Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 63. Tulus


__ADS_3

Usai menyelesaikan doa, Azzam berbalik badan. Mengulurkan tangannya untuk disalami. Aku menyambut dan mencium punggung tangannya dengan penuh perasaan bahagia yang membuncah direlung kalbu. Kepalaku aku angkat kembali, menatapnya dengan hati yang tenang.


'Terima kasih ya Allah. Engkau telah mengirimkan laki-laki sholeh sekaligus engkau jadikan dia sebagai imamku, pendamping hidup hamba. Dia laki-laki terbaik yang akan membimbingku menuju jannahmu. Sungguh buruknya diriku dulu sudah menduakan laki-laki yang selalu menerimaku dengan baik, sabarnya luar biasa. Jauhkanlah aku dari murka-Mu, pedihnya siksa kubur serta jilatan api neraka-Mu ya Allah' batinku.


Tanpa terasa setetes air mata jatuh mengenai tangannya yang masih dalam genggaman tanganku. Tak mampu aku mengungkapkan perasaan haru dan bahagiaku saat ini.


Tangan Azzam yang tadinya menumpuk di atas tanganku, di arahkannya ke pipiku.


“Kenapa, sayang?” Azzam membelai lembut pipiku. Mengusap bekas buliran bening yang baru saja terjatuh.


Aku menahan tangan Azzam yang mengusap wajahku. “Begitu banyak pengorbanan dan kesabaranmu sayang, semoga segala lelahmu berhadiah cinta dari-Nya.”


Azzam mendaratkan ciuman dikening, lalu mengusap kepalaku. “Sayang, itu karena engkau adalah wanita terbaikku yang Allah takdirkan untuk mendampingiku di dunia dan semoga begitu pula di akhirat nanti.”


Aku balik tersenyum tipis.


Subhanallah, sungguh Allah yang maha luar biasa menciptakan segalanya dengan begitu luar biasa, dan laki-laki di depanku adalah salah satunya. Aku benar tidak menyangka laki-laki yang tidak pernah aku harapkan dalam hidupku malah justru memberiku sebuah pembenaran bahwa tidak selamanya yang kita harapkan bukan sepenuhnya yang terbaik. Malah kadang sesuatu yang tidak baik itu justru yang baik untuk kita.


Azzam meraih Al-Quran di hadapannya dan menaruh di depanku. Ia membuka lembaran pertama.


“Nisa, pernah bilang pada abang bahwa Nisa lemah bertajwid. Tapi tidak apa-apa kita sama-sama belajar, bagaimana?”


Aku mengangguk malu.


Aku teringat kembali dulu, ayah dan ibu pernah mengantarku pergi mengaji setiap petang di rumah Ustad Hasyim. Namun, setelah khatam mengaji aku tidak pernah mengulang lagi bacaan Qur’an ku.


“Sekarang coba Nisa baca surah Al-Fatihah, abang mau dengar,” titah Azzam.


“Al-Fatihah?” tanyaku memastikan.


Azzam mengiyakan pertanyaanku.


Aku mulai membaca dari ayat pertama sampai habis ayat ke tujuh surah Al-Fatihah. Dia mengangguk-ngangguk saja mendengar bacaanku. Aku dalam hati agaknya berpuas diri dan tersenyum.


“Oke. Lumayan bagus,” itu pujian yang keluar dari bibir Azzam.


Senyumku mengembang. “Terima kasih," tuturku senang hati.


Azzam mencolek daguku. “Hm, dasar baru kena puji sedikit senyumnya sudah mengembang lebar begitu,” ledek Azzam.


Aku menyengir lebar. “He-he”


“Tapi, perlu abang ingatkan setelah ini kalau Nisa sholat bacaan Nisa harus sebagus ini, ya? Jangan cuma di depan abang saja bacaannya dibaguskan tapi ketika depan Allah Nisa membaca ayat Al-Qur’an semaunya saja,” nasehat Azzam lembut.


Kalau Al-Fatihah dan surah-surah pendek lainnya masih bisa aku baca dengan baik. Tapi aku rasa kalau aku diminta untuk membaca surah lainnya dalam Al-Qur’an mungkin agak berbeda sedikit.


