
Aku duduk di bangku dengan tenang, menoleh pada beberapa kursi di dalam kelas yang masih tampak kosong. Apa aku yang terlalu pagi berangkatnya? karena tadi aku berangkat bersama dengan Bang Azzam. Aku pemecah rekor kali ini. Kalau begitu sering-sering saja aku berangkat bareng dengan Azzam, gumamku, terkekeh sendiri.
Azzam... Tiba-tiba otakku memutar-mutar namanya. Tanganku memainkan buku yang diberikan Hanan. Dia laki-laki yang sulit aku jelaskan sifat dan karakternya. Tapi dia sangat peduli dan bertanggung jawab. Aku tersenyum sendiri.
Doorr ...
Aku mengelus dada karena kaget. “Bisa nggak, datang tapi nggak usah ngejutin orang. Kalau aku mati kena serangan jantung gimana!” Aku berdecak sebal.
“Gitu aja marah.” Jihan merapat duduk di dekatku. “Heh! Biasanya yang banyak kena serangan jantung itu mereka-meraka yang udah banyak umurnya.”
“Memangnya yang muda bisa menjamin nggak terkena serangan jantung juga,” sanggahku.
Pandanganku menatap lurus. “Sesungguhnya umur manusia tidak pernah ada yang tau, Jihan. Kapan hidup kita di dunia akan berakhir. Ajal bisa datang kapan saja. Entah tiga hari lagi, entah kematian itu akan datang besok atau lusa. Buktinya ada orang yang secara fisik kuat dan sehat wal afiat, tapi tiba-tiba keesokannya kita mendengar kabar buruk akan kematiannya yang secara mendadak.”
Jihan mengangguk, menyimak kalimatku.
Aku mendengus napas, menoleh ke arah Jihan sebentar, lalu berujar lagi. “Dengan usia yang masih tersisa itu, manusia diberi kesempatan untuk mempersiapkan bekal menuju akhirat. Sangat beruntung jika seorang hamba mampu menggunakan usianya untuk beramal kebajikan,” tuturku bijak.
Menyadari Jihan dari tadi tidak menyahut aku menoleh ke arahnya.
“Ya elah, malah bengong.”
Aku menyenggol bahu Jihan. “Jihan, kamu dengerin aku ngomong nggak sih?”
Jihan mengerjapkan matanya dan mengangguk. “Iya, aku denger kok.”
“Terus kenapa kamu kayak ayam yang penyakitan, melongok gitu?”
Jihan menyentuh jidatku. “Nggak panas," gumam Jihan pelan.
“Memang aku nggak kenapa-kenapa, aku sehat.”
“Tontonan kamu sekarang apa, Nisa? Masih drakor atau tausiyah islami?”
“Yah, masih drakor dong. Drama favorit,” balasku bersemangat. “Memangnya kenapa?”
Jihan menyengih. “Aku kira kamu pindah haluan sekarang.”
“Pindah haluan gimana?” Aku menautkan kedua alisku.
“Isi ceramah singkat kamu tadi bagus banget. Belajar dimana?” ledek Jihan.
Aku membuang muka sebal. “Udah deh, nggak usah ledek gitu.”
“Iya habis biasanya kalau aku ketemu kamu pasti kamu sangat excited bahasnya selalu tentang cowok, cowok dan cowok, sampai aku yang jomblo ngiler dengarnya,” balas Jihan.
“I-Iya memangnya kenapa, nggak boleh?” tanyaku tergagap.
Dalam hati aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba aku bisa mengeluarkan kalimat demikian. Apa karena aku telah lama serumah dengan seorang ustadz yang selalu memberiku banyak potongan ceramah-ceramah singkat, batinku.
Jihan melambai-lambaikan tangannya ke depan mukaku. “Hoy, kan bengong lagi!”
“Ah, udah ah! Salah terus. Mengarahkan yang baik salah, cerita ini salah, itu salah.” Aku berdecak sebal. Kemudian meraih kembali buku yang diberikan Hanan. “Udah, jangan ganggu! Aku mau baca," pintaku.
