
"Sudah lelah?" tanya Azzam mengusap keringat dikeningku ketika perlahan aku duduk di sampingnya. Aku menghela napas panjang, usai mengatur napas selepas berjalan pagi di sekitar kompleks.
Sudah beberapa hari ini yang menjadi rutinitas pagi adalah berjalan sekitaran area kompleks, sedikit berolahraga ala-ala bumil. Berjalan depan kompleks tanpa mengenakan alas kaki. Namun jika tidak aku hanya berjalan di sekitar area halaman rumah, berjalan mondar-mandir. Bolak-balik sembari mengatur napas, dan mengusap perut yang sudah membuatku keberatan dan engap.
"Sini dulu minum, abang pun ada bubur yang abang beli di depan tadi. Ayo makan sayang." Lelaki itu mengeluarkan cup bubur yang dibelinya dari pedagang di depan rumah, memberikan satu untukku dan satu untuknya.
"Mkasih banyak ya, Cabi"
"Cabi? Apa cabi?"
"Kan, Calon Abi, sayang." Aku terkekeh geli.
"Ya Allah sayang, abang kira apa." Azzam ikut tertawa. "Jadi sekarang bukan abang lagi begitu panggilannya? Tapi cabi?"
Aku menyengir lebar, usai meminum air mineral dalam botol. "Hehe iya. Nggak papa ya."
"Tidak apa yang penting istri bahagia," katanya mengalah.
Azzam membungkukkan tubuhnya, sekilas dia mencium perutku dan mengelusnya lagi.
“Sudah 7 bulan di dalam sayang, Abi ingin segera melihatmu," sahut Azzam.
"Iya benar, Niaa merasakan banyak keajaiban selama mengandung," jawabku sambil membayangkan kenangan di masa lalu.
Tak lama gelombang seperti ombak pun muncul seiring dengan lamanya tangan Azzam menyentuh perut, membuatku sedikit meringis.
"Bayinya menendang, sayang," seru Azzam takjub, tangannya bergerak seiring dengan perutku yang juga menonjol-nonjol hilang timbul akibat janin di rahim bergerak begitu keras.
“Semangat sekali kamu sayang di dalam sana. Apa yang sedang kau mainkan? Sampai-sampai tangan abimu kau tendang-tendang seperti ini," katanya mengajak bayiku berbicara.
Tendangannya semakin keras, perut ini bergerak seperti ombak berpindah-pindah dari atas sampai ke perut bawah. Sesekali aku menarik dan meghembuskan panas panjang. Azzam menatapku, ia bertanya ketika aku melakukan itu berulang kali. Azzam menduga aku tengah merasakan sakit.
"Nisa tidak apa kan? Atau ada yang sakit?" tanya Azzam khawatir.
Ia menggelengkan kepala. “Tidak, Nisa hanya takjub saja. Si kecil aktif sekali bergerak saat cabi menyentuh perutnya," jawabku tersenyum.
“Sepertinya dia ingin mengajak abi bermain Nisa," serunya girang. Aku tak menyangka Azzam bisa seantusias ini pada kehamilan Nisa, ini memang kehamilan pertama bagi keluarga Hamzah tentunya.
Aku tertawa renyah. “Iya. Pastinya dia ingin mengajak abinya bermain, lihat saja saat abu memegangnya, dia akan langsung merespon,” imbuhku setuju.
Tak lama gelombang ombak menonjol-nonjol di perut tadi pun hilang, usai Azzam menarik tangannya menjauhi perutku.
Diriku menarik nafas panjang. Berusaha merilekskan diri.
"Sekarang, mulai sedikit tenang. Si jagoan telah tertidur kembali sepertinya."
Aku mengangguk setuju. “Dia tenang dan bergerak lembut saat abi tidak mengelusnya. Tapi, saat abang menyentuhnya dia jadi sangat aktif sekali bergerak. Aku merasa perutku seperti ada yang mengaduk-aduk dari dalam," celetukku mengelus-ngelus lembut perut ini yang kian membesar.
“Abi akan berhati-hati lagi sayang, saat menyentuhnya," ucap Azzam.
Aku beralih menatapnya secepat kilat. "Jangan begitu, jika abi ingin menyentuhnya nggak apa, lakukan saja.” Sergahku. Azzam menatapku dengan tatapan seriusnya.
__ADS_1
"Tapi, abi tak mau Nisa menahan rasa sakit seperti tadi."