Setelah aku menyelesaikan bacaan surah Al-Fatihah, Azzam membuka lembaran berikutnya. Ia menyuruhku untuk mambaca surah Al-Baqarah.


Aku mulai membacanya sampai akhirnya sudah sepuluh ayat dari surah Al-Baqarah yang aku baca. Tapi diayat yang keselanjutnya, fokusku mulai hilang.


Banyak kesalahan yang aku lakukan hingga Azzam mengoreksi berkali-kali saat makrijul huruf yang aku lafadzkan tidak sesuai dengan tajwid yang pernah dia ajarkan.


“Nisa, di dekat situ di baca panjang, kan mad wajib situ!” tegur Azzam saat bacaanku salah lagi.


Aku mengulangnya lagi sampai dia mengatakan itu sudah tepat. Sampai akhirnya aku sampai di ayat ke enam belas. Tetap sama, aku masih saja salah.


“Jangan baca cepat-cepat, kan disitu ada dengung!” koreksinya lagi.


Meskipun dia menegur dengan pelan, dan tidak segalak ketika guru mengajiku dulu yang memukuli aku dengan rotan saat aku salah dalam membaca ayat Al-Quran, tetap saja kadang aku merasa sedikit sebal.


Aku memandang Azzam dengan ujung mataku. ‘Huft! Sabar! Aku memang orangnya tidak bisa sabaran. Untung Azzam laki-laki yang sabar, tidak seperti aku.’


Setelah aku berdiam sejenak, aku kembali melanjutkan bacaanku. Kalau awal-awal masih bagus bacaanku, tapi kali ini bacaanku mulai menyangkut-nyangkut. Aku menghela napas. Keningku mulai berkerut-kerut tak puas hati saat dia terus menegurku, sampai akhirnya Azzam menanyaiku, “Nisa, kenapa? Sakit perut?” tanyanya karena sudah melihat dahiku berkerut.


Aku memejamkan mata lalu menggeleng pelan. “Nggak”


Azzam tersenyum melihatku, sepertinya dia tahu apa yang sedang aku pikirkan saat ini.


“Nisa awalnya memang banyak salah. Tapi Nisa sudah ada usaha untuk belajar,” dengan lembut ia bersuara.


Aku menundukkan kepala sembari mendengarkan perkataannya.


“Yang perlu Nisa tahu bahwa orang belajar mengaji adalah orang yang beruntung.”

__ADS_1


Dengan saksama aku mendengar kalimatnya.


“Orang yang mengaji saja dapat satu pahala, yaitu pahala membaca Al-Qur’an. Itu juga kalau dia membacanya dengan tartil.”


Keningku bertaut.


“Kalau orang yang belajar mengaji, dapat dua pahala yaitu pahala membaca dan pahala belajar. Kan untung tuh? bagusnya kalau kita belajar mengaji.” Azzam tersenyum lagi setelahnya.


Ah, Bang Azzam memang selalu pandai membuat perasaanku menjadi sejuk kembali.


“Ya sudah, kalau begitu kita sudahi dulu belajarnya sampai ayat ini saja dulu, kita lanjutkan lagi besok,” seru Azzam.


Aku mengakhiri bacaanku, lalu melipat sajadah dan mukena.


Al-Qur'an yang Azzam ambil tadi aku letakkan kembali di atas meja. Tanpa sengaja, tanganku menyenggol tumpukan puzzle kata yang ada dalam wadah mirip botol kecil hingga membuat isinya berceceran dilantai.


"Aduh!" Aku meringis memegangi kepalaku yang berbenturan dengan kepala Azzam yang ternyata juga ingin memungut puzzle itu.


"Aduh, aduh maaf sayang, sakit ya?" Azzam mengusap pelipisku.


"Nggak apa-apalah, sakit dikit," tuturku demikian, meskipun sebenarnya sangat sakit.


Akhirnya aku dan Azzam bekerja sama memungut tebaran puzzle yang berserak di lantai dan menaruhnya di tempat semula.


