
Aku dan Azzam tengah khusyuk membaca doa usai menjalankan ibadah sunnah sholat dhuha berjamaah. Selesai berdoa, Azzam segera melipat sajadah, melepas peci kemudian meletakkannya dengan rapi di sofa samping jendela kamar.
"Bang!" panggil lalu duduk di sofa.
Azzam mengerakkan kepala menoleh melihatku.
"Iya."
"Nisa boleh tanya sesuatu?"
"Bolehlah sayang. Tanya apa, hem?" Azzam duduk, dengan manik mata memandang penuh cinta.
"Kalau Nisa bisa memberikan hadiah untuk abang, kira-kira abang mau dikasih apa?"
"Hmm, apa mau ya?" Azzam pura-pura berpikir setelahnya ia tersenyum menggoda.
"Ihh, ditanya malah senyum aneh gitu. Gimana sih!"
Azzam tegelak. "Tidaklah sayang."
"Nggak mau, apa-apa?" tanyaku memastikan.
"He'm" Azzam mengangguk.
Aku merenggut, dan menyandar tubuhku di sandaran sofa.
"Hem, kenapa merengut begitu?" Azzam menarik daguku. Sementara aku hana diam, tak merespon apa dilakukannya.
"Sayang, mau tau kenapa abang nggak mau sesuatu ataupun kado dari Nisa?"
Aku duduk menyerong dan menatapnya dengan penasaran. "Kenapa?"
Azzam melayangkan senyum sumringah. "Karena abang sudah mendapatkan hadiah yang indah. Bahkan sangat indah...Ter-Indah, dari istri abang ini."
"Terindah?"
"Terindah? Memangnya Nisa sudah kasih apa buat abang"
Azzam berdiri dan mengambil sesuatu dari laci nakas. Ia duduk kembali di sebelahku. Netraku menatap kertas yang dilipat Azzam.
"Ini" Azzam mengangkat kertas putih berukuran sekira kertas A4.
"Apa itu?" tanyaku penasaran.
"Silahkan dibaca, sayang."
Deg.
Usai membaca keseluruhan isi yang tertera dan terlampir di kertas. Aku terkejut bukan main, detak jantung seolah terhenti seketika.
Aku menatap Azzam tak percaya. "Apa maksudnya? Jadi?"
__ADS_1
Azzam mengangguk dan tersenyum. "Iya." Tangannya kemudian mengusap lembut ke arah perutku yang masih berbalut mukenah berwarna putih.
"Ya Allah sayang," ucapku dengan mata berkaca-kaca.
"Alhamdulillah sayang. Allah memberi rizki terindah untuk keluarga kecil kita." Azzam mendekapku dengan erat. Ia tak percaya mungkin sama dengan aku. Tak percaya dengan amanah yang agung, dan secepat ini.
Ia melepas rengkuhannya dan mencium keningku, kemudian Azzam duduk bersimpuh sembari mengusap-usap perutku. Dirinya merapalkan doa-doa untuk janin ini katanya.
"Jadi, abang minta jangan panggil abang lagi ya?" tawa Azzam mengusikku.
Aku memegang tangan Azzam yang masih diletakkan di perut. "Terus apa?"
"Abi?"
Aku mengernyit. "Kalau ayahnya abi, Nisa apa?"
"Umi?"
"Nggak ah, Nisa nggak mau..." kataku menggeleng. "Maunya ibu aja kayak biasa."
"Kenapa begitu?"
"Ya biariinnn... "
"Ya sudahlah, yang penting Nisa jaga kesehatan ya," pesan Azzam.
"Iya, tapi sekarang aku mau beres-beres dulu ya." Aku melepaskan mukenah yang masih aku kenakan, melipatnya rapi dan disimpan kembali atas meja kecil yang berada di sudut ruangan. Sembari membereskan beberapa barang-barang yang berserakan.
Azzam juga demikian, ia melepas sarungnya menghilang keluar sebentar.
"Sayang, ayo abang sudah siap!" ucap Azzam bersemangat.
Mataku terbuka lebar melihatnya telah membawa perlengkapan kebersihan. Sapu, alat menyedot debu, serokan sampah dan kain pel. Semuanya sudah lengkap.
"Ayo kita bertempur hari ini" ucapnya membuatku mengerjapkan mata, membuat aku menghentikan aksiku melihatnya keheranan.
"Abang, semangat sekali. Semua alat kebersihan dibawa."
"Iya tentu. Kan hari ini Minggu jadi abang bisa bantu Nisa untuk beres-beres rumah. Jadi, tidak cape kan kalau kita bekerja sama membersihkan rumah ini."
"Hmm bisa aja. Ya sudah, abang bersihin dulu bagian kamar, dan Nisa bagian kamar mandi kita ya," perintahku, kembali melanjutkan menata buku dan kertas-kertas milik Azzam yang berserakan.
"Kamar mandi?"
"Iya, kenapa?"
"Tidak usahlah sayang, kamar mandi licin. Nanti kepeleset bagaimana? Bahaya, apalagikan ada calon anak abi, sayang."
Aku mendesis sebal, mendengar perkataannya yang tampak mulai melarang aku untuk melakukan ini dan itu. "Ish, lebay ah. Biasa aja."
"Bukan begitu, kan abang mewanti saja. Daripada sesuatu yang nanti terjadi. Yah? Menurutlah sayang." Senyumnya yang manis dengan dua lesung pipi yang terlihat membuat aku tidak kuasa menolaknya. Kasihan.
__ADS_1
"Ya udahlah. Terus aku bersihin bagian mana? Kalau kamar dan toilet abang semua yang bersihin."