Aku tertawa. “Niaa nggak apa sayang, asal dia sehat dan bergerak aktif seperti tadi itu nggak masalah buat Nisa.”
Azzam tersenyum. "Baiklah, tapi nanti jika Nisa ingin istirahat atau kesakitan jangan ragu untuk memanggil abang ya. Sebisa mungkin abang akan berusaha membantu meskipun hal yang abang lakukan hanya mampu mengurangi sedikit apa yang Nisa rasakan," jawabnya meyakinkan, yang ku sambut dengan anggukan pelan.
"Hari ini jadwal kita cek kandungan ke dokter ya"
"Iya."
Azzam mengambil handuk kecil dan mengusap ke leher dan dahinya. "Cabi, mau mandi sekarang?" tanyaku saat melirik jam dinding yang ada di ruang tamu.
"Nggak sayang, jadwal abang mandi besok. Nisa saja yang mandi duluan. Sudah bau asem itu!" ujar Azzam sembari mengendusku dan menjauh sambil menutup hidungnya. Refleks aku langsung memukul bahu Azzam dan mendengus kesal.
"Bercanda, sayang. Sudah mandi dulu sana. Pelan-pelan naik tangganya..." Azzam berjalan menuju ruang tengah setelah mengusap pucuk kepalaku.
Dengan hati-hati, menaiki tangga. Berjalan sembari berpegangan pada pinggiran tangga. Tangan kananku menahan perut bagian bawah. Azzam terus memperhatikanku, memastikan aku akan baik-baik saja sampai di lantai atas.
***
Usai mandi tubuh terasa begitu segar. Aku duduk di depan meja rias sambil menyisir rambut yang terasa kering selama kehamilan. Setelah itu, baru aku menyalin pakaian yang akan dikenakan Azzam, dan meletakkannya di atas ranjang.
Aku menarik napas panjang sembari menyangga punggung. Di kehamilan seperti ini memang bayi di dalam kandungan sudah berat. Rasanya sudah tertekan. Jika kelelahan sedikit saja, bayinya akan protes dengan mengencangkan perut dan itu menyakitkan. Bahkan sekarang untuk membungkukkan badan untuk mengambil sesuatu di lantai saja aku tak mampu. Aku harus duduk lebih dulu.
Baru saja aku melangkah keluar suara Azzam menggema dari dalam kamar mandi.
"Sayang tolong handuknya!" pekik Azzam menggema dari dalam kamar mandi.
Tidak sampai dua menit kemudian Azzam muncul dari balik kamar mandi. Aku berdiri di depan cermin sambil membolak balik badanku.
"Bang, badan Nisa sudah gedut banget ya?" ujarku lemah di depan cermin besar. Aku mencubit pipiku sendiri yang berasa tembem.
"Wajah sayang. Kan sedang ngisi..." ujar Azzam berjalan mendekat, sembari mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. "Yang penting si bayi sehat, ibunya juga sehat." Azzam membalikkan tubuhku dan memandang dalam dengan kedua pasang mata.
"Sayang nggak berpaling nantinya?"
Azzam menyingkirkan handuknya dan melingkarkan kedua tangannya ke pinggangku. Ia tersenyum.
"Tidak alasan untuk berpaling, sayang."
Aku mendongak dan menatap Azzam. "Nisa banyak membaca kalau banyak suami nggak suka dengan istrinya, soalnya istrinya jelek habis melahirkan. Katanya lemak dimana-mana. Strechmark penuh, perut bergelambir. Belum lagi masalah berat badan."
"Mereka berarti laki-laki yang tidak bersyukur, istrinya demikian karena mengandung anak sendiri. Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Tidak bagus sayang."
***
Berjalan di lorong rumah sakit dengan tangan saling bergandengan. Lebih tepatnya Azzam yang menggandeng jemariku.
Ya. Saat ini aku tengah berada di rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan kandungan. Guna mengetahui pekembangan janin dalam kandungan.
Aku berjalan menuju ruang Dokter Andin dengan senyum tak pernah luntur dari bibir. Setelah mengambil nomor antrian di bagian resepsionis. Sesekali sambil menunggu kami berdua berbincang tentang calon anak kita. Hingga tak terasa kami telah sampai di depan ruang Dokter Andin.
__ADS_1
Sekitar 15 menit kemudian giliran nomor antrianku yang dipanggil untuk masuk ke dalam ruangan dokter Andin.
