
Aku berjalan menyusuri koridor menuju ruangan yayasan Panti Asuhan Media Asih untuk menemui pengurus panti, bernama Farida. Azzam memberitahuku nama pengurus panti ini, kebetulan ia sebelumnya juga pernah berkunjung kemari dalam rangka mengumpulkan donasi untuk pembenahan panti yang sudah sepuluh tahun lamanya.
"Assalamu'alaikum"
Tok... Tok.. Tok...
Sudah dua kali aku mengetuk pintu, namun belum ada seorang pun yang keluar. Ruangan ini tampak sepi, tidak ada orang yang duduk satu pun. Akhirnya, aku mencoba memanggil sekali lagi dengan suara yang sedikit aku keraskan, supaya orang di dalam mendengarnya. Sampai akhirnya seorang ibu yang kira-kira berusia 50 tahunan muncul dari arah bilik bagian belakang.
"Wa'alaikumsalam," sambutnya dengan lembut dan ramah. "Aduh, maaf Bu. Sudah lama ya menunggu di luar."
"Tidak juga, Bu," kataku tersenyum.
"Mari ibu, silahkan duduk."
Wanita itu mengarahkan aku duduk masuk dan duduk di kursi sofa panjang berwarna maroon, dan setelahnya ia pun juga ikut duduk.
Ibu tadi nampak sedikit menghela napasnya, ia seperti baru saja usai melakukan suatu pekerjaan.
"Aduh, sekali lagi kami mohon maaf ibu. Jika ibu agak menungguk lama di luar tadi," ucapnya lagi, tak enak hati. "Beberapa hari yang lalu, penghuni panti ini bertambah. Ada bayi yang kami temukan di depan gerbang panti."
Aku mengerutkan dahi mendengar penuturan ibu Farida sekaligus merasa prihatin dan simpati, ternyata masih ada juga orang tua yang mau menyia-nyiakan rizki terbesar yang Allah berikan untuknya. Padahal aku yakin di luar ada orang yang berharap di berikan anak yang banyak, penyambung keturunan mereka. Tapi tidak bisa dipungkiri, ada pula orang tua yang ternyata tidak mengharapkan kehadiran seorang anak. Entah, mungkin itu ada sebab musabab yang melatari kenekatan orang tersebut. Sebenarnya meski demikian, tidak pula satu jalan buruk yang dipilihnya yaitu dengan menelantarkan buah hatinya sendiri. Jika memang adanya naluri seorang ibu.
"Sepertinya sengaja di letakkan di sana," lanjut Ibu Farida dengan raut wajah sedihnya.
"Astagfirullah, kondisi bayinya, bagaimana, Bu?"
"Alhamdulillah sehat. Meski kami hampir terlambat menemukan bayi malang itu, karena wajah dan bibirnya mulai membiru karena menahan dingin."
Aku yang mendengar kemalangan dari si bayi yang diceritakan Bu Farida membuatku terenyuh.
"Oh, iya. Kayaknya jadi larut nih obrolan kita. Maaf kalau boleh tau ini dengan ibu siapa ya?"
Aku berhenti terhenyak. "Pekenalkan saya Dhanisa, Bu. Apa ibu adalah Ibu Farida?"
"Iya. Saya ibu Farida. Apa ada yang dapat saya bantu ya, Bu?"
Aku tersenyum lalu mengeluarkan sebuah amplop berwarna cokelat dari dalam tasku.
"Ibu kami ada sedikit rezeki, mohon ibu terima," kataku sambil meraih tangan Bu Faridah.
"Alhamdulillah, terima kasih banyak. Rezeki ini kami terima dan semoga Allah membukakan pintu-pintu rezeki lainnya untuk keluarga ibu.
"Amiin ya Allah. Dan sekaligus kedatangan saya kemari ingin mengundang sekitar dua puluh anak panti ini untuk acara syukuran kelulusan saya Bu, kebetulan saya baru selesai menamatkan sekolah aliyah dan juga sekaligus selamatan atas pindahan rumah baru kami."
"Oalah, berarti saya salah sapaan ini yah, harusnya saya bukan memanggil Ibu," tegelak Bu Farida. Setelah tahu bahwa usiaku masih muda, belasan tahun. Bahkan baru tahun depan aku menginjak usia dua puluh tahun. Huft, tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, dan masa begitu singkat.
"Ha-ha, tidak apa-apa, Bu. Semoga saya dapat pula menjadi seorang ibu," tuturku mengulas senyum.
"Ammin. Berarti Ibu, eh maksud saya Mbaknya masih single ya?"
