Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 118. Extra Part [End]


__ADS_3

2 tahun kemudian...


Sabtu sore, kami mengajak Faaz untuk menginap di rumah kakek dan neneknya. Kebetulan besok hari weekend, sekaligus keluarga ingin liburan alias qualitytime bersama keluarga.


"Umi, assalamualaikum..." Dengan kaki kecilnya Faaz berlari dari teras ke dalam rumah yang pintunya sudah terbuka.


"Wa'alaikumsalam... " Melihat cucunya berlari mendekat, Umi langsung ikut merentangkan tangan sambil membungkuk memeluk badan kecil Faaz.


"Humm... " Umi mencubit kedua pipi gempal Faaz. "Cucu Umi tambah ganteng. Udah gede ya sekarang."


"Iya, Umi. Mi, Bang Az mau cepet sekolah biar abang punya temen main."


"Wah, semangatnya Bang Faaz udah mau cepat-cepat cekolah ya, Nak."


"Abang ke sini sama ciapa?"


"Ama Abi sama Bunda. Mi... Mi.... Bang Az senang abi bolehin abang nginap di rumah Umi terus besok abi sama bunda ngajak jalan-jalan ke kebun binatang."


"Wihhh, enak dong. Umi boleh ikut nggak, Nak?"


Bocah mengangguk antusias. "Boleh," jawab Faaz lebih bersemangat.


"Faaz, umi mau nanya. Bang Faaz rindu sama Umi nggak, Nak?" tanya Umi gemas.


"Rinduuu... " jawabnya manja sambil mengigit ujung telunjuknya.


"Sama Abah juga?"


"Iya juga... Sama semuanya Bang Az rinduuu... " kata Faaz diikuti gerakan tangan memainkan ujung khimar neneknya.


Mendengar celoteh cucunya membuat Umi Salamah semangkin senang dan bahagia melihat perkembangan Faaz. Aku yang melihatnya juga ikut bahagia.


"Kalau gitu Umi mau di cium dong sama cucu umi paling ganteng ini." Faaz mengiyakannya dengan mencium kedua pipi nenek bergantian. Setelah puas, berkangen-kangenan dengan sang cucu. Umi Salamah melepas gendongannya membiarkan Faaz bermain di sekitaran rumah.


Tanpa diberi aba-aba Faaz berlari menuju area bermain kesukaannya, dimana lagi kalau bukan di kolam kecil yang ada di depan rumah. Kolam yang sengaja dibuat untuk memperindah taman rumah dan diisi oleh ikan-ikan kecil, yang berlarian lincah. Saling kejar mengejar kawanannya satu sama lain.


"Faaz, mau kemana?" Azzam yang membawa beberapa mainan Faaz lebih dulu memanggilnya. Sementara, aku masih membereskan tas kecil berisikan barang-barang keperluan si kecil.


"Mau liat ikan Faaz, Bi..." pekiknya sudah berlari lebih dulu ke luar rumah.


"Pelan... Pelan. Nanti jatuh, Faaz" tegur Azzam. Dan baru saja Azzam berbalik badan sebentar. Suara tangis Faaz sudah terdengar dari luar.


"Hiks... Bundaa," tangis Faaz keras memanggil ibunya. Aku meminta kepada Abinya saja supaya melihat apa yang terjadi pada Faaz sampai membuatnya menangis.


"Bunda... Bunda... " panggilnya lagi disertai tangisan yang semangkin keras.


Tanpa berkata apa-apa, Azzam berjalan keluar, menyusul. Aku hanya menggeleng, sejak tadi bocah itu memang terlalu hiperaktif, melompat dari satu kursi ke kursi yang lain, berlarian ke sana ke mari seolah tak ada lelahnya si Faaz bermain.


Melihat abinya yang datang mendekatinya. Tangis Faaz sedikit mereda.


"Ya Allah anak abi sayang" Azzam membersihkan tubuh Faaz yang kotor, karena jatuh di tanah. Dengan kondisi baju yang juga agak basah karena bermain air.


"Hiks... Huaaa... Abi Sakitt!" keluah Faaz sambil segugukan, terduduk di lantai.


Azzam mengambil tubuh Faaz dan menggendongnya. "Yang mana sakit, Nak?"


Bocah itu mengerjap pelan lalu menunjuk bagian lengan sebelah kanannya.


"Bismillah. Audzubillahi wa qudratihi min syarri maa ajidu wa uhaadziru (Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaan-Nya dari kejahatan sesuatu yang aku jumpai dan yang aku takuti)." Setelah membacanya Azzam meniupkan kebagian tubuh Faaz.


"Sembuh... Sembuh. Fuh," tambahnya.


"Kenapa lagi dia, Bi?"


