
Seorang laki-laki berkemeja koko dengan peci hitam menghias kepalanya sudah duduk bergabung dengan para tamu yang datang silih berganti. Mereka semua datang untuk memenuhi undangan doa selamatan yang diadakan di rumah Sarah. Di antara para tamu yang hadir salah satunya Azzam. Berbeda dengan Marvin yang datang bersama dengan istrinya, Azzam justru datang sendirian tidak ditemani oleh Dhanisa, istrinya.
Marvin, Azzam dan Sarah, mereka sletingan waktu kuliah S1 maka dari itu mereka saling mengenal satu sama lain. Masing-masing dari mereka hanya berjarak beberapa semester saja. Marvin adalah kakak seniornya Azzam dan Sarah. Sedangkan Azzam dan Sarah berjarak empat semester. Setelah merampungkan studi S1 mereka sama-sama melanjutkan studi S2 sesuai dengan tujuan studinya masing-masing. Marvin mengambil studi Educational Leadership and Management di Inggris, Azzam memilih untuk mengambil studi Dirasat Islamiyah di Mesir, dan Sarah mengambil kedokteran di Yogyakarta.
Marvin yang datang berselang 10 menit setelah Azzam. Matanya mengedar ke sekeliling untuk mencari-cari Azzam yang telah meninggalkannya lebih dulu. Bola mata Marvin berhasil menemukan sosok pria yang dia cari. Dia langsung mengambil posisi duduk merapat ke samping Azzam.
“Hei, aku kira kita bakalan berangkat bareng. Eh, malah kau duluan.”
“Iya, rencana awal begitu. Tapi aku pikir-pikir lagi, kau kan pergi bersama istrimu jadi aku merasa tidak enak. Takut menganggu kalian.”
“Oh, gitu. Memangnya istrimu tidak diajak?” sela Marvin.
“Bukan tidak mengajak, hanya dia memang tidak bisa untuk ikut malam ini,” balas Azzam datar.
Kemilau di langit malam kembali meredup, tidak ada satupun bintang yang mau menampakkan komolekannya malam ini. Angin kembali mulai membawa aroma dingin yang khas. Pertanda malam ini butiran yang menggumpal di langit akan turun berderai lagi. Sayup-sayup terdengar suara lantunan lafadz tahlil, tahmid dan doa dari arah rumah Sarah turut ikut menyejukkan suasana malam yang sudah dibalut hawa dingin. Lampu-lampu jalanan meliuk-liuk ke kiri dan ke kanan kala diterpa hembusan angin kencang.
Sarah masih stay di depan pintu seraya memberikan beberapa bingkisan kepada tamunya yang telah meluangkan waktu untuk menghadiri acara doa selamatan sebagai bentuk rasa terima kasihnya, Sarah ingin membagikan beberapa box nasi kepada mereka.
“Wah! terima kasih banyak, Mbak Sarah. Semoga rezekinya semangkin dilipat gandakan oleh Allah,” suara gembira salah satu tamu yang turut mendapatkan bingkisan dari Sarah.
“Amiin, terima kasih juga karena sudah mau meluangkan waktu malam-malam untuk memenuhi undangan kita,” balas Sarah tak kalah ramah.
Di dalam rumah masih ada beberapa orang tamu yang tak lain adalah para rekan kerja Sarah dan juga teman-teman lamanya yang khusus juga diundang malam ini. Sarah memang sengaja mencegah mereka untuk tidak pulang terlebih dahulu. Katanya ada sesi acara berikutnya yang sedang dipersiapkan Sarah. Sesaat setelah seluruh tamu sudah habis, Sarah langsung menghampiri mereka yang masih berada di ruang tengah.
“Hmm... teman-teman berhubung tamu yang lainnya sudah pulang. Aku bermaksud untuk membuat acara makan-makan khusus untuk rekan kerja butik Sarah dan teman-teman seperjuangan kuliah,” tuturnya dengan penuh semangat, dan raut wajah gembira.
“Wah, kita suka sekali ide ini,” suara Tante Arini menyahut lebih dulu.
“Kita nggak bawa apa-apa lho Sarah.” Marvin ikut menyahut. “Kita cuman bawa ucapan terima kasih.”
Sarah tertawa tipis.