"Selamat pagi, Dokter!" sapaku begitu masuk ke dalam ruangan dokter Andin.
"Selamat pagi!" Dokter Andin balik menyapa dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.
Ada banyak kalimat pembuka yang dokter Andin tanyakan entah itu menanyakan tentang kabar maupun tentang apa yang aku rasakan selama kehamilan pertama ini.
Sampai dokter Andin mempersilahkan aku dan Azzam untuk masuk ke dalam bagian ruang USG.
Di setiap sudut ruangan ini berwarna putih, aku bisa menghitung berbagai warna diruangan ini jika aku melakukannya-aku heran mengapa ruangan pemeriksaan atau rumah sakit selalu identik dengan warna putih, setidaknya berilah sedikit corak warna lain untuk menghidupkan suasana.
Poster bergambar tubuh manusia dan aliran chakra menghiasi dinding putih kusam di ruangan ini, hanya di dalam poster inilah aku bisa menemui berbagai warna-tak banyak dan mereka dapat dihitung jumlahnya.
Dengan posisi telah berbaring di atas ranjang pemeriksaan, dokter Andin meletakkan alat yang bernama USG atau ultrasonografi empat dimensi untuk melihat citraan empat dimensi pada janin, seperti pada saat makhluk kesayangan itu menendang, menguap bahkan memasukkan jempolnya ke mulut dan mulai belajar menghisapnya.
Kini di layar monitor telah monitor USG sudah terlihat janin dalam kandunganku. Lelaki yang setia berdiri di sebelahku masih menatap layar monitor USG itu selama beberapa menit dengan mata yang berbinar. Senyum cerah terus menghias wajahnya. Kedua tangan kami saling tertaut dengan erat satu sama lain.
Sama dengan ekspresi Azzam, aku bahkan sampai menitihkan air mata terharu. Mengingat tentang usiaku dan umur pernikahan kami, aku tak hanya mengira Allah memberi rezeki ini begitu cepat.
"Janin Anda dalam keadaan sehat. Semuanya lengkap. Semua organ tubuh lengkap dan berfungsi dengan baik. Jika dilihat di sini, terlihat jika jenis kelaminnya laki-laki. Selamat ya!" terang Dokter Andin disertai ungkapan selamat darinya.
"Terima kasih, Dok!" balasku dan Azzam bersamaan.
Layar monitor masih menampilkan nuansa cokelat keemasan yang menunjukkan seraut wajah dan tubuh si calon bayi.
Umur kehamilan yang sudah 30 minggu, selama pemeriksaan aku tidak menjumpai adanya keluhan patologis. Hanya aku khawatir ketika dokter mengatakan bayinya dalam posisi sungsang. Ketika Dokter Andin membaca hasil pemeriksaan.
"Posisinya bisa berubah kan?” tanya Azzam khawatir, aku pun juga ikutan khawatir.
Dokter Andin mengangguk. "Tidak apa-apa, mengingat hamilnya masih berumur tujuh bulan, janin masih bisa bergerak mutar-mutar di dalam kandungan istilahnya berenang di dalam perut," jelas Dokter Andin dengan mimik wajah sangat meyakinkan.
"Berarti bisa kembali ke posisi normalkan?," tanyaku lagi.
Dokter Andin mengangguk. "Bisa, janinnya masih belum terlalu besar jadi masih bisa berubah-rubah posisi."
Layar monitor di depan kami telah menghitam karena dokter Andin telah mengangkat alat tersebut menjauh dari area perut.
Azzam membantu ku bangkit dari ranjang pemeriksaan dan kembali duduk di kursi yang bersebrangan dengan dokter Andin.
"Sekali lagi saya ucapkan selamat, semoga lancar sampai nanti menyambut kelahiran sang buah hati. Ini foto hasil USG nya. Dan ini resep vitamin untuk ibu Dhanisa," ujar dokter Andin.
"Terima kasih, Dokter. Kalau begitu kami permisi dulu," balasnya, kita berdua berpamitan.
Dokter Andin mempersilahkan dengan senyum yang mengembang di bibir.
"Mau tunggu di sini atau ikut abang nembus ini?" tanya Azzam begitu keluar dari ruangan.
"Ikut aja deh," jawabku lantas berjalan beriringan bersama Azzam menuju apoteker rumah sakit.
______
__ADS_1