Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 85. Permintaan


__ADS_3

Menikmati sela-sela waktu bersantai, aku membaca buku-buku milik Azzam yang berjejer rapi di rak lemari kaca berwarna cokelat.


Suara ketukan pintu terdengar dari luar. Saat membuka pintu, ternyata ibu yang muncul di depanku.


"Sedang apa Nisa? Dari tadi umi ketuk pintunya, nggak nyahut-nyahut."


"Nggak dengar Umi. Kenapa?"


"Ini, ada bunga untuk kamu." Ibu menyodorkan sebuah buket bunga berwarna pink.


"Bunga, Umi?" tanyaku seraya mengambil bunga itu.


"Iya, kata ibu mu tadi ada kiriman, dan ini katanya dari Azzam. Ibu juga tidak tau, karena waktu itu ibumu yang menerimanya," jelas Umi singkat. Setelah itu, Umi kembali ke arah belakang usai memberikan bunga itu.


Aku menutup kembali pintu kamarku sambil senyum merekah tiada henti terpancar, memandangi rangkaian bunga kiriman Azzam.


"Dasar, kayak ABG aja kirim-kirim bunga segala." Senyumku, mencium semerbak wanginya bunga mawar pemberian Azzam.


Note kecil berwarna merah jambu terselip di sela tangkai mawar merah tadi.


"I Love You Dhanisa."


Hatiku berbunga-bunga membaca tulisan Azzam. Cuman aku hanya merasa sedikit aneh karena Azzam biasanya jarang menyebut namaku dengan nama Dhanisa. Biasanya ia hanya selalu memanggilku dengan nama Nisa. Sebutan nama Dhanisa, biasanya hanya ia gunakan ketika aku melakukan suatu kesalahan dan ia marah kepadaku.


"Hm, tumben ya abang menyebut namaku dengan Dhanisa. Biasanya juga Nisa," ucapku lirih.


Tak ingin berpikir yang aneh-aneh, aku meletakkan rangkaian bunga mawar merah itu di vas bunga yang ada di kamar kami. Lalu, kembali duduk di kursi rotan menghadap balkon, melanjutkan bacaanku kembali.


Baru beberapa menit aku merapatkan duduk, tiba-tiba aku teringat sesuatu. Dengan cepat aku meraih ponselku.


"Astagfirullah, bagaimana aku hampir saja lupa hari ulang tahun Azzam," kataku kaget. "Besok tepat hari minggu tepat hari ulang tahunnya."


Aku kembali teringat masa dimana ketika aku belum bisa menerimanya hadir sebagai bagian dari hidupku tapi ketika ulang tahunku, ia tetap memberikan yang terbaik dan super romantis. Sungguh membuat aku terkesan, Azzam memberikan aku sebuah kalung liontin.


Aku tersenyum, sambil meraba kalung liontin yang diberikan Azzam yang sampai saat ini masih aku kenakan dan melekat indah dileherku.


***


"Galang, thank you ya saran kamu baru saja aku laksanakan. Dan aku harap rencanaku berhasil." Ridho kembali mengesap minuman latecoffie di depannya.


"Oke bro," ucapnya sambil gelimpungan. Galang tampak mulai terhuyung usai meminum minuman beralkohol. Sudah pukul 12 malam dua pemuda itu sudah nongkrong tiga jam di bar ini. "Ngomong-ngomong saran yang mana yang kau ikuti, Dho?"


"Aku mengirimkan bunga dan ucapan cinta untuknya, Lang."


Galang tersenyum miring. "Ha... Bagus. Aku suka cara kamu Ridho." Galang tegelak jahat. "Sekarang, ayo minum minuman ini!" Galang memberikan segelas mini minuman yang juga ia minuk tadi.


Ridho menggeleng, tanda ia menolak ajakan Galang. "Nggaklah, Lang. Kamu aja, aku udah kembung rasa minum ini," elak Ridho. Meskipun ia paham karakter dirinya sendiri, tapi Ridho sedikitpun enggan menyentuh minuman seperti itu.


"Ah, payah. Laki-laki cemen!" ejak Galang.


"Ridho, aku kasih tau ya... Kamu harus berhasil ngedapatin cewe itu, kayak aku berhasil ngerebur Kalila dari pacarnya."


Ridho menghela berat. "Galang, yang kau itu beda. Si Kalila dengan Juno masih berstatus pacaran. Nah, aku? Aku harus ngerebut wanita yang sudah punya suami, coy.. SUAMI," tekan Ridho. "Tapi, sumpah aku kesal banget dengan suaminya si Dhanisa itu. Sok alim banget! Kayak dia nggak pernah buat salah dan dosa aja," geram Ridho, menyimpan kesan ketidaksukaan terhadap suami Dhanisa.


