Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 69. Memancing Asmara


__ADS_3

Awan kelabu yang tebal menjadi tabir bagi bagi birunya langit. Mengulung-gulung menghempaskan pusara angin berputar dan menikam setiap penduduk bumi. Setiap menengadah ke atas, membuat hati manusia tersentak betapa alam tak dapat membendung rahmat-Nya yang akan segera turun. Deraian hujan bagai air tercurah. Membuat orang tak ingin banyak berlalu lalang di tengah jalan bila bukan karena urusan penting. Lebih nyaman di balik selimut tebal.


Aku menatap tetes demi tetes air yang jatuh dari atap menuju kolam ikan. Bibirku menyunggingku senyum samar. Melihat angsa putih berdekapan di tengah guyuran air, mengibas-ngibaskan tubuhnya, menghalau basah mencari kehangatan. Percintaan yang sangat mengesankan.


Aku yang duduk di tepian kolam semangkin menikmati aktivitas memancing yang menjadi hobiku di sela-sela waktu senggang terutama waktu akhir pekan seperti ini. Hujan yang turun tidak menghalangi semangatku untuk memancing, sebelum aku mendapatkan ikan.


Azzam turun dari balai-balai, melihat aku yang belum enggan beranjak dari posisiku di tepian sungai masih betah menunggu kail pancingan.


Azzam menengadah ke langit, hujan turun membawa hawa dingin di sekitar. “Nisa, sudahlah, ayo kita pulang!”


“Nggak mau! nanti dulu. Nisa belum dapat satu pun ikan nih!” sahutku menoleh ke arahnya.


“Berarti ikannya nggak ada di sini, ayo pulang!” Azzam mencoba menyingkirkan alat pancing yang ada ditanganku.


“Ish, nggak mau. Nisa nggak nyerah, ikannya harus mau kepancing dengan umpan yang Nisa pasang,” paksaku.


Azzam menghela berat. “Susah sekali kalau sudah ketemu dengan kolam,” geram Azzam.


Aku mendelik ke arahnya, muka Azzam masam. “Ishh....”


Meskipun dengan wajah masam, Azzam masih hendak menemaniku di sini dengan sabar. Ia meraih satu kail pancing. Aku rasa dia juga ingin melakukan seperti yang aku lakukan, meskipun aku tahu ini bukan hobinya.


Aku mencuri pandang ke arahnya. Azzam sedang memasang umpan pancing miliknya.


Aku mendehem. “Eh memang abang bisa mancing?”


“Jangan salah, gini-gini abang juga pandailah memancing ikan,” ucap Azzam percaya diri.


“Ah, masak?”


“Lihat ya, nanti baru abang mau lembar kail ini, pasti ikan di kolam ini langsung menyambar umpan, abang,” balas Azzam.


Aku mengerutkan kening. “Yakin? Kalau nggak gimana?”


“Kalau misalkan dalam lima menit umpan abang belum dimakan ikan, abang akan mencebutkan diri ke kolam dan menangkap ikannya dengan tangan, tidak perlu menggunakan pancing ini,” tantang Azzam.


Dan benar saja, tak lama setelah itu pancing milik Azzam bergerak,


“Waah... straight!” seru Azzam bersemangat saat umpannya berhasil disantap ikan. Dia terlihat bersemangat menarik tali kailnya, aku jadi ikut penasaran untuk membantunya.


“Mana? Mana?” tanyaku turut antusias.


Azzam menarik kailnya dengan cepat sebelum ikan yang menyangkut di kail itu melepaskan diri.


“Ayo, abang. Cepat-cepat.” Aku dan Azzam, menarik pancing itu bersama-sama sepertinya ikannya sangat besar karena pancing ini ini terasa cukup berat.


“Yeayy dapat ...” teriakku kegirangan saat berhasil menaikkan ikan ke daratan.


Azzam hanya tertawa melihat aku yang senang seperti ini.


“Gimana berhasilkan?” tanya Azzam, membuktikan bahwa kalimat yang baru saja diucapkannya barusan benar-benar terjadi.


