Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 36. Secarik Kertas


__ADS_3

Fey menghela napas berat. Dirinya baru saja usai mengganti seragam yang basah akibat ulah wanita menyebalkan itu. Tubuhnya ia sandarkan ke loker dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Beberapa hari ini hidupnya benar-benar tidak tenang semenjak kehadiran Requeensha. Perempuan itu hanya menjadi duri dalam hubungannya dengan Dhanisa. Tidak tahu apalagi yang akan dia buat setelah ini.


“Alhamdulillah, Ya Allah rejeki anak sholeh!” suara yang ditangkap gendang telinganya itu seperti tidak asing bagi Fey.


Fey berjalan menuju ambang pintu. Dia mendapati Requensha sudah berlalu sehingga yang terlihat hanya punggungnya saja, sementara di deretan kursi panjang dia melihat Sadam dan Jovan dengan raut wajah yang berbinar. Fey berjalan dengan derap langkah di pelankan. Lalu duduk di tengah-tengah Sadam dan Jo, yang masih sibuk mencomoti snack Chitato.


Menyadari kehadiran Fey di tengah-tengah mereka. Kedua sahabatnya itu tiba-tiba bungkam. Netra mata mereka memandang satu sama lain.


“Kenapa kalian?” Fey menyelidik.


Keduanya menggeleng, dengan wajah sedikit cemas melihat kehadiran Fey di tengah-tengah mereka berdua.


Mata Fey melirik tajam pada benda yang dipegang Jovan. Sebuah game Nintendo 3DS yang sangat mahal. Fey mengangguk pelan, tahu kalau Requeensha tadi datang menghampiri mereka pasti ingin menyogok dua teman polosnya ini. Sekarang dia berganti menoleh ke arah Sadam, bola matanya diedarkan dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dia tidak menemukan satu benda apapun yang dipegang Sadam.


“Sadam, kamu dikasih apa dari Requeensha?” tanya Fey datar.


“Nggak ada. Buktinya aku nggak megang apa-apa!” Sadam mengangkat kedua telapak tangannya yang kosong melompong tidak memegang satu benda apapun.


Fey tidak percaya begitu saja. Dia menoleh lagi ke arah Jo. Jovan hanya memasang muka pura-pura tidak tahu dengan mengalihkan pandangannya ke arah lain supaya matanya tidak harus melihat Fey.


Fey melirik kembali ke arah Jovan dengan tajam. “Jovan?”


“Hmm.” Dirinya pura-pura sibuk memainkan handphone. Sadam bertingkah lagaknya menjawab sebuah panggilan masuk dengan menempelkan benda pipih itu ke telinganya. “Halo, ia sebentar lagi aku ke sana!”


“Ahm, Fey. Aku duluan!” Ia beranjak dari duduknya.


Fey mencekal langkah Jovan dengan manarik paksa handphone Jo yang masih digenggaman. Tangannya menggulirkan layar handphone untuk mengecek panggilan masuk. Jo hanya bisa mengigit bibir seraya mata perpejam kuat. Tak lama Fey tersenyum usai mengecek handphone Jo. Panggilan terakhir yang masuk dari Almira itupun sejam yang lalu.


“Duduk sini!” perintah Fey dingin. “Sekarang kasih tau ke aku apa yang Requeensha kasih ke Sadam.”


Jo mengekor mata ke arah Sadam. Mereka saling bertatapan.


“Eheem” Fey mendehem singkat, membuat Jo dan Sadam berjengit karena kaget.


“Nggak usah komunikasi lewat mata batin! Udah langsung aja!” tegur Fey.


“Kalau si Sadam, bakalan dijanjiin buat dapetin si Khariza.”


“Ouh, bagus! Bagus!” Fey memberi tepukan apresiasi pada temannya karena masih mempercayai Requeensha untuk mengajaknya bekerja sama.


“Dia mau buat rencana apalagi hari ini?” Fey mulai mengintrogasi mereka, akan rencana licik Requeensha.


Gigi Jovan terlihat berderetan sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Dia bilang mau ngajak kamu pulang bareng, supaya Dhanisa cemburu dan akhirnya ngejauhin kamu, Fey!”


Fey memejamkan kedua matanya dengan erat. Mengatur napasnya dengan tenang. Amarahnya seperti akan meledak.


***


Aku akhirnya bisa bernapas lega setelah kegiatan pembelajaran hari ini berakhir. Kali ini aku memilih untuk pulang paling akhir. Bukan tanpa alasan karena aku juga harus menunggu abang Azzam untuk pulang bersama. Tas aku taruh di atas meja, merapikan beberapa buku tulis yang masih berserakan dan menjejalnya masuk ke dalam tas.


