Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 49. Di Bully


__ADS_3

Aku membanting tubuhku di atas kasur. Pikiran membawaku kembali pada apa yang dikatakan Jihan.


Kata Jihan, untuk apa kamu mempertahankan orang yang belum tentu akan menjadi jodoh kamu. Sementara Tuhan sudah mengirim laki-laki terbaik untuk kamu.


Mungkin ketidak akuran aku dengan Fey saat ini, pertanda kalau kami memang tidak cocok. Sementara kalau aku melihat perhatian yang tulus dari Azzam, semangkin aku seperti bercermin pada kekurangan-kekurangan yang ada pada diriku. Bahkan aku merasa seperti membenci diriku sendiri.


Aku tidak paham kenapa harus ada perasaan seperti ini diciptakan di bumi. Apa memang sengaja dibuat rumit? Orang sejak lahir, tidak bisa memilih harus lahir dari rahim siapa, menjalani hidup dengan siapa, dan bakalan hidup dengan orang yang seperti apa, dengan kehidupan seperti apa dan masalah-masalah serumit apa.


Mungkin menghidari Fey dan melupakan hubungan itu setidaknya akan mengurangi beban dalam hidupku, mengembalikan situasi seperti dulu, aku yang belum kenal dan tahu tentang bagaimana menyukai laki-laki.


Aku tidur menyamping, mendekap erat bantal guling.


Aku terbayang ungkapan perasaan yang blak-blakan disampaikan Jihan, termasuk cerita tentang Bu Lydia, yang cintanya ditolak. Aku terbayang bagaimana diriku saat berada di posisi itu. Menjadi orang yang tidak dipilih, orang yang tidak dicintai balik, orang yang harus menjalani hidup menghadapi patah hati dan perasaan sakit karena tidak diinginkan. Aku memang tidak berada di posisi itu. Tapi bagaimana Azzam?


***


Usai mandi dan mengenakan seragam sekolah. Aku menuju meja rias. Aku memakai merias sedikit wajahku supaya terlihat fresh dan memakai lipgloss di bibir. Setelah selesai, aku menatap pantulan diriku di depan cermin, sesekali membolak-balik badan ke kiri dan ke kanan.


"Sudah rapi" gumamku di depan kata.


Sebelum keluar kamar, aku mengambil ponsel di nakas, yang tadi aku charger, semalam handphone-ku drop dan aku baru sempat mengecasnya tadi subuh usai sholat.


Aku memainkan ponsel sebentar. Membuka WhatsApp memeriksa notifikasi pesan yang bertumpuk-tumpuk dari teman- teman sekelasnya. Aku cukup tercengang, da sekitar 12 pesan. Pesan itu dikirim jam 11 malam, hanya selisih beberapa detik dari pesan-pesan sebelumnya.


Aku hanya membaca pesan yang terakhir masuk, dari Fey karena Fey yang paling banyak mengirim pesan. Aku tidak punya waktu banyak untuk membaca pesan masuk yang lainnya.


📨"Nisa, apa benar berita itu?"


📨"Dari informasi yang beredar kalau kamu sudah menikah dengan Ustadz Azzam. Apa iya?"


📨"Kamu harus klarifikasi semuanya, kalau itu salah. Kamu jangan mau difitnah."


📨"Di facebook ada akun yang buat status tentang kamu yang katanya menikah diam-diam"


📨"Nisa, ayo balas pesan aku?"


📨"Aku butuh penjelasan."


📨"Balas Nis, sampai sekarang aku belum tidur. Menunggu balasan pesan dari kamu!"


Bunyi pesan beruntun yang dikirim Fey. Berakhir pada pukul 01.49 malam.


Aku terkejut bukan main. Penasaran, aku membuka aplikasi facebook, dan benar saja. Dinding kolom akun beranda facebook penuh dengan postingan komentar mereka.