Aku tegelak riang. “Ha-ha, hebat. Nisa salut dengan abang. Kalah sama Nisa yang harus bisa lebih dulu dapat ikan.”


“Iyalah. Jangankan mancing ikan, memancing hati wanita pun abang pandai,” ucap Azzam menggoda.


“Ha-ha-ha.” Aku membalasnya dengan tertawa. “Memang hati wanita mana saja yang berhasil abang pancing?”


“Banyak.” Balasnya turut tertawa.


“Ihhh.... abang ketahuan berarti selama ini banyak wanita yang sudah berhasil abang pancing. Salah satunya Bu Lydiakan?” kataku cemberut. “Satu lagi Kak Sarah juga.”

__ADS_1


“Sayang, Bu Lydia, ataupun Sarah bukan abang yang pancing. Tapi mereka yang datang sendiri mendekat, padahal abangkan tidak memasang umpan, sayang.” Azzam menyentil pelan hidungku.


“Terus kalau bukan Bu Lydia sama Kak Sarah yang abang pancing, terus siapa dong?”


Azzam merangkulkan pundakku. “Siapa lagi kalau bukan, perempuan di sebelah abang.”


Aku melirik ke kiri dan ke kanan.


“Cari siapa?” tanya Azzam saat aku mala celingak-celinguk.


“Cari perempuan mana yang ada di sebelah abang.”


Azzam mengeram gemas. “Benar-benar minta di pancing ya.” Azzam meraup segenggam air dan menjipratnya ke wajahku.


Mataku mengerjap-ngerjap kaget saat jentikan tangan Azzam menyipratkan air ke wajahku. Aku tentu tak tinggal diam. Dengan kesal aku turut membalasnya. Menyiprat air ke wajah Azzam. Sampai saat ini tubuh kami sama-sama mulai basah karena bermain air. Ditambah lagi hujan yang belum juga reda. Ia masih betah mencurahkan rahmat pada hati manusia yang sedang menggelora.


Aku sangat menikmati ini. Sungguh kehangatan ini membuat aku nyaman. Hujan yang turun membuat aku semangkin betah berlama-lama menikmati suguhan alam. Air beriak-riak seolah turut merasa sedang bersorai riang.


Tidak terasa waktu berjalan, empat bulan bersamanya. Menyimpan makna yang tersirat yang membuat aku betah selalu bersamanya. Waktu-waktu dan moment seperti ini menjadi kisah yang menarik. Dalam hidup kita belajar banyak hal. Hal-hal buruk yang mengiringi kehidupan rumah tangga kami berdua semoga dapat menjadi pembelajaran yang membuat kita berdua saling berbenah diri. Dan bukankah pengalaman adalah guru yang paling berharga? Yaaa... Aku sudah menemukan sebagian dari pengalaman berharga itu. Sisanya akan aku temui seiring dengan berjalannya waktu.


“Sayang, sudah ya. Kita pulang bagaimana? Ini baju kita suda basah kuyup.”


“Tapi, belum puas,” rengekku manja.


“Kan sudah dapat ikannya. Lagi pula, ini sedang hujan sayang kalau masukkan angin bagaimana?”


“Kalau masuk angin ya tinggal di kerokin,” balasku meledek. Bukannya memang bergitu ya kalau masuk angin tinggal dikerok memakai uang logam atau minum obat saja.


“Nisa!” Azzam membulatkan matanya, mengisyaratkan perkataanya tidak boleh dibantah sedikitpun. “Jangan membantah perkataan suamu!” tegasnya penuh penekanan.


“Iya-iya.” Akhirnya kami berdua merapikan kembali kail yang semula kamu gunakan untuk memancing tadi. Bersiap-siap untuk kembali lagi ke rumah.


***


“Lho kok senyum-senyum begitu, ada yang salah dari wajahku?” Tanya Sarah seraya mengusap wajahnya yang dikira aneh karena Fikri daritadi tak leka melihat wajah dirinya.