Tanganku meraba-raba kolong meja untuk mengambil sepatu milik Fey yang belum sempat aku kembalikan. Ketika aku manarik sepatu dari kolong meja bersamaan dengan itu selebaran kertas terbang jatuh ke lantai. Aku menjongkok untuk memungut kertas itu, rasanya aku tidak pernah membuang kertas ke kolong meja, biasanya langsung aku buang ke keranjang sampah. Netra mataku mencoba menangkap setiap kalimat yang tertulis dalam kertas.


“KAMU JANGAN TERLALU BERHARAP BAKALAN LAMA DENGAN DENGAN FEY. SEBENTAR LAGI DIA BAKALAN JADI PACAR AKU!”


Aku masih menatap kosong kertas di genggamanku. Otakku masih berusaha untuk berpikir siapa yang menuliskan kalimat seperti ini.


‘Requeensha!? Apa ini ulah Requeensha’ Aku membatin.


“Nisa, kamu baca apa? Kita pulang bareng yok,” Suara Fey menyapa, seketika membuyarkan pikiranku.


Dengan cepat aku meremas kertas yang masih berada digenggaman dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


“Nggak kok kertas coret-coretan, Fey,” kilahku. “Fey, sepatu kamu. Terima kasih ya. Maaf kalau kamu dihukum gara-gara aku.”


Fey meraih ke dua tanganku, lalu berbicara dengan tenangnya. “Nggak apa-apa. Aku cuman ingin melindungi pacar aku yang cantik ini,” balas Fey memuji sekaligus mengoda.


Aku membalasnya dengan senyum.


“Fey ayok pulang bareng!” ajak Reqquensha yang tiba-tiba nyelonong masuk ke kelas.


Mata Requeensha langsung fokus pada tangan Fey yang mengenggam erat kedua tangan Dhanisa. Tidak terima Reqquensha langsung menarik paksa tangan Fey, dan menggandengnya dengan manja.

__ADS_1


Kedua mata Fey terpejam rapat, tangan kanannya memijat pelipis yang terasa sakit dengan kehadiran perempuan ini.


“Lepasin, Sha!” nada suara Fey meninggi, dia membuka kembali kedua matanya, sorot matanya memandang tajam ke arah Requeensha.


“Nggak akan Fey! Aku maunya pulang bareng kamu!” Requeensha semagkin mengeratkan pegangannya memeluk lengan Fey.


Aku yang melihat lelakuan si kutu air merasa jijik. Aku akui, memang dulu aku juga sama tergila-gilanya dengan Fey hanya saja aku masih diambang batas normal. Aku juga masih manjaga image, supaya tidak kelihatan murahan di depan laki-laki yang aku kagumi. Tapi melihat gadis di depanku ini, terkadang aku berpikir kalau dia pasti bermuka tembok. Buktinya dia tidak ada merasa malu sedikit pun untuk mengemis cinta laki-laki yang jelas-jelas sudah punya pacar.


Aku memutar bola mata jengah. “Aku nggak bisa pulang bareng kamu hari ini Fey, karena Ustadz Azzam memintaku untuk pulang bersamanya lagi hari ini.”


“Tuh kan Fey, udah kamu itu ditakdirin buat kamu,” sahut Requeensha dengan senyum berbinar saat mendengar kalimat Dhanisa barusan.


Memang beberapa hari ke depan ini aku pulang dengan Azzam karena dia melarangku untuk membawa kendaraan sendiri. Bagaimana lagi, mau tidak mau aku harus menuruti keinginannya kalau tidak, dia tidak akan membolehkan aku untuk sekolah dulu selama dua hari ini.


“Dhanisa, kamu dipanggil Ustadz Azzam disuruh menemuinya di ruang guru sekarang,” ujar Rivan si ketua kelas tiba-tiba muncul dari balik pintu.


Aku memandang Rivan yang berdiri di depan. Dia sedang merapikan tumpukan buku Biologi anak-anak sekelas yang tadi dikumpulkan di meja paling depan. “Oh iya. Kamu kan mau ke ruang guru sekalian aku titip buku Biologi di atas meja itu ya, tolong antar ke mejanya Pak Lazardi,” Rivan menunjuk pada beberapa tumpukan buku yang merupakan hasil dari evaluasi belajar Biologi hari ini.


Aku mengiyakan permintaan ketua kelas, mengingat dia memang super sibuk dua hari ini menata persiapan praktik pentas seni belum lagi mengurus peralihan jabatan ketua OSIS.


“Oke, Van”


“Ya sudah kalau begitu, semuanya aku duluan ya. Masih ada yang masu diurus nih,” ujar Rivan sambil melambaikan tangan dan meninggalkan kami bertiga di ruangan ini.


