
Bukannya imam memang selalu lebih dahulu melakukan gerakan baru kemudian diikuti oleh makmum. Jadi, tidaklah salah pada akhirnya Azzam yang berkedudukan sebagai imam bagiku harus pergi mengambil langkah lebih dulu.
Telah dijelaskan juga bahwa bahwa setiap yang diciptakan memiliki pasangan. Ada langit maka ada pula bumi. Ada siang ada malam. Ada air maka ada api. Dan paling penting, ada hidup maka ada mati atau lebih tepatnya kematian.
Kita tidak bisa bersembunyi dari ketentuanNya. Mau kita bersembunyi di lubang semut sekalipun tidak akan mengubah apapun yang tlah menjadi takdir atas diri kita masing-masing. Percayalah, kita tak akan mampu mengelaknya.
Jika takdir meminta kita bersatu, maka sejauh apapun kita berpisah, sebanyak apapun ujian yang kita lalui dan datang silih berganti tidak membuatku lelah untuk menunggumu. Azzam.
Waktu dua bulan telah berlalu. Sudah selama itu pula keluarga kami belum mendapat informasi mengenai dimana keberadaan Azzam. Apakah ia masih hidup atau memang telah wafat. Sungguh aku telah memasrahkan semuanya. Jika memang Azzam telah wafat, aku sangat ingin mengunjungi makamnya ingin berdoa langsung di atas pusaranya. Mesti di dalam relung hatiku yang paling dalam aku sangat menginginkan Azzam dapat kembali lagi ke rumah ini dalam keadaan sehat. Setiap malam maupun usai sholat aku selalu bermunjat kepada Allah agar kami diberi petunjuk tentang dimana keberadaannya.
Waktu sore, ba'da Ashar aku habiskan dengan mengaji, menghafal ayat demi ayat dari lembar demi lembar mushaf Al-Qur'an. Aku tengah murojo'ah atau mengulang-ulang hafalan surah Ar-Rahman.
Lagi-lagi ketika menghafal, ingatan kembali pada satu kenangan saat aku terlelap dipangkuannya ketika mendengarkan Azzam membacakan surah Ar-Rahman. Aku semangkin tidak kuasa menahan gejolak di dada. Lidahku kini kelu. Bacaanku melompat-lompat dari ayat satu tiba-tiba kembali lagi pada ayat sebelumnya. Hafalanku tiba-tiba hilang begitu saja. Aku sudah tidak bisa melanjutkannya. Pikiranku tak lagi mampu fokus dan berkonsentrasi.
"Ya Allah Azzam... " ucapku dengan lirih dibarengi dengan mengusap kasar wajahku. Merasa frutasi.
"Ada apa Nisa?" tanya ibu.
Aku meletakkan mushaf di atas dampar di sebelahku. Ibu mengerti kekalutan pikiranku. Memikirkan kabar berita pencarian keberadaan Azzam.
"Nak, kita dan semua keluarga sudah berusaha, berita dan brosur pencarian juga kita sebar untuk membantu pencarian, siapa tau ada yang menemukan jasadnya atau melihat keradaan Azzam orang-orang bisa menghubungi pihak keluarga. Sekarang yang bisa kita lakukan adalah berikhtiar. Kita serahkan semua kepada Allah. Jika Allah mengizinkan Azzam kembali lagi bersama kita, maka kun fayakun Allah bisa saja sekejap mata melakukan itu. Yang kita lakukan hanyalah berdoa setelah berusaha. Semoga Allah memberi petunjuk." Ibu mengusap punggungku naik turun. Menguatkan dan menabahkan hatiku.
"Iya, Ibu. Nisa pasrahkan semuanya. Semoga Allah dapat memberi petunjuk kepada kita tentang keberadaan Azzam ya, Bu," ujarku, mengenggam tangan Ibu.
Aku mencerukan kepalaku yang masih mengenakan mukena ke rekuhan lembut ibu yang mengusap dan mencium ubun-ubunku.
***
Krasak... Krusuk...
Gedang telingaku Terdengar suara seperti orang tengah merobek-robek kardus. Gendang telingaku menangkap juga kegaduhan yang tak lain itu adalah suara Bang Fikri. Tak tau apa yang tengah diperdebatkannya.
