
Cinta adalah pangkal dari semua perbuatan, yang baik maupun tidak baik. Maka pangkal semua amalan dien ini adalah cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.
"Bagaimana keadaan ibu saya, Dok?" tanya Fikri saat sang dokter sudah menyelesaikan tugas untuk memeriksa pasien.
Dokter itu tersenyum simpul seraya memasukkan stetoskop ke dalam saku jas dokternya. "Alhamdulillah, kalau ibu Anda mau dibawa pulang saat ini sudah bisa. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Hanya saja, masih perlu trus melakukan check-up untuk memantau kembali kesehatannya."
Senyum Fikri dan Umi Salamah mengembang, ucapan syukur tak henti-henti dia panjatkan kepada Sang Ilahi. "Terima kasih, Dok," ucap Fikri. Sang dokter hanya tersenyum dan mengangguk lantas pergi meninggalkan ruangan tempat Umi dirawat.
"Assalamu'alaikum," salam Azzam yang baru masuk ke ruang dimana uminya di rawat inap.
"Wa'alaikumsalam," sahut Fikri dan Umi bersamaan.
"Bagaimana keadaan, Umi?"
Umi tersenyum singkat sebelum menjawab. "Baik. Azzam bagaimana, Nak?"
"Azzam baik umi. Sangat baik." Azzam menjawab dengan raut berbinar-binar. Ia tampak sangat bahagia saat ini
"Bagaimana hubunganmu dengan Nisa?" Umi mengusap lengan anaknya itu naik turun. "Umi merasa bersalah karena mengabulkan permintaan Ahsan untuk memintamu menikah dengan Nisa, akhirnya kamu harus menghadapi kenyataan yang menyakitkan seperti ini, Nak."
Azzam balik memegang tangan Umi. "Umi, umi jangan terlalu memikirkan hal itu. Lagi pula ini kan keputusan Azzam sepenuhnya. Saat ini ibu perlu tau bahwa hubungan kami, rumah tangga kami alhamdulillah sudah baik umi." Senyum Azzam merekah setelahnya.
"Kami sudah menerima satu sama lain. Do'akan rumah tangga kami akan selalu baik, Umi," lanjutnya seraya mengusap-usap punggung tangan umi.
Raut wajah umi berubah senang, mendengar penuturan Azzam. "Tanpa kamu minta pun, Umi selalu mendoakan rumah tangga kalian selalu baik dan harmonis."
Fikri yang mendengar penuturan Azzam turut merasa senang karena rumah tangga adiknya kembali harmonis. Sebenarnya Fikri harap-harap cemas akan kehidupan rumah tangga adiknya. Tapi, syukurnya mereka masih bisa menyelesaikan dengan kepala dingin. Ia yakin Azzam tidak akan melakukan sesuatu hal yang buruk yang bisa meruntuhkan rumah tangga mereka.
"Syukurlah. Abang pun ikut senang mendengarnya. Mungkin itu hanya bagian dari ujian Allah yang coba diberikan untuk kehidupan rumah tangga kalian. Apa kalian berdua bisa melaluinya dengan sabar."
Azzam memandang Fikri. "Iya, Bang. Abang memang benar. Ini adalah ujian bagi kami berdua. Semoga dengan ini bisa menjadi pembelajaran bahwa hidup memang tidak selalu mulus apalagi dalam kehidupan rumah tangga pasti ada badai kecil yang datang untuk menguji seberapa kuat dan sabarnya kita dalam menghadapi ujian yang datang."
Nampak umi menarik napas lega. Ia lega bahwa kehidupan anaknya tidak berakhir dengan buruk.
"Lalu, mana Nisa, Nak? Apa kau datang sendiri?" umi memandang ke arah pintu.
"Ada, Umi. Tadi kami kesini berdua. Hanya dia tadi mampir ke toko kue," jawab Azzam.
Kriekk...
Suara deritan pintu dibuka. Dari balik pintu muncul wanita berhijab dengan raut wajah merona. Senyumnya mengembang sejak pertama dia masuk ke dalam ruangan. Ia berjalan ke sisi umi, namun sebelumnya ia meletakkan bungkusan yang dibawanya tadi di meja.