Aku menunduk fokus membaca buku yang aku pegang. Membaca kalimat demi kalimat yang tertulis di sana.
Aku menyingkirkan sebentar buku dari hadapanku. Sekedar pamer dengan Jihan tentang buku yang baru aku dapat dari Hanan.
“Jihan,” panggilku. “Kamu tau nggak buku ini dari siapa?”
“Nggak," balas Jihan seadanya.
“Ini dari Hanan," suaraku sedikit berbisik.
Mata Jihan langsung terbuka lebar ketika mendengar nama Hanan. “Hah! serius kamu?” tanya Jihan tidak percaya. “Kamu ketemu lagi dengan Hanan, gimana caranya?” tanya Jihan antusias.
“Nggak. Aku belum ada ketemu dengan dia lagi.”
Jari telunjukkan Jihan menunjuk buku yang aku pegang. “Lha terus buku itu?”
“Ini dia titipkan dengan Abang Azzam. Waktu di acara syukuran teman Abang Azzam dia ketemu dengan Hanan trus dia menitipkan ini.”
“Ouh.” Jihan mengangguk mengerti.
“Katanya kamu mau nomor dia kan?”
Jihan mengangguk cepat.
“Nih.” Aku mengangsurkan kertas. Kertas kartu ucapan yang tertempel pada kado tadi. “Itu nomornya aku nggak minta lho, tapi dia sendiri yang nulis. Dia menyuruh aku supaya menghubungi dia dengan nomor yang dia kasih.”
“Wih, mantep banget Nisa. Cowok sekeren dan seganteng dia mau ngasih nomornya ke kamu. Meskipun aku belum tau dia itu serupawan seperti yang kamu ceritain atau enggak. Tapi kalau aku lihat dari excited-nya kamu bercerita tentang Hanan pasti dia benar, sesuai dengan ciri-ciri yang kamu sebutin.”
“Iya dong, kamu jangan ngeremihin aku masalah cowok. Lihat aja tuh si Fey aja berhasil aku takhlukin," kataku merasa bangga.
Jihan mengangguk. “Iya deh kalau masalah cowok kamu memang hebat. Kamu memikat cowok-cowok supaya bertekuk lutut pakai apa sih, Nis? Apa pakai rumus-rumus kimia kamu itu?”
Aku terkekeh.
“Kamu gimana?" Aku mendekatkan wajahku dengan Jihan. "Kalau kamu beneran mau dengan Hanan ntar aku hubungin dia buat kita diner bareng. Hitung-hitung double diner gitu. Aku dengan Fey dan kamu dengan Hanan. Mau nggak?”
"Diner?" otak Jihan membuat ilustrasi betapa mengesankannya momen itu. Jihan menjerit dengan suara yang tak tertahankan seraya memukul ringan lengan atas sahabatnya itu. “Itu ide yang sangat bagus, Nisa” seru Jihan bersemangat.
Berselang beberapa detik, raut wajah Jihan berubah dari bersemangat, lalu cemberut setelahnya.
“Kenapa lagi? Tadi happy banget.”
“Aku takut Nisa.” Jihan merenggut, lemas.
“Takut apanya? Udah tenang aja aku yakin dia dari keluarga baik, aku tau Kak Sarah, kakaknya si Hanan baik dan care. Hanan juga begitu," kataku meyakinkan.
“Aku takut kalau cuman jagain jodoh orang,” lanjut Jihan.
Aku mengernyit. “Hah?”
“Ya kan, kamu liat banyak orang pacaran 5 tahun, 7 tahun, 10 tahun eh ujung-ujungnya nikah sama orang lain. Kan nyesek banget tuh. Jadi, aku maunya ta'aruf aja deh. Trus pacarannya setelah menikah."
Aku manggut-mangut saja, kemudian diam sebentar.
Aku ingat hubungan aku dengan Fey baru berjalan lebih kurang setahun. Sementara aku sudah menikah dengan Azzam, berarti jodohku bukan dengan Fey tapi dengan Azzam. Tapi apa iya begitu?