"Tidak Bu. Saya sudah memiliki menikah dan memiliki suami."
"Oh, begitu. Saya kira belum loh, karenakan baru selesai sekolahnya kan?"
"Iya, Bu."
"Daripada lama-lama, mending buru-buru halal, ya Nak, " goda Bu Farida. "Biar kalau jalan berdua bukannya dapat dosa tetapi mendapatkan pahala. Jauh dari maksiat."
Aku balas dengan tersenyum tipis. Bu Farida tida tahu saja bagaimana perjalanan hidupku hingga aku bisa menikah muda begini.
"Oh iya, Bu. Ingin melanjutkan kembali kalau acaranya insyaallah akan diadakan esok lusa."
Ibu Farida terlihat sedikit berpikir. "Oh, berarti hari Jumat jatuhnya ya, Nak."
"Iya, Bu."
Tidak tahu kenapa tiba-tiba pikiran membawaku kembali pada cerita Bu Farida tentang anak bayi yang ditemukan tergeletak di depan pintu gerbang panti asuhan. Aku sangat penasaran dan tergerak ingin melihat keadaan bayi munggil itu.
"Bu, boleh saya saat ini melihat anak bayi yang kata ibu ditemukan di depan gerbang panti?"
"Boleh." Bu Farida bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam kembali.
Bu Farida keluar dengan menggendong sosok bayi kecil dan menggemaskan. Bahkan dia baru mengenal dunia, tapi ia sudah dihadapkan pada kepiluan, kemalangan yang harus diterimanya.
Si bayi nampak terlelap dalam pangkuan Bu Farida dengan selimut bayi melingkupi tubuh kecilnya yang masih lemah.
Aku mengusap pipinya yang masih merah. Bibirnya begitu munggil.
"Ini kalau Nak Nisa mau menggendongnya." Bu Farida menyerahkan bayi yang terletap itu kepadaku.
Aku menerimanya dengan canggung. Sangat takut bila harus menggendong bayi yang masih mungil begini. Maklum saja aku masih belum punya pengalaman menggedong bayi yang nampak baru beberapa minggu ini.
__ADS_1
"Siapa nama bayi ini, Bu?"
"Panti memberi nama bayi ini Arumi. Arumi Malaika Ulfa."
"Nama yang bagus." Aku membenarkan selimut yang menutu tubuh Arumi.
Aku mencium gemas pipi Arumi, sangat wangi.
"Kalau begitu saya tinggal sebentar ya, Nak. Ingin memberi konfirmasi pada pihak panti terkait undangan Nak Dhanisa untuk acara esok. Saya titip Arumi dulu, Nak."
Bu Farida berjalan keluar ruangan meninggalkan aku dan Arumi di ruangan ini.
"Apa begini rasanya punya bayi ya. Hm, sungguh menggemaskan," kataku bergumam sendiri.
Arumi nampak sedikit mengeliat, dan menguarkan suara lenguhan tak jelas.
"Hus... Hustt..." Aku mengoyangkan tubuhnya sambil menepuk-nepuk pelan supaya Arumi kembali terlelap. "Tidur lagi ya sayang."
"Ya ampun kamu di sini rupanya! Kamu tau nggak dari tadi aku mencari kamu, nungguin kamu di mobil tapi nggak nongol-nongol!" suara Ridho mengeram keras.
"Hust!"
"Suara kamu bisa dikecilin dikit nggak sih! Kamu nggak liat bayi ini lagi tertidur lelap! Kamu nggak tau kondisi banget sih!" geramku pelan.
Ridho memandang kepada bayi yang ada dalam gendonganku dan turut mendekat dan duduk di sebelah.
"Bayi siapa?"
"Bayi panti ini. Kasihan dia baru saja jadi korban kebiadaban orang tuanya. Dia Arumi. Bayi perempuan cantik yang ditemukan tergeletak sendirian di depan gerbang panti asuhan ini. Kasihan kan," jelasku pada Ridho.
Pria yang biasanya cerewet dan menyebalkan itu nampak hanya terdiam sambil melihat ke arah bayi dalam waktu yang lumayan lama.
"Kamu kenapa bengong? Pasti kamu iba dan kasihan kan? Sama kayak aku," tuturku.
Ridho mengelus pipi bayi itu. "Dia bayi yang sangat manis." Ridho tersenyum.
Arumi kembali menggeliat suara rengekan kecil mulai terdengar samar-samar dari bibirnya.
Aku berusaha menenangkannya dengan sedikit kemampuanku bagaimana memahami dan menenangkan kembali bayi yang mulai risih dan merengek.