Kasian deh kalian yang ngefans sama ustadz Azzam😅


Hikss patah hati deh... 😭😢


Tapi kok bisa ya, Ustadz Azzam malah milih Nisa buat jadi pendamping hidupnya? Menurut aku nggak cocok🤔


Udah jodoh kali


Tapi aku nggak terima aja gitu😣


Pake dukun mungkin tuh anak, jadi Ustadz Azzam kepincut! Haha


Haha boleh dicoba


Tapi mana mungkin, setan menang menggoda ustadz Azzam yang rajin ibadah. Ya, pasti setannya kabur lah. Nggak mempan begituan


Kalian jangan komen buruk dong. Harusnya senang dan doain mereka langgeng.


Astagfirullah denger tu komenan di atas


Biarin, kita ya kita. Dia ya dia.


Ehh kita harus panggil dia dengan sebutan baru nih, apa ya kira-kira yang tepat.


Istri Ustadz...


Bukan mending ustadzah aja.


That right!!!!


Selamat ya Nisa, ko nggak ngabarin sih!


Barakallah Nisa semoga langgeng kpn sih nikahnya


Mantap gelar tenda pertama bro @Fayzulen_Fey gimana nih?


Lha Fey blm putus ama Nisa?


Blom sih kayaknya.


Kasian BGT bentar lagi bakalan diputusin tuh! haha


Kalau gitu berarti Nisa jahat donk ya, duain Ustadz Azzam. Eh! lebih tepatnya selingkuh jatuhnya.


Kasian juga tu anak ditinggal Nikah kekasihnya. Patah hati banget pasti😪💔


Nisa itu jahat ya. Ternyata orangnya nggak komit. Harusnya dia putusin tu si Fey. Udah punya suami juga!


DASAR MURAHAN!


Iya. Harusnya dia putusin Fey baru menikah, atau nggak tolak lamaran ustadz azzam kalau nggak bersedia.


Gimana nggak bersedia, ya bersedia dong. Buktinya dia nerima dikhibat guru kita.


Kalian kok nggak selesai menggunjing sih. Sudah malam mendingan tidur. Kalian mau dihukum sama Pak Herwin karena telat satu sekolah kan nggak lucu.


Eh, coba dong tag Fey, biar muncul, tag nisa juga.


Masih banyak komentar lainnya pedas lainnya. Aku merasakan darah sudah naik ke ubun-ubun. Aku menghempaskan tubuh duduk di tepian ranjang. Tas ransel yang sudah aku sandang, seketika aku lempar ke sembarang arah. Hari ini membuat malas berangkat ke sekolah, tentu aku akan jadi bahan bullyan anak-anak kelas.

__ADS_1


Saat ini aku belum tahu siapa yang membuat status itu dan men-tag beranda akun facebook milik aku. Aku sudah coba mengecek profil si pembuat status, tidak ada identitas di profilnya. Sepertinya itu akun facebook yang baru di buat.


Ini akun facebook fake yang sengaja dibuat untuk memprovokasi dan menyebarkan berita tentang pernikahan aku.


Siapa yang tega melakukan itu?


Aku diam dan berpikir. Apa Jihan? Masa iya dia sejahat itu. Tapi bisa jadi dia balas dendam karena sakit hati. Kalau dia tahu aku sudah nikah dengan ustadz Azzam sementara dia juga diam-diam menyukai Ustadz Azzam sama seperti Bu Lydia. Bedanya kalau Bu Lydia punya nyali untuk terang-terangan.


Aku mencoba menyangkap pikiran buruk itu. Lagian bukannya Jihan bilang itu perasaannya dulu. Sekarang udah nggak.


"Nisa, nggak sekolah, Nak?" tanya umi dari luar kamar.


Aku masih diam tercenung, panggilan sama sekali tidak terdengar karena saking bingungnya aku saat ini. Masih sibuk menerka-nerka si pembuat akun fake.


Aku menghela napas berat, kenapa semuanya jadi pelik begini. Aku sudah melakukan kesalahan besar. Orang-orang akan memandangku berbeda. Bahkan jijik.


Aku mengusap wajahku kasar, benar-benar frustasi saat ini.


Krieett...


Setelah beberapa lama diam sendirian, Abang Fikri muncul di ambang pintu kamarku.


"Nis, kok nggak keluar-keluar. Umi manggil dari tadi tuh ngajak sarapan" tegur Bang Fikri.