"Assalamu'alaikum, Umi," sambil mencium tangan Umi.
Senyum umi mengembang. "Wa'alaikumsalam. Baru saja umi menanyakan Nisa pada Azzam. Eh, sudah datang."
"Wah, berarti kehadiran Nisa ditunggu ya, umi. Umi, bagaimana, baik?"
"Baik."
"Umi, tadi ayah dan ibu mau ikut ke sini. Tapi mereka masih ada urusan jadi tidak sempat. Setelah maghrib tadi mereka keluar. Jadi, kemungkinan menyusul nanti"
"Tidak apa-apa, sayang."
"Umi, bagaimana kapan boleh pulang?"
"Tadi, dokter bilang sudah boleh untuk pulang
Malam ini pun sudah boleh," sahut Abang Fikri, menjawab pertanyaan yang aku tanyakan pada umi.
"Oh, begitu." Aku menatap umi sebentar. "Jadi, gimana? Umi pulangnya malam ini, apa besok?" tanyaku menatap Azzam dan Fikri bergantian.
"Sebaiknya besok saja ya, Zam. Biarlah malam ini umi menginap semalam lagi disini," kata Fikri memutuskan.
"Iya, sebaiknya begitu," Azzam menyetujui ide saudaranya. "Umi, tidak apa-apakan kalau menginap semalam lagi, besok pagi kita akan pulang." Azzam kembali menanyai umi.
Umi menghela pelan. "Tidak apa, Nak."
"Kalau begitu aku keluar sebentar ya, Umi," pamit Fikri tapi ia tidak keluar sendirian. Ia mengajak sang adik turut ikut bersamanya. "Nisa, aku pinjam Azzam sebentar ya?" Fikri menyeret adiknya itu.
Dengan menyadarkan tubuh ke dinding sambil kedua tangan dilipat menyilang, Fikri berucap. "Zam, ternyata dokter cinta itu ada," ujar Fikri. Tatapannya kemudian di arahkan menatap langit-langit plafon rumah sakit.
Azzam menyernyit bingung. "Maksudmu?"
Fikri masih saja tersenyum, menatap langit plafon. Ia bahkan belum menjawab pertanyaan adiknya.
Azzam menyiratkan sesuatu yang aneh pada abangnya. Entah apa yang sedang dirasakan pria berusia 32 tahun tersebut. Azzam pun belum tahu. Yang jelas ia melihat abangnya senyum tak jelas.
Azzam ikut menatap langit-langit yang ditatap. Lalu kembali menoleh melihat Fikri. "Bang, kenapa? Memang ada apa di plafon itu?"
"Ada dokter cantik disana?" racau Fikri, semangkin membuat Azzam tidak paham. Azzam merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan Fikri.
__ADS_1
"Tapi, aku tidak melihat ada dokter cantik di sana yang ada cicak."
Azzam mengusap wajahnya, lalu mengarah ke Fikri. "Sebenarnya ada apa sih?"
Fikri malah mengarah duduk di kursi panjang, rumah sakit. Kursi sedikit berderit saat ia mulai merapatkan duduknya.
"Seorang dokter berkhimar telah mencuri hatiku, Zam."
Azzam masih berada di posisi awal, belum beranjak dari berdirinya.
"Dokter yang mana? Di sini banyak dokter"
Fikri menepuk pelan kursi tempatnya duduk. "Dokter Sarah, Zam. Kamu kenalkan? Dia bilang kenal dengan kamu dan teman kuliahmu dulu lho," perjelas Fikri.
"Oh" Azzam menganggukkan kepalanya.
"Menurutmu perasaanku ini salah apa benar?"
Azzam akhirnya turut duduk di dekat Fikri. "Perasaan yang seperti apa?"
Fikri menggerakkan kepala melihat adik bungsunya. "Perasaan bahwa aku menyukai Dokter Sarah. Aku menyukainya sejak pertemuan pagi itu. Menurutmu apa itu salah, Zam? Memangnya perasaan suka itu bisa datang begitu cepat, ya?"
