
“Abang!” Aku mencekal lengannya, saat aku tahu dia akan pergi.
Azzam menoleh.
“Nisa, minta maaf,” kataku merasa bersalah.
“Maaf, kenapa?”
Aku memeluknya. Ini kali pertama aku melakukan ini terhadapnya, bagaimana lagi aku takut kalau dia akan marah dan tidak terima.
Azzam mengerutkan dahi.
“Nisa, kenapa? Tidak biasanya begini. Kalau abang mendekat pasti Nisa menolak dan selalu menjauh. Kali ini ada apa?”
Dia tentunya lebih kaget dan lebih tidak paham dengan apa yang dilakukan istrinya saat ini.
“Sebenarnya. Sebenarnyaaaa ....”
“Sebenarnya, apa?” tanya Azzam semangkin tak mengerti.
Mataku terpejam kuat.
“Sebenarnya Nisa bohong.”
“Bohong?” tanyanya bingung.
Aku melepaskan pelukanku, lalu mengangguk.
“Bohong tentang?”
Aku menyengir. “Bohong tentang Nisa tidak ingat semuanya.”
Aku lihat raut wajah Abang Azzam berubah seketika. Sorot matanya seakan memberi penekanan dia benar-benar tidak suka dengan lelucon yang aku buat, dengan cepat dia memundurkan langkah kakinya beberapa langkah menjauh dariku yang sedang berdiri di hadapannya saat ini. Dia menunduk dengan dua tangan memegangi pelipis.
Beberapa detik, dia memutar balik tubuhnya. Tatapannya dingin.
“Nisa!” Dia berucap seperti sedang menahan sesuatu dari mulutnya.
Aku menunduk. Tidak berani menatap wajahnya.
Begitu lama aku menunggu kata-kata yang terlontar dari mulutnya, tapi sia-sia. Dia tidak berucap sepatah kata pun. Azzam memilih pergi meninggalkan aku di kamar.
Aku mengangkat kembali kepalaku.
“Abang!”
“Abang!”
Dia tidak menggubris panggilanku.
Seketika pintu berdebam, saat ditutup dengan keras dari sikapnya sepertinya dia benar-benar marah.
Aku mengigit ujung kukuku.
“Nisa, Azzam kenapa?”
Tiba-tiba umi masuk ke kamar, ketika melihat Azzam keluar dengan langkah terburu-buru. Aku menghempas tubuhku duduk di tepian ranjang. Tatapanku menerawang kosong. Tidