Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 30. Kejadian Buruk


__ADS_3

Umi dan Abah masih tampak sibuk mengobrol di ruang keluarga entah apa yang mereka perbincangkan. Tapi jika dilihat dari raut wajah keduanya, mereka seperti sedang membahas suatu yang serius, mungkin itu berkaitan dengan acara pernikahan Kak Soraya. Aku jadi mengurungkan niatku untuk ikut bergabung dengan mereka di sana.


Aku menoleh ke arah dapur. Seorang perempuan mengenakan daster masih sibuk melakukan pekerjaannya. Pikiran membawaku untuk melangkahkan kaki menuju dapur untuk melihat aktivitas Kak Soraya. Pemandangan yang ada di sekitar dapur cukup mencuri perhatian panca indraku. Ruang makan dan dapur terkesan luas dengan beberapa perabotan yang berdesain ramping. Walaupun begitu, bufet dan kabinet dapur di rumah ini penuh sesak oleh toples kaca, kotak-kotak kontainer, dan botol-botol yang berisi berbagai macam bahan makanan. Ada beberapa yang tampak ditempeli label nama, ada yang dibiarkan tetap dalam kemasan aslinya serta ada juga yang disimpan polos tanpa hiasan apa-apa. Dari ruang makan dan dapur ini tampak seperti hidup.


Berberapa potong ayam yang baru dimasukkan Kak Soraya ke dalam wajan masih diaduk-aduk. Tampaknya dia akan memasak ayam kecap, tangan Kak Soraya begitu terampil mengaduk ayam yang telah berwarna coklat kehitaman di atas wajan. Tapi, berkali-kali juga dia terlihat meringis karena jarinya tanpa sengaja menyentuh wajan yang panas.


Tidak berjeda lama setelah itu, dia seperti tersenyum puas ketika lidahnya mengecap rasa masakan yang berhasil diciptakan, setidaknya lebih baik dari yang kemarin. Setelah memastikan masakan itu sudah matang, dia mematikan kompor dan menuangkan ayam kecap buatannya ke dalam mangkok berukuran sedang.


“Huft! Selesai, lanjut menu berikutnya,” gumam Kak Soraya.


Aku menoleh kala mendengar Kak Soraya bergumam. “Mau lanjut buat apa lagi, Kak?”


“Mau buat pergedel jagung.”


“Capek ya Kak jadi ibu rumah tangga. Kerjaannya, nyapu, ngepel, masak, cuci piring, cuci baju, masak. Itu aja terus yang dikerjain setiap hari.”


Kak Soraya membalik badan, menyunggingkan senyum.


“Iya kalau kita berpikir demikian, memang benar. Bagaimana melelahkannya menjadi ibu rumah tangga dengan pekerjaan rutin yang ada di dalam rumah harus ter-cover semua. Tapi bukannya reward yang diberikan Allah juga luar biasa. Wanita yang terbaik adalah yang taat pada suami, menunaikan kewajiban sebagai istri dan menyenangkan suami. Apabila wanita taat pada suami maka jaminannya adalah surga," senyum Kak Soraya mengembang.


Kak Soraya kembali melanjutkan masaknya.


“Nisa, kalau di rumah bagaimana?” Kak Soraya kembali menyoal.


“Bagaimana apanya, Kak?”


“Nisa, nurut kata suami tidak kalau di rumah?”


“Hm” balasku singkat.


“Kenapa cuman dijawab hemm. Apa Abang Azzam kurang mengesankan?”


Pertanyaan Kak Soraya yang demikian membuat aku mengingat kembali kelakuan-kelakuan Abang Azzam yang menyebalkan. Tidak di rumah ataupun di sekolah. Sama saja. Tidak putusnya membuatku kesal. Apa lagi setiap hari aku tidak pernah lepas dari melihat mukanya.


Aku mendengus panjang.


“Mengesankan, Kak. Sangat mengesankan,” jawabku dengan senyum meringis.


