Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 90. Kunjungan


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Rara sudah terparkir di luar pagar rumah Azzam. Ia sengaja tidak memarkirkan mobilnya masuk ke dalam, karena menurut Rara dirinya hanya singgah sebentar untuk menjemput wanita yang sudah diajaknya untuk menemani dirinya keluar hari ini.


"Bang Fatih mau ikut atau nggak?"


Fatih yang tadinya duduk di jok kursi mobil depan dengan tenang, sekarang berdiri sambil merentangkan tangannya.


"Mau ikut bunda." Rara meraih tubuh Fatih dan menggendongnya turun dari mobil.


Rara menggandeng jari-jemari mungil milik Fatih. Bocah itu sangat patuh dan menurut saat berada dekat tantenya itu.


"Ini rumah siapa bunda?" tanya Fatih dengan polos namun bawel masih pula tak hilang.


"Tante Dhanisa. Tante yang Bunda ceritakan itu tadi lho" singkat Rara.


Si Fatih diam. Pupil Rara tanpa sengaja menangkap sebuah motor N-Max berwarna hitam. Tak asing bagi Rara, meski berulang kali Rara mencoba menyingkirkan pikirannya tentang motor yang mirip dengan motor suaminya itu. Namun, dugaan Rara malah kian menguat saat ia berhasil merapal plat kendaraan yang terparkir di depan rumah Azzam.


"Ini kan motor Ridho." Rara berpikir lagi. "Iya ini motor Ridho, benar!" lirih wanita itu sangat yakin seratus persen. "Kenapa Ridho ada di sini?"


"Kenapa Bunda?" Fatih membuyarkan pikiran Rara yang berkelana kemana-mana.


"Ini ada motor Om Ridho, sayang. Berarti ada Om juga di sini. Yuk, kita masuk."


Dua kali Rara mengentuk pintu sang empunya rumah sampai akhirnya seorang wanita paruh baya yang tak lain ibu Azzam muncul dari balik pintu.


"Assalamu'alaikum ibu," sapa Rara mengumbar senyum.


"Wa'alaikumsalam." Umi melihat dua orang di depannya bergantian. "Cari siapa, nak?"


"Dhanisa adakan, Bu? Oh iya saya Rara, teman Dhanisa."


"Oh Rara. Dhanisa ada. Ayo masuk, Nak." Umi membawa Rara dan bocah bernama Fatih masuk ke dalam rumah. "Maaf ya Nak. Menantu umi sedang tidak sehat, kalau ada yang ingin dibicarakan. Silahkan naik saja ke lantai atas ya. Kamar Dhanisa di atas."


"Ibu nggak mau ikut?"


"Maaf Nak. Umi, masih ada pekerjaan di dapur." Umi menyengir. "Sedang membuat kue."


"Baiklah kalau begitu, Bu. Saya ke kamar Dhanisa dulu."


***


Tengah ingin menelepon Rara untuk mengatakan bahwa saat ini aku belum bisa menemaninya untuk keluar. Azzam masuk dan mengatakan ada seseorang yang ingin menjumpaiku. Tapi, mimik muka yang ditampakkan seperti ada hal yang coba ia pendam.


"Sayang, di luar ada Ridho. Boleh dia masuk menjenguk?"


"Ridho?"


Azzam mengiyakan. Mukanya malah kian kusut dan lesu.


"Sayang, ada apa? Kok mukanya nggak bersahabat gitu?" Aku berusaha membaca raut wajahnya.


Aku lihat dia menghembuskan desah napas yang begitu berat, lalu mengatakan, "Tidak."


Tersenyum samar sambil berusaha beringsut bangun dari tempat tidur. Meski terasa masih begitu nyeri.

__ADS_1


"Sayang, jangan dipaksakan kalau masih sakit. Nisa berbaring saja." Azzam mengambil beberapa bantal dan menumpuknya di belakang punggungku.


Aku berusaha mencari tempat dan posisi yang nyaman untuk bersandar. "Nisa cuman ingin tau sebenarnya ada apa. Kenapa abang nampak gelisah begini? Pasti ada sesuatukan? Meski abang bilang 'tidak' tetap abang nggak bisa bohong dari Nisa."


Azzam memalingkan wajahnya. Bukan ingin ia menambahkan beban dikepalaku untuk menerka-nerka apa yang ada dipikirannya saat ini. Seperti bermain sebuah tebak-tebakan di tengah kondisiku yang masih terasa lemas.


"Abang bantulah Nisa untuk mengatakan tentang apa yang sebenarnya abang pikirkan saat ini? Apa abang tidak suka kalau pria lain datang kemari. Apa itu alasannya?" Aku mengelus lemah wajahnya. Meski kalimatku tadi hanya menerka-nerka saja. Tapi, setidaknya bisa mewakili sekaligus memancing Azzam untuk mengungkapkan kegelisahannya, karena aku tahu pula bahwa Azzam sangat pencemburu. Mungkin agaknya wajar pula, mengingat dulu aku pernah menjalin hubungan gelap dengan teman satu sekolahku. Meski itu sudah lama, tetap saja memori itu pasti akan terus membakas dalam ikatan pria yang telah setengah tahun hidup denganku.