“Kalian semua datang kemari saja sudah menjadi kehormatan bagiku," tutur Sarah.
Tanpa banyak basa-basi Sarah langsung membimbing mereka ke arah butik. Ketika pintu pertama kali dibuka ternyata sudah ada meja panjang dan besar dengan kursi yang telah tertata rapi. Meja makan yang digunakan begitu luas bisa diperuntukkan sekitar sepuluh orang, tidak tinggal beberapa masakan sudah tersaji di atasnya.
“Ayo silahkan duduk,” seru Sarah.
Mereka semua mengambil posisi duduk masing-masing. Marvin mengambil posisi duduk di sebelah istrinya, kemudian disusul Vina, salah satu karyawan butik Sarah. Sementara deretan kursi di hadapan mereka diisi oleh Azzam, Sarah dan Tante Arini. Semuanya sudah duduk merapat.
Sarah melirik pada laki-laki yang duduk di sebelahnya. Ia menyadari Azzam hanya datang sendiri malam ini. Padahal dia juga sudah mengundang istrinya supaya turut hadir.
“Mas, istri Mas tidak ikut?”
“Belum bisa ikut, sebab ada teman-teman sekolahnya di rumah yang datang untuk menjenguk,” balas Azzam.
“Istri Mas sakit memangnya?”
“Hanya kelelahan saja. Maklum kegiatan pembelajaran yang mesti diikuti di sekolah lumayan padat apalagi sudah mendekati ujian mungkin itu yang membuat kondisi kesehatannya kurang stabil,” jelasnya.
“Oh iya. Bukannya kau memiliki adik laki-laki. Kemana dia? Kenapa tidak ikut bergabung?”
“Mungkin masih dengan teman-temannya. Biarlah dulu, sebentar lagi dia juga ke sini.”
Marvin hanya pelanga plongo sedari tadi memandangi menu yang tersaji di depan. Dia sebenarnya mau memulai duluan mengambil menu tapi segan karena belum dipersilahkan oleh tuan rumah apalagi bukan dia tuan rumahnya untuk mengajak mereka memulai mencicipi hidangan.
Marvin mendehem panjang.
“Ini boleh dimakan nih?” tanya Marvin menyindir.
Istri Marvin yang berada di sebelah langsung menoleh dan memelototi suaminya itu.
“Mas,” tutur istrinya mengeram.
Marvin melempar tawa. “Habis nggak mulai-mulai, sayang.”
__ADS_1
“Iya betul tuh, kita sudah lapar. Pasti teman-teman yang lain juga samakan?” Tante Arini turut menimpali sebagai wakil daripada karyawan butik.
Sarah tersenyum rikuh.
“Aduh, iya. Maaf-maaf. Ayo silahkan dicicipi hidangannya dan selamat menikmati.”
Azzam menjatuhkan menu pertamanya pada ikan bakar, kebetulan makanan favoritnya ada di sana. Tak disangka tangan Azzam terulur berbarengan dengan tangan Sarah yang juga menyentuh menu ikan bakar. Azzam mengalah, ia menarik kembali tangannya dan membiarkan Sarah yang mengambil duluan.
“Silahkan, kamu saja yang duluan,” ucap Azzam menawarkan.
“Kamu aja, biar aku pilih menu yang lain,” jawab Sarah dengan wajah tertunduk, merasa tak enak.
Akhirnya, Azzam memilih untuk mengambil ayam goreng saja. Tapi apa yang terjadi lagi-lagi tangan mereka menyentuh menu yang sama untuk kedua kalinya. Kejadian itu tentu membuat orang-orang yang makan bersama mereka menjadi heran. Termasuk Marvin yang melihat dua teman alumni sekampusnya itu.
Marvin mendehem.
“Sayang, perasaan lauk di sini begitu banyak ya? Tapi kenapa kita tidak pernah menyentuh lauk yang sama?” sindir Marvin sambil matanya mengekor ke arah Azzam.
Istri Marvin hanya tersenyum geli melihat apa yang terjadi.
Azzam menjadi ragu untuk mengambil menu yang berikutnya karena takut akan berbarengan lagi. Akhirnya dia hanya menggapai air putih yang ada tepat di depannya, karena tidak mungkin bisa berbarengan karena setiap orang telah disediakan air putih satu per satu.