"Selama ini bagaimana? Abangkan sering bergonta ganti pasangan. Tentu abang punya perbandinganlah."
Fikri menyentil bibir adiknya dengan jari telunjuk membuat Azzam mengaduh kesakitan. "Perkataanmu itu Zam mengisyarakatkan kalau aku laki-laki playboy," gurau Fikri.
Azzam menyengih, lalu menyugar rambutnya. "Ya, maaf kalau perkataanku salah."
"Aku memang belum menemukan yang pas saja. Makannya begitu."
Azzam menghela napas keras-keras. "Kapan abang menemukan pasangan kalau hanya mencari yang pas. Bukannya pasangan itu hadir untuk saling melengkapi satu sama lain." Azzam melempar tatapan ke depan.
"Kita jatuh cinta bukan karena menemukan orang yang sempurna, melainkan karena melihat kesempurnaan pada orang yang tidak sempurna." Azzam seolah bercerita tentang dirinya sendiri. Ia kembali menatap Fikri. "Abang memangnya benar telah jatuh cinta dengan Sarah? Bukan perasaan suka sesaat?" tanya Azzam, memantapkan Fikri tentang apa yang memang dirasakan saat ini.
"Tidak, Zam. Ini perasaan yang berbeda dari yang sebelumnya aku rasakan."
"Kalau memang begitu, ya abang yakin saja perasaan itu. Karena cinta itu tidak pernah salah. Saran aku, kalau memang Abang Fikri suka itu ditaarufin! Kalau cocok itu dinika—" ucapan Azzam terpotong saat Fikri mencela cepat.
"Dinikahin! Dihalalin! Iya tau mah tauu... "
Azzam tersenyum geli. "Yakin? Benar ya? Ditunggu"
"Segera! Ditunggu. Aku berusaha Zam, diwaktu pernikahan Kak Soraya nanti aku akan menggandeng dia." Balasnya percaya diri luar biasa.
Berbicara soal menikah. Jujur saja, Fikri sudah mantap untuk menikah diusianya yang sudah kepala tiga. Azzam, adiknya saja sudah lebih dulu menyalipnya, setelah ini adik keduanya, Kak Soraya juga akan menikah 2 minggu lagi. Jadi tinggal Fikri lagi, si anak tertua Umi Salamah yang belum. Sunggun memprihatinkan diusinya yang matang belum terikat pada ikatan apapun seperti pernikahan atau ta'aruf.
Pernikahan adalah penyempurna ibadah. Fikri sungguh tidak ingin menunda-nunda lagi ibadah itu sendiri. InshaAllah, kalau Allah berkehendak dan Sarah adalah wanita pilihannya. Fikri akan berusaha untuk mengejar wanita surganya.
Netra mata Fikri memandang ke arah lorong koridor rumah sakit, tanpa sengaja kedua bola matanya menangkap sosok wanita bergamis biru muda dengan khimar membungkus kepalanya berjalan begitu anggun tanpa perlu ditata membuat wanita itu mempesona, dia berjalan bagaikan slow motion.
"Subhanallah," gumam Fikri, matanya sekarang berbinar-binar. Fikri sekarang bagaikan patung.
Melihat reaksi Fikri demikian membuat Azzam menoleh ke arah samping kiri mengikuti arah tatapan Fikri.
Sarah. Sekarang wanita berkhimar itu sudah berada tetap dihadapan mereka berdua. Seketika hati Fikri bergetar. Jutaan volt aliran listrik mengaliri tubuhnya. Fikri terbengok sesaat. Rupa wanita itu masih sama, manis, semanis juice jambu buatan Kak Soraya yang pernah ia cicipi.
Azzam menyenggol pelan bahu Fikri, supaya dia bangun kembali dari kegagapannya.
"Astagfirullah" Fikri mengusap wajahnya.
"Dokter Sarah!" sapa Fikri lebih dulu. "Dokter mau memeriksa umi lagi?"
