Gadis Pilihan Tuan Penguasa Season 2

Gadis Pilihan Tuan Penguasa Season 2
Hati nurani dan insting seorang istri


__ADS_3

Seketika Tristan tersentak bangun dari tidurnya, rasa sakit dan nyeri di punggung nya begitu mendominasi, dia meringis sejenak mencoba menyentuh punggungnya, tapi rupanya punggung dan dadanya telah terbalut sempurnah. Sejenak bola mata Tristan terpaku pada satu sosok yang tengah bersujud di ujung sana, Ayana tengah menunaikan sholat nya dalam balutan pakaian lengkap yang menutupi seluruh tubuhnya. Beberapa waktu kemudian Tristan melihat Ayana menengadahkan tangan nya berdoa.


Tristan menatap tubuhnya dibalik cermin, dia fikir perempuan itu telah mengobati Dirinya semalam.


Sejenak Ayana menoleh, senyum diwajahnya mengembang sempurna. Ayana merapikan kain yang menjadi sajadahnya, beranjak dari sana kemudian mengambil sebuah nampan berisi bubur dan air minum.


"Anda sudah bangun tuan?"


ucap Ayana lembut, kemudian meletakkan bubur itu berlahan di atas nakas di samping Tristan.


"Aku khawatir anda tidak akan sadar lebih cepat"


Tristan mendengus, memandangi wajah Ayana cukup lama, dia fikir bukankah seharusnya semalam perempuan milik Gao ini bisa melarikan diri dengan gampang dari pada menyelamatkan dirinya.


"Kenapa kau tidak melarikan diri meninggalkan ku yang terluka?"


Ayana diam sejenak, Kemudian tersenyum


"Itu adalah Hati Nurani atau suara hati"


Sejenak Tristan mengerutkan dahinya

__ADS_1


Ayana kembali tersenyum


"Saya bisa saja meninggalkan anda semalam, tapi Manusia merupakan makhluk yang mulia di muka bumi ini. Allah telah mengaruniakan akal, nafsu, dan hati nurani pada diri manusia, dan derajat mereka ditinggikan melebihi makhluk ciptaan Allah lainnya. Berbeda dengan Malaikat yang selalu patuh, manusia diberikan kebebasan untuk memilih jalannya sendiri. Antara yang benar dan buruk, keduanya dapat dibedakan bila seseorang memiliki hati nurani "


"Sehingga keputusan final saya pada akhirnya memilih membantu anda ketimbang pergi kehilangan hati nurani"


Tristan sejenak menelan Saliva, kemudian dia mendengus


"Kau tidak dendam pada ku, karena hampir melecehkan mu? bahkan dengan bodohnya membantu ku"


Ayana menggeleng pelan, masih tetap mengembangkan senyumannya.


"Mungkin ini karma yang di bangun suami saya terhadap Anda sebelum nya"


Tristan tersentak mendengar nya


"Apa?"


"Anda mengenal Gao dengan baik bukan?"


"Bagaimana kamu bisa tahu?"

__ADS_1


Tristan mengerutkan keningnya, dia fikir dia sama sekali tidak pernah menyebut soal Gao Beberapa hari ini.


"Insting seorang istri"


Tristan terdiam


"Pada akhirnya seperti di ajaran Islam yang menyepakati jika tingkah laku buruk akan mengakibatkan sebuah keburukan juga"


"Saya tahu ini mungkin Karma yang dibangun suami saya dulu hingga membuat tuan begitu membencinya dan memendam dendam"


"Tapi kita tidak menyimpan dendam terlalu berlarut bukan? harus melibatkan orang lain yang tidak bersalah menjadi korban nya?"


"Saya mentolerir kesalahan, seandainya saya juga seorang pendendam, mungkin semalam merupakan waktu yang tepat untuk memperburuk keadaan, misalnya mencelakai anda dengan tangan saya bagaimana pun caranya"


"Tapi kembali ke awal tadi, saya menggunakan hati nurani ketika bertindak"


"Karena hati nurani berperan terutama saat kita mau mengambil sebuah keputusan. Ia dapat didefinisikan sebagai suatu kesadaran moral seseorang dalam situasi yang konkret. Artinya, dalam menghadapi berbagai peristiwa dalam hidup kita, ada semacam suara dalam hati kita untuk menentukan apa yang seharusnya dilakukan dan menuntut kita bagaimana merespon kejadian tersebut. Suara hati yang baik, dapat menjadi kompas moral dan menuntun kita menjadi pribadi yang berperilaku positif. Sebagai umat beragama, hati nurani ini dipercayai menjadi tempat Tuhan mewahyukan diri secara hidup dalam hati kita. Jadi, hati nurani juga dapat dikatakan sebagai sebuah perasaan moral dalam manusia, yang dengannya dia memutuskan mana yang baik dan jahat, dan mana yang menyetujui atau menyalahkan perbuatannya"


"Karena jika saya kehilangan hati nurani saya, maka dendam diantara Anda dan suami saya akan berpokok dan berakar pada saya, kemudian pada akhirnya merambah kepada keluarga kita, anak cucu dan keturunan kita di kemudian hari"


Tristan kehilangan kata-kata, terus menatap wajah perempuan dihadapannya itu dalam jangka waktu yang cukup lama.

__ADS_1


__ADS_2