"Katanya dia kamu yang telepon untuk kemari. Benar sayang?" Azzam menatap nanar. Tatapannya tertumpu beberapa detik ke netra mataku. Aku dapat melihat iris gelap Azzam dengan jelas.


"Iya tadi." Azzam langsung menyingkirkan tanganku yang masih mengusap pipinya. Tatapan mata yang tadi sejurus menatapku sekarang dialihkannya ke bawah. Ia tertunduk dalam-dalam.


"Hay, sayang." Berusaha mengangkat dagunya. "Nisa tadi hanya menghubungi Mbak Rara. Abang tau kan mbak Rara perawat, Nisa paham setidaknya Rara bisa membantu Nisa tadi demi menghilangkan rasa sakit yang teramarat tadi. Namun, bukan Rara yang mengangkat namun Ridho. Katanya Rara sedang keluar. Jadi, dia yang mengangkat telepon Mbak Rara."


"Memangnya ada apa? Kenapa abang bertanya ini? Apa Ridho mengatakan sesuatu dengan abang?"


Azzam berpikir tentang ucapan mana yang harus ia percayai.


"Tadi Ridho hanya mengatakan kalau kau meneleponnya supaya datang kemari sayang."


"Hmm, sudahku duga pasti abang cemburu kan? Hayo ngaku." Tawaku singkat. "Sungguh abang Nisa tidak minta Ridho kemari. Kalau tidak percaya, tanyalah dengan Umi. Nisa yang meminta umi supaya menelepon mbak Rara. Panggilan pertama memang tidak diangkat, dan dipanggilan kedua baru ada jawaban dari seorang pria. Umi langsung menyerahkan handphone Nisa kembali. Akhirnya Nisa... "


"Hustt!" Azzam menempelkan ujung telunjuknya ke bibirku. Ia memotong seketika penjelasanku yang belum selesai.


Aku sesaat terdiam, menatap situasi saat ini. Saat itu pula Azzam mengambil kesempatan mencium kening dan dua mataku. Mataku terpejam dan meresapinya dengan nyaman segala cinta dan perhatian yang Azzam berikan.


***


Ridho masih berdiri di depan pintu kamar Azzam. Sambil mondar-mandir ia mengigit jarinya.


"Mas!" suara itu membuat Ridho kaget.


Ridho membulatkan mata sempurna melihat kehadiran Rara yang muncul dari arah tangga sebelah kanan. Pria itu dengan gugup melangkah mendekat. Kemudian bertanya pelan supaya tidak ada yang mendengar. "Ka-kamu ngapain ke sini, Ra?" tanya Ridho panik.


Rara menatap heran. Lebih heran dari Ridho, saat dirinya mendapati suaminya yang tadi pamit keluar untuk menemui teman kerjanya. Malah didapati Rara tengah berada di rumah tetangganya.


"Harusnya, aku yang nanya kamu ngapain di sini! Bukannya kamu bilang mau keluar untuk ketemu teman kerjamu, Mas?" tanya Rara nyalang.


Ridho menatap Fatih. Tidak bagus berisik ataupun ribut di depan anak kecil yang belum paham akan masalah ini. Ridho menarik tangan Rara menepi menjauh dari Fatih.


"Sayang, bang Fatih tunggu di sini sebentar ya. Om mau bicara dengan bunda dulu," ucapnya.


Kini, kedua saling menatap berharap sebuah penjelasan.


"Mas, jawab pertanyaan aku!" desak Rara.


Ridho mengigit keras bibir bawahnya. Rara bisa melihat wajah cemas yang ditunjukkan suaminya. Tingkah Ridho pun mulai aneh.


"A-Aku... Aku hanya ingin menjenguk Dhanisa, Ra. Hanya itu."


Bukannya tak mempercayai pengakuan Ridho. Hanya saja kian hari Rara menaruh curiga pada sikap suaminya. Terlebih yang membuat Rara semangkin gelisah adalah tentang foto Dhanisa yang ia temukan di rumahnya sendiri. Rara curiga, ada seseorang yang dengan sengaja membawa dan menyimpan foto wanita ini. Jika tertinggal pun tidak mungkin. Dhanisa tidak pernah berkunjung ke rumah Rara, apalagi sampai naik ke lantai atas rumahnya.


"Ra...!" Ridho mengguncang tubuh Rara.

__ADS_1


Rara terkesiap. "Kamu tau darimana kalau Dhanisa sakit? Aku saja bahkan tidak tau!"