"Ya ampun kenapa lagi sih mereka," Ibu ngedumel geram pada keponakannya.
Ketika aku dan ibu beranjak dan keluar kamar, sudah mendapati beberapa tumpukan kardus telah bertumpuk dan beberapa barang berupa buku terlihat berserak keluar dari kardus yang sudah rusak, terkoyak.
"Ah, gini nih kalau kerja sendirian. Memang benar-benar Kak Aya. Mau donasi buku-bukunya tapi aku yang kerepotan." Kesal Fikri, dengan wajah masamnya kembali menata buku yang bertebaran di lantai.
"Ya ampun Fikri. Itu kalau mau kardus coba kamu cek di gudang samping rumah. Sepertinya ada banyak tumpukan kardus bekas pakai. Kamu ganti aja!" komentar Ibu pada keponakannya. Dan tak ingin ambil pusing ibu meninggalkan kami.
"Iya Bu. Sebentar, ini tanggung aku rapiin sebentar barang-barangnya."
"Emang buat apa sih Bang buku-buku sebak itu?"
"Kak Aya minta Abang buat mendonasikan buku-buku ini, sekalian ada bazar juga di sana. Dia minta bantu dengan abang."
"Memang rencananya mau ada bazar dimana Bang?"
"Kata Kak Aya di daerah Ciputat sana, kalau mau pastinya tanya saja sama Kakakmu itu. Abang cuman bantu kemasin ini."
Aku meresponnya dengan anggukan pelan. "Ya sudahlah, sini biar Nisa bantu kemasin barang-barangnya. Abang cari kardus aja di gudang."
Fikri menghilang mencari tempat untuk mengemas buku-buku ini. Tak berselang setelahnya, Kak Soraya akhirnya datang juga dengan menenteng banyak paper bag besar di tangan kiri dan kanannya dengan kepayahan. Suaminya, juga menyusul di belakang.
"Lho kenapa jadi kamu Dek yang beresin dan tata ini. Emang benar-benar ya tuh Fikri. Kemana lagi tuh laki-laki?"
"Bang Fikri ada, lagi ke gudang sebelah sebentar, lagian nggak apalah kak. Nisa bisa cuman gini doang, hitung-hitung olah raga otot," kataku menyengir, dan melanjutkan kembali menyusun buku-buku yang tersisa.
"Sayang, tolong kamu bawa ini dulu ya ke kamar, buat persiapan besok," pinta Kak Soraya pada Ali.
"Memang mau di bawa mana ini, Kak Aya?"
"Ini mau di bawa untuk acara bazar besok, sebagian juga mau Kakak sumbangkan ke pondok Hasanah, di sana ada sekolah agama, dekat kegiatan bazar."
"Oh gitu ya. Besok ya kak?"
Kak Soraya mengangguk. "Memang kenapa? Kamu tertarik mau ikut, Dik?"
Aku menarik sudut bibirku, membentuk lengsung senyum yang lebar mungkin ini kesempatanku untuk refresing.
"Kalau misalkan aku boleh ikut. Kakak izinin ke Umi dan Ibu ya? Plis kak," pintaku memohon supaya Kak Soraya membantuku membujuk ibu agar mengizinkan aku untuk ikut dengan keponakannya ke Ciputat karena di sana akan lokasi yang akan dituju Kak Soraya bersama Ali.
"Iya. Nanti di sana kamu nggak boleh capek-cepek yah. Kasian nanti debaynya lelah juga."
"Siap Kak. Kak Aya memang terbaik deh"
Aku mengetuk ujung kukuku dengan ujung kuku jempol menimbulkan suara ketukan tak beraturan. Sambil mengigit bibir bawahku, aku mencoba bertanya pada Kak Soraya apa aku boleh mengajak teman sekolahku dulu.
"Kak?"
__ADS_1
Kak Aya menyahut.
"Kalau misalkan Nisa mengajak teman Nisa boleh, supaya perjalanan kita ramai."
"Teman yang mana?"
"Yang kemarin ke rumah Kak. Boleh ya?"
Kak Soraya berpikir sebentar. "Boleh juga supaya bantu ngangkut barang-barang ini ya kan."
"Nah, ide yang bagus tuh Kak."
