
Gao menatap penuh cinta ke arah Ayana, saat sang istri sudah disulap bak seorang putri raja pagi ini, dia meraih tangan Ayana dan bersiap untuk naik ke atas panggung resepsi.
"Sayang, kamu sangat cantik sekali"
bisiknya lembut
"suami ku sudah pandai merayu rupanya"
kekeh Ayana, kemudian fokus menatap ke depan, ke arah tamu undangan
Gao mengulum senyum
"merayu istri sendiri termasuk bagian dari pahala"
Ayana kembali tertawa, mencubit pelan pinggang Gao
"Oh sayang, aku benar-benar ingin menerkam mu saat ini juga"
bisik Gao nakal.
"Boleh aku mencium mu sekarang juga?"
"Gao.."
jelas saja wajah Ayana langsung memerah
"Kau lihat semua tamu undangan memperhatikan diri mu"
"Bukan masalah, itu karena mereka berkata aku memang laki-laki yang pantas memiliki dirimu dari sekian banyak pesaing yang datang"
__ADS_1
Ayana melebarkan senyuman manisnya.
"Ohhh kau tahu betapa bahagianya aku? kamu dan dia benar-benar melengkapi hidup ku"
ucap Gao kemudian menciumi puncak kepala Ayana dengan hangat.
"Apa kita akan mengambil liburan lagi sayang"
Ayana menaikkan alisnya
"Aku fikir kita harus menyelesaikan proyek dengan Mr.azziz lebih dulu"
ucap Ayana pelan
Gao mengangguk sambil menyentuh lembut wajah Ayana
********
"Undangan nya tuan?"
seorang petugas mencoba bertanya pada sandi
Pesta pernikahan ini sudah di setting oleh Gao sedemikian rupa, demi menghindari huru-hara dan kericuhan Gao membuat peraturan Tidak ada yang boleh datang ke acara ini tanpa undangan resmi dan tanda tangan dari tuan rumah di undangan nya, menggunakan cap sidik jari saat memasuki ruangan pesta, 1 orang 1 undangan tanpa toleransi.
Oh sial
sandi jelas telah membuang nya kemarin, menyisakan undangan 1 lagi di kamar Melani, jelas saja dia enggan kembali ke rumah, ditambah lagi Melani pasti menggunakan nya saat ini.
Dia pada akhirnya melesat kembali pulang, seperti di awal rencana nya hanya menampakkan batang hidungnya, karena fagl dia tetap melaju pada rencana awal. menunggu pesta usai, menunggu kehidupan dua orang itu tenang, menunggu cela masuk untuk merusak semuanya tanpa sisa.
__ADS_1
******
Sandi menarik tubuh Dyah secara kasar, memepet kan nya Kedinding dengan sekali hentakan, seperti biasa perempuan ini menjadi tempat pelampiasan paling sempurna untuk dirinya.
"San"
suara halus Dyah menggema di telinga nya, jelas dia tengah menaut hasrat dengan Dyah, tapi imajinasi nya terjun bebas ke pada Ayana.
Dia menautkan diri mereka, menyatukan perasaan dengan rasa membara yang membakar bersama, membawa Dyah melintasi Cakrawala, mencipta hal-hal indah bersama.
Suara halus keluar dari mulut sang empunya, apalagi saat jemari sandi dengan lincah bermain di tiap tempat di bawah sana, berulang kali dari atas hingga ke bawah.
bayangan nya yang ada saat ini adalah Ayana, mendominasi seluruh jiwa dan raganya. bahkan erangan halus Dyah bagaikan suara manja milik Ayana.
diri nya terus bermain di bawah sana, menyesap dan terus bermain hingga Dyah mencapai ke..nikmatan nya berkali-kali. menikmati dan terbakar has..rat bersama, sesekali menyentuh rambut sandi bahkan kadang ngeluarkan suara-suara untuk meminta berhenti tapi acapkali tubuh menolaknya.
Saat diri kembali bertaut, di bawah sana melesat masuk, menyentak keras dan membenam dengan sempurna, kemudian menciptakan irama-irama yang membuat suara-suara halus penuh ke..nikmatan untuk jangka waktu yang lama.
Hingga pelepasan terjadi berkali-kali, sampai waktu yang sandi tentukan sendiri.
"Apa kau mencintaiku?"
sebaris tanya meluncur dibalik bibir indah Dyah
"Hmm"
hanya sesingkat itulah jawaban yang sandi berikan, tidak lebih.
fikirannya berkelana, membuat rencana yang paling masuk akal untuk mengambil Ayana dari genggaman gaohan secepatnya dan menyingkirkan Dyah secara bersamaan.
__ADS_1