“Tidak. Tidak salah. Aku hanya terpukau dengan kecantikanmu, Dokter Sarah,” ucap Fikri dengan raut wajah berbinar-binarnya.


“Sakit, masih bisa saja kamu menggodaku, Fikri.”


“Aku tidak menggoda, ini Fakta, Sarah.”


“Hmm... sudahlah ayo makan!” perintah Sarah.


“Suapin,” titah Fikri pada Sarah, Fikri ingin tahu sepeduli apa Sarah padanya.


“Ya Allah. Bayi besar yang satu ini, kenapa manja sekali. Tidak ingat umur ya?” Ledek Sarah yang dibalas muka cemberut oleh Fikri.


Sarah mengambil mangkok bubur, bersiap menyuapi Fikri.


“A’ ...” Sarah menyuruh Fikri untuk membuka mulutnya.


Sarah dengan telaten menyuapi Fikri dengan bubur yang memang sengaja dibawanya tadi untuk Fikri. Begitu seterusnya hingga Fikri merasa perutnya sudah penuh.


Fikri memalingkan wajah, tidak sanggup menerima bubur itu lagi. Ditambah lagi, saat ini ia merasakan kalau perutnya seperti ingin mual. Fikri membekap mulutnya.


“Kamu kenapa?” Sarah mengelus lengan Fikri pelan.


“Aku merasa tidak enak, Sarah. Rasanya ingin mual.”


Sarah menyingkirkan mangkok bubur tersebut dan memberikan minum pada Fikri.

__ADS_1


“Sudah, kalau begitu kamu minum dulu.” Sarah membantu Fikri untuk membenarkan posisi duduknya. Kadang masih ia meringis kesakitan sembari memegang dada kirinya.


“Masih nyeri lukanya?” Sarah menyingkirkan sedikit anak rambut yang menutupi kening Fikri yang tampak berkeringat. Ia kemudian meraih tissue dan menggelap ke kening Fikri.


“Rasa mualmu itu efek dari obat dan habis bius pasca operasi,” terang Sarah singkat. “Kamu sebaiknya istirahat dulu.” Sarah membantu menidurkan tubuh Fikri perlahan. “Pelan-pelan,” intruksi Sarah.


“Kamu harus banyak-banyak istirahat. Supaya kondisi tubuh kamu cepat sehat. Jangan terlalu banyak bergerak supaya jahitannya cepat menyatu dan mengering.” Pesan Sarah.


Fikri sumringah dan matanya berbinar-binar. “Terima kasih ya, Sarah. Aku senang sekali saat dirawat oleh dokter cantik, sepertimu,” sanjung Fikri yang dibalas oleh senyum oleh Sarah.


“Iya sama-sama. Kalau aku boleh tanya, bagaimana ceritanya kamu bisa ditusuk begini Fikri?” tanya Sarah seraya merapikan selimut yang menutupi setengah tubuh Fikri.


Fikri menghela napasnya. “Aku hanya bermaksud untuk menegur seorang laki-laki yang kedapatan ingin mencuri barang milik pengubjung. Namun mungkin karena tidak terima. Laki-laki itu aku lihat sempat berlari ke arahku. Kemudian menghujang pisau ke bagian dadaku, seketika aku ambruk dan pandangaku menghitam. Setelahnya aku tidak ingat apa-apa lagi. Kejadian itu berlangsung begitu cepat."


Sarah menatap prihatin. “Ya Allah. Beruntung kamu masih diberikan perlindungan oleh Allah.”


“Iya. Alhamdulillah. Ternyata hidupku belum selesai di situ.”


“Waktu itu, Angga, temanmu yang turut menolongmu ke mari,” beritahu Sarah.


“Kalau begitu, kemana Angga?”


“Tidak tau. Katanya dia ada kerja. Jadi, dia belum pernah kemari lagi.”


Fikri hanya mengangguk mengerti, menyahuti perkataan Sarah.