***
Aku terus tersenyum sambil memandangi wajah ayah. Membenamkan kepalaku di atas pahanya. Seperti yang biasa dulu aku lakukan padanya ketika masih gadis. Benar, aku sangat manja dengan ayah angkatku ini. Aku dan ayah kerap berbagi cerita satu sama lain. Seperti pula saat ini.
"Jodoh memang tidak ada yang tau, bisa jadi kita berjodoh dengan orang yang kita kenal bertahun-tahun. Dan bisa jadi juga kita berjodoh dengan orang yang tidak kita kenal sebelumnya. Semua itu bisa terjadi karena itu sudah menjadi ketentuanNya. Sementara yang pacaran bertahun-tahun tidak akan menjamin akan berakhir di pelaminan. Bisa jadi mereka hanya berstatus sebagai penjaga jodoh orang. Bukan sebagai orang yang berjodoh." tutur Ayah, sambil mengusap lenganku.
"Ayah, maafkan Nisa ya. Kalau dulu Nisa pernah membangkang pada ayah. Terlebih tentang perjodohan waktu itu."
"Cinta tumbuh pelahan berjalan seiring waktu. Dulu, asal Nisa tau Nak. Ayah sangat mewanti-wanti rumah tangga Nisa dan Azzam tidak dapat bertahan karena kalian berdua menikah karena perjodohan, bukan dasar suka sama suka. Apalagi yang ibu, ayah tau kalau Nisa menjalin kasih dengan teman Nisa itu."
"Iya, Yah. Nisa menyadari keburukan Nisa. Dan sekarang asal ayah tau. Nisa merasa menjadi orang beruntung karena dipilih oleh allah untuk berjodoh dengan Azzam, meski jodoh Nisa saudara sepupu Nisa sendiri. Hati Nisa sekarang sudah menjadi milik Bang Azzam. Tidak ada lagi yang tersisa untuk pria manapun."
Ayah mengelus lembut kepalaku, mencampak-campak lenganku pula seperti anak kecil yang hendak ditidurkan.
"Alhamdullillah senang hati ayah melihat ketulusan anak kesayangan ayah ketika tlah menerima semuanya. Dalam sholat ayah selalu berdoa yang terbaik untuk kehidupan anak ayah. Termasuk kesehatan cucu ayah ini. Ayah yakin Nisa akan menjadi ibu yang tegar, jika meski nantinya Nisa akan merawat anak seorang diri." Ayah mengusap pelupuk matanya.
"Dia akan menjadi anak yang kuat, anak yang berbakti pada kedua orang tuanya. Karena ia memiliki ibu yang kuat. Ibu yang selalu mencintainya sepenuh jiwa raga."
Berada dalam pangkuan Ayah, aku seperti merasa anak kecil lagi yang minta dimanja ketika hendak tidur. Meski di hati masih ada harapan dan kerinduan yang mendalam untuk pria dari anak ini.
***
Aku mengerjapkan mata berkali-kali. Mata ini benar-benar tidak bisa diajak untuk bekerja sama. Dengan malas, aku menyingkap selimut, lalu berlalu menuju kamar mandi. Bersiap-siap untuk on the way acara bazar bersama Kak Soraya dan teman-teman sekolahku dulu. Meski Sadam absen tidak bisa ikut untuk menemani acara bazar hari ini, tapi tidak masalah kita berempat sudah cukup.
Segar rasanya pagi ini setelah mandi. Beranjak ke salah satu lemari pakaian. Mataku menjelajah setiap helai pakaian yang tertata rapi di dalam lemari.
"Aku harus pakai pakaian yang cantik hari ini?" gumamku semangat. Tidak tahu kenapa hari ini aku bersemangat sekali memilih pakaian yang cantik dipandang, dan mengenakan make up yang natural di wajahku.
Aku diam tertegun, saat kilasan seperti sebuah short movie menayangkan ingatan saat dimana aku melalui hari bersamanya.
"Yang berwarna biru langit bagus, sayang."
"Kenapa mesti biru langit?"
"Cukup awan mendung saja yang menutupi langit sore ini. Abang tidak mau ada mendung di wajah istri abang." Azzam melengkungkan bibirnya. Membentuk senyum terbaiknya untukku. Warna cerah dalam hidupku.