“Nisa tau tidak,” ujar Kak Soraya seraya menata makanan di atas meja. “Melayani suami adalah ibadah, menyiapkan makanan seperti ini adalah pohon pahala, mencuci pakaian suami adalah celengan amal yang terus bertambah setiap harinya.”


Mataku menatap lurus pada setiap apa yang dikerjakan Kak Soaraya. Aku teringat kebanyakan yang melakukan itu adalah Abang Azzam.


“Kak?”


“Hmm.”


“Kalau yang banyak melakukan itu adalah suami tanpa diminta, berarti bukan salah istri dong.”


Kak Soraya merapatkan tubuhnya, lalu mencubit pelan pinggangku.


"Aww... " Aku meringis.


“Hmm, kenapa bicara begitu. Apa selama ini Abang Azzam yang menjadi perempuan di rumah?”


Aku menyengir saja.


“Hay, hay kasianlah nasib Abang.” Kak Soraya menggeleng-geleng.


“Siapa bilang, Nisa banyak bantu kok,” ujarku mengelak, tak mau kalah.


Kak Soraya menepuk pundakku.


“Kakak cuman bercanda. Kakak tau Nisa sudah besar dan paham tentang itu.”


Aku menyengih lalu menoleh ke arah lain.


Tiba-tiba retina mataku menangkap sebuah benda berupa toples bersilinder cokelat yang disusun rak-rak meja kecil. Aku beringsut dari kursi dan mengarah ke sana. Lama aku mengamatinya, tanganku sibuk mengangkat dan membolak-balik toples itu, hingga menimbulkan bunyi kresek yang ditimbulkan dari bungkusan di dalamnya.


“Ini apa Kak?” Mataku masih menatap toples yang berada di tangan.


“Mana?”


Kak Soraya menghentikan sebentar aktivitasnya menuangkan air mineral ke dalam gelas, lalu menoleh ke arahku yang masih mengamati isi toples.


“Oh, itu Green Tea Latte.” Kak Soraya melanjutkan kembali menuangkan air dari teko. “Kenapa? Nisa mau?”


Aku berpikir sejenak. “Enak nggak, Kak?”


Kak Soraya mengendikkan dagu.


“Coba aja dulu. Siapa tau lidah Nisa sesuai,” tawarnya. “Sini Kakak ajarkan cara meraciknya.”


Selama beberapa menit selanjutnya, Kak Soraya menjelaskan tentang teh yang sedang diracik. Aku pun begitu antusias mendengarkannya. Setelah itu, dia menambahkan sedikit puding di atasnya, baru selesai.


“Nah, boleh dicoba.” Kak Soraya mengangsurkan teh racikan tadi.


Ketika aku mencoba Green Tea Latte buatan Kak Soraya di dapur, aku terpekik-pekik riang menikmati rasanya.


“Wah, Kak aku jatuh cinta dengan teh racikan kakak,” kataku memuji.


“Sebenarnya awal mula yang menciptakan racikan itu Abang Azzam.”


Uhuk!


Teh yang aku teguk seperti tersangkut di tenggorokan. Aku mendehem sebentar untuk melegakan tenggorokan. “Racikan Abang Azzam?”


Kak Soraya mengangguk.


“Dia sangat suka dengan teh, makanya ada-ada saja eksperimen yang dibuatnya dengan menggunakan teh.”


“Oh, begitu,” ujarku datar.


“Nisa, bawahlah satu toples teh itu,” serunya. “Nisa, bilang tadikan jatuh cinta dengan racikan teh buatan Abang Azzam.

__ADS_1


Memang sih aku sering melihat dia disela-sela waktu istirahat di rumah membuat sejenis minuman. Tapi aku tidak tau jika minuman ini yang dibuatnya. Aku membatin.


“Sudahlah nggak usah mikir-mikir. Bawa aja,” bujuk Kak Soraya.


“Astaga!” Kataku melompat kaget, setelah mengingat sesuatu.