Marvin berdiri dan menggapai piring Azzam.
“Sini biar aku yang ambilkan, daripada kau tidak makan dan hanya minum air putih malam ini. Ya nggak?” goda Marvin mengerling jail.
Azzam hanya diam dengan apa yang dilakukan Marvin.
Malam itu sepertinya menjadi malam yang menyenangkan bagi mereka karena dapat saling bertukar cerita. Entah itu tentang kenangan sewaktu kuliah ataupun masalah pekerjaan masing-masing. Tapi beda dengan Azzam, dia kali ini lebih banyak diam dan hanya menjadi pendengar yang baik.
Usai santap malam mereka habis. Azzam pamit pulang, sebenarnya Marvin belum puas berbincang-bincang malam itu. Tapi tidak enak dengan Azzam yang lebih dulu izin untuk pulang akhirnya dia mengikuti langkah Azzam untuk pamit pulang juga.
Langkah Azzam tiba-tiba terhenti ketika seorang anak muda datang menyapanya.
Azzam tidak membalas pertanyaan itu dengan kata IYA ataupun kata TIDAK. Dia hanya diam memandangi pemuda di depannya.
“Gimana kabarnya Dhanisa, Om? Dia sehatkan?”
Azzam mengangguk pelan. “Sehat.”
“Om, mau pulang? Om tunggu sebentar di sini, ya!” pinta pemuda itu.
Dia menghilang sebentar masuk ke dalam rumah, kemudian kembali dengan membawa sebuah benda di tangannya. Mirip seperti kado, sudah dibalut dengan rapi menggunakan kertas kado dan diberi pita di atasnya. Tidak lupa secarik kertas menempel di sana. Mungkin sebuah kartu ucapan yang dikirimkan untuk Dhanisa.
“Om, aku titip ini ya?” Pemuda itu mengangsurkan benda yang ada ditangannya. “Bilang dari Hanan.”
Ya pemuda itu adalah Hanan. Hanan yang pernah ditemuinya di toko buku dan kali kedua di rumah ketika mengembalikan dompet istrinya. Rasanya bagi Azzam dunia begitu sempit, tiada putusnya dia bertemu dengan pemuda energik ini.
Hanan tersenyum tipis saat tangan Azzam menyambut benda yang diberikan.
Azzam menerima ragu-ragu.
“Apa ini?” tanya Azzam skeptis, seraya melepas kacamatanya.
Hanan melempar senyum rikuh.
“Ada deh, Om.”
Kemudian Azzam diam dan berpikir.
“Kenapa bukan kamu sendiri yang memberikannya?”
“Sebenarnya tadi aku mau antar ke rumah Dhanisa cuma tidak sempat karena masih ada tugas kampus,” katanya. “Nah, kebetulan ketemu dengan Om, jadi titip dengan Om saja. Tidak apa-apakan? Apa Om keberatan?” tanya Hanan dalam sekali tarikan.
Azzam menghela panjang. “Oh tidak masalah.”
__ADS_1
“Kalau begitu terima kasih ya, Om. Salam untuk Dhanisa,” ujarnya dengan senyum lebar.
Azzam langsung melangkah masuk menuju mobilnya ketika gemericik gerimis mulai turun. Sepanjang perjalanan pikirannya tidak tenang. Dia sendiri tidak dapat menjelaskan apa yang sedang terjadi dengan dirinya. Tiba-tiba timbul perasaan gelusah. Azzam menoleh melihat bingkisan milik Hanan yang ditaruh di jok kursi mobil yang ada di sebelahnya. Tidak lama pandangan dialihkan lagi ke depan. Gemericik gerimis semangkin rapat, sepertinya malam ini hujan akan turun lebih lebat dari malam sebelumnya.
Azzam mengerem mendadak. Dia hampir saja menabrak mobil jeep yang ada di depan. Mobil itu menyalib mobil Azzam dengan begitu kencang. Pengendara itu benar-benar ugal-ugalan ketika menyetir mobil, beruntung Azzam masih dapat mengendalikan laju mobil hingga mencegah terjadinya tabrakan. Karena kejadian tadi Azzam memutuskan untuk menepi sebentar mencoba untuk tenang dan mengontrol diri.
