
Seorang istri yang baik bukan hanya mampu dalam hal menghias dirinya dan menampakkannya pada orang lain tentang kecantikan yang dimilikinya, tetapi ketika ia mampu menjaga semua itu dan hanya menampakkan itu pada suaminya saja. Berhias untuk suami adalah dianjurkan selagi dalam batas-batas yang tidak dilarang oleh syari’at islam.
"Nisa, abang tidak akan memaksakan Nisa untuk menjadi wanita seperti khadijah. Abang tau, Nisa mulai belajar untuk berbakti menjadi seorang istri yang baik untuk suami. Khadijah, istri Rasulullah adalah istri sekaligus wanita yang begitu sempurna akhlak dan keperibadiannya. Abang tidak hendak kamu nanti akhirnya akan tertekan dengan semua itu. Cukup Nisa menjadi Dhanisa untuk Azzam, itu sudah lebih cukup buat abang." Azzam tersenyum lembut.
"Iya, tapi Nisa akan berusaha untuk menjadi istri yang sholehah dan berbakti pada suami, seperti yang pernah abang ajarkan pada Nisa." Aku mengulum senyum.
"Terima kasih karena Nisa sudah punya niat baik untuk itu. Dan saat ini bukan Nisa saja yang berbenah diri tapi abang pun begitu. Jadi, kita bisa belajar sama-sama, yah."
Ia mengulurkan tangannya untuk aku salami. Aku menyalaminya dengan perasaan bahagia yang membuncah direlung kalbu. Dengan perlahan aku merasa kecupan hangat mendarat di keningku. Ia turut memanjatkan doa sebagai rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan kami.
"Bang!"
Azzam tersenyum. "Sudah siap mengajinya?"
"Iya. Nisa sudah siap."
Setiap selesai sholat berjamaah aku dan Azzam selalu menghabiskan waktu beberapa menit untuk mengaji bersama. Lebih tepat Azzam menjadi guru mengajiku. Aku bersyukur Azzam adalah paket lengkap untukku. Ia selalu menjadi pemberi nasihat bagiku jika aku salah. Menjadi motivator ketika aku sudah tak bersemangat, dan begini dia menjadi guruku untuk membimbing bacaan Qur'an ku yang masih belum fasih alias belepotan.
"Alhamdulilah, sayang. Bacaan mu semangkin hari semangkin baik. Abang senang sekali melihat perkembang pesat atas kemauan istri abang untuk terus belajar. Jangan bosan dan patah semangat yang sayang, tetap seperti ini. Sungguh hati abang sangatlah berbahagia."
Aku mengulas senyum. "Iya, bang. Abang pun jangan pernah bosan-bosan untuk mengajarkan Nisa terus membaca Al-Qur'an. Supaya bacaan Nisa semangkin baik."
Azzam mengulum senyumnya, seraya memandang lekat kepadaku yang masih mengenakan mukena putih.
"Jangan liatin, Nisa kayak gitu dong" kataku ketika menyadari Azzam lama menatapku.
"Kenapa?" tanyanya belum mengalihkan tatapannya.
"Nisa grogi."
Ia mencolek daguku. "Bisa saja kamu."
Ehmm... Uhuk!
Azzam terbatuk.
"Abang kenapa?" Aku mengelus dadanya.
Uhuk! Uhuk!
"Abang kayaknya butuh air putih. Sebentar Nisa ambil." Baru aku hendak berdiri, tangannya mengenggam pergelangan tanganku. Membuat tubuhku tertahan tidak jadi berdiri.
"Abang tidak haus."
__ADS_1
"Terus?"
"Abang hanya gagal fokus saja kalau berua begini, dan apalagi istri abang makin hari makin cantik ternyata. Semangkin cinta." Senyum Azzam menggoda, nampaknya ia seperti sengaja ingin membuatku berubah merah merona. Perkataannya selalu mujarab untuk membuatku tersipu malu.
"Aduh, itu pipi kenapa?" Azzam semangkin gemas, ia bahkan tega mencubit pipiku saat berhasil membuatku kikuk.
Aku meraba pipiku. "Jangan cubit bisa nggak!" geramku.
Azzam tertawa kemudian balik mengelus bekas cubitannya tadi. "Duh, duh maaf sayang, gemas. Habis abang lihat pipi Nisa semangkin chubby."
"Kenapa? Nisa gedutan ya?"
"Tidak kok, hanya pipi Nisa yang semangkin gembul."
Aku balas mendesis. "Sama aja."
"Tapi abang sebenarnya takut."
Aku mengerutkan kening. "Takut kenapa dan Kenapa mesti takut?"
"Takut Nisa akan digoda lelaki lain," kekeh Azzam setelahnya.
"Emangnya Nisa nggak khawatir. Nisa juga khawatir karena yang abang hadapi saat ini adalah bukan siswa lagi. Tapi seorang mahasiswa, Nisa takut abang kepincut mahasiswa abang yang cantik-cantik lho. Apalagi kalau mereka bimbingan dengan dosennya pasti suka-suka curi kesempatan kan?"
Aku turut tergelak. "Liat di film drakor-drakor begitu."