“Nisa kamu mikirin apalagi sih, banyak bengongnya sekarang ya? Apa efek dijidat kamu itu?”
Aku menjitak kepala Jihan. “Ah, bisa aja kamu. Nggak ada hubungannya bengong dengan luka dijidat.”
"Pacaran setelah menikah?" Aku berpikir sebentar. Kalimat itu memang kerap aku dengar di tausiyah atau youtube-youtube dari pengalaman orang-orang yang ta'aruf.
"Asik nggak tu kira-kira?"
Jihan mengendikkan bahu. "Mungkin. Tapi setidaknya menjauhkan dari dosa dan fitnah."
__ADS_1
"Jadi pacaran itu dosa?"
"Iya. Coba deh kamu denger-denger ceramah. Atau kamu tanya jawab dengan ustadz Azzam. Kan dia sepupu kamu. Jadi, gampang tuh kalau mau tanya-tanya seputar agama."
***
Langkah Fey tiba-tiba terhenti di muka parkiran, ketika mendengar suara teriakan dari seorang perempuan yang berasal dari belakang. Fey memutar bola matanya untuk mengetahui siapa perempuan itu.
Requeensha. Setelah dia tahu teriakan itu berasal perempuan bernama Requeensha membuat Fey malas meladeninya. Dia terus melangkahkan kaki menjauhi perempuan itu. Tidak peduli dia masih terus berteriak atau tidak di belakangnya.
“Fey!”
“Fey!”
Pekik Requeensha berkali-kali tapi tetap tidak mendapat balasan dari Fey. Sekarang dia mengambil langkah sprint demi bisa mengejar langkah Fey yang panjang-panjang.
Gadis itu sekarang telah berada di depan Fey.
“STOP!” tahan Requeensha yang baru datang, gadis itu mengatur napasnya terlebih dahulu.
Fey menghela napas dalam-dalam, menatap wanita di depannya dengan malas.
“Apa sih! Kamu nggak bosan ganggu aku terus, hah!” Fey berdecak geram.
“Nggak! Sebelum aku berhasil jadi pacar kamu,” kukuh Requeensha.
“Kamu tau kan, aku sudah punya pacar. Kenapa kamu masih juga nekat buat ngejar-ngejar aku," balas Fey malas.
Fey benar-benar tidak habis pikir dengan perempuan di depannya ini. Selama ini setelah wanita-wanita yang mendekat ke Fey telah tau kalau dirinya sudah memilih Dhanisa sebagai pacarnya mereka pelan-pelan mundur menjauhi Fey. Tapi wanita yang baru pindah empat hari ini, tidak terpengaruh sedikitpun atas pengakuan Fey tentang dirinya yang sudah memiliki kekasih. Entah kenapa dia sama sekali tidak tertarik dengan wanita itu, meskipun dia cantik, bibirnya tipis dan merah meski tanpa polesan lip balm. Sikapnya yang demikian membuat dia semangkin ilfil.
Requeensha mengangguk, tanda dia memang sudah mengetahui kalau laki-laki yang dia kejar-kejar saat ini memang sudah memiliki pacar.
“Ya udah, kamu nggak usah deketin aku lagi! PAHAM!” Fey memberi penekanan.
Fey kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang kelas. Tanpa memperdulikan wanita yang terus mengusik hubungan mereka berdua.
Requeensha mengeram, menahan kekesalannya.
“Awas ya Fey! Aku nggak akan biarkan kamu cuekin aku terus. Posisi pacar kamu itu sebentar lagi akan digantikan dengan aku.”
Tepat ketika Requeensha baru hendak melangkahkan kakinya. Teman sejoli Fey─Sadam dan Jovan─melintas di hadapannya. Requeensha tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.
“Hey, kalian berdua temannya Fey kan?” tanya Requeensha sangat antusias.
Mereka berdua menghentikan langkahnya, dan mengangguk menjawab pertanyaan perempuan yang bernama Requeensha.