Aku tersentak kaget. "Kayaknya aku nggak ke sekolah deh bang" Ujarku sambil menatap lantai.


"Kenapa kamu sakit?" Fikri yang berdiri di ambang pintu, masuk ke kamar dan mendekat.


"Malas aja"


"Malas gimana? Udah pake seragam sekolah juga"


"Tapi-"


Abang Fikri cepat menyeretku keluar.


"Sebentar Nisa ambil tas dulu" kataku memaksa melepas tarikan tangan Abang Fikri.


***


Hari ini aku nebeng dengan kak Soraya, kebetulan dia juga mau berangkat kerja, meskipun arahnya berlainan, Kak Soraya bersedia menawarkan diri untuk ikut bersamanya.


Mobil menepi saat sudah tiba di dekat gerbang sekolah. Aku melepas sabuk pengaman dan turun dari mobil.


"Makasih, Kak. Nanti mau langsung kerja?"


"Iya. Nanti kamu pulang jam berapa?"


"Jam 4 Kak, karena ada tambahan belajar"


"Kalau sempat aku mampir jemput, kalau nggak kamu naik grap aja ya atau nggak angkot."


"Iya. Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam"


Ada perasaan gugup tingkat dewa ketika aku berjalan menuju lorong kelas. Pagi-pagi begini siswa sudah begitu ramai. Aku melirik jam 07.10. Ternyata bukan mereka yang pergi kepagian tapi aku yang memang berangkat sedikit siang.


Silih berganti siswa hilir mudik disepanjang aku berjalan menuju kelas. Beberapa dari mereka tampak melempar tatapan sinis, menyorot dengan tatapan beraneka ragam.


Aku menjadi risih, dan mempercepat langkah supaya bisa cepat masuk ke dalam kelas.


Tiba-tiba dua perempuan muncul di depanku sambil tergelak-gelak keras. Dialah Requeensha dan Nora.


Aku terpaksa menghentikan langkah tepat di depan mereka berdua. Aku menatap Requeen dan Nora heran. Keningku berkerut.


"Woow" kata Requeensha dengan mata berbinar, seolah baru saja menemukan harta karun di tempat tak terduga.


"Ini siapa Nora?" jari telujuk Requeensha mengarah ke wajahku.


"Ustadzah Nisa" tegelak Nora.


"Ups, iya ya? Kok bisa? " sindir Requeensha berwajah sinis.


"Bisa dong. Kan istrinya." Mereka tertawa kuat-kuat bersamaan.


Aku hanya mengupat dalam hati. Mencoba meredam emosi dengan tidak menanggapi perkataan mereka berdua.


"Udah Nisa, omongan mereka nggak usah didengerin"


Aku sedikit tersentak saat suara itu tiba-tiba muncul. Jihan. Jihan datang membelaku. Aku menatapnya sedikit aneh.


Masih menjadi pertanyaan besar bagiku siapa pelaku penyebar berita itu. Yang pasti orang itu sangatlah membenciku dan tidak suka dengan aku. Aku menatap Jihan. Sampai saat ini aku masih menduga Jihan pelaku penyebaran berita itu. Karena baru Jihan yang tahu tentang pernikahan ini.


"Heh, kalian nggak habis-habisnya cari masalah dengan Nisa. Mau kalian apa? Hah? Kelau kalian masih ngusim dia. Aku nggak segan-segan buat ngaduin prilaku kalian ke BK," gertak Jihan.


"Huu.. Takut," Nora pura-pura bergidik.


Requeensha dan Nora berpandangan, setelahnya cekikikan lagi.


Jihan menatap mereka sinis, dan mengabaikan sikap tak jelas mereka. "Udah Nis, ayo kita ke kelas."


Setelahnya itu aku merasakan tangan Jihan mendarat dipundakku. Dia merangkul dan mengajak aku masuk ke kelas.


Aku menepis pelan rangkulan tangan Jihan.


Jihan hanya diam, menatap sahabatnya heran.


Tanpa pikir panjang aku berjalan melewati Requeen, dan tidak memperdulikan Jihan di sebelah.