***


Aku baru saja usai membersihkan diri dan mandi usai pulang sehabis memancing tadi bersama Azzam. Aku masih tengah mengeringkan rambutku yang basah dengan dengan handuk. Azzam menatapku dengan senyum merekah. Ia baru saja usai memasukkan baju-baju kotor tadi ke dala keranjang yang khusus untuk baju kotor


“Sini, biar abang bantu keringkan rambutnya,” tawar Azzam.


Aku tersenyum, Azzam segera menuntunku untuk duduk di kursi meja rias. Kemudian menyalakan hair dryer dan membantu mengeringkan rambut sebahuku.


“Abang, bagimana berkas-berkas untuk syarat pengajuan dosen sudah selesai semua?” Aku melihatnya dari pantulan cermin.


“Alhamdulillah. Sudah. Kalau tidak ada halangan apapun. Insyaallah hari Kamis, abang akan ke Tangerang.”


“Berapa lama?”


“Sehari saja. Jumat abang pulang lagi ke Jakarta. Sekalian abang akan mengecek rumah yang abang akan beli di sana, untuk tempat tinggal kita nanti.”


“Beli rumah di sana?” tanyaku kaget. “Kok abang nggak pernah kasih tau?”


“Sengaja. Supaya jadi kejutan. Kabarnya rumah yang disediakan itu, semua perabotan rumahnya sudah lengkap. Jadi tidak perlu membawa barang-barang yang berat kecuali pakaian saja.”


“Pasti, mahal kalau rumah begitukan, bang? Nisa ada sedikit tabungan, siapa tau bisa bantu buat bayar uang DP rumah kita,” kataku hendak membantu sedikit dengan beberapa uang tabungan yang sengaja aku tabung, meskipun sebenarnya itu untuk biaya kuliah. Rencananya.


“Tidak perlu, sayang. Abang, juga memang sudah menyiapkannya. Uang untuk Nisa kuliah nanti pun masih ada, dan abang rasa lebih dari cukup.”


Aku mengangguk mengiyakan ucapannya. Tanggung jawab? Seorang laki-laki pemimpin dalam rumah tangga memang memiliki kewajiban untuk memenuhi nafkah keluarganya, istri dan anak-anaknya, menyediakan tempat tinggal serta mengadakan pakaian untuk mereka sesuai kemampuannya. Hal ini tidak boleh dilalaikan oleh seorang suami. Dia dijadikan sebagai pemimpin terhadap istri dan anak-anaknya di antaranya karena telah menafkahi mereka.


"Arrijalu qowwamuna ‘alaa nisaa”, dari potongan ayat tersebut bahwa laki-laki adalah pemimpin atas wanita. Artinya, laki-laki terlahir sebagai pemimpin atas wanita, termasuk di dalam rumah tangganya.


Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik (dalam bergaul) dengan keluarganya dan aku adalah orang yang paling baik (dalam bergaul) dengan keluargaku.”


Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman, “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS an-Nisaa’: 34)


Setidaknya ada dua kebutuhan yang harus dipenuhi. Pertama, kebutuhan yang bersifat materi baik kebutuhan fisik maupun non-fisik. Kebutuhan fisik seperti sandang, pangan dan papan. Sedangkan kubutuhan non-fisik seperti biaya pendidikan, kesehatan, keamanan dan lainnya.


Kedua, kebutuhan yang bersifat immateri merupakan kebutuhan yang lebih banyak berhubungan dengan rasa nyaman dan ketenangan anggota keluarga, seperti saling mencintai, melindungi, menghargai, menghormati, mempercayai dan lainnya.

__ADS_1


Banyak ulama yang menekankan pemenuhan kebutuhan keluarga dibebankan kepada suami/ayah, terutama dari sisi materi. Karena secara fisik laki-laki yang lebih memungkinkan untuk bekerja di ruang publik dan memiliki peluang kerja yang lebih mudah dalam banyak bidang pada masa dulu dibanding istri atau ibu.


Pemenuhan kebutuhan keluarga sebenarnya membutuhkan perhatian dan kerjasama suami-istri. Suami dan istri merupakan elemen utama dalam sebuah keluarga yang harus merancang dan menetapkan skala prioritas yang harus dicapai.


__ADS_2