Mengetahui hal itu, senyum merekah langsung terpancar dari wajah Requeensha. Tanpa perlu berpikir lama Requeensha mengangsurkan handphone-nya dihadapan ke dua orang sahabat Fey itu.
“Minta nomor handphone dong?”
“Nomor handphone kita berdua maksudnya?” Mereka mencoba memastikan.
“Bukan, nomor handphone Fey. Dia-kan sobat kalian berdua.”
Jovan dan Sadam menatap satu sama lain. Mereka berdua seperti seolah sedang berdiskusi satu sama lain lewat telepati mereka. Setelah itu Jovan menggeleng. Pertanda hasil rapat mereka berdua memutuskan untuk tidak membagikan nomor Fey ke Requeensha.
“Maaf, kita nggak bisa ngasih nomer Fey,” kata Jovan tak enak.
Requeensha mengernyit, raut wajahnya kecewa. “Kenapa?”
Mereka berdua hanya tersenyum getir.
Sadam mendekatkan diri ke arah Jovan untuk berbisik. “Ini pilihan yang sulit! Gimana, Jo?”
"Nggak tau aku bingung nih. Tapi aku nggak tega liat wajah cantiknya sedih gitu," bisik Jo balik.
Menunggu mereka berdua diskusi membuat kaki Requeensha merasa pegal. Dia mengangkat tangan kanannya, mengecek sudah jam berapa sekarang. Pukul 07.15 lebih kurang 5 menit lagi bel akan berbunyi.
Requeensha mendesah. “Ya ampun, kalian lama banget sih! Keburu bel ini. Kalian tinggal bilang YES aja susah benget.”
“Ya udah deh,” jawab Jovan.
Requeensha melempar senyum kemenangan. Kali ini misi pertamanya berhasil. Requeensha kembali menyodorkan handphone-nya ke Jovan.
“Nih.” Setelah tangannya berhasil menuntaskan 12 digit nomor Fey. Jovan mengembalikan kembali handphone Requeensha.
“Oke aku ke kelas duluan ya!” teriak Requeensha berpamitan kepada mereka berdua dengan penuh kegirangan.
"Eitts sebentar," Jo menahan Requeensha. "Inget janji kamu tadi, ya" Jo mengingatkan.
"Iya awas kalau kamu omong doang," timpal Sadam.
"Udah, aman. Mulai hari ini kalian bisa makan sepuasnya di kantin. Nanti aku yang bakal bayarin semuanya."
Mereka berdua senyum sumringah. Tidak kalah senangnya dengan Requeensha yang berhasil mendapatkan nomor Fey.
***
Mataku kembali menatap buku yang aku baca tadi. Kian sunyi, aku membolak-balikkan lembaran buku.
“Nis," suara yang muncul di depanku. Membuat aku kembali mengangkat kepala. Seorang berperawakan tinggi, senyumnya yang mengembang membuat gingsulnya terlihat begitu jelas.
Fey menggeser kursi untuk duduk tepat di depanku saat ini. “Rajin banget, pagi-pagi sudah baca buku aja.”
Aku masih sibuk dengan buku dihadapanku membaca dengan penuh konsentrasi.
“Kenapa aku dicuekin sih!” Fey mengambil paksa buku di tanganku.
Aku menggeram. “Fey, plis lagi seru juga baca, ganggu terus!”
“Memang cerita tentang apa sih novel ini?” Fey membuka lembar demi lembar buku yang barusan dia rampas dari tanganku.
“Mana aku tau, orang aku juga baru dikasih.” Aku merenggut.
Fey menyudahi aktivitas menyela lembar demi lembarnya, lalu menutup buku itu. “Di kasih siapa?”
“Hanan.”
“Dia lagi.” Ekspresi Fey berubah, seperti ada rasa ketidaksukaan jika Nisa terus menerima barang dari laki-laki itu. “Ya udah, nih lanjutin lagi bacanya.” Fey menghamparkan buku itu di atas meja.