"Ahm tidak, aku hanya ingin menjenguk Umi Salamah," jawaban itu untuk pertanyaan Fikri, tapi senyum yang diumbar itu untuk Azzam.
Azzam mengendik bahu. Isyarat supaya Fikri mengantarnya masuk ke dalam untuk menemui umi.
Fikri balas mengeling mata sebelah kanan, tanda ia menuruti apa yang Azzam maksud. "Dokter Sarah, mari biar aku antar masuk ke dalam," tawar Fikri dengan senang hati.
Sementara Azzam berbalik badan, ia ingin ke bagian administrasi sebentar.
"Mas, kamu mau kemana? Kamu tidak ingin masuk ke dalam juga?" Sarah menarik pergelangan tangan Azzam.
Netra Azzam mengekor pada jari-jemari Sarah yang memegang pergelangan tangannya.
Sarah turut mengikuti arah netra mata Azzam, yang menatap ke bawah, melihat tangannya.
"Maaf!" cepat-cepat Sarah melepas pegangan tangannya.
"Aku mau ke bagian admistrasi sebentar. Kau bisa diantar Fikri."
Sarah menoleh melihat ke Fikri. Tapi, bukan laki-laki itu yang dia harapkan tapi Azzam.
__ADS_1
"Kalau begitu apa boleh aku berbicara sebentar denganmu?"
Azzam melihat ke arah Fikri. Ia hanya diam menyaksikan apa yang ada di depan. Azzam menjadi tidak enak. Abangnya itu pasti merasa diabaikan karena Sarah tidak menanggapi Fikri untuk mengantarnya ke ruangan umi dirawat.
"Tapi, aku—"
"Sebentar saja," Sarah memohon.
"Memangnya ada apa? Ini penting?"
"Iya, bahkan sangat penting."
"Kalau begitu bicarakan saja di sini supaya kami bisa mendengarnya," saran Azzam.
"Tidak, Mas. Ini privasi yang boleh tau hanya kamu."
Azzam menautkan alis, menoleh lagi ke Fikri seraya menaikkan kedua alisnya. Fikri pun tidak paham, tapi setelahnya ia mengendik dagu. Meminta supaya Azzam menurutinya saja.
"Ya sudah ayo!"
Mereka berdua pergi meninggalkan Fikri yang masih berdiri, diam tak bergeming dari posisinya.
Sarah mengajak Azzam mengobrol empat mata. Azzam menatap bingung wanita itu saat Sarah melempar senyum merekah ke arahnya.
Ia tertunduk, mencoba menjaga pandangannya. Azzam melihat ke sisi kiri-kanan. Sebenarnya ia takut berbicara berdua di lorong seperti ini, takut akan menimbulkan fitnah.
"Sarah, kau mau membicarakan apa? Mulailah. Tidak enak kita yang bukan makhrom berbicara berdua di sini. Takut menimbulkan fitnah. Dan aku rasa kamu juga tau, karena kamu paham agama?"
Sarah tersenyum. Sekarang dirinya merasa bahwa banyak lebah yang mengelilingi tubuhnya saat ini.
Bukan hanya lebah, bukan! Di sekeliling perempuan itu seperti ada efek bunga sakura yang berjatuhan di musim gugur. Bahkan dia melihat banyaknya balon hati yang beterbangan di sini.
Seratus persen, Sarah seperti sudah tak bisa mengontrol perasaannya. Ia mencoba membicarakan itu saat ini juga, Sarah tidak ingin menjadi wanita pengecut seperti lima tahun silam.
Semalaman Sarah tidak bisa tidur nyenyak. Suara Azzam selalu menyeringai ditelinganya. Wajah rupawan Azzam selalu menghipnotis dengan berputar-putar di pelupuk mata setiap ia hendak memejamkan mata.
Sarah menyerongkan tubuhnya ke Azzam.
"Mas, apa aku boleh jujur saat ini?"
"Tentu saja, bukan berbicara jujur adalah keharusan," balas Azzam santai. "Memangnya jujur tentang apa, Sar?"