“Kenapa!?” tanya Kak Soraya, lebih kaget. Mata Kak Soraya memandang ke bawah-bawah meja seperti mencari-cari sesuatu.


“Kak, Abang Azzam bilang suruh Nisa pulang karena dia nggak pegang kunci serep rumah.”


Kak Soraya mengelus dada.


“Astagfirullah Nisa, Kakak kira ada apa!? Kamu, ih.”


Aku menyengir lebar.


“Kak, aku harus pulang sekarang deh.”


“Tapi bagaimana Kakak bisa antar Nisa pulang, mobil masih dibawa Abang Fikri,” ujar Kak Soraya, bingung. “Oh, atau nggak bawa motor Abang Fikri di depan.”


“Gitu ya, Kak,” ujar sambil berpikir. “Ya udah deh Nisa bawa motor Abang aja.”


Aku mempercepat langkah menuju garasi. Mataku memutar melihat sekeliling. Mana motornya? Tidak ada satu kendaraan pun di sini. Akhirnya aku memilih masuk lagi ke dalam dan menghampiri umi, yang mau beranjak dari duduknya.


“Umi, Nisa mau pamit pulang, ya?” kataku meminta izin.


“Kenapa cepat sekali? Tidak makan dulu?”


“Abang Azzam suruh Nisa jangan lama-lama karena nggak bawa kunci, Umi.”


“Tunggu sebentar,” Umi menahanku sebentar, berjalan mengarah dapur. Sama-samar aku mendengar umi dan Kak Soraya bercakap.


Tidak lama Umi dan Kak Soraya keluar beriringan.


“Nah, bawalah.” Umi mengangsurkan rantang nasi.


Kak Soraya juga demikian. Dia menyodorkan kantong plastik bening. “Ini teh tadi, bawa pulang ke rumah.”


“Terima kasih, Umi, Kak.” Tanganku menyambut uluran itu. “Kata Kak Soraya di depan ada motor nganggur tapi Nisa liat nggak tuh.”


Umi menjawab, “Motor tadi dibawa Abah sebentar.”


“Hemm, Gitu ya Umi,” nadaku kecewa.


Aku merogoh tas slempang kecil untuk mengambil handphone.


“Kak, Nisa pesen ojek online aja.”


“Nggak nunggu Abang Fikri atau Abah pulang dulu, biar di antar pulang.”


“Nggak usah, Kak. Udah terlajur dipesen ini gojeknya.”


Aku memutuskan untuk segera pamit setelah ojek online pesananku datang menjemput.


“Waduh, kayaknya bakalan turun hujan lebat malam ini.” Aku bergumam sendiri.


“Mbak, tidak mau berteduh dulu?” tanya si tukang ojol.


“Lanjut aja Pak. Kalau bisa cepat sedikit sebelum hujannya semangkin deras,” pintaku segera.


“Aduh, saya tidak berani Mbak, ini gerimisnya semangkin rapat. Jarak pandangnya juga tidak terlalu jelas.”


Tidak lama suara gemuruh dari langit terdengar, kilatan datang silih berganti. Suara gemuruh petir adalah suara yang paling aku takuti saat ini. Aku memeluk pinggang si pengemudi ojol dengan erat. Sepeda motor terus melaju kencang menerabas rintik-rintik gerimis. Terkadang sesekali aku memukul pundak pengemudi ojol supaya dia bisa lebih cepat dalam memacu motornya. Lama kelamaan genangan air mulai terbentuk di setiap sisi jalan. Motor masih bisa melaju dengan stabil. Mataku mulai terasa perih ketika rintik-rintik hujan yang turun semangkin rapat. Sorot cahaya yang keluar dari lampu motor seperti kewalahan menembus pekatnya kabut akibat rintik-rintik hujan.


Aku panik ketika motor tiba-tiba mati.


“Kenapa motornya mati, Pak?”


Si pengemudi ojol berhenti mengecek motornya.


“Yahh, sepertinya businya mati, Mbak. Terpaksa saya harus mendorong motor dulu untuk cari bengkel terdekat.”