Setelahnya, aku mengikuti langkah Azzam yang berjalan keluar kamar. Ia mengajak untuk makan malam. Di meja makan juga sudah ada ayah dan ibu yang duduk di sana.


***


Mobil Azzam berhenti di depan gerbang sekolah hari ini, dia tidak ikut ke sekolah karena harus mengisi acara tabligh akbar di pondok pesantren As-Salam. Sebelum aku turun dari mobil, Azzam menghadiahiku sebuah kecupan manis.


“Semangat ya sayang ujiannya, semoga berhasil,” ucap Azzam menyemangatiku.


“Iya, abang juga semangat ngisi acara tabligh akbarnya. Jaga kesehatan dan jangan nakal sama santri perempuannya ya!” peringatku pada Azzam.


“Aduh, kalau mereka yang menggoda bagaimana? Trus bagaimana kalau abang tidak kuasa?” usil Azzam, ingin membuat aku cemburu pagi-pagi.


“Nisa, suruh abang tidur di teras rumah, kalau benar ketahuan!”


“Ha-ha, tega ya!” gurau Azzam.


“Sudah. Sekarang Nisa cepat turun sebelum gerbang di tutup,” titahnya kemudian saat melihat siswa kelas 12 sudah memasuki gerbang sekolah. Kebetulan hari ini dia juga tidak ada jadwal mengajar karena siswa kelas 12 ujian, sementara kelas 10 dan 11 diliburkan.


“Ya udah. Nisa turun nih, Assalamu’alaikum” Aku mencium tangannya sebelum turun dari mobil.


“Wa’alaikumsalam.”


“Nisa, jangan lupa berdoa,” pesannya dari balik kemudi mobil sebelum dilihatnya aku pergi masuk.


Aku mengangguk. “Iya.”


Drtt..Drrt...


Belum sempat Azzam menginjak pedal gas mobil. Sebuah deringan panggilan telepon berbunyi.


📞“Assalamu'alaikum. Sarah, ada apa?”


📞“Mas, kamu dimana?”


📞“Aku masih di Madrasah. Kenapa?”


📞“Apa kamu bisa menjemput aku, Mas? Mobil aku tiba-tiba mogok.”


📞“Begitu ya? Ya sudah kamu tunggu di rumah, nanti aku akan jemput.”


📞“Iya, Mas. Aku tunggu ya. Assalamu’alaikum”


“📞Wa’alaikumsalam”


Azzam mengakhiri obrolan teleponnya.


***


Pikiranku melayang jauh menembus awan. Tidak terasa waktu terus berputar melewati masa ke masa. Lima tahun yang lalu aku sudah mengenalnya dengan intens. Saat dimana aku dengan mudahnya bisa melihat dia dengan jarak yang begitu dekat. Aku ingat awal aku bertemu denganmu, Mas. Seperti saat ini kita dipertemukan dalam acara di sebuah pesantren. Tepatnya pesantren kilat. Dengan kau sebagai pengisinya waktu itu. Sejak saat itu kau hadir sebagai penyemangat yang sekaligus meracuni hatiku dengan kesholehanmu. Sebagai adik tingkat aku hanya bisa mengagumi dalam diam waktu itu. Menyebut namanya saja membuat hatiku bergetar.

__ADS_1


Keadaan yang semula hening saja di dalam mobil, mulai terdengar suara saat Azzam menanyai wanita yang duduk di sebelahnya.


“Kamu, kenapa Sarah?” tanya Azzam saat menyadari Sarah sedari tadi memandanginya.


Sarah tergagap, lalu membuang tatapannya. “Nggak, Mas. Aku cuman ingat aja, waktu itu kita pertama kali bertemu.” Tiba-tiba bibir Sarah mengucapkan kalimat itu.


Azzam menoleh sebentar. “Maksudnya?”


“Iya, waktu itu kamu kan pengisi materi minitoring dalam kegiatan pesantren kilat di kampus.”


Azzam mengerut kening, bingung dengan penuturan Sarah. Apa hubungannya pertama bertemu dengan pesantren kilat?


