
Orang-orang semangkin rapat memenuhi area lapangan meredeka. Tenda-tenda putih telah sepenuhnya berdiri sebagai tanda adanya acara Bazar Expo. Acara ini dilaksanakan selama tiga hari bekerjasama dengan badan perpustakaan dan kearsipan daerah Ciputat Timur. Tercatat ada lebih dari 30 stand yang mengikuti pameran Bazar Expo.
Diketahui bahwa kesadaran literasi orang Indonesia dikatakan bertambah sebanyak dua juta orang. Meski sudah mengalami peningkatan, minat baca di Indonesia masih agak sulit dilakukan karena kurangnya akses bacaan. Sehingga kehadiran bazar buku seperti ini bisa menambah akses buku berkualitas dengan harga yang terjangkau.
Area Bazar ini juga dilengkapi dengan fasilitas area makanan, sehingga membuat kenyamanan selama kegiatan bazar buku berlangsung. Acara ini pun sangat ramah keluarga dengan berbagai sajian makanan ringan hingga makanan utama.
Di sudut kiri depan. Ada tenda berwarna putih berbentuk krucut bagian atasnya. Jihan dan Jovan tampak duduk di kursi sana. Kak Soraya tengah melayani satu dua penjungi yang singgah ke standnya. Sementara Fayzulen tengah memainkan ponselnya, dengan satu kaki naik ke atas pahanya.
Dengan duduk persis menghadap sebelah utara tatapanku masih tertuju pada sebuah bangunan yang tak jauh kegiatan bazar buku di laksanakan. Entah, aku tak selalu paham dengan perasaan yang seperti selalu ingin membawa langkahku ke sana. Aneh bagiku. Lebih aneh lagi sejak awal aku menginjakkan kaki di daerah ini hatiku langsung bergetar hebat, seperti ada aliran magnet yang kuat.
Jujur dalam naluriku, aku sangat ingin mengetahui siapa lelaki yang mengumandangkan lantunan indah ayat suci Al-Qur'an di ruangan kosong tadi. Kalau pun ilusi aku tak bisa memakluminya, nyatanya benar aku mendengar itu.
Aku mengubah posisi dudukku, saat aku mulai merasa tidak nyaman. Kedua tanganku di arahkan ke dada, mengusapnya perlahan. "Ya Allah kenapa jantungku berdegup tak beraturan begini. Sebenarnya pertanda apa ini ya Allah?"
Mentari kian naik di atas kepala. Panas hari ini begitu terik membakar bumi. Sinerginya begitu kuat. Orang-orang masih berlalu lalang ada beberapa tak peduli dengan panasnya matahari, beberapa yang lainnya terlihat mengenakan payung. Melindungi kulitnya sentuhan langsung panas matahari.
Tidak jauh dari lokasi gema dari cerobong pengeras suara yang bersumber dari masjid mulai melantuntan bacaan surah-surah pendek, pertanda agaknya sebentar lagi masuk waktu dzuhur.
Fayzulen berdiri tepat di depanku, menghalangi arah pandangku yang selalu ingin melihat ke arah TPQ tempat aku seperti menemukan kekuatan baru di sana.
Aku menengadah menatap wajah Fayzulen, mataku sedikit menyipit menahan silauan panas. "Fey, minggir!" Aku berusaha mendorong tubuhnya menjauh dan menyingkir dariku.
"Ada apa sih di sana! Maaf Nisa jujur dari tadi aku memperhatikan apa yang tengah kau lakukan. Dan aku lihat kau selalu melihat ke arah bangunan di sana. Memangnya ada apa?" Fayzulen beralih menarik sebuah kursi plastik berwarna putih. Duduk merapat di depanku saat ini.
"Fey, aku baru menceritakan ini padamu. Tadi ketika aku mau ke toilet tanpa sengaja, aku lewat di depan sebuah ruangan yang pintunya terbuka, aku mendapati seorang laki-laki sedang duduk, tengah membaca Al-Qur'an."
"Terus apa yang membuat kau se-penasaran ini?" tanya Fayzulen melihat aku dipenuhi rasa ingin tahu alias penasaran pada siapa lelaki itu.