Tak ingin berlama-lama. Aku meraih tasku untuk disampirkan ke bahu kanan. Lalu berjalan ke meja paling depan untuk mengambil setumpukan buku tugas Biologi pesanan Rivan untuk diantarkan ke meja Pak Lazardi.


“Aku duluan, ya!” ujarku pamit meninggalkan mereka berdua, yang masih berada di dalam ruangan.


Fey tidak bisa berbuat apapun untuk mencegah Dhanisa. Ia hanya bisa menatap nanar kerpergian Dhanisa yang sudah menghilang di balik pintu. Di sisi lain Reqquensha sendiri tidak akan membiarkan Fey merasa bersalah dan ikut mengerjar Dhanisa keluar.


“Ayo pulang!” ajak Reqquensha, yang sudah menarik tangannya ke luar ruang kelas.


“Aku bilang lepasin!” bentak Fey dengan keras.


Reqquensha langsung meloncat kaget seraya melepaskan rangkulan tangannya ketika mendengar pekikan suara Fey yang keras. ‘Ihh! Susah banget sih membujuk Fey yang keras kepala ini,’ Reqquensha membatin.


Dia menghentakkan kakinya ke lantai sambil berdecak sebal karena Fey tak kunjung mengiyakan permintaannya. Dirinya terus berpikir keras. Ia tidak boleh rugi hari ini! Dia harus bisa membuat Fey dekat dengannya!


“Ya sudah, kalau kamu nggak mau pulang dengan aku!” ucap Reqquensha dengan nada meninggi. “Aku kasih kamu dua opsi.”


Reqquensha tersenyum licik. Dia mengeluarkan handphone dari saku baju.


“Kamu mau antar aku pulang atau foto-foto mesra kita aku sebarin!” ancam Reqquensha.


Fey membuka matanya dengan sempurna mendengar opsi yang aneh dari Reqquensha.


“Heh! Kita nggak punya foto berdua ya! Apalagi foto mesra.“ Fey menyangkal.


“Ada kok!” balas Reqquensha penuh yakin.


Reqquensha mulai membuka ponselnya dan mencari foto yang dikirim Nora barusan. Foto mesra itu adalah foto ketika mereka berdua jatuh berpelukan saat menerima hukuman membersihkan perpustakaan. Reqquensha benar-benar tersenyum senang karena foto itu bisa dia gunakan untuk memperdaya Fey supaya mau menuruti setiap kemauannya.


Fey hanya bisa terpelonjat terkejut ketika melihat foto-foto mereka yang dia tahu itu bukan disengaja, tetapi murni insiden karena mereka sama-sama jatuh terpeleset.


“Itukan foto waktu di perpustakaan tadi!”


Reqquensha mengangguk.


“Kalau kamu nggak mau anterin aku pulang, aku bakalan sebar foto ini ke teman-teman aku yang lain supaya satu sekolah tau hubungan kita," ancam Requeensha.


Fey menghela napas berat dan tangan mengepal kuat.


“Kamu benar-benar licik ya, Sha!”


“Terserah kamu mau bilang apa, yang jelas kita pulang bareng hari ini!”


Dengan sangat terpaksa, akhirnya Fey harus mengantarkan gadis ini lagi untuk kedua kalinya. Huft! Kalau pun ada pilihan lain ia lebih memilih untuk mengantar hewan buas kepenangkarannya daripada harus mengantar perempuan licik ini pulang ke rumah.


***


Sepanjang berjalan menuju ruang guru aku hanya melamun, orang-orang di sekitar yang berpapasan pun tidak aku perdulikan. Teguran Jihan yang izin pamit pulang duluan juga tidak ku hiraukan. Aku hanya membalasnya dengan mengoyangkan bahu.

__ADS_1


“Iya. Hati-hati di jalan Jihan,” jawabku dengan tetap menatap lurus.


Jihan yang awalnya berencana untuk langsung pulang, tiba-tiba mengurungkan niat itu setelah menangkap mimik aneh dari wajah teman sebangkunya itu. “Kamu kenapa sih? Kenapa muka ditekuk gitu?” tanya Jihan menyelidik.


Aku terdiam. Pertanyaan Jihan tetap tidak menarik perhatianku untuk merubah tatapan kosong itu.


Dengan terpaksa sepertinya Jihan harus mengikuti dulu langkah Dhanisa demi mengetahui apa yang membuat dia tampak lesu hari ini.


“Apa kamu sakit?” tanya Jihan masih menatap sahabatnya dengan tatapan yang tidak ia mengerti.


Aku menggeleng.


"Oh atau kamu lagi banyak utang ya?" teka Jihan lagi.


Aku masih tak bergeming.