“Aduh! Gimana dong, Pak. Terpaksa aku cari kendaraan yang lain, sebelum hujan semangkin deras.”


“Maaf ya Mbak, jadi menghambat perjalanannya,” ujar si pengemudi, merasa bersalah.


Awalnya aku ingin mengomelinya. Tapi setelah aku menatap si pengemudi ojol, tampak dari garis wajahnya kalau dia sudah tidak muda lagi. Malam-malam begini dia masih terus bekerja mencari nafkah untuk anak istrinya. Aku jadi merasa iba.


“Tidak apa-apa, Pak,” nadaku membujuk. “Ini uangnya.”


Mulanya Bapak pengemudi ojol menolak menerima uang yang aku berikan. Ia berdalih karena belum menuntaskan tugasnya untuk mengantarkan penumpang sampai tujuan. Tapi aku terus membujuk dia supaya bisa menerimanya dengan ikhlas karena setidaknya dia sudah membawaku lebih dari setengah perjalanan. Lagian tinggal beberapa kilometer lagi aku sampai ke rumah.


Si bapak pengemudi ojek online telah pergi mendorong motor. Aku juga demikian melanjutkan langkahku untuk segera mencari angkutan umum. Mataku memutar melihat situasi sekitar. Sepi. Aku berjalan sambil berdecak sebal karena sudah sekitar 15 menit aku berjalan belum juga ada angkutan umum yang melintas padahal kakiku sudah sangat pegal.


Aku mendongak ke atas, lalu mengusap kepalaku rasanya tubuhku sudah mulai lembab karena guyuran rintik gerimis sedari tadi.


Aku menghela berat. “Ah, kalau nunggu gini nggak jelas. Mending aku pesan driver ojol lagi.”


Tidak lama suara motor menyeringai mendekat ke arahku. Suara kenalpot motor itu begitu bising hingga memaksaku untuk menutup telinga rapat-rapat.


“Hai Nona cantik, kok sendirian mau Om antar?” suara pria itu menggodaku.


Dengan takut-takut aku mengekorkan mata ke arahnya. Pria itu turun dari motor dan mendekat. Minimnya lampu penerangan jalan membuatku tak bisa melihat jelas wajah si pria. Dalam hati aku yakini pria ini bukan pria baik. Aku sangat takut kalau dia akan melukaiku atau berbuat yang tidak senonoh. Jalanan benar-benar sepi. Aku semangkin takut.


“Kamu siapa!? Tolong jangan ganggu aku,” suaraku bergetar ketakutan.


Samar-samar aku lihat dia tersenyum mengangkat sebelah bibirnya. Dia tersenyum jahat.


“Kamu jangan takut Nona, aku akan membawamu ke tempat nyaman,” ucapnya dengan langkah kaki terus mendekat ke arahku.


“STOP! JANGAN MENDEKAT!” pekikku, di tengah rapatnya gerimis malam.


Perkataan yang aku teriakkan tampaknya tidak dihiraukan oleh pria hidung belang itu. Tangannya semangkin beringas berusaha menyentuh lenganku.

__ADS_1


“TOLONG! TOLONG!” Aku berteriak sekuat tenaga hingga membuat wajahku memerah.


Sekuat tenaga aku berusaha memberontak demi melepaskan genggaman tangannya. Tidak kalah beringas aku mengigit tangannya keras-keras hingga membuat dia meringis kesakitan. Aku berhasil membuatnya menyerah untuk melepaskan cengkeraman dari lenganku.


Tanpa pikir panjang aku langsung berlari sekuat tenaga menjauhi pria itu.


“Hei Nona! Sejauh mana pun kau berlari, tidak akan pernah aku lepaskan!” Dia berteriak dengan nada mengancam. Kalimat yang di lontarkan pria itu semangkin membuatku ketakutan.