"Hatiku bergetar ketika mendengar bacaannya, Fey. Aku kerasa suaranya, nada mengajinya, kenapa sangat sama dengan yang biasa aku dengan Azzam mengaji, murotal Qur'an."
Fayzulen mengangguk pada apa yang aku ujarkan, ia tersenyum seraya mengambil tanganku dan menumpukkan pula tangannya di atas tanganku. "Itu bisa jadi kau terbawa jiwamu yang terlalu merindukan sosok almarhum, Nisa. Ingat, kau bukannya sudah berjanji untuk merelakannya, dan membangun semangat hidup baru meski tanpa Ustdaz Azzam di sisimu."
"Tapi Fey. Kau harus percaya. Sekarang ayo akan aku buktikan ucapanku barusan. Aku bukannya mengada-ada Fey." Suaraku mulai sedikit meninggi.
Fey tertawa dan menahan pergelangan tanganku yang hendak menariknya.
"Nisa, dengarkan aku. Aku bukannya tidak percaya dengan apa yang kamu bilang. Cuman aku tidak mau melihat sahabatku terus seperti ini. Hidup di bawah bayang-bayangan yang terus menyakini kalau beliau masih ada di dunia. Bukan aku ingin mematahkan keyakinan dalam dirimu, hanya itu akan membuat kamu tidak bisa keluar dari kunkungan dukamu, Nisa."
Jihan datang menghampiri kami berdua, dengan wajah mengerut bingung. Melihat kita tampak berselisih paham.
"Kalian berdua lagi bicara apa sih? Kenapa seperti serius sekali?"
Kami berdua terdiam. Netra Jihan melirik pada Fayzulen. "Fey, kamu kok belum siap-siap ke masjid. Tuh ajakin si Jovan... " Jihan berbicara dengan nada malas.
Tanpa berkata sepatah katapun, Fayzulen beranjak pergi. Jihan menatap bingung tingkah sahabat lelakinya.
__ADS_1
"Nisa, kenapa?" tanya Jihan lembut, ia merapatkan duduknya di kursi tempat dimana Fayzulen duduk tadi.
"Nggak ada," jawabku singkat.
"Kok nggak ada. Tadi kamu bicara dengan Fey serius amat. Apa ada sesuatu?"
"Nggak Jihan. Udah ah, mending kita bersiap sholat dan mencari masjid terdekat."
Jihan menarik napasnya dalam-dalam, iya aku tahu, Jihan pasti tidak suka dan kecewa dengan penuturanku. Tapi, bagaimana lagi. Aku malas menceritakan apa yang aku sampaikan tadi pada Fayzulen, aku takut tanggapannya sama saja dengan si Fayzulen. Huft!
"Nih mukenah kamu sudah aku ambilin tadi, jadi kita langsung cari masjid di dekat sini." Jihan mengangsurkan tas mini berisi mukenah.
Bang Ali, Fayzulen dan Jovan sudah berangkat lebih dulu. Kami menyusul di belakang. Kak Soraya yang menunggu stand kebetulan Kak Aya memang sedang datang tamu bulanan.
Subhaanallah walhamdulillah wala ilahaillah wallahuakbar, wala haulawala kuuwata illabillahiladhim, allahummasholli wasallim ‘ala sayyidina muhammadillahu ya kariim.
Allahuakabar... Allahuakbar....
Seketika aku terkesiap mendengar suara yang baru saja aku dengar dari pengeras suara, suara itu begitu familliar ditelinga.
"Ya Allah, apa aku nggak salah dengar barusan suara itu... "
Mataku memanas, jantung berdetak kencang.
"Ya Allah, suara itu .... " ucapku kembali.
Suara adzan itu masih terus berlangsung. Aku mematung di tengah lapangan. Kakiku terasa kaku. Suara itu seolah mengunci langkahku.
Mataku terpejam, jantung berdegup kencang, keringat dingin bercucuran, tubuhku gemetar dan kepala berdenyut-denyut.
