
Ayana berkali-kali menarik nafasnya, tampak begitu berat dan entahlah.
sesekali menatap Gao yang tengah lahap menghabiskan makan malam nya, seolah tanpa beban sesekali melirik Ayana sambil tersenyum, sesekali meletakkan sayuran ke piring nasi Ayana, bahkan menuangkan minum untuk Ayana.
Tidakkah dia ingin bercerita soal pernikahan nya? bagaimana istri ke duanya? apakah mereka sudah melakukan nya?
desah Ayana
ingin sekali dia bertanya, tapi gengsi mengalahkan segalanya, dia jelas enggan bertanya, takut malah menambah sesak pula didadanya.
Ayana kembali menghela nafasnya lembut.
Gao yang tahu kegelisahan sang istri hanya mengulum senyum karena geli.
"Gao"
"Hmm"
Gao pura-pura untuk tidak menatap wajah Ayana, menghabiskan sisa terakhir nasi di piring makanya, kemudian mengambil minum nya lantas menghabiskan dalam beberapa tegukan.
"Katakan pada ku Gao, Kenapa kamu lebih memilih Morena daripada Fitri?"
Pada akhirnya dia menanyakan hal semacam itu, Ayana bertanya sambil menatap dalam bola mata Gao.
Gao mengulas senyum, menggelengkan pelan kepala nya.
"Karena aku ingin mengangkat derajat nya dengan niatan untuk menolongnya agar tidak lagi tenggelam dalam maksiat"
__ADS_1
jawab Gao cepat, sambil mengangkat piring kotor seusai mereka makan makan satu persatu ke wastafel cucian piring, Gao tampak berlahan mencuci piring yang ada didepan nya.
"Biar aku saja"
"Bukan masalah,sayang"
Ayana tampak diam
"Dia sudah lama ingin keluar dari tempat maksiat itu, 3 tahun waktu yang sangat menyakitkan berkubang di lumpur dosa, dia terjun kesana bukan atas kemauan nya, tapi keadaan yang memaksa nya untuk tidak bisa memilih"
lanjut gao lagi
"Andai hidup bisa memilih, maka semua orang pasti sudah memilih, seperti kita misalnya"
"Tapi realita nya hidup itu adalah takdir,. perjalanan hidup yang sudah ditulis takdirnya oleh Allah, yang harus ikhlas kita jalani, dengan sabar dan tetap istiqamah"
"Dia butuh tangan yang bisa membawanya keluar dari sana, lalu Allah memberikan perantara melalui tangan mu tanpa kamu sadari, sayang"
Ayana tampak diam
"Andaikan dia memiliki uang tentu saja dia tidak mau berkubang dalam lumuran dosa, karena pada hakikatnya dalam kehidupan didunia, yang menjadi tolak ukur kehidupan dalam segala hal adalah lembaran kertas yang disebut uang"
"Dibanding kita, sesungguhnya ujian hidup nya lebih menyakitkan lagi, hidup dalam kemiskinan, kehilangan sosok ayah karena penyakit mematikan, ibu yang harus menjual diri,dia yang kehilangan masa depannya, kehilangan harga diri dan juga cita-cita nya, tapi dia masih tetap tersenyum mencoba menyembunyikan luka, bahkan dia tetap tertawa riang dan bahagia, di usia yang semuda itu"
Dan seketika Ayana menelan Saliva nya
"Lalu kenapa kamu tidak memilih Fitri?"
__ADS_1
Gao tampak tersenyum
"Dia masih punya masa depan yang begitu panjang, masih bisa menggapai impiannya,aku sudah mengurus semua biaya operasi ayah nya"
"Ya?"
"Dia masih punya cita-cita yang besar dan panjang, kenapa kita harus memupus harapan anak-anak seusia itu hmm?"
"Kelak dia akan berfikir, andai saja aku punya banyak uang, aku tidak akan terjebak dalam pernikahan seperti ini"
"Tidak ada manusia yang sungguh-sungguh mau jadi yang ke 2 sayang, juga tidak ada manusia yang sungguh-sungguh ingin di duakan"
Gao mencuci tangannya, membalikkan tubuhnya kemudian menatap dalam bola mata Ayana
"Seperti kamu"
seketika Ayana mencelos, dia menundukkan kepalanya kemudian terisak.
"Menangislah, Karena menangis adalah salah satu pelepas kekesalan dan kesedihan"
Gao bicara sambil memeluk erat tubuh Ayana, mengelus lembut kepala nya pelan.
*******
bersabarlah
قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
__ADS_1
Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (Az-Zumar ayat 10)