
Aku tidak tega ketika ingin mengucapkan perpisahan untuk ayah dan ibu, di rumah ini aku dibesarkan. Meskipun aku ya bisa dibilang agak bebal, tapi aku tetap perempuan dan anak manjanya ayah Ahsan dan ibu Hamidah.
Semua barang-barang sudah dikemas dan bahkan sudah dimasukkan ke dalam bagasi mobil. Ya, hari ini aku dan Azzam akan berpamitan untuk berangkat ke Tangerang. Di sana, kami akan tinggal dan memulai kehidupan yang baru, rumah baru dan juga susanan yang baru. Semoga aku betah menjalani hari di sana. Meskipun jauh dengan ayah dan ibu.
"Yah... Bu... " panggilku usai mencium tangan mereka berdua. Langkah kaki kemudian membawaku ke dalam dekapan ayah.
Ia laki-laki yang benar-benar memberiku kasih sayang penuh dan bahkan wajahnya sangat mirip dengan ayah kandungku. Sejak dulu, bisa dibilang aku lebih dekat dengan ayah ketimbang ibu. Meski ayah dan ibu, keduanya tetap menjadi kebanggaanku.
Ayah membalas dekapanku. Membelai punggungku naik turun supaya aku bisa tenang. Ibu pun turut demikian.
"Sebenarnya Nisa nggak bisa jauh dari ayah dan ibu," kataku dengan masih memeluk erat tubuh tua renta ayah. Sementara Azzam masih di belakang menunggu giliran untuk berpamitan juga. Kami akan berangkat pagi ini.
"Nisa, sudah jangan sedih. Katanya perempuan jagoan, kok begini aja mesti sedih," hibur ayah, seraya melepaskan rengkuhannya.
"Sayang... " Ibu membawaku ke pulukannya pula.
"Iya." Aku membenamkan kepalaku di pelukannya.
"Anak ibu, meski ibu sering mengoceh kesal dengan Nisa. Tapi percayalah ibu pun tetap sayang dengan Nisa ya.. " Ibu mengecup keningku penuh sayang.
"Iya, Nisa juga sama, sayang dan sangat sayang dengan ibu. Maafin Nisa kalau selama ini selalu buat ayah dan ibu pusing karena ulah Nisa yang nggak bisa diatur ya," kataku tulus.
"Iya, sayang."
Kini giliran Azzam berpamitan.
"Kita izin berangkat dulu yah ayah, ibu. Doakan kami selamat dalam perjalanan."
Ayah menepuh pundak Azzam. "Iya, Nak. Ayah hanya berpesan tolong kamu jaga putri kesayangan ayah dan semoga kamu selalu sabar menghadapi sikapnya yah... "guyon ayah di akhir.
Azzam tersenyum tipis. "Insyaallah ayah, aku akan berusaha untuk itu."
Ayah dan ibu pun demikian membalasnya dengan senyuman hangat melepas kepergian kami.
"Nisa, ayo!" ajak Azzam kemudian meraih paper bag kecil yang berisikan santap siang kami di jalan nanti.
Mobil kami pun mulai perlahan meninggalkan pekarangan. Aku melampaikan tangan pada ayah dan ibu. Hm, mereka membalasnya dengan lambaian mendayu yang membuat aku sedikit berat untuk meninggalkan mereka.
Azzam mengenggam sebelah tanganku sementara tangan kanannya masih memegang kemudi stir mobil. "Jangan sedih, kita akan usahakan untuk senantiasa berkunjung ke sini lagi. Lagian jaraknya juga tidak terlalu jauhkan."
"Iya. Semoga Nisa betah di sana. Kalau nggak Nisa bakalan balik ke sini lagi."
__ADS_1
"Yah, berarti kalau Nisa balik ke tempat ayah, trus abang sendirin dong di rumah."
"Iya, nggak papalah."
"Kok jahat sih, nanti kalau abang digoda wanita lain gimana? Nggak takut kehilangan abang?" goda Azzam.
"Ya, takut sih, cuman rumah sendiri buat nyaman aja."
"Tenanglah. Disana di rumah kita yang baru abang yakin Nisa akan betah. Dan abang sudah siapkan semuanya," tuturnya.
Mobil masih terus melaju dengan kecepatan sedang, melewati padatnya jalanan siang ini. Sebenarnya harusnya kami berangkat pukul delapan pagi tadi. Namun, karena aku harus mengurus SKL di sekolah. Jadi kami harus rela berangkat agak siang, sekitar pukul setengah sepuluh pagi.
***
Mobil kami memasuki kawasan perumahan elite yang memiliki hunian hijau dan beberapa rumah mewah bejejer rapi sepanjang memasuki kawasan perumahan. Ah, apa iya kami akan tinggal di sini. Pasti yang menempati rumah-rumah mewah ini adalah mereka-mereka yang memiliki jabatan tinggi seperti pejabat, pengusaha atau selebritis misalnya.