"Biasalah namanya anak kecil." Singkat Azzam, lalu memberikan Faaz padaku. Aku merasa tubuh Faaz basah akibat bermain cipratan air di luar tadi.


"Ayo, kita ganti bersihin badan Faaz dulu sudah itu gantu baju ya, Nak."


"He...eh... " Faaz mengangguk dan membiarkan dirinya dibawa olehku menuju kamar mandi.


***


Allahuakbar... Allahuakbar...


Aku mengerjapkan mata ketika merasa ada seseorang yang menguncang pelan tubuhku.


"Bunda.... "


"Iya sayang," jawabku. Menoleh ternyata mendapati Faaz sudah berdiri di sebelahku. "Eh, sudah bangun ya sayang."


"Iya. bunda ayo bangun. Abi sama eyang sudah nunggu buat sholat sama-sama... " Faaz menarik tanganku dengan sigap.


"Iya sayang, Faaz tunggu di sana sama Abi dan yang lain ya. Bunda mau wudhu dulu."


Menyingkap selimut, dan segera menuju kamar mandi dengan mata masih terkatup. Maklum saja semalam aku rela begadang untuk menyaksikan tim sepakbola kesayangan bertanding sampai rela tidur sampai larut malam, padahal Azzam sudah menegurku namun tegurannya aku anggap angin berlalu. Aku masih tetap kekeuh ingin menyaksikan pertandingan sampai selesai sampai saat ini aku benar-benar masih mengantuk berat.


"Astagfirullahaladzim... aww!" Ringisku kesakitan, ketika kepala membentur keras bawah wastafel ketika mengambil sikat gigi yang terjatuh.


"Aduhhh!!" sambil mengelus keningku.


Sibuk memandangi dan mengecek keningku yang sedikit memar, sungguh ini benar-benar sakit. Membuat aku bahkan merasa pusing.


Aku menoleh ke arah pintu toilet saat terdengar pintu itu diketuk.


"Sayang, kamu di dalam kah?" suaranya terdengar di luar.


"Iya. Nisa ada di dalam. Sebentar lagi Nisa menyusul. Ini lagi mau wudhu. Bentar ya sayang."

__ADS_1


"Iya.. "


Aku merasa tidak enak jadinya karena bangun terlambat, terlebih lagi mertua sudah berkumpul untuk sholat berjamaah bersama.


Setelah selesai, aku langsung mengenakan mukenah dan mengambil posisi di sebelah Umi Salamah.


"Maaf semuanya, Nisa agak lama tadi." cengirku, merasa tak enak hati.


Umi Salamah tersenyum sambil melihat intens area wajahku.


"Itu kenapa, Nak?" tanya Umi Salamah, menunjuk ke area jidat.


Pasti ia menyadari memar di kepalaku ini.


"Hmm... Ini, umi?" kataku mengusap luka memar yang memang masih terasa sakit. "Tadi buru-buru, jadi kejedot, Umi."


"Ya Allah, kamu kebiasaan, nggak hati-hati. Nanti di kasih saleb aja. Biar tidak terlalu bengkak begitu."


Aku tersenyum saja menanggapinya. Tak lama setelah itu, Faaz berlari dan berdiri di tengah-tengah barisan aku dan Umi.


Ia berceloteh, "Faaz mau di sini ya, dekat Bunda sama Umi." kata Faaz menatap dua wanita di sebelahnya bergantian.


"Abang Faaz kan laki-laki, jadi shafnya di depan, Nak. Itu tuh sama abah. Berdiri di sebelah abah ya, Nak."


Tak banyak berkomentar, ia langsung merubah haluan dan kembali ke tempat semula ia berdiri di sebelah kakeknya.


Ba'dha shubuh seperti biasa Azzam kembali menyimak perkembangan bacaan Qur'an ku. Mengoreksi benar tidaknya tajwid yang aku terapkan ketika membaca Al-Qur'an.


Tidak kalah bersemangatnya, Azzam ikut pula mengajarkan buah hatinya membaca Al-Qur'an, meski hanya mengenal huruf hijaiyyah lebih dulu.


Bagi Azzam, pendidikan bagi anak di rumah sangat utama, maka sebelum anak-anak menghabiskan sebagian waktu disekolah. Ia dan Azzam menjadi guru pertama bagi anak-anaknya.


Pendidikan seorang anak adalah kewajiban utama bagi orang tua, bukan orang lain, terlebih lagi pada pendidikan karakter seorang anak. Azzam mengajarkan kemandirian pada anaknya sedari dini mungkin, ia tak mau anaknya menjadi anak yang manja.