Wajah Sarah berubah merona. Sejak itu motivasi dan nasehat-nasehat yang Mas sampaikan membuatku semangat kembali. Kamu hadir sebagai penyemangat hari-hariku sampai aku diam-diam mencari tahu tentang dirimu, organisasi yang kamu ikuti sehingga aku bisa lebih mengenalmu dan juga karaktermu. Andai sejak dulu saja aku mengatakan itu semua. Aku merasa bodoh saat ini, mengapa aku tidak mengatakan semuannya! Batin Sarah namun ia tidak mengucapkan itu semua dengan lisannya.


“Mas, bagaimana? Sehat?”


“Alhamdulillah,” singkat Azzam.


“Syukurlah.”


Sarah mengulum bibirnya. “Mas tidak menanyakan bagaimana keadaanku? atau tentang perasaanku.”


Azzam sedikit tersentak. “Maksudmu, Sarah?”


“Tentang apa yang aku bilang waktu di rumah sakit itu, Mas. Jadi bagaimana?” tanya Sarah menunggu jawaban.


Ponsel Azzam berkedip, ada notifikasi pesan singkat masuk dari Fikri. Azzam tersenyum usai membacanya.


“Sarah?” panggil Azzam, tanpa menoleh.


“Iya, Mas,” sahut Sarah, menatap laki-laki yang mengemudi di sebelahnya.


“Sar, kamu jangan terlalu kecapean dan jaga kesehatan,” pesan Azzam.


Deg...


Sarah terkesiap atas penuturan Azzam untuknya.


Mas Azzam peduli dengan aku?


Sarah mengulum senyum manisnya. “Terima kasih, Mas. Sudah perhatian terhadapku. Aku senang bila ada laki-laki yang perhatian seperti itu.” Senang Sarah.


Azzam menggerakkan kepalanya ke samping, sedikit mengekor mata ke Sarah. “Iya. Sebagai laki-laki yang mencintai wanitanya sudah sepatutnya kalau dia terus berusaha menjaga wanita yang disayanginya.”


Sarah melonjak kaget. “Mas, aku tidak salah dengar? Mas mengatakan itu?”


Azzam menatap bingung pada Sarah.


“Apa Mas sudah mau membuka hati untukku untuk menjadikan aku sebagai istri, Mas?” tanya Sarah langsung.


“Sar, kalimat apa yang barusan aku dengar?” kaget Azzam. “Aku tidak mengatakan tentang apa yang kamu bilang barusan,” bantah Azzam.


“Tapi kalimatmu barusan kalau sebagai laki-laki harus perhatian dan terus menjaga wanita, dan kamu─”


Azzam memotong. “Sar, jangan salah paham dulu itu tadi pesan dari Fikri?”


“Fikri?” tanya Sarah.


“Iya. Katanya kamu habis sakit dan dia meminta aku supaya memintamu menjaga kesehatan jangan terlalu kecapean. Begitu katanya.”


Sarah menghela lemah.


“Gimana, begitu baiknya Fikri padamu Sarah? Dia sangat peduli dan sayang denganmu.” tutur Azzam dengan masih mengemudikan mobil dengan tenang.


“Tapi aku tidak ada perasaan apapun pada Fikri, aku hanya menyimpan perasaan itu untukmu, Mas!” balas Sarah.


“Sarah, Fikri itu laki-laki yang baik. Lebih baik dari aku, yang sedang kau harapkan saat ini. Percayalah denganku.” Azzam berusaha meyakinkan Sarah.


Mata Sarah mulai berkaca-kaca.


“Bukannya aku ingin menjadi laki-laki yang juga turut melukai hatimu, Sar. Bukan! Aku hanya tidak bisa melukai hati istriku. Walaupun misalkan aku mau menikahimu. Tapi aku yakin istriku tidak akan rela dimadu. Aku hanya berusaha menjaga perasaan istriku, Sar.”


Dada Sarah terasa sesak, perasaan ini kian menyiksa dirinya. Ia dihadapkan pada realita yang mengusik seluruh perasaannya dan menghempaskan mimpinya ke dasar jurang.

__ADS_1


Obrolan terhenti saat mobil sudah masuk ke area pondok Pesantren As-Salam.


__ADS_2