Matanya diedarkan keluar kaca mobil. Embun dari kaca mobil membuat pandangan tak begitu jelas. Azzam menoleh kembali ke jok kursi mobil samping kiri. Pelan tangan Azzam meraup kado itu, ia sangat penasaran tentang kartu ucapan yang ditulis Hanan untuk istrinya.
Bola mata Azzam bergerak mengikuti tulisan yang dibacanya.
Hai, Dhanisa aku tahu kita mempunyai selera bacaan yang sama.
Ini sekedar kiriman hadiah untuk kamu.
Semoga kamu suka.
Get well soon, ya
Kalau kamu mau menghubungi aku lebih lanjut, kamu bisa telepon aku ke sini. 0878XXXXXXXX
-Hanan-
Berdesir jantung Azzam ketika membaca kartu ucapan buatan Hanan untuk istrinya. Azzam menarik napas dalam-dalam ketika dadanya mulai terasa sesak. Kepalanya disandarkan pada sandaran kepala jok mobil, seraya matanya terpejam. Dalam hati dia lidahnya selalu melafadzkan zikir untuk menenangkan pikiran dan perasaannya.
Drrtt... Drrrttt
Handphone Azzam di atas dashboard berkedip kedip tanda ada pesan yang masuk. Dilihatnya notifikasi pesan yang tertera di depan layar. Dhanisa. Nisa mengirimkan pesan via aplikasi whatsApp.
📨Dhanisa
Assalamu’alaikum
Abang, Nisa mau laporan. Tadi setelah Nisa dijenguk Jihan. Nisa pergi keluar ikut dengan Kak Soraya. Sekarang Nisa ada di rumah Umi. Jadi, Abang nggak usah cemas cariin Nisa kalau nggak ada di rumah. Nisa nggak tau kapan pulang. Yang jelas nggak nginep. Abang bawa kunci serepkan? Sekian laporan Nisa. Wasalamu’alaikum.
Azzam hanya menggelang-gelang seraya tersenyum lebar saat membaca pesan dari istrinya. “Dasar Nisa! Nisa, ini yang membuat abang selalu merindukan Nisa. Sikapnya yang manja. Ekspresinya ketika cemberut yang membuat dia tampak menggemaskan,” gumam Azzam sendirian.
Tangan Azzam meraba-raba dashboard mobil untuk mencari serep kunci rumah, untuk mengecek apa dia bebar membawanya atau tidak. Sekejap tangannya berhasil menemukan kunci serep itu. Azzam tersenyum jail. Dia yang tak mau kalah dengan istrinya juga mengirimkan pesan.
📨Azzam
Wa’alaikumsalam. Siap. Laporan diterima. Tapi Abang tidak memegang kunci serep.
📨Dhanisa
Tapi Nisa juga nggak megang. Nisa cuma megang satu. Satunyakan dengan Abang Azzam!!.
📨Azzam
Ya sudah nanti Nisa jangan lama-lama di rumah, Umi. Sudah itu minta Kak Soraya untuk antar pulang. Abang tunggu di rumah.
📨Dhanisa
Y!
Azzam tersenyum lebar. Kalau begitu balasan pesannya pasti dia sedang sebal.
Pelan-pelan Azzam memang mengajarkan Nisa supaya mengerti akan tanggung jawab dia sebagai istri. Meskipun belum sepenuhnya dijalankan oleh Nisa. Tapi Azzam selalu meminta kepada istrinya jika hendak keluar rumah supaya meminta izin lebih
dulu. Azzam pernah mengajarkan istrinya tentang konsep nusyuz. Nusyuz bermakna pembangkangan.
Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Nusyuz adalah meninggalkan perintah suami, menentangnya dan membencinya” [Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 4: 24].
Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa yang dimaksud nusyuz adalah wanita keluar dari rumah suaminya tanpa ada alasan yang benar. Sedangkan ulama Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah berpendapat bahwa nusyuz adalah keluarnya wanita dari ketaatan yang wajib kepada suami. [Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 40: 284].
Azzam menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya. Dia membenarkan kembali posisinya untuk mengemudikan kendaraan. Setelah pikiran dan perasaan mulai tenang Azzam menyalakan starter mobil, lalu menginjak pedal gas untuk kembali berpacu dengan jalanan.
__ADS_1