"Sini, biar aku yang mencoba menggendongnya," pinta Ridho.
Arumi sekarang telah berpindah tangan ke pangkuan Ridho. Pria yang duduk di sebelahku berdiri dan membawa Arumi dalam buaiannya. Ridho menimang-nimang Arumi dengan lemah lembut sambil mengelus-ngelus halus kulit wajahnya.
Ridho menatap. "Belum. Sebenarnya kami sudah lama menginginkan kehadiran buah hati di tengah-tengah kami."
"Aku kira kalian sudah memiliki anak. Apa kamu dan Mbak Rara juga baru menikah?"
"Usia pernikahan kami sudah masuk yang ke empat tahun."
Aku mengangguk ternyata Ridho dan Rara sudah lama menikah. Aku kira mereka baru-baru saja menikah. Ternyata dugaanku salah.
"Mungkin belum rezeki aja. Kamu yang sabar menunggu rezeki itu hadir."
Arumi terlelap kembali dalam tidurnya.
"Kamu sendiri bagaimana?"
"Belum juga. Kami belum dikaruniai anak. Kalau boleh jujur sebenarnya target usiaku menikah 25 tahun, karena aku rasa usia segitu aku sudah merasa mampu untuk membangun rumah tangga. Tapi di targetku agak melenceng, belum sempat aku menamatkan sekolahku eh aku sudah menikah duluan."
"Terus karena menikah sekolahmu berhenti?" tanya Ridho.
"Nggaklah. Aku masih lanjut sekolah. Ini tiga hari lalu aku baru saja usa menamatkan sekolah SMA ku. Dan sekarang aku sedang persiapan untuk ikut tes masuk perguruan tinggi."
Ridho kembali duduk di sebelahku dan memberikan Arumi lagi untuk aku gendong.
Pria itu nampak menghela napas berat. "Kamu mau tau cerita aku?" Ridho menatap aku dengan wajah serius. Sepertinya seserius ia ingin menceritakan kehidupannya.
"Aku dan Rara. Kami sama-sama saling suka sejak awal kuliah dan ketika aku memantapkan diri untuk datang dan melamar Rara, orang tuanya menolakku dengan mentah-mentah. Alasannya aku yang belum selesai menamatkan pendidikan, dan belum berpenghasilan. Aku berkali-kali mencoba meyakinkan mereka dengan kegigihanku mencari pekerjaan sambil kuliah juga. Sampai malam itu Rara datang ke rumahku dan meminta supaya aku mambawanya pergi jauh dan kemudian menikah. Karena pikiranku sudah kalut, aku menyetujui permintaan Rara. Tapi gagal, orang tua Rara mengetahui niat kami. Singkatnya, Rara di depan aku dan orang tuanya mengatakan akan nekat mengakhiri hidupnya kalau hubungan kami berdua tidak direstui. Akhirnya dengan berat hati orang tua Rara menyetujui keinginan Rara dan menikah denganku. Tapi hubunganku dengan ibu mertuaku belum membaik sampai saat ini. Termasuk juga orang tuaku dengan orang tua Rara," panjang lebar Ridho menceritakan perjalanan pahit hidup yang dilaluinya untuk mendapatkan restu dari sang mertua.
Mendengar cerita dan keluhnya, sedikit banyak mengajarkan aku untuk senantiasa bersyukur atas jalan hidup yang Allah berikan meskipun tidak sesuai rencanaku tapi bukankah rencana Allah itu lebih indah.
Dalam hidupku Allah menghadirkan suami sholeh dan baik seperti Azzam. Itu satu hal yang perlu aku syukuri, kemudian orang tua Azzam menerima aku dengan baik. Meski mereka tahu bagaimana sikap dan perangaiku selama ini. Kemudian, kami masih dapat merajut hubungan yang harmonis antara orang tuaku dengan orang tua Azzam. Sungguh keluarga adalah karunia dan penyemangat dalam menjalani setiap kehidupan.
"Duh, maaf ya Nak ibu tinggal tadi." Bu Farida kembali duduk bersama kami. Matanya mengekor ke arah Ridho yang duduk di sebelahku pula. "Lho, ini suaminya Nak?"
Aku menyegih. "Bukan, Bu. Dia Ridho, tetangga saya."
"Bu kenalkan saya Ridho."
"Oh iya Nak Ridho. Saya Farida pengurus panti di sini."
__ADS_1
"Bu ini saya serahin Arumi lagi, tadi dia agak merengek tapi sudah tertidur pulas lagi," tuturku menatap wajah Arumi.
