Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 99. Keputusan itu


__ADS_3

"Perbuatan halal yang paling dibenci Allah adalah talak (cerai)" [HR. Abu Dawud]


Pria paruh baya berjengot putih dengan peci putih melekat dikepalanya dengan tenang menjelaskan bahwa betapa dibencinya perceraian di mata Allah. Meskipun itu dihalalkan.


"Setan selalu punya cara untuk menggelincirkan manusia. Melemparkan fitnah ini dan itu, membisikkan kata-kata kebencian dan senantiasa berusaha menjerumuskan manusia kepada keburukan," ucapnya dengan tenang.


"Pengaruh negatif setan, iblis dan bala tentaranya, bisa menyebabkan kehancuran sebuah keluarga yang sudah dibangun bertahun-tahun lamanya. Nabi Saw memberikan informasi bahwa iblis selalu berusaha untuk memisahkan suami dari istrinya. Mereka senang jika kehidupan pernikahan menjadi rusak, dan berujung kepada perceraian. Kemampuan bala tentara iblis menggoda manusia yang tertinggi dan terhebat adalah ketika berhasil membuat suami dan istri bercerai. Godaan terhadap manusia dalam aneka bentuk lain, dianggap belum seberapa tingkatnya," penjelasan pria paruh baya itu panjang lebar.


Dari Jabir radhiyallahu'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:


"Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas air (laut), kemudian ia mengutus bala tentaranya. Maka yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar fitnahnya. Datanglah salah seorang dari bala tentaranya dan berkata, "Aku telah melakukan begini dan begitu". Iblis berkata, "Engkau sama sekali tidak melakukan sesuatupun". Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, "Aku tidak meninggalkannya hingga aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya". Maka Iblis pun mendekatinya dan berkata, "Sungguh hebat engkau" (HR Muslim no 2813).


Perceraian merupakan tujuan terbesar iblis yang terlaknat karena mengakibatkan terputusnya keturunan. Dan bersendiriannya anak keturunan Nabi Adam (tanpa istri atau tanpa suami) akan mudah menjerumuskan mereka ke perbuatan zina yang termasuk dosa-dosa besar yang paling besar menimbulkan kerusakan dan yang paling menyulitkan.


Sedemikian kuat misi untuk membuat kerusakan hidup berumah tangga, sehingga mereka terus berusaha untuk melakukan dengan berbagai macam cara.


"Pikirkan baik-baik anak muda. Saya hanya tak ingin melihat kalian para anak muda, keturunan nabi Adam salah dalam mengambil keputusan hanya karena mengikuti hawa napsu sesaat. Hanya karena emosi pada saat itu. Ingat, Nak. Setan, iblis selalu mengikut di setiap aliran darah kita, maka dari itu tidak putus iblis laknatullah membisikkan agar kita melakukan berkara buruk yang dibenci Allah."


Ridho mengingat kembali ucapan pria paruh baya yang tak lain ustadz sekaligus imam masjid tempat dimana Ridho meminta saran, semalam usai menunaikan ibadah sholat isya. Sekarang dirinya tengah duduk termenung sementara pengacara tengah mempersiapkan semua berkas yang diperlukan.


Tanpa sadar seorang wanita yang tak lain Rara, duduk di sebelah Ridho. Pria itu masih memandang lurus. Rara menatap suaminya dalam diam.


Dengan gematar tangan Rara menggapai tangan Ridho. Sentuhan lembut itu akhirnya mampu juga membawa Ridho terlepas dari lamunannya.


"Mas," senyum Rara mengembang.


"Ra" Ridho menatap wanita di sebelahnya dengan sendu.


Rara mengelus tangan Ridho. "Selamat ya. Akhirnya keinginanmu dan keluargamu terwujud. Kita akan hidup sendiri-sendiri lagi dan mencari kebahagian kita masing-masing."


Ridho menggeleng pelan, dibarengi dengan telapak tangan Ridho yang mengarah ke pipi mulus Rara. Hati Rara memang hamcur tapi ia masih tetap berusaha kuat menerima kenyataan ini.


"Ra... Rara, A.. Aku sebenarnya tidak ingin berpisah denganmu, Ra. Kenapa kamu memilih ini." Mata Ridho berkaca-kaca.


"Bukannya kau yang memberikan ini padaku, Mas. Apa kau lupa?" Rara menurunkan tangan Ridho yang mengusap lembut pipinya. "Aku juga tidak sanggup bila harus bermadu, Mas. Itu sama saja pelan-pelan membunuhku."


Ridho meraih tubuh Rara dengan cepat masuk dalam pelukan hangatnya.

__ADS_1


"Maafkan aku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Jujur aku telah banyak melukai hatimu. Mimpiku semalam menyadarkan aku bahwa aku telah membuatmu tersiksa beberapa bulan ini. Maafkan aku sayang."


Flashback


Di tempat lain, Ridho dengan perasaan setengah sadar berjalan menuju dapur karena tenggorokannya terasa kering sekali. Ia sangat membutuhkan minum.


Ridho membuka daun pintu kulkas dan mengambil sebotol air mineral. Menuangnya ke dalam gelas. Ketiak hendak meletakkan gelas itu di bawa wastafel tanpa Ridho ketahui ada sebuah tumpahan minyak membasahi lantai, hingga membuat lantai licin. Ridho yang menginjak ubin bekas tumpahan minyak itu akhirnya terjerembab jatuh ke lantai kepalanya menghujang lantai keramik toilet. Seketika itu pula Ridho tak sadarkan diri.