Tiba-tiba. Brukk...


"Aww" aku meringis kesakitan saat kedua lututku menghantam lantai, dan terasa perih.

__ADS_1


Requeensha dengan sengaja menghadang kakinya dan membuat aku jatuh tersandung.


Aku mendengar suara tawa, sepertinya mereka puas. Kedua mataku terpejam rapat, tangan kanan memijit pelipis yang terasa sakit.


"Sha, kamu benar-benar jahat ya!" hardik Jihan tidak terima sahabatnya diperlakukan kasar. "Nisa, ayo bangun" Jihan mengulurkan tangannya, bermaksud menolong.


Aku lebih memilih untuk tidak menyambut uluran tangan Jihan, dan berusaha berdiri sendiri meskipun dengan susah payah.


Tanpa memperdulikan rasa perih aku balik menatap dua makhluk mengesalkan ini. Mataku menyorot percikap api. Dadaku sudah terasa panas. Kepala hampir meledak menahan amarah yang sudah siap keluar kapan pun. Aku melemparkan tas dan membuangnya ke lantai.


Aku mendorong keras bahu kedua bahu Requeensha, hingga tubuhnya membuatnya hampir terjatuh.


Tak terima. Requeen bangun cepat, tatapannya makin bernapsu. Ia balik mendorong aku, tapi tidak berhasil. Aku buru-buru menghindar.


"Husst! udah dong berantemnya!" pinta Jihan khawatir, saat beberapa siswa mulai berkumpul menyaksikan melihat keributan pagi-pagi begini.


"Minggir! minggir! Ada apa sih?" Fey muncul di antara kerumunan siswa.


"Mereka berdua ribut lagi, Fey." Beritahu Jihan, panik.


Fey menyeret tanganku keras-keras, ia mengajak aku untuk berbicara empat mata di belakang kelas.


"Nisa, aku mau kamu jujur sekarang?" Bola mata Fey menatap tajam, menyorot kedua bola mataku. "Kamu sudah menikah dengan Ustadz Azzam?"


Aku mencoba mengatur napas. Lalu mengatakan kata "IYA" dengan lantang.


Fey terdiam, pangkuan Nisa bagaikan gelegaran petir yang menyambar jiwanya. Tangan Fey mengepal hebat, kepalan tinjunya dihantamkan pada dinding tembok kelas.


"Sekarang kamu taukan? Dan sekarang terserah kamu mau buat apa. Kamu mau benci aku, marahin aku, silahkan! Aku terima karena memang aku yang bodoh!"


"Kapan Ustadz Azzam menikahimu?"


"Dua bulan lalu," jawabku tanpa menatapnya.


Fey mengeram keras-keras sambil mengacak-ngacak rambutnya. Ia merasa dirinya sudah gila!


"Kenapa kamu nggak bilang dari awal?"


"Karena aku takut kamu pergi!"


"Nisa, kamu tau kalau begini, selama dua bulan aku disebut selingkuhan kamu. Padahal sama sekali aku nggak tau kalau kamu sudah menikah. Kalau begini, aku menjadi orang ketiga dari rumah tangga kalian. Kamu seperti menjebak aku, Nisa!"


"Aku sama sekali nggak bermaksud begitu!" tukasku. "Seperti yang aku bilang tadi. Kalau aku—"


Fey membuang tatapannya. "Udahlah. Aku gak nyangka. Kamu perempuan egois, kamu sadar, kalau apa yang kamu lakukan itu sudah melukai aku. Bahkan mungkin juga Ustadz Azzam. Aku nggak kepikiran reaksi apa yang akan diberikan Ustadz Azzam saat tau, selama kamu menikah dengannya kita masih berhubungan."


Aku diam. Aku juga tidak tahu apa yang akan dilakukan Azzam, mungkin saja sikapnya sama dengan Fey.


Fey mencoba menata perasaannya, ia menarik napas dalam-dalam, merasa pasokan oksigennya merasa kurang.


"Aku hanya berharap semoga kamu hidup bahagia." Beruntung kalimat itu mampu diselesaikannya dengan baik. Usai mengucapkan kalimat itu, Fey berbalik badan pergi.