Azzam berangkat lebih awal pagi ini. Pukul 08.00 ia sudah rapi karena pukul 08.30 dirinya diminta sebagai penguji dalam ujian komphensif mahasiswa prodi ilmu komunikasi adab dan dakwah. Sebenarnya ia tidak memiliki jadwal sebagai dosen penguji hari ini. Namun, karena Pak Bambang memiliki jadwal cuci darah hari ini. Maka ia diminta oleh staf bagian prodi untuk menggantikan Bapak Bambang.
"Nisa, lihat berita acara ujiannya tidak di meja abang tadi?" tanya Azzam membolak balik lembaran kertas putih di atas meja.
Aku menghentikan aktivitas melipat baju. "Mana Nisa tau. Emang abang simpan dimana?"
"Semalam perasaan abang selipkan di skripsi ini. Tapi kenapa abang tidak menemukannya ya." Azzam mengecek lembaran skripsi yang telah dijilid takut selembar berita acara itu terselib di sana.
Sambil sesekali pula aku nampak ia mengecek jam dipergelangan tangannya. Aku tahu Azzam orang yang sangat menepati waktu. Ia tidak ingin mahasiswanya menunggu lama untuk menanti keempat dosen pengujinya termasuk salah satunya Azzam.
"Sebentar Nisa bantu cek ya, di tas abang." Aku pun ikut membantu Azzam untuk membantunya mencari lembar berita acara yang diberikan mahasiswa kemarin.
"Aduh, dimana ya sayang?"
"Abang kan abang dosennya. Nggak papalah telat sedikit. Nggak usah buru-buru gitu, lagian ini masih ada waktu 30 menit juga."
"Bukan begitu sayang, abang kan menggangikan Pak Bambang beliau adalah ketua penguji. Maka abang yang akan memulai membuka sidang permulaannya. Nanti Nisa juga akan tau bagaimana sistemnya kalau sudah kuliah nanti."
__ADS_1
Aku mengecek setiap apa yang di jejalkan di dalam tas Azzam. "Di tas nggak ada sayang," tuturku memberitahu.
Aku beralih ke meja yang menumpuk buku-buku bacaanku. Buku-buku tes yang aku gunakan untuk berlatih mengerjakan soal-soal seleksi masuk perguruan tinggi. Satu per satu setiap bagian buku aku cek. Siapa tahu menyelip di antara buku-buku catatanku juga.
Sampai akhirnya aku menemukan sebuh kertas berukuran legal dengan posisi terlipat dua terselip di tengah-tengah buku catatanku. "Apa ini ya?" batinku.
Aku membuka lipatan kertas dan netra mataku mulai membaca tajuknya.
BERITA ACARA UJIAN KOMPREHENSIF. Iya nggak salah lagi pasti ini. Di sana ada tertera nama Yunanda Afsaldi, nama mahasiswanya.
"Bang, ini bukan?" Aku mengangkat ke udara kertas legal yang ku temukan tadi.
"Mana?" Azzam meraih mertas itu dan membacanya.
"Oh iya benar. Terima kasih ya, sayang."
Aku menghela napas. Sementara Azzam menyatukan lembaran yang terpisah tadi ke dalam map. "Makannya tadi malam di siapin dong."
"Iya abang khilaf. Maksud abang semalam begitu tapi benar-benar malam tadi abang kecapean."
Yah, sebenarnya aku tahu. Semalam tamu termasuk kenalan Azzam yang tinggal di daerah Tangerang datang berkunjung untuk silaturahmi. Sekaligus memperkenalkan aku pada rekan-rekan sejawatnya. Belum lagi tamu tetangga kiri-kanan. Yang notabenenya pada sibuk bekerja siang hari dan mereka baru dapat berkomunikasi dengan keluarga atau pun tetangganya hanya pada waktu malam hari saja. Itu pun juga terbatas, karena orang-orang juga butuh istirahat usai seharian berkutat pada aktivitas yang melelahkan pikiran.
"Abang, berangkat dulu ya. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam. Bang ada yang ketinggalan," kataku saat dia hendak menuju mobil yang terparkir di garasi.
"Apa?"Aku lihat Azzam mengecek saku celana kemudian saku bajunya juga.
"Sun nya dong."
Setelahnya Azzam tampak tersenyum mendengar kalimatku barusan. "Dasar ya." Azzam mengacak kepalaku yang berbalut hijab.
"Hmm, habis. Belum sibuk banget udah lupa aja. Apalagi sibuknya luar biasa. Jangan-jangan lupa jalan pulang ke rumah," kataku cemberut.
Azzam terkekeh. "Hahaha. Iya-iya sayang. Maaf."
Aku balik meraih sapu ijuk yang aku sandarkan ke dinding tadi, tapi Azzam mencuri kesempatan untuk mencium pipi saat melihat raut wajahku mulai masam.
"Abang, berangkat ya. Jaga diri di rumah dan jaga iman."
Setelahnya, Azzam kembali masuk ke dalam mobilnya dan mulai menyalakan starter mobil. Begitu pun aku, aku kembali melanjutkan membersihkan pekarangan depan rumah.
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
__ADS_1