Saat dirinya sadar, tiba-tiba ia sudah berada di tempat tidur. Ridho mengusap kasar wajahnya sambil mengamati sekitar. Membaca setiap sudut ruangan. Tapi, sudah berupaya keras ia mengingat. Tetap tempat ini asing. Ini bukan kamarnya. Iya, Ridho ingat persis, di depan secara tiba-tiba muncul pria berbaju putih yang tubuhnya dikelilingi cahaya putih. Ridho memegangi wajahnya. Ia menyadari pria berjubah putih itu mirip sekali wajahnya dengan wajah dirinya.


Berulangkali Ridho menepuk pipinya.


"Apa aku sedang bermimpi? Atau aku sudah mati?" gumam Ridho dengan ketakutan.


Pria berjubah putih dan berwajah mirip Ridho itu mengumbar senyum.


"Belum. Kau belum mati."


"Ka... Kau siapa?" tanya Ridho panik.


"Aku?" Pria itu kembali tersenyum. "Apakah perlu kau tau siapa aku? Bukankah wajah kita sama?" lalu tertawa pelan.


"Hah! Lelucon. Aku yang Ridho!" cebik Ridho tak yakin, karena pria di depan itu mencoba menyama-nyamakan dirinya.


"Sudah jangan emosi!" jawabnya santai. "Dan benar Aku Ridho. Kembaranmu."


Amarah Ridho kian membuncah mendengar jawaban makin tak masuk akal. Ridho tertawa jahat. "Dasar bodoh! Kau kira aku anak keci yang bisa dilabui. Dari kecil aku tau kalau aku tidak punya kembaran."


"Baiklah tidak masalah, kalau itu katamu."


"Tidak masalah." Ridho mengangguk. "Memang tidak masalah. Sekarang apa maumu? Apa kau yang membawa aku ke sini?"


"Aku yang membawamu kemari. Bukankah kau yang membawa dirimu kemari?"


Ridho mengacak-acak rambutnya frustasi. Ucapan laki-laki ini semangkin tak dimengertinya.


"Bagaimana mungkin aku kemari. Aku sendiri saja tidak pernah kemari sebelumnya!"

__ADS_1


Merasa semangkin dipermainkan Ridho menatap geram penuh amarah pada lelaki yang sama wajahnya dengan dirinya tersebut. Ia ingin sekali menonjok wajah pria itu.


Tangannya telah membentuk kepalan. Namun, begitu kagetnya Ridho saat pukulannya tak mengenai wajah pria berjubah tadi, Ridho malah seperti memukul angin.


Ridho memangkin tidak paham, dan makin penasaran. Sekali lagi ia mencoba memukulnya.


BRAKK


Ridho memegangi wajahnya. "Brengsekk! Kenapa malah pipiku yang sakit."


Pria berjubah tersenyum tenang. Auranya membawa ketenangan. "Percuma kau melakukan itu. Kau hanya akan seperti orang gila yang memukuli dirimu sendiri, Ridho!"


Karena takut dan cemas, Ridho mundur beberapa langkah menjaga jarak dengan pria di depan.


"Kau tidak perlu takut begitu. Sekarang duduklah dengan tenang. Akan aku sampaikan semuanya padamu."


"Aku adalah jiwa kebaikan, yang selama ini sudah jarang engkau gunakan untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang ridhoi Allah. Dihari-harimu, kau telah banyak melukai orang-orang, membuatnya sakit hati. Kamu terlalu banyak memikirkan dunia sampai melupakan ibadah-ibadah Allah. Kamu tahu siapa orang yang paling tersakiti dan merasa disia-siakan? Dialah pasanganmu, yang sekarang sah menjadi istrimu. Kau tau apa yang selalu dilakukannya untukmu. Dia selalu berusaha mengalah meski kau tidak mau mengalah, dia selalu berusaha bertahan meski kamu egois dan keras kepala. Ketika kau pergi dan dia sendiri di rumah, apa yang dia lakukan? Disaat itu dia sedang menangis memikirkanmu. Memikirkanmu yang telah berubah dan berpaling. Dan dia hanya bisa berdoa supaya kamu bisa berubah."


Mendengar semua kalimat yang diucapkan laki-laki itu, membuat Ridho membawa ingatannya kembali pada apa yang telah dilakukannya selama ini. Nampak memanglah benar apa yang dikatakannya.


"Setan telah banyak menguasai dirimu saat ini."


"Lalu, aku harus apa sekarang?"


"Sekarang lakukanlah kembali kebaikan-kebaikan yang pernah kau lakukan dulu. Kembalilah pada keluargamu."


Pria berjubah tadi, kemudian menghilang dari pandangan Ridho. Saat itu pula Ridho terbangun dari pingsannya sambil memegangi kepala yang terasa sakit usai membentur lantai.


Ridho terduduk, mencerna apa yang dialaminya tadi. Kadang sesekali ia menepuk-nepuk pipinya. Tak pula Adzan subuh menggema di penjuru masjid-masjid.


Flashback of....


"Ra, maafkan aku. Aku masih mencintaimu," ucap Ridho tulus.


"Nasi sudah menjadi bubur. Mungkin memang ini jalan berakhirnya hubungan kita. Semoga kita bisa bahagia masing-masing." Rara menghela napas berat sebelum mengajak Ridho untuk masuk ruang pengadilan.


Ridho pun hanya bisa pasrah. Penyesalan selalu menyertai manusia yang gegabah dalam bertindak.

__ADS_1


***


BERSAMBUNG....


__ADS_2