Kini mobil sudah berhenti di depan sebuah gerbang. Azzam turun sebentar untuk membukakan pintu gerbang yang terkunci rapat.
Setelahnya Azzam kembali masuk ke balik kemudinya.
"Ini rumahnya?" tanyaku ketika mobil sudah memasuki pekarangan. Dari balik kaca mobil aku bisa melihat rumah bercat putih berdesain minimalis dan berlantai dua.
"Ayo, sayang." Azzam mengulurkan tangannya.
Mataku melihat-lihat sekitar. Rumah ini terkesan mewah, namun pekarangan agak sempit.
Engsel pintu berderit saat pintu pertama kali dibuka. Netraku menyapu seluruh bagian rumah. Kalau dilihat dari luar sebenarnya rumah ini tidak terlalu luas tapi di dalam rumah ini lumayan tampak luas, ruang tamunya pun begitu.
Aku seperti orang linglung dan menatap keheranan. Jika membeli rumah daerah kawasan elit begini pasti lumayan merogoh kocek yang lumayan dalam.
"Ini beneran rumah kita?" Aku bertanya lagi.
"Iya. Bagaimana suka?"
"Hmm, suka. Cuman Nisa heran aja kok bisa abang beli rumah di kawasan elite begini. Kan pasti mahal."
"Alhamdulillah, uang tabungan yang abang kumpulkan cukup untuk membeli rumah ini. Ya meskipun belum di bayar lunas. Tapi abang senang kalau Nisa menyukai rumah pilihan abang ini. Karena rumah adalah tempat bernaung kita, maka rumah yang harus kita tinggali harus dibuat senyaman mungkin supaya kita betah menempatinya." Azzam kemudian tersenyum dan mengelus pucuk kepalaku.
Azzam menuntunku untuk duduk di sofa. Dia menceritakan semuanya dari mana ia bisa nemukan kawasan perumahan ini, memilah rumah dan bahkan menjatuhkan pilihan pada rumah bernuansa putih. Yang aku tahu ini sesuai dengan warna kesukaan Azzam. Dan banyak hal lainnya yang berkaitan dengan rumah baru kami.
"Abang terima kasih ya. Rumahnya sangat bagus, dan aku suka."
__ADS_1
"Syukurlah," senang Azzam.
"Sekarang pergilah istirahat Nisa pasti capekkan?"
"Hmm, abang pengertian banget sih." Aku mengelus pipinya gemas. "Kamar kita yang mana nih?"
Azzam membawaku ke kamar yang ada di lantai dua. Meskipun di bawah juga ada kamar. Tapi Azzam mengatakan kamar di atas lebih besar dan luas dan menjadi kamar utama. Sementara di bawah masih ada dua kamar lagi yang tersisa.
Usai masuk dan melihat kondisi kamar ternyata benar, kamar ini benar-benar luas. Semua juga sudah lengkap. Lemari hias, lemari pakaian dengan warna dinding tetap mendominasi warna putih di setiap sudutnya. Balkon kamar yang dipenuhi bunga mawar dan beberapa tanaman hijau lainnya, membuat kamar tampak asri. Aku benar-benar menyukai rumah ini. Dan kamar ini pun begitu nyaman dan asri dengan tanaman yang asli juga menghiasinya.
"Bang!"
"Hmm"
"Sekali lagi makasih."
"Untuk?"
"Untuk semuanya."
"Hanya terima kasih aja, tidak ada yang lain?"
Aku mengernyit bingung. "Yang lain apa?"
"Iya masa hanya terima kasih saja. Padahal abang maunya lebih dari terima kasih." Melihat tatapan Azzam yang lekat melihatku, membuat pipi merona seketika. Aku paham maksud suamiku saat ini.
"Maunya apa, hah!" Aku mencubit pinggangnya.
Azzam mendekat dan melingkarkan tangannya di pinggangku dan membawa ke luar balkon. Semilir angin lembut langsung menyambut kami di luar. Hmm... sungguh menangkan. Azzam menjatuhkan dagunya di pundakku.
"Rasanya tenang sekali kalau hidup begini, sayang. Coba saja dari dulu kita begini yah."
"Hmm... "
Jari-jarinya mengelus lembut wilayah wajahku hingga turun ke dagu. Aku menikmatinya.
"Sungguh Nisa banyak belajar dari apa yang selalu abang ajarkan untuk Nisa selama ini. Terima kasih karena bersamamu, Nisa bisa menyempurnakan agamaku."
Aku bersyukur mengucap hamdala. Dia adalah anugerah terindah dalam hidupku.
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
__ADS_1