"Tentang perasaanku, Mas," jawab Sarah langsung. Ia menatap manik mata Azzam tanpa berkedip. Rasanya ia ingin sekali memeluk pria di depannya ini. Tapi dia bukan pria halalnya. Akhirnya, Sarah hanya mampu meremas tangannya untuk membuat rasa gugupnya berkurang.
"Kalau aku menyukaimu saat ini," Sarah menghela, lalu menelan salivanya dengan susah payah. "Ya, meski aku tau Mas sudah punya istri, tapi bukannya Mas pernah mengatakan kalau istri Mas belum mampu menerima kehadiranmu sebagai suaminya."
Pupil mata Azzam membesar. Ia mengerjapkan mata berkali-kali. Sungguh pernyataan Sarah membuatnya kaget. Azzam mundur satu langkah lalu berbalik badan membelakangi Sarah.
Sarah berubah posisi dengan melangkahkan kaki berdiri tepat di depan Azzam.
"Mas, aku bisa memberi apa yang kamu mau. Cinta, perhatian, semua yang belum kamu dapatkan selama menikah dengan istrimu."
Azzam menatap sendu wanita di depannya. Ia tahu wanita ini taat, baik, lembut dalam bertutur, ramah, cantik, anggun, cerdas. Semua ada dalam diri Sarah. Mungkin laki-laki di luar sana mengidamkan memiliki istri seperti Sarah. Ia pun bisa jadi begitu. Sungguh bahagia laki-laki yang akan dipilih menjadi pendamping hidupnya. Tapi yang menjadi pertanyaannya, kenapa Sarah harus jatuh cinta dengan dirinya? Apa kelebihan yang Sarah lihat dalam dirinya saat ini.
Tentang apa yang dikatakan Sarah memang benar. Tapi bukannya selama ini dia selalu berjuang untuk istrinya, Nisa hingga ia berhasil membuat Nisa benar mencintainya. Dan untuk sifat yang ada di dalam diri Sarah mungkin memang berbeda jauh dengan istrinya tapi tidak masalah. Baginya Nisa adalah tetap wanita pilihannya. Bukannya ia barusaja mengatakan pada Fikri bahwa tidak ada manusia yang sempurna.
"Tapi Sar, mungkin ada orang lain yang berhak atas ketulusan cintamu."
Sarah tertunduk. "Tidak ada yang berhak, hanya kamu Mas."
Azzam memijat pelan pelipisnya, bingung bagaimana menyampaikan hal itu pada Sarah.
"Sarah, seperti yang kamu bilang aku sudah punya is—"
"Aku mau jadi istri keduamu," cela Sarah seketika memutus kalimat Azzam.
Lagi-lagi Azzam dibuat syok. Bagaimana Sarah bisa memutuskan demikian. Apa dia tidak salah dalam mengambil keputusan? Kenapa dia rela ingin menjadi madu?
Azzam diam seribu bahasa. Lidahnya ingin berucap namun bibir tak mampu terbuka untuk menanggapi kalimat Sarah. Bibir Azzam justru memucat.
"Maaf kalau aku lancang, Mas. Tapi, kalau Mas berpikir itu ide gila. Sama sekali nggak Mas. Aku benar ingin menjadi istrimu. Kalau kau tidak percaya, sekarang juga aku akan menemui istri pertamamu untuk meminta restu dengannya termasuk dengan umi."
Azzam mencekal tangan Sarah, saat ia hendak pergi menemui Umi.
"Sarah pikirkan kembali perkataanmu." Tekan Azzam.
"Sudah, Mas. Sudah aku pikirkan matang-matang. Kamu jangan khawatir," jawab Sarah lebih mantap.
Ia membuang tatapannya ke arah lain. Dalam pikirannya selama ini tidak ada keinginan sama sekali dalam diri Azzam untuk berpoligami tapi Sarah malah meminta dirinya untuk dijadikan istri kedua.
Azzam menatap lagi wanita berkhimar di depannya. "Sar, aku tidak bisa."
__ADS_1
Azzam mengigit ujung kukunya. Baginya mengurus satu istri saja, dia kesusahan. Bagaimana ceritanya dengan dua istri?