Jiwa sosial dengan keperdulian yang tinggi ditanamkannya dengan kuat. Aku bersyukur, karakter Azzam yang sabar, peduli, dan cerdas sebagian besar menurun kepada Faaz, putra pertama kami.


Sebagai seorang ayah, Azzam hanya berharap agar kelak anak-anaknya bahagia dan dapat menebar kebajikan kepada semua orang serta bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa.


Satu jam sudah berlalu, kegiatan murojo'ah sudah selesai.


Perlahan fajar terbit, menyembul usai menenggelamkan seluruh tubuhnya pada malam yang menghias ditemani benda langit yang tak kalah indah di angkasa. Tapi fajar tak kalah memberi harapan. Harapan baru untuk manusia kembali memulai hari dan hidupnya yang terus dipacu waktu.


Kicauan burung yang bersandar pada dahan pohon menandakan aktifitas di sebuah rumah minimalis milik keluarga Abah Hamzah. Pria pensiunan dosen itu, tengah menikmati semburat pagi bersama cucu kesayangannya di depan rumah.


Tapi Azzam, wajahnya nampak berseri hari ini. Seperti anak kecil yang baru saja mendapat mainan baru. Ia melepas sarung batik, menyisakan kaos t-shirt dan celana pendek selutut.


"Sayang sini dulu." pintanya yang duduk di tepian ranjang, usai melipat sarung dan menanggalkan peci yang selalu di kenakannya.


"Kenapa?" tanyaku masih melakukan aktivitas yang sama.


"Sini dulu deh."


"Kenapa, Bi"


"Itu jidat sudah di kasih salep?"


Aku mengangguk saja.


"Oh."


"Kok oh aja."


"Jadi?"


Aku membuang napas kasar. Tanpa berkata sepatah kata pun, aku kembali berdiri menatapnya sebal.


"Huft! Daripada cuman nanya itu, mending bantuin istri! Tuh baju udah kayak gunung."


Tapi belum sempat aku melangkah Azzam sudah lebih dulu menarik tanganku, membuat aku kembali terduduk. Tapi, kali ini dipangkuan Azzam.


Ia melempar senyum sepuluh senti. Aku lebih tertarik untuk menatap dua bola matanya. Dan itu berlangsung beberapa detik saja.


"Sayang, jangan gini ah, Nggak enak nanti diliat orang lain, karena kita lagi nggak berdua di rumah, apalagi kalau Faaz liat," protesku sambil berusaha melepaskan diri, tapi Azzam malah melingkarkan tangannya di pinggangku dengan begitu erat.


Azzam tak menghiraukannya. Ia memainkan jemari tangannya mengitari area wajahku dengan lembut. Tangannya seolah menari bebas di wajahku. Mataku terpejam rapat menikmati sentuhan itu.


Sekarang, aku merasa sebuah kecupan manis baru saja mendarat di bibir ini. Aku akhirnya membuka mata dengan hati yang berdesir tak menentu. Pria di depanku ini selalu berhasil membuatku jatuh cinta padanya.


"Aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu," lirihnya.


"Bukannya selama ini kita selalu menghabiskan waktu berdua, sayang."


"Kurang" celektuk Azzam


"Hah, kurang?"


"Abi merasa waktu kita masih banyak terpotong dengan pekerjaan, dengan kesibukan abi bekerja di luar. Dan Nisa harus mengurus semua sendiri kan? Tapi abi beruntung Umi selalu siap membantu kita, sayang."


"Iya, Umi Salamah, beliau mertua sekaligus ibu yang sangat baik, lemah lembut dan perhatian. Sama sepertimu, sayang," kataku mencubit dagunya yang ditumbuhi jenggot tipis.


"Alhamdulillah, sejak kecil mereka selalu mengajarkanku tentang banyak hal. Bagaimana menjalin hubungan baik dengan sesama insan dan juga dengan tuhan kita, Allah subhanallahwata'ala. Mudah-mudah, abi juga bisa mengajarkan anak-anak kita seperti apa yang Abah berikan padaku."


Azzam melepas pelukannya, tangannya merogoh sesuatu yang disembunyikan di bawah bantal bersarung putih.


"Abi ada hadiah untuk kalian sayang."


Aku mengambil kertas yang diangsurkannya padaku. "Apa ini?"

__ADS_1


"Itu impian abi sejak dulu. Abi dulu slalu bermimpi dan berangan-angan kalau sudah berkeluarga dan memiliki anak nanti, abi akan membawa keluarga kecil kami untuk umroh, sayang."


Tiada ungkapan ekspresi haru dan bahagiaku, selain memeluknya dan mengucapkan terima kasih atas semuanya.


"Ya Allah bergitu indah rencanamu. Begitu indah karunia yang engkau berikan."