Aku menahan bibirku agar tak tertawa, senyum tipis sedikit ditahan terukir di wajahku. Meski aku merasa wajahku sudah semerah tomat karena pujian dari Azzam yang terasa manis seperti selembar daun stevia.
"Sayang, kok Nisaihat abang itu lebih mirip stevia gitu ya. Manis tapi tak berpotensi diabetes." Aku mengucapkannya dengan lirih.
Tawa pelan meluncur dari bibir Azzam. "Kenapa sayang tidak samakan abang dengan hujan saja?"
Aku mengernyit bingung. "Maksudnya?"
"Meskipun dia jatuh berkali-kali. Namun dia tetap saja tak pernah merasa tersakiti. Sekalipun banyak yang menganggapnya musibah, petaka, tetap tak pernah membenci semua itu."
"Nggak ah, Nisa nggak mau!" Bibirku dimanyunkan dan suara rengekanku terdengar manja. Membuat Azzam tidak bisa untuk tidak tersenyum.
"Kenapa?" Azzam merubah sedikit menjongkok di depanku yang sedang duduk di tepian ranjang.
"Karena hujan selalu berasal dari awan yang mendung, pekat serta menakutkan."
"Ya ampun, kamu lucu sekali sayang." Dicubitnya pipiku dengan gemas.
"Bukan lucu, abang. Nisa cuman nggak mau abang seperti hujan yang tidak bisa hadir setiap hari untuk Nisa. Bahkan ketika Nisa membutuhkan hujan. Dia belum tentu mau datang karena hujan hanya akan datang dengan sebab bukan karena dia mau."
"Apapun perumpamaan sayang untuk abang. Abang tetap mau Nisa tau satu hal." Aku menunggu dengan berdebar perkataan Azzam.
"Apa itu sayang?"
"Nisa adalah calon ibu dari anak-anak kita dan akan tetap seperti itu."
Aku luruh, terduduk di lantai di depan lemari pakaian. Entah mengapa semua kenangan itu datang tanpa permisi dan pergi juga tanpa pamit.
Aku ingin semua ini nyata. Aku butuh Azzam. Butuh dekapan hangat pria itu. Butuh senyum hangatnya ketika aku membuka mata di pagi hari.
Tatapan mataku mengekor ke tempat tidur kami. Menatap dengan miris. Nuansa putih menghiasi kamar besar ini. Setetes air mata lewat tanpa permisi meluncur bebes ke pipiku. Semua tentang Azzam tetap hidup dalam setiap deru napasku.
__ADS_1
Bahkan saat berat tubuhku ditahan oleh ranjang tidir yang empuk. Aku tetap merasakan diriku seperti terhempas ke lantai.
"Nisa, ini aku Jihan. Kamu udah siap belum. Kami sudah nunggu di luar dengan yang lainnya. Kak Aya ngajak makan juga!"
"Iya sebentar. Aku lagi milih baju. Duluan aja. Nanti aku menyusul." Mengusap jejak air mataku dan kembali berusaha berdiri dengan agak kepayahan.
***
Jovan bersama Fayzulen tengah mempersiapkan buku-buku, meja dan kursi untuk dibawa ke Lapangan Merdeka. Mobil Xenia hitam telah terparkir sempurna di area parkir tak jauh dari lapangan terbuka yang telah berdiri tenda-tenda untuk bazar. Hari ini kami menggunakan jasa Bang Ali sebagai drivernya. Di mobil Bang Ali sudah menunggu untuk Fey dan Jovan menurunkan segala tumpukan kardus yang telah diangkutnya tadi.
Di bawah tenda berwarna putih yang telah tersedia, aku dibantu sahabatku, Jihan menata buku-buku dengan apik dan rapi supaya menarik para pengujung dan beberapa anak sekolah untuk mampir ke stand kami.
Ba'da sholat dhuha, anak-anak santri putra dan anak dari wilayah sekitar mulai berkerumun di lokasi keramaian.
Sementara, di sisi lain beberapa penjaga stand masih tengah sibuk mempersiapkan buku-buku yang akan dibawa untuk bazar buku di lapangan. Buku-buku, meja dan kursi diangkut dihias dengan cantik, menarik pegunjung.