Napasku masih tak beraturan. "Kamu pikir ini kemauan aku Fey?" pekikku. "Nggak sama sekali! Ini kemauan orang tua aku!"


Seketika langkah Fey terkunci.


"Aku sama sekali nggak mengharapkan pernikahan ini terjadi," kataku dengan suara bergetar.


"Lupakan itu! Dan lupakan kalau kita pernah kenal dan bertegur sapa!" sahut Fey tanpa menoleh. Ia memilih melanjutkan langkahnya.


Aku duduk bersimpuh di tanah, seraya terisak. Kepalaku terduduk dalam-dalam, tetesan cairan bening silih berganti terjatuh menyentuh tanah.


"Nisa, ayo bangun!" sebuah sentuhan mendarat dipundakku. Aku mengelap mengelap wajahku dan mendongak ke atas.


"Kamu ngapain ke sini? Sudah puaskan?"


Jihan menatap bingung, perkataan sahabatnya.


"Kamu kan yang buat aku fake itu dan menyebar berita tentang pernikahan aku dengan Ustadz Azzam. Padahal aku yakin dengan aku cerita ke kamu, kamu bisa menyimpan rahasia ini, sampai urusan sekolahku selesai," jelasku.


Jihan mengernyit. "Akun fake apa? Aku nggak pernah buat akun kok!"


"Nggak usah bohong! Siapa lagi yang nyebarin itu kecuali kamu karena hanya kamu yang tau semuanya."


"Iya tapi sama sekali aku nggak nyebar itu Nisa," sangkal Jihan, saat dirinya dituduh sebagai pembuat akun fake dan penyebar berita yang membuat Nisa di bully habis-habisan.


"Alaahh, udahlah percuma! Kamu ngaku, gak ngaku pun semua sudah terjadi!"


Jihan mulai kesal, tidak terima tuduhan atas dirinya. "Terserah kamu! Yang jelas aku gak terima tuduhan tanpa bukti dari mulut kamu, Nisa!"


Jihan pergi dengan membawa perasaan kecewanya pada Nisa. Dia benar-benar sama sekali tidak melakukan seperti apa yang dituduhkan Nisa pada dirinya.


***


Aku kembali melangka menuju kelas melewati lorong dengan kepala tertunduk. Kakiku terasa lemas, hati pun sedih. Rasanya aku tidak sanggup melanjutkan kegiatan sekolahku hari ini. Mau pulang saja.


Saat tiba diambang pintu dan ingin masuk ke kelas, gendang telingaku langsung menangkap suara cibiran yang samar-samar terdengar. Aku yakin mereka sedang membicarakan aku.


Dengan langkah lunglai, aku duduk di kursi membanting tas sedikit kasar di atas meja. Mood pagi ini sangat buruk! Sungguh buruk!


Aku kesulitan bernapas, namanya tiada henti disebut dan menjadi topik pembicaraan anak-anak. Bahkan teman sekelasnya pun terang-terangan membicarakan dirinya.


Berselang beberapa menit Jihan menyusul duduk. Tapi bukan untuk duduk. Dia hanya singah memgambil tasnya. Dan mengajak untuk bertukar posisi duduk dengan Charisa.


Jihan kesal atas tuduhan tak mendasar atas dirinya.


Aku hanya diam tak tahu harus berbuat apa. Selama jam pelajaran berlangsung aku sama sekali tidak mendengarkan apa yang diucapkan guruku di depan. Pikiran terpecah belah, kemana-mana. Aku tidak bisa berpikir jernih.


Setelah dua jam pelajaran berlalu.


Bel istirahat berbunyi. Surga penyelamat bagi para siswa dan siswi akhirnya datang juga. Teman-teman sekelasku akhirnya satu per satu keluar.


Fey, Sadam, Jovan dan Jihan pun begitu. Mereka berjalan melewatiku. Tanpa peduli bahwa aku masih di dalam kelas. Kalau begini rasanya aku ingin menangis dan pindah sekolah saja.

__ADS_1


***


SKIP


__ADS_2