"Nisa, bantu umi saja memasak di dapur. Tadi di bawah abang lihat umi ada di dapur mungkin mau memasak sarapan pagi. Ya?"
"Iya. Yang bersih ya bersihin kamarnya. Nisa mau pas balik ke sini kamar kita sudah bersih dan wangi."
"Siap!" sabutnya bersemangat.
Sesuai dengan kesepakatan tadi, aku memilih menuruti ucapannya dan turun dari kamar menuju dapur membantu Umi di sana.
***
Rara benar-benar merasa hampa sikap suaminya benar berubah saat ini. Berulang kali Rara menanyai pertanyaan yang sama pada Ridho tentang alasannya tapi ia tetap tak menjawab. Sudah sebulan ini Ridho tidak pernah lagi menyentuhnya, berulang kali Rara mencoba mencairkan kembali hati Ridho supaya mau bersikap ramah dan peduli seperti dulu, salah satunya dengan memasak masakan kesukaan Ridho tapi nampaknya tetap saja Ridho masih bersikap demikian. Rara tak tahu lagi harus bersikap bagaimana.
Seperti tadi pagi. Ketika Rara bangun pagi-pagi ia sudah tidak mendapati Ridho kemana, pukul tujuh kemudian ia kembali dengan pakaian olahraga dan peluh membanjiri tubuhnya ternyata ia usai olahraga pagi, seperti rutinitas biasa yang sering ia lakukan setiap akhir pekan. Tapi biasanya kami melakukan kegiatan olahraga itu bersama, sambil menikmati nuansa pagi yang indah dan sejuk, menikmati santai lagi sambil berlari kecil di sekitaran komplek. Kali ini, Rara hanya bisa menarik napas dalam. Ridho tidak pernah mengajaknya lagi demikian.
Rara keluar dari kamar dengan langkah lulai, duduk di meja makan. Memandang ke depan dengan tatapan kosong. Sendiri. Sunyi.
"Hal apa lagi yang mesti aku lakukan?" Rara menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga. Ia duduk bertopang dagu, usai mengusap wajahnya. Meratapi bayang-bayang nasib rumah tangganya jika Ridho terus bersikap demikian.
Tiba-tiba, ia teringat kembali pertemuan dirinya dengan Azzam dan Dhanisa di rumah sakit. Sekaligus ia mengetahui bahwa istri ustadz itu hamil. Dalam hati sebenarnya, Rara iri melihat kebahagiaan dan kemeraan pasangan sejoli, yang tak lain tetangga Rara ini. Bagaimana mereka selalu dapat menjaga kelangsungan hubungan rumah tangga mereka.
"Dhanisa, apa dia menjadi teman curhatku. Siapa tau dia bisa membantu dan memberikan aku solusi," gumam Rara pelan.
"Ya, bagaimana kalau aku minta saran saja dengan dia." Rara kembali masuk ke kamar dan mengambil handphone-nya. Ia ingin menghubungi istri Azzam. Setidaknya ia bisa mengajak Dhanisa untuk bertemu dirinya hari ini.
***
Kamar mandi baru saja selesai. Sekarang giliran bagian dalam kamar lagi yang Azzam bersihkan. Ia mulai menyalakan mesih penyedot debu dan membersihkan setiap karpet yang ada di kamar utama ini. Kemudian dilanjutkan dengan mengelap bagian benda yang ada di kamar. Yang terlihat mulai berdebu. Azzam mulai membasahi kain percanya dan mengelap satu demi satu bagian benda yang terpajang di atas meja dan rak-rak foto berisi galeri foto keluarga mereka berdua. Sekarang bergerak ke bagian vas-vas bunga yang berjajar rapi di atas meja.
Betapa terkejutnya Azzam ketika hendak merapikan bunga-bunga yang ada di vas, dirinya mendapati sebuah rangkaian bunga mawar merah, sebelumnya ia tahu bungga ini tidak ada di sini.
"Bunga mawar? Sebelumnya tidak ada di sini. Apa Nisa baru saja mengganti bunga di vas ini ya," gumam Azzam sendiri.
Ketika memgambil bunga mawar merah tersebut Azzam menyadari ada sebuah note kecil masih melekat di tangkainya. Ia mulai membaca note kecil berwarna merah hati itu.
Begitu terkejutnya Azzam ketika menyadari sepenggal kalimat itu berisi ungkapan cinta, yang diperuntukkan bagi istrinya.
"Siapa yang mengirim ini? Apa teman Nisa?" Azzam bertanya-tanya. "Tapi ini yang jelas bukan dari seorang perempuan, tidak mungkin ia menuliskan ini. Apa Nisa memiliki teman laki-laki lain, tapi siapa setahuku Nisa tidak punya teman lelaki yang pernah datang kemari, atau pun dia terlihat akrab dengan lelaki." Azzam mulai khawatir dan risih.
Dada Azzam bergemuruh, hatinya terasa perih.
"Ya Allah, siapa ada apa ini? Siapa yang telah berani menganggu istriku." Dalam hati Azzam terus bertanya-tanya.
"Apa Nisa sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Kalau pun demikian kenapa dia tega menyembunyikan ini semua dariku. Kenapa dia kembali melakukan itu lagi."
Azzam meremas erat kertas note yang telah dibacanya tadi.
"Astagfirullah, Ya allah." Azzam memukul keras meja yang ada di depannya.
"Ya Allah, siapa yang sudah berani menyatakan cinta pada istriku!? Siapa yang mengganggu istri ini"
__ADS_1
Dengan perasaan yang berkecamuk Azzam membuang kertas tadi ke tempat sampah. Melanjutkan pekerjaannya dengan pikiran yang aneh bertebaran di kepalanya.
***