Bu Farida meraih tubuh Arumi. "Mungkin dia lapar."
"Hm, Bu. Kalau begitu kita pamit dulu ya."
"Buru-buru sekali. Nggak mau main sama anak-anak panti dulu."
Aku menatap Ridho. Dia tadi datang marah-marah karena menunggu aku yang lama. Rasa belum saatnya aku bermain dengan anak panti dulu. Lebih baik aku mengambil waktu luang untuk kemari lagi. Tapi bukan bersama pria ini. Tetapi dengan suamiku.
"Lain kali saja Bu. Semoga saya bisa menyempatkan kembali datang kemari."
Aku dan Ridho pamit berjalan keluar meninggalkan Bu Farida dan Arumi di ruangan tempat menerima tamu Panti Media Asih.
Di perjalanan menuju keluar gerbang netra mataku tanpa sengaja melihat anak laki-laki berusia sekitar 6 tahun sedang nampak kesusahan mengambil mainan bolanya yang menyangkut di antara pagar-pagar pembatas panti.
Aku yang merasa iba mencoba mendekatinya.
"Kamu kenapa?" tanyaku sambil berjongkok.
"Mainan bola-bolaanku nyangkut tante di situ." Ia menunjuk sebuah bola yang terbuat dari bahan plastik, seukuran dengan bola futsal menyangkut di pagar yang berkawat. Panti ini belum semuany di pagar beton, nampak baru sebagian saja yang di semen.
"Ya udah biar aku bantu ya."
Nampaknya memang kesulitan aku menggapai bola yang mengelinding keluar pagar itu. Pelan-pelan aku mengulurkan tanganku ke keluar dan berhasil meraihnya. Dengan hati-hati aku menarik tanganku sambil tangan sebelah lagi menahan kawat besi supaya tidak menggores tanganku.
Angin nampak berhembus cukup kencang, menerbangkan dedaunan sekitar termasuk dahan dan ranting pohon yang ada di atas kami.
"Ini bolanya. Kamu lanjut main ya."
Anak laki-laki berseru semangat, dan kembalu berlari menghambur bersama teman-temannya.
Ujung jilbabku berkibas-kibas kala di terpa angin. Aku berdiri dan melihat anak-anak di sebelah halaman panti sedang bercanda ria.
"Awass!!"
BRAKKK
Sebuah dahan kayu yang lapuk jatuh tepak di sebelahku. Aku sontak syok dan masih kaget saat ini. Ridho berhasil membawa tubuhku menyingkir dari bahwa pohon. Alhasil dahan itu tak berhasil mengenaiku.
Tubuh kami saat ini, jatuh tersungkur bersamaan di tanah.
Tangan Ridho masih mendekap tubuhku. Sadar akan hal itu, aku mencoba menyingkirkannya dan apa yang aku lakukan cukup membuat Ridho kaget.
"Sorry! Sorry!" Ridho kembali bangun.
"Kamu nggak papa, Dhanisa?" tanya Ridho.
"Nggak! Aku nggak papa," ucapku sambil membersihkan baju yang kotor.
"Untunglah."
Dengan cepat aku berdiri dan menjaga jarak dengan Ridho.
"Ya sudah kita pulang sekarang juga!"
"Kok pulang. Kan kita mau ke konter HP dulu!" peringat Ridho.
"Ya udah buruan!"
Aku berjalan lebih dulu meninggalkannya di belakang. Di belakang Ridho mencoba mengejarku sambil mengatur napasnya.
Aku sadar, dia yang berjalan di sebelahku turut memperhatikan aku. Entah apa yang dilihatnya.
"Kamu kenapa sih?" tanyaku risih.
"Itu jilbab kamu sedikit kotor," beritahunya.
Aku mengusap-usap bagian hijabku untuk membersihkan kotoran yang dimaksud Ridho.
"Bukan disitu. Sini biar aku bantu."
Tangan Ridho mulai menyusuri bagian kepalaku, membersihkan bagian hijabku yang terlihat kotor olehnya.
Ridho tampak sedikit menyungging senyum meski samar. Sementara aku sedikit canggung. Tidak sepatutnya aku membiarkan Ridho melakukan itu.
"Kamu pasti bohong! Kamu moduskan?"
Ridho tersentak. "Modus apanya?" kesal Ridho.
"Iyalah, kalau niat bersihin pasti mukanya biasa aja. Ini senyum gak jelas."
__ADS_1
"Alah, Ge-Er!"
"Buruan! Aku nggak mau lama-lama berurusan dengan kamu." Aku berjalan cepat meninggalkan Ridho menuju mobil.