"Haha... Ya begitu tuh, mesti kamu beri pelajaran!"


"Tentulah!" Ridho mengepalkan tangannya.


"Trus, Dho. Gimana dengan istri kau, kalau suatu saat kau berhasil mendapatkan perempuan istri dari si Azzam itu?"


"Si Rara. Maksudmu?"


"Ya, aku tinggalin lah." Tegelak Ridho jahat. "Aku bosan dengan dia. Aku nyesel, Lang nggak ngikutin saran bokap dan nyokap supaya nggak nikahin tuh cewek. Dan sekarang orang tua aku minta supaya aku nikah lagi dengan wanita lain, yang bisa memberi keturunan untuk mereka, Lang."


"Kamu yakin bakalan tinggalin Rara? Bukannya kau cinta mati dengan dia kan? Buktinya waktu orang tua kalian nggak merestui hubungan dan pernikahan kalian berdua. Kau dan Rara tetap nekat dan keukeuh ingin menikah Rara."


Ridho menepuk meja dengan keras. "Ah, lupakanlah itu, Galang. Aku nggak tau apa yang terjadi dengan diriku."


"Oke bro. Apapun keputusan kau, aku dukung. Dan kalau kau butuh bantuan apapun itu kau bisa minta tolong dengan aku."


"Thankyou buat tawarannya. Tapi aku akan berusaha dengan cara aku sendiri, Galang."


Galang mengangguk paham. Ia berlanjut meneguk minuman yang sudah hampir habis. Malam semangkin larut, berlomba dengan musik bar yang semangkin mengeras. Wanita-wanita malam juga turut menemani laki-laki yang tengah duduk bersantai bersama dentuman musik keras.


***


Sudah berkali-kali aku merubah posisi tidur. Dari miring kiri kemudian miring kanan. Sampai berkali-kali, tak juga aku menemukan posisi yang nyaman untuk tidur dan terlelap malam ini.


Melihat Azzam sudah terlelap di sebelah. Aku menguncang tubuhnya supaya ia bangun. Tapi Azzam hanya membalas dengan bergumam tak jelas. Sekali lagi aku berusaha membangunkan dia.

__ADS_1


"Bang, Abang!" panggilku sambil mengoyangkan tubuhnya.


"Hmm... " gumamnya kemudian melenguh. Bukannya bangun ia malah menaruh dan menjatuhkan tangannya ke atas perutkan, melingkarkannya dengan rapat.


"Sayang bangun!"


Azzam tampak berusah payah membuka mata, ia mengerjap berkali-kali.


"Kenapa?"


"Laper"


Azzam mengangkat sedikit kepalanya, demi melihat jelas wajahku. "Hah? Bukannya tadi kita sudah makan bersama di bawah?"


Aku memanyunkan bibir. "Iya sih cuman tiba-tiba laper aja."


Azzam menjatuhkan kembali kepalanya di atas bantal.


"Sayang! Ish kok tidur lagi!" aku mendesis sebal. Kemudian mencubit lengannya gemas.


"Ya Allah, ampun!" Azzam melonjak kaget.


"Nisa?" panggil Azzam, kali ini ia telah mampu membuka matanya lebar-lebat berkat cubitanku tadi.


"Ayo!" Aku menarik-narik lengannya.


"Ini benar Nisa lapar?" Azzam melirik jam.


"I-iya benar lah."


"Tapi ini sudah tengah malam, memangnya masih ada warung yang buka?"


"Nggak tau."


"Memang mau makan apa?"


"Ikan asam pedes sama ice cream?"


Azzam melototkan matanya. "Lha, kalau ikan asam pedas oke abang bolehkan. Tapi ice cream, Nisa!"


Aku menggeleng. "Maunya itu, sayang!" kataku bermanja.


"Sayang, ice creamnya besok aja ya. Malam-malam nggak bagus makan ice cream sayang, yah?" bujuk Azzam. "Kalau besok makan ice apapun sebanyak apapun abang beli asal jangan malam ini. Nggak bagus."


Aku mengerucutkan bibir. "Ya udah deh!"


Azzam tersenyum, mengusap kepalaku. Perasaan lega bisa aku rasakan dari helaan hangat napasnya.


"Kalau gitu, beli ikan asam pedas deh."


Sebenarnya bukan tanpa alasan dimana pula dirinya harus mencari menu itu malam begini. Pasti warung juga sudah tutup. Tapi, ia mencoba mencari tahu lewat aplikasi antar pesan makanan siapa tau masih ada yang bersedia malam begini untuk membeli dan mengantarkan orderan makana pesanan. Kalau tidak ya terpaksa dirinya yang turun tangan memasak tengah malam di dapur.


Azzam turun dari ranjang, lalu sedikit membenarkan sarung yang dikenakannya.


"Mau kemana?"