Aku memegang kedua pelipisku, panas dan terik matahari tak terasa lagi bahwa ia menyengat tubuhku. Aku sungguh terbuai dalam lantunan adzan nan merdu. Meski kepala ini terasa berdenyut. Akibat terlalu lama berdiam di bawah sengat matahari.
"Nisa!" suara Jihan berteriak memanggilku.
Aku masih belum beranjak dari posisiku berdiri saat ini.
"Nisa ayo, kamu ngapain berdiri terus di situ. Panas!" suara Jihan menggema dari tengah lapangan, Jihan berlindung di bawah pohon rindang dari teriknya matahari tepat di atas kepala.
Lututku bergetar. Aku berjongkok sambil memegang kedua lututku. Seperti tengah melakukan gerakan rukuk. Keringanku mulai bercucuran membahasi keningku.
Dari kejauhan aku masih bisa melihat langkah Jihan yang sedikit berlari mengarah ke arahku.
"Kamu kenapa Nisa? Kamu pusing? Dedek dalam perut sakit? Atau bagaimana?"
"Hah? Nggak kok nggakapa."
__ADS_1
"Beneran nih. Kalau nggak kuat aku antar lagi ke stand ya. Gimana?"
"Iya benar Jihan. Aku nggak papa kok."
Jihan membantu menegakkan punggungku. Aku kembali berdiri tegak. "Ya sudah ayo, masjidnya sudah deket tuh di depan."
Sampai di depan masjid bertuliskan Masjid An-Nur aku mempersilahkan Jihan untuk masuk lebih dulu, aku ingin ketoilet sebentar, membasuh wajahku.
"Ya Allah kenapa suara Azzam terus meneror pendengaranku." Air kran telah membasahi seluruh wajahku. Airnya bekas basuhan rintik-rintik, luruh menuju daguku. Menetes ke wastasfel. Dalam hati, lidahku terus melafalkan dzikir.
"Mas, itu toilet perempuan. Masnya salah masuk. Toilet laki-laki ada di sebelah kanan, Mas," kedengaran dari dalam suara wanita yang tengah menegur. Yang tentu saja orang yang ditegurnya itu laki-laki.
"Ma-maaf, Mbak. Saya tidak melihat."
Dag. Dig. Dug.
"Suara itu lagi... " liriku.
"Ya Allah apa Azzam memang ada di sini?" Aku masih terus bertanya-tanya.
"Abang?" Aku berlari keluar mencari arah suara, namun nihil, di luar toilet ini terlihat kosong tak ada satu orangpun di sini. Tapi, pupilku sempat menangkap seorang pria barusan saja memasuki toilet khusus laki-laki di sebelah toilet perempuan.
Dengan sabar, aku menunggu di depan toilet. Demi memastikan siapa pemilik suara yang mirip sekali dengan Azzam.
Tik... Tik... Tik...
Sangking sunyinya, aku dapat mendengar dentingan detik jam dari jam tangan yang melingkar di tanganku. Berkali-kali aku mengangkat tangan kiriku. Melihat menit yang terus bergerak dari satu angka ke angka berikutnya.
Dengan penuh debaran aku menantinya keluar. "Ya Allah lama sekali," gumamku dengan lirih, sambil memegangi dadaku.
Aku berdiri menghadap luar melihat beberapa tumbuhan kursi yang telah lapuk akibat dimakan rayap. Dengan beberapa gundukan seng bekas juga di sebelahnya. Namapaknya bangunan ini, baru selesai di renovasi. Gundukan pasir pun masih bersisa.
Masjid An-Nur adalah masjid yang berada sangat dekat dengan TPQ tempat anak-anak belajar mengaji di setiap sore, menurut info yang aku dapatkan.
KRIEKK...
Pintu toilet terbuka.
Deg.
"Ya Allah ya Rabb..."
Aku membekap mulutku, mata terasa begitu perih, aliran darah di dalam tubuh seperti mengelir dengan deras. Saat ini aku merasakan tubuh gemetar.
Aku pun terjatuh tepat di hadapannya saat aku tak lagi mempunyai tumpuan untuk mampu bertaham.
__ADS_1
"Mbak, Mbak kenapa?" tangannya meraba-raba, menemukan aku yang telah tergeletak di lantai.
_____