“Ih, biasa aja dong. Nggak usah cemberut gitu,” ujarku ketika melihat Fey bermuka kecut.
Drrtt...Drrtt
Drrtt...Drrtt
Deringan handphone berbunyi.
Aku menyentuh saku baju, untuk mengecek handphone yang aku kira deringan itu berasal dari handphone milikku. Setelah aku mengecek layar handphone ternyata tidak ada satupun panggilan yang masuk.
__ADS_1
Akupun mencari-cari dan mengedarkan pandangan, aku baru sadar ternyata deringan itu berasal dari handphone milik Fey.
“Fey, angkat tuh handphone!” tegurku, ketika melihat Fey masih belum bergerak mengangkat handphone-nya yang berdering di atas meja.
Mata Fey mengekor ke layar ponselnya dalam diam. Sebuah panggilan masuk dengan nomor baru yang tidak dia kenal. Fey mengernyit kening. Setelah 30 detik berdering panggilan itu terputus. Berselang 5 detik kemudian handphone-nya berdering lagi.
Drrtt...Drrtt
Drrtt...Drrtt
“Fey angkat dong! Ya ampun berisik tau nggak ganggu konsentrasi. Apa susahnya sih tinggal angkat doang!” ujarku merasa terganggu.
“Iya-iya”
Akhirnya dengan berat hati Fey mengangkat panggilan dari nomor yang baru masuk tadi.
Requeensha
“Halo Fey, ini aku Requeensha. Simpen nomor aku ya. Kalau kamu mau jengukin aku, kelas aku di sebelah kelas kamu. 12-B”
Mata Fey terbelalak saat mengetahui kalau yang meneleponnya saat ini adalah si perempuan gila, bernama Requeensha. Dia tidak tahu dari mana perempuan itu bisa mendapatkan nomor handphone-nya.
Fayzulen
“Kamu dapat nomor aku dari siap!?”
Requeensha
“Sobat kamu”
Tanpa berkata apapun dia lagi Fey menutup panggilan telepon Requeensha. Tangan Fey mengepal meremas handphone yang berada dalam genggamannya dengan kuat. Fey takut perempuan ini akan menganggu hubungan mereka berdua.
“Kamu kenapa seperti emosi gitu? Emang itu telepon dari siapa sih?”
Fey menghela napasnya. “Nggak penting.”
Mata Fey mengekor ke kursi Jovan dan Sadam yang masih kosong. Tandanya mereka belum sampai ke sekolah.
“Jo dan Sadam belum datangkan?”
Aku mengangkat bahu. “Nggak tahu. Belum kayaknya.”
Fey beranjak dari kursinya untuk mencari dua temannya yang menjengkelkan itu.
***
Pukul 09.30 WIB bel istirahat sekolah akhirnya datang juga. Ini tentunya surga bagi seluruh murid-murid yang sudah bosan menatap buku-buku pelajaran di depannya.
Jihan, Jovan, dan Sadam berjalan beriringan menuju kantin untuk mengisi perut yang kosong. Sementara aku diminta untuk menemui Bu Lydia dulu katanya ada yang ingin dia berikan.
Lima menit kemudian, aku baru menyusul mereka bertiga ke kantin. Dari arah berlawanan kurang lebih berjarak tiga meter, terlihat Requeensha sedang berjalan bersama dengan dua teman wanitanya yang lain sambil ketawa ketiwi nggak jelas. Entah apa yang mereka tertawakan.
Tepat ketika aku berpapasan dengan Requeensha. Dia tampak menatap benci, seperti tatapan tidak suka dengan kehadiranku.
Requeensha mendehem seraya memegang tenggorokannya memberikan isyarat kalau dia membutuhkan minum untuk melegakan tenggorokannya.
"Aku haus nih. Nora minta minum aku dong," perintah Requeensha lagaknya seorang bos.