"Cari makanan"


"Pesan aja kenapa?"


"Iya, sudah abang coba cuman tidak ada sayang. Jadi, abang buatkan tidak apa ya?"


"Di dapur?"


"Iya masa di ruang tamu."


Aku mendesis sebal. "Ih, bisa aja!"


Azzam tertawa pelan. "Ya sudah tunggu di sini ya."


***


Rara tanpa sengaja terlelap di atas kursi sofa panjang, tubuhnya berbaring di sana. Menunggu Ridho yang belum juga pulang. Makanan di atas meja juga masih terhidang dan belum disentuh. Rara hanya ingin makan ketika Ridho sudah pulang. Ia sangat ingin makan bersama dengan suaminya.


KRIEK...


Suara pintu terbuka.


Tanpa disadari Rara pintu ruang tamu terbuka. Ridho yang datang. Ia memang membawa kunci cadangan rumah mereka. Matanya kini melirik pada wanita yang telah setia menemaninya selama 4 tahun. Ia masih terlelap.

__ADS_1


Ridho mencoba mendekat dan duduk di dekat tubuh istrinya. Diusapnya wajah Rara yang menunjukkan raut letih.


Rara mengerjap ketika ada sesuatu yang membuat wajahnya terasa geli.


"Mas, kamu udah pulang?" Rara seketika bangun.


"Kamu ngapain tidur di sini? Kenapa nggak di kamar?"


Rara tersenyum. "Aku nungguin kamu."


Tak mengucap sepatah kata pun lagi, Ridho berjalan menaiki tangga menuju kamar. Rara mengekor di belakang.


Ridho masuk ke toilet sebentar dan balik lagi ke kamar untuk tidur, malam suda sangat pekat dan larut. Waktunya orang beristirahat dan tidur malam.


Di pembaringan Rara meremas perutnya. Ridho yang baru hendak merebahkan tubuhnya menyadari apa yang dilakukan Rara.


"Kamu kenapa, Ra?"


Rara cepat menyingkirkan tangannya, dan mencoba bersikap biasa saja. "Nggak kok, Mas."


"Nggak usah bohong. Muka kamu pucat begitu?"


"Ini biasa Mas, aku mungkin hanya terkena maag."


"Maag?" tanya Ridho. "Kamu nggak makan? Sampai sakit maag kamu kambuh lagi?"


Rara menggeleng. "Aku nungguin kamu," lirih Rara jujur.


Ridho mencoba untuk tidak peduli, sisi lain ia merasa kasihan, bagaimana pun dia istri sahnya. Istri yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya sendiri.


"Kamukan bisa makan sendiri. Tanpa harus menunggu aku."


Rara terdiam dan menunduk.


Ridho kembali beranjak dan menarik lengan Rara.


"Mas, mau kemana?"


"Katanya kamu belum makan, ayo makan"


Rara menurut dan mengikuti Ridho menuruni anak tangga menuju meja makan yang sudah terhidang makanan lezat buatan istrinya.


Ternyata Rara sudah memasak masakan enak, dan rata-rata itu adalah masakan kesukaan Ridho.


"Kamu masak makanan kesukaan aku semua, Ra?"


"Iya, Mas," sahut Rara.


Kursi meja makan yang ada di sebelah kanan ditariknya satu. Menyuruh Rara untuk duduk.


"Sekarang ayo, kamu makan." Ridho mengambilkan piring dan menyendokkan nasi untuk Rara.


"Ini, ayolah makan," pinta Ridho.


Rara menatap piring nasi yang sudah terisi di hadapannya.


"Kenapa cuman dilihat? Ayo makan?"


"Mas, nggak makan juga?"


"Nggak. Aku udah kenyang."


Rara menyingkirkan piring nasi itu. "Lho, kenapa?"


"Aku masu Mas juga makan. Biar kita makan sama-sama."


Ridho menatap istrinya. Ia menyadari istrinya sakit maag karena menunggu dirinya yang tak kunjung pulang. Pria itu menjadi merasa bersalah.


"Ya sudah, aku makan. Tapi kamu juga makan."


Sebuah senyum terukir lagi di wajahnya. Rara mulai menyuap makanan yang diambilkan Ridho untuknya tadi.


"Lain kali kamu nggak usah nunggu aku pulang dulu. Jadinya kamu yang sakitkan?"


Rara mengunyah pelan mendengar ucapan Ridho. Dia tidak menjawab dan hanya diam. Dalam hati sebenarnya, Rara senang karena Ridho ternyata masih memperdulikan dirinya. Meski ia menyadari itu tak seperti dulu.


"Setelah ini kamu harus minum obat supaya nggak parah maagnya."


Keduanya berlanjut menikmati santap malam mereka berdua yang sebenarnya sudah terlewatkan.

__ADS_1


__ADS_2