
"InsyaAllah, Alhamdulillah dok"
Gao pun jelas tidak kalah bahagia nya saat tahu baby mereka ternyata kembar.
"Sebaiknya ke Prancis jangan dalam keadaan terlalu mepet, usahakan agar kalian tiba jauh-jauh waktu"
"Kami akan pergi di awal bulan ini dokter John"
"Itu bagus"
"Kalian sudah yakin, belum ingin tahu jenis kelaminnya?"
dokter John bertanya cepat
Gao menggeleng pelan.
"Agar menjadi kejutan diwaktu kelahiran"
Gao tersenyum lebar menatap 2 dokter itu dengan perasaan yang begitu bahagia.
Yah sejak awal mereka tetap sepakat untuk tidak terlalu pusing soal jenis kelamin anak-anak, asalkan sehat, tidak kurang sedikit pun dan terlahir dengan sempurna, InsyaAllah apapun jenis kelamin nya mereka akan menerima nya.
*********
Tampak seluruh anggota keluarga menjadi cukup sibuk, mama ayudia sibuk mengepak seluruh pakaian dibantu sang bibik, kak danisa tampak mempersiapkan semua perlengkapan baby nya, Daddy mulai memasukkan satu persatu barang yang dibutuhkan ke mobil. Abang Hanif membantu Gao menyusun semua barang-barang yang sudah siap di bawa, hayat kelihatan mencoba membantu Ayana berdiri dan berjalan dari lantai atas ke bawah, sedangkan anak-anak tampak sibuk bermain-main diluar.
__ADS_1
"Abang nggak apa-apa danisa tinggal?"
sang istri bertanya sambil merapikan dasi sang suami
"Nggak apa-apa, nanti bisa gantian ambil curi sama anak om Jerry juga minta bantuan ahem untuk barter ngurusin perusahaan, kita nggak bisa pergi secara bersamaan sekarang"
danisa tampak mengangguk.
"Kalau sudah tiba di Prancis jangan lupa telpon Abang"
danisa mengangguk cepat
"Anak-anak jangan suruh mondar-mandir ngangguin Tante nya "
"Iya sayang... Iya..."
daniya mencubit pipi suami nya dengan perasaan geram, Hanif selalu begitu, terlalu banyak khawatir dan cerewet.
seketika Hanif tertawa, memeluk hangat tubuh sang istri.
"Abang pasti kangen benar ini nanti"
"Ckckckck seperti pengantin baru terus"
ledek hayat
semua tampak Terkekeh.
tiba-tiba ahem muncul dari arah belakang, memperlihatkan beberapa susunan makanan di dalam box-box makanan yang sudah tertata rapi.
hayat tampak berfikir.
"Seperti nya cukup untuk di perjalanan"
ahem mengangguk, meminta seorang wanita paruh baya agar segera memasukkan semua makanan ke dalam tas yang telah di sediakan.
"Aku harus kekantor sekarang sayang, InsyaAllah kami akan menyusul akhir Minggu"
ahem bicara sambil mencium hangat wajah hayat, kemudian mencium puncak kepala istrinya.
"Jangan nakal"
bisik nya pelan
"Ish"
hayat mencubit pelan perut ahem.
"Semoga semua berjalan lancar, brother"
ahem bicara sambil saling mengadu tangan dengan Gao.
__ADS_1
"InsyaAllah brother"
"Jaga Ayana dengan baik, insyaAllh dimudahkan semua urusan"
Gao mengangguk cepat, memeluk Hanif erat.
"mama jangan lupa telpon Hanif yah kalau sudah di Prancis"
Mamanya mengangguk cepat, memeluk erat tubuh sang putra.
"Pokoknya jangan tegang & panik, anggap seperti danisa dan hayat lahiran kemarin"
mama kembali mengangguk
Daddy tampak memeluk Gao dengan erat, mencium kening menantu nya itu lembut, kemudian berpindah memeluk Ayana dengan begitu hangat dan dalam, mencium puncak kepala dan kening putrinya itu begitu lama.
"InsyaAllah dilancarkan semua oleh Allah proses lahiran nya"
Bola mata Ayana mulai berkaca-kaca, dia mengangguk cepat.
Hari ini jadwal keberangkatan mereka, membawa jutaan harapan agar semua perjalanan panjang kemarin berakhir nikmat luar biasa.
Rasa berdebar-debar, tidak sabaran, khawatir dan entah apalagi bercampur aduk menjadi satu, berharap impian kecil ini akan tiba pada puncak kehadiran nya, melihat 2 sosok mungil ini menemani hari-hari mereka hingga menua.
Berapa Tahun mereka di uji? hampir 7 tahun.
Siapa paling kuat dengan ujian ini? bukan dirinya tapi sang suami lah yang terus berpegangan teguh pada keyakinan nya, selalu berkata.
Bukankah langit tidak melulu malam?
tidak pula selalu siang!
Bukankah bintang tidak selalu menghilang?
akan ada waktunya dia bersinar terang!
Bukankah si kaya tidak selalu kaya?
si miskin bisa saja tiba-tiba menjadi kaya sesuai kehendak nya?
Jika kita tidak sabar menghadapi semua keadaan
Bagaimana cara Allah bersabar menghadapi segala umat nya?
Acapkali kita mengeluh karena ujian nya
tapi kenapa kita lupa bersyukur atas Rizki nya?
bahkan air, matahari, udara dan nafas hari ini pun adalah Rizki dari Allah kan? lalu kenapa kita masih mengeluh? kenapa kita lupa bersyukur? kenapa kita tidak menerima Nikmat yang Allah beri hari ini?
Hidup kita ibarat panggung pentas sayang, jalankan saja, sebab tali dan peraturan nya hanya sang sutradara yang mengetahuinya.
__ADS_1