Hujan lebat dan guruh masih bersahut-sahutan. Tubuhku bergetar hebat karena ketakutan ditambah dinginnya guyuran hujan. Aku mengeluarkan handphone dengan tangan bergetar, aku mencari kontak yang bisa dihubungi. Jemariku menggulirkan nama contact Fey. Setelah menemukannya tanpa ragu aku mendial-up nomor Fey dan menempatkan benda tersebut ke telinga. Panggilan pertama gagal. Nomor Fey sedang di luar jangkauan. Aku menghela.


DUARRRR


Suara petir menyambar hebat, aku sontak berteriak keras seraya kedua tangan menutup telinga rapat-rapat. Handphone terhempas jatuh ke tanah.


Dengan sisa keberanian yang ada aku menggapai kembali handphone yang tergeletak di tanah. Tanpa menunggu lama aku mencari kontak Abang Azzam, berharap Abang Azzam akan mengangkat sambungannya.


“Abang angkat dong! Nisa mohon!!”


“Angkat Abang!!”


Aku menangis terisak, hujan semangkin membuat tubuhku basah. Tak ada jawaban dari Abang Azzam.


“Hei Nona, kamu di mana!” suara pria itu kembali terdengar.


Aku tak mau menyerah. Aku terus mencoba menelepon Abang Azzam sekali lagi. Jika tidak juga diangkat, saat ini aku benar-benar pasrah.


📞Azzam


“Assalamu’alaikum, Nisa.”


Terdengar suara Abang Azzam dari seberang sana membuat aku langsung menangis hebat bersama dengan gemuruh hujan.


📞Dhanisa


“Abang! Abang tolongin Nisa!”


“Abang tolongin Nisa!”


📞Azzam


“Nisa? Nisa kenapa?” suara Abang Azzam masih tampak tenang.


📞Dhanisa


“Abang tolongin Nisa, ada laki-laki jahat menganggu Nisa!” isakku tak bisa terhenti.


📞Azzam


“Nisa! Abang tidak suka kalau Nisa bercanda berlebihan!”


Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya.


📞Dhanisa


“A...Abang, Nisa beneran nggak bohong!” balasku dengan suara tercekat menahan dingin dan ketakutan yang luar biasa.


Suara di seberang sana mulai ikut panik.


📞Azzam


"Nisa? Nisa tenang, jangan menangis. Sekarang Nisa di mana? Abang ke sana sekarang."


📞Dhanisa


"Nisa ada di Jalan Flamboyan."


📞Azzam


"Jangan kemana-mana, Nisa tunggu Abang, ya"


📞Dhanisa


"ABANG JANGAN TU ..."


Pria itu merampas handphone dari tanganku dan membuangnya ke jalan.


“Kamu mau telepon siapa? Hah!?” suara pria itu marah. Urat-uratnya terlihat monjol dan tegang.


BRUUKK


“Awww...” Aku meringis kesakitan saat dia membanting tubuhku ke tanah.


Pria itu tertawa. “Sekarang kamu tidak bisa lari kemana-mana lagi, Nona!”


Aku mematung di tempat, sekujur tubuhku terasa beku. Aku tak bisa berkata apapun. Ingin menjerit tapi suaraku seperti sudah habis. Aku hanya bisa terisak. Pria itu mendekatkan wajahnya ke mukaku. Mataku mengerjap beberapa kali menahan butiran-butiran hujan jatuh menerpa wajahku.


“Kamu begitu manis, Nona!”


Aku menangis terisak.


“TOLONG JANGAN SENTUH AKU! AKU MOHON,” pintaku dengan sangat memohon agar pria itu tidak menyentuh badanku.


“Maaf Nona ini adalah rezeki ku malam ini yang tidak bisa aku tolak.”


Dia menggunci kedua lenganku. Aku terus meronta meminta dilepaskan.


“TOLONG!” teriakku dengan sedikit suara yang masih mampu aku keluarkan.


Pria itu tertawa sepuas hati.


“DIAM!!” bentaknya. “Percuma tidak akan ada yang bisa menolongmu wanita cantik!”


________

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir. Jangan lupa vote, like ya🤗


__ADS_2