Menurut penuturan Kak Soraya. Acara ini rutin diadakan dua kali dalam sebulan sebagai kegiatan tabligh untuk mendakwahkan Islam yang damai dan toleran melalui buku-buku yang dijual tersebut. Esensi kegiatan ini adalah bertabligh namun dikemas sedemikian rupa sehingga para peserta pun terlihat santai dan sangat menikmati kegiatan ini.
"Aku izin ke toilet sebentar ya"
"Kamu nggak mau aku temanin, Nisa?" tanya Fey lebih dulu.
"iya Nisa nggak mau ditemenin."
"Nggak usah lah, kalian bantuin Kak Aya aja ya"
Menghambur di antara kerumunan orang banyak. Mencari-cari toilet umum di sekitar. Namun, nampaknya di sekitar lapangan ini memang tak tersedia. Jangan bilang aku harus berjalan jauh hanya untuk mencari toilet.
Aku masih celingak-celinguk, melihat sekitar. Sampai netra mataku melihat deretan gedung bangunan mirip sekolah. Ada sebuah plang tertulis di depannya. Yayasan TPQ Al-Hasanah. Aku mencoba untuk berjalan mengarah ke sana.
"Maaf Mbak cari siapa ya? Atau mau bertemu dengan Bapak yang mengajar ngaji di sini?" tanya seorang pria berkopiah putih menanyaiku.
"Oh tidak, Pak. Saya tidak ingin bertemu siapapun," lugasku.
"Lalu ada apa Mbak kemari?"
"Saya mencari toilet, Pak. Daritadi saya mencari toilet umum namun tak mendapatinya. Apa Bapak bisa menunjukkan dimana toilet di sini?"
"Mbak dari koridor ini lurus saja, nanti belok sebelah kiri. Mbaknya tinggal liat tanda saja. Dekat dari sini Mbak."
"Iya Pak. Terima kasih."
Mengikuti apa yang dikatakan oleh si bapak berkumis yang menghampiri tadi, aku langsung menuju toilet.
Melewati beberapa ruangan mirip ruang kelas. Mungkin ini tempat anak-anak mengaji di sini. Tidak ada terdengar suara apapun di sini.
Aku telah menemukan tanda panah yang membawaku mengarah ke toilet di sini. Langkahku tertahan sejenak saat mendengar lantunan ayat suci Al-Qur'an. Dadaku langsung berdebar kencang. Lembut dan merdu serta mendayu lantunanya. Suara itu, bahkan seperti tak asing di telingaku. Aku mundur beberapa langkah mencari sumber suara.
Berdiri diam terpaku. Matakun berhasil menangkap sosok objek seorang lelaki tengah duduk melantunkan ayat suci yang aku dengar tadi. Perasaanku tenang seketika. Tersenyum memandangnya dari arah ambang pintu, tempat dimana aku berdiri melihat lelaki bersorban putih.
"Siapa dia? Kenapa merasa ada yang aneh dari diriku ketika melihatnya."
"Ma--"
Baru aku ingin menyapa pria di dalam ruangan itu, seorang lebih dulu menepuk pundakku. Membuat aku melonjak kaget.
"Kamu ngapain di sini?"
Aku menggerakkan kepalaku, melihat ke arah tangan yang mendarat di pundakku.
"Jo, ya ampun buat aku kaget aja."
"Habis kamu ngapin berdiri di sini. Kamu mengintip siapa sih?"
"Tadi itu ada orang di dalam, dia mengaji sangat indah Jo. Coba deh kamu dengar."
Jovan mendekatkan telinganya ke arah pintu yang terbuka sedikit sambil sedikit mengintip sama seperti yang aku lakukan tadi.
"Mana nggak ada suara tuh. Nggak ada orang juga di dalam. Kamu halu kali, Nisa"
"Ih, benar tadi ada orang di dalam. Aku nggak bohong Jo."
"Ah, udah. Aku mau cari WC dulu!" Jovan mempercepat langkahnya.
Sementara aku masih melihat heran ke seisi ruangan. "Lha kemana perginya laki-laki tadi?" Aku bertanya-tanya bingung.
Aku masih menyimpan rasa penasaran. "Kenapa suaranya melantunkan ayat sucinya bisa mirip gitu ya."
_________
__ADS_1