Nora mengangsurkan gelas itu. Tapi tangan Requeensha seperti dengan sengaja mengarahkan gelas itu ke arahku lalu membuatnya seolah-olah tumpah tanpa di sengaja. Alhasil seragam putih berubah menjadi warna merah, karena minuman Requeensha mendarat di bajuku.
"Ups! Maaf nggak sengaja."
Aku mengepalkan kedua tanganku kuat-kuat, dengan kedua mata menyorot tajam ke arah Requeensha penuh kobaran api yang tak tertahankan.
"Kenapa kamu liat aku kayak gitu."
Aku menarik napas berat.
"Nggak usah sok-sok nggak tau deh kamu, anak baru! Aku tau pasti kamu sengajakan!?" nadaku meninggi, mulai tersulut emosi.
Requeensha memutar bola mata jengah ke arah lain. Kemudian dia melempar gelak sinis.
"Emangnya kenapa! Masalah!"
"Dasar cewek belagu." Aku mendorong keras bahu Requensha hingga membuat tubuhnya hampir terjerembab ke belakang. Requeensha yang tidak menerima membalas perlakuan itu.
Sekarang seluruh tatapan siswa-siswa yang makan di kantin tertuju pada kami yang adu mulut.
Perutku yang sedari tadi belum terisi semangkin membuatku semngkin mudah tersulut emosi, melihat sikap perempuan menyebalkan di depanku ini.
Fey, Jihan, Jovan dan Sadam menoleh pada sumber keributan. Sadar yang membuat kericuhan itu Requeensha, mereka bertiga berjalan mendekat.
"Ya ampun Nis, kenapa?" tanya Jihan melihat lengan bajuku sudah berubah warna sebagian.
Tidak berjeda lama Fey, muncul di belakangku, menanyakan perihal yang sama tentang apa yang Jihan tanyakan juga.
Melihat kemunculan Fey, Requeensha langsung mendekati Fey dan merangkul lengannya dengan manja.
"Fey, liat tuh Dhanisa malah menuduh aku sengaja menumpahkan air ke bajunya. Padahal aku kan murni nggak sengaja," kata Requeensha memelas mengharap iba dan pembelaan dari Fey.
Fey awal mulanya memang tidak suka dengan kehadiran gadis itu yang terus mengusik hidupnya. Saat ini ia mulai semangkin paham tentang kelicikan Requeensha. Dengan cepat Fey langsung menepis rangkulan tangan Requeensha, karena bukannya merasa kasihan, dia malah tambah merasa jijik dengan perempuan ini.
"Nisa, ayok kita pergi dari sini. Biar aku bantu buat bersihin baju kamu." Fey menarik lenganku dengan cepat pergi menjauhi gadis yang aku ajak ribut tadi.
"Fey!"
"Fey!"
Teriak Requeensha memanggil Fey yang telah pergi menjauh meninggalkan dirinya.
Sadam dan Jovan, tak ingin ambil pusing untuk terus terlibat dengan wanita itu akhirnya itu mengundurkan diri.
"Hey, kalian berdua," suara Requeensha mencekal langkah mereka Jovan dan Sadam.
Requeensha berjalan dua langkah mendekat ke arah mereka berdua, kemudian berbicara dengan setengah berbisik.
"Aku mau kalian berdua bantu aku."
Mereka mengangkat kedua alisnya. Tidak mengerti apa lagi yang diinginkan gadis ini.
"Apa lagi? Kan kamu udah dapet nomor Fey tadi."
"Aku mau Fey pulang bereng aku nanti sore."
Jovan menggaruk kepalanya. "Gimana caranya. Ya pasti Fey nggak maulah pulang bareng kamu. Secara dia kan nggak suka deket kamu... "
"Terserah bagaimana caranya!" Requeensha memaksa. "Atau nggak gini ntar aku kirim pesan via WhatsApp ke Fey, terus salah satu dari kalian yang balasnya." Dia menunjuk ke arah Sadam dan Jovan. Bukan Requeensha namanya kalau tidak memiliki banyak ide yang licik untuk mendapatkan apa yang dia mau.
Requeensha tersenyum licik.
__ADS_1