"Sayang,"


"Hmmm.... "


"Terima kasih untuk segala-galanya. Bagaimana bisa abi memberikan kasih dan cinta sesempurna ini."


"Karena cinta yang kita bangun adalah cinta karena Allah. Segala cinta dan karunia bersumber dari Allah subhanallah wata'ala. Mencintai seseorang karena mencari ridha Allah, bukan cinta hafa nafsu dan melanggar syariat. Seperti cinta seseorang dalam ikut serta berjihad di jalan Allah, tidak untuk tujuan duniawi.


Aku kembali berdiri, menatapnya sejurus dengan hati mengharu biru.


"Cinta kita adalah yang terbaik karena imanku bertambah. Kau membantuku di dunia, dan karena itu aku ingin kembali bertemu denganmu di surga."


Di akhir kalimat, tertunduk wajahku dalam-dalam. Merasa lemah dan belum sebaik-baiknya menjalan tugas dan tanggungjawab sebagai istri. Aku bersimpuh mencium telapak tangannya.


Azzam enggan melihatku demikian, ia mengambil tubuhku dan mendudukkan di sebelahnya. "Jangan berlebihan, sayang"


Ia membantu menghapus jejak kesedihan di wajahku.


"Bunda, bunda kenapa, Abi sakitin bunda ya." Aku terkesiap saat suara itu menyapa telingaku. Aku tak menyadari anakku sudah ada di antara kami.


Dengan cepat aku bersikap biasa. "Bang Faaz, lho udah main sama abahnya?"


Mata bocah itu mengerjap imut beralih memandangi abinya yang terdiam. "Abi, Bunda kenapa?"


Azzam membawa tubuh munggil Faaz ke pangkuannya. Tangannya mengusap pipi tembem itu berulang kali. Sebelum merundukkan tubuhnya mengecup kepala Faaz dengan perasaan sayang.


"Nggak apa-apa, Nak. Bunda Faaz cuman terlalu bahagia, sayang"


"Bahagia kok nangis, abi?"


"Ya, ada banyak cara kita mengungkapkan perasaan bahagia sayang. Salah satunya dengan menangis. Menangis bukan saja berarti seseorang itu sedang bersedih. Orang yang bahagia juga bisa menangis, menangis terharu."


Mata Faaz mengejap hingga anggukan kepalanya menandakan bahwa bocah itu memahami ucapan abinya.


"Faaz mau ikut abi sama bunda nggak?"


"Mau. Kemana, abi?"


"Kita jalan-jalan jauuhh... Kita akan pergi ke ...." lama Azzam menjeda kalimatnya.


"Ke... Kemana?" Faaz penasaran.


"Kita ke Mekkah. Kita menjalankan ibadah umroh ke sana. Abang Faaz mau, Nak?"


"Yeeey, mau-mau, Bi."


"Sama abi sama bunda, Bi?" lanjut Faaz bertanya.


"Iya"


"Yeye, Faaz bisa liat ka'bah sama makam nabi muhammad. Yeee... " Faaz melonjak senang dipangkuan abinya.


"Kalau begitu cium bunda sama abi dulu dong, Nak"


Faaz mencium orang tuanya bergantian.


"Humm... makasih sayang. Kalau gitu bunda mau lanjut beres-beres ya."


"Faaz lanjut main ya, abi mau bantuin bunda," suaranya samar-samar.


"Faaz juga mau bantu, abi ya?" balik berbisik.


"Benar? Ya sudah ayo kita bantu bunda beres-beres, semangat!"


"Semangat!" tangannya yang mengenggam terangkat ke atas.


"Ya ampun kalian merencanakan apa sih?"


"Sstttt... "


Mereka berdua berlari saling bekejaran. Aku hanya bisa menggeleng kepala melihat kelakuan ayah dan anak itu.


Dua menit kemudian, kedua kembali lagi.


"Bunda, liat kami sudah siap berperang hari ini," kata Faaz.


Kedua beradu tos satu sama lain.


Akuu mengernyitkan dahi, merasa heran dengan ucapan dua orang di depanku.


"Perang? " tanyaku bingung.


"Iya sayang," jawab Azzam.


Laki-laki itu menghilang sebentar di balik pintu dan muncul kembali bersama Faaz dengan memegang peralatan bersih-bersih. Azzam membawa sapu dan Faaz memegang kemoceng yang diletakkan di pundaknya.


"Saatnya perang," ucap Azzam riang.


"PERANG!!!" semangat Faaz terpekik kencang.


Aku tersenyum, suaminya tak pernah lelah untuk membantu menyelesaikan pekerjaan rumah.

__ADS_1


-End-


Syukron Katsiira


__ADS_2