"Lha bukannya kamu ke sini, ingin melihatnya?"


"Tidak. Aku kemari ingin mengajaknya keluar sebentar untuk menemaniku ke SPA."


"Kamu mengajak Dhanisa untuk keluar bersamamu?"


"Iya. Sekarang aku tanya kamu tau darimana kalau Dhanisa sakit? Dhanisa sendiri bahkan belum memberitahuku." Rara bertanya-tanya bingung.


Ridho berpikir keras. Ia yakin istrinya mungkin saja sedang menaruh curiga padanya. Ridho sedang berpikir bagaimana mengungkapkan suatu alasan tanpa membuat Rara menyimpan kecurigaan.


Suami Rara itu mendehem. "Tadi, Dhanisa menelepon ke nomormu katanya dia menyuruh kamu untuk datang ke rumah. Dhanisa mengeluh sakit dan meminta kau untuk datang ke rumahnya, mengecek kondisi Dhanisa. Aku bilang kau sedang tidak di rumah."


"Kapan aku tidak di rumah Ridho. Nampak sekali kamu sedang berbohong. Asal kamu tau aku seharian ini di rumah."


"Ya-ya Ng-ngak, habis aku panggil kamu nggak nyahut-nyahut. Aku kira kamu sedang keluar."


Mendengarnya, Rara mengangguk pelan. Bukan tentang itu saja sebenarnya yang membuat Rara ganjal. Tentang foto yang Fatih temukan ketika Fatih bermain di ruangan main Fatih, membuat Rara belum bisa begitu saja mempercayai perkataan suaminya.


"Tapi apa iya foto Dhanisa ini suamiku yang membawanya, lagi pula bagaimana ceritanya dia bisa memiliki foto ini?" Rara membatin.


Ingin sekali sebenarnya Rara menanyakan perihal foto Dhanisa yang ditemukannya di rumah. Siapa tahu Ridho mengetahuinya, tapi Rara takut Ridho tersinggung dan hanya akan memancing keributan di rumah orang lain. Apalagi Ridho orangnya mudah tersingguh. Sebaiknya nanti saja aku tanyakan ini padanya.


***


Aku diam tertegun. Ridho? Tidak tahu kenapa. Tubuhku seperti lemas sekaligus takut ketika mendengar nama itu dilisankan. Bukan apa. Aku teringat kembali saat aku masuk kamar untuk mengambil baju dan meminjamkannya pada Rara. Pria itu tanpa permisi masuk ke kamar kami.


"Sayang, apa yang kamu pikirkan. Maaf kalau perkataan abang tadi menyingung hatimu. Sekarang lupakanlah tentang Ridho. Abang tidak ingin Nisa terbebani dan bayi kita ikut merasa stres karena ibunya terlalu banyak menanggung beban pikiran. Ingatkan kata dokter Tommy tadi."


Aku menumpuk tanganku di atas tangan Azzam.


"Sayang Nisa takut." Tangan Azzam aku remas erat.


"Apa yang Nisa takutkan?"


"Maaf kalau Nisa belum menceritakan perihal ini pada abang."


"Apa memangnya?"


"Dulu waktu acara syukuran pindahan rumah kita. Masih ingat?"


"Iya."


"Nisa masuk ke kamar demi mengambil baju untuk dipinjamkan ke Mbak Rara karena baju basah usai tak sengaja tersiram air saat di toilet kita. Nah, pada saat itu ternyata Ridho membuntutiku dari belakang sampai ke kamar. Bahkan masuk ke dalam kamar kita, sayang. Saat itu Nisa begitu takut karena tatapan Ridho begitu tajam dan penuh napsu seperti ingin menganggu Nisa." Saat ini tanganku mulai dingin bahkan gemetar. Ditambah lagi suhu pendingan yang di stel di ruangan ini semangkin membuat aku merasa dingin membeku.


"Astagfirullah aladzim, sayang. Benar Ridho melakukan itu. Dia menyelinap masuk ke kamar kita?"


"Iya. Maafkan Nisa karena baru mengatakannya sekarang."


Azzam membawaku pada pelukannya. Meski kejadian itu telah berlalu, tapi saat bayangan itu melintas lagi dalam ingatanku membuat aku masih menyimpan ketakutan pada Ridho.


"Ya allah, abang baru sadar, sayang. Pantas saja malam itu abang lihat Nisa seperti cemas. Abang tidak menyangka Ridho telah bertindak sejauh itu sayang. Dia sangat lancang." Tangannya mengusap pucuk kepalaku yang tertutup hijab.

__ADS_1


"Kalau begitu istirahatlah. Nanti Ridho biar abang yang mengurusnya. Abang tidak akan biarkan dia mendekati Nisa sejengkal pun." Pelan ia melepaskan rengkuhannya diiringi dengan senyum lembut, menyuruhku untuk kembali beristirahat.


__ADS_2