Jihan menepuk-nepuk keningnya mencoba menemukan pertanyaan apa yang bisa mengalihkan fokus wanita di sebelahnya ini.


“Ehem. Apa ini ada hubungannya dengan Fey?” tebak Jihan ragu-ragu.


Aku menoleh. Tatapan Jihan mengisyaratkan keseriusan dari atas pertanyaan yang diajukannya.


Aku memperlambat langkahku. “Nggak. Hubunganku dengan Fey baik-baik aja.”


“Terus masalah apalagi?” Jihan yang masih dengan sabar mengikuti langkahku. Dia mengangkat tangan kanannya, mengecek sudah jam berapa sekarang. “Coba deh kamu cerita sebelum aku beneran pulang,” bujuk Jihan dengan hati-hati supaya Nisa tidak merasa di tekan untuk menjawab pertanyaannya.


“Aku mau menunjukkan sesuatu," tuturku namun sebelumnya aku memindahkan setumpukan buku tulis ke pangkuan tangan Jihan.


Aku merogoh saku baju dalam-dalam untuk menunjukkan secarik kertas yang sudah aku remuk tadi. Jihan hanya menatap bingung sama seperti ketika aku pertama kali membaca secarik kertas yang terselip di bawah kolong meja.


“Siapa yang mengirim kertas ini?”


Aku mengendikkan bahu. “Mana aku tau, kalau aku tau pasti sudah aku labrak tuh orang!" kataku berdecak kesal.


Kami berbicara seraya menitih langkah perlahan menyusuri setiap ubin yang aku pijak.


“Aku bahkan berpikir ini ulah Requeensha. Tapi aku tidak punya bukti akan itu, makanya aku belum bisa menuduh dia.”


Jihan mengangguk paham. “Terus kamu akan melakukan apa setelah ini?"


“Belum tau. Aku mau liat situasi ke depannya. Kalau dia bersikap lebih konyol dari ini maka aku nggak akan tinggal diam, aku akan terus mencari siapa pengirim surat ini.”


Saat sudah tiba di ambang pintu ruang guru, Jihan memberikan kembali tumpukan buku tugas Biologi Pak Lazardi, lalu bergegas pamit pulang karena telah dijemput kakaknya.


Aku melangkahkan kaki mencari sosok guru Biologiku itu, tapi sepertinya Pak Lazardi sudah pulang karena aku tidak mendapati tasnya lagi di atas meja. Alhasil buku-buku itu, aku letakkan saja di atas beberapa tumpukan buku Biologi dari kelas lain.


Sepeninggal dari meja Pak Lazardi aku menuju meja Azzam yang berada di barisan depan.


“Abang ada apa memanggil Nisa ke sini?”


“Hari ini Nisa tidak ada jam belajar tambahankan?”


“Tidak ada.”


“Nanti, Abang ada rapat sebentar Nisa mau menunggu abang pulang atau mau pulang duluan. Abang tidak memaksa Nisa kalau mau pulang duluan,” tutur Azzam demikian karena ia juga tidak tega melihat Dhanisa harus menunggunya lama.


“Nggak apa-apa Nisa pulang duluan aja, nanti tinggal naik angkutan umum aja.”


“Ya sudah, kalau itu mau Nisa. Hati-hati di jalan ya,” nasihat Azzam.


Aku mengiyakan dengan anggukan kecil berbalut senyum tipis.


“Nisa pulang dulu. Assalamu’alaikum,” salamku lalu mencium punggung tangan Azzam.


“Nisa?” panggil Azzam yang membuat langkahku terhenti.


“Besok insyaallah abang akan berangkat pelatihan di Balikpapan," tuturnya memberi tahu. Azzam mencondongkan sedikit tubuhnya supaya bisa berbicara lebih dekat. "Kalau kata anak gaul zaman sekarang dinner, kalau nanti malam abang ajak Nisa dinner bagaimana?” ajak Azzam.


Aku masih manimbang-nimbang ajakan Azzam.


Kalau dipikir-pikir memang sudah lama aku belum melakukan hal itu lagi, sejak menikah dengan Azzam aku tidak pernah keluar malam seperti dulu. Jika Fey mengajak untuk keluar dengan tujuan dinner aku hanya bisa mengelak dengan mengatakan sedang belajar persiapan ujian, atau mengatakan bahwa saudara sepupuku ada di rumah dan melarang untuk keluar rumah.

__ADS_1


"Iya." Aku menyetujui ajakan Azzam.


Senyum merekah langsung terpancar dari wajah Azzam. Aku tahu alasannya karena ini kali pertama aku menyetujui keinginan dia untuk dinner. Biasanya aku selalu menolak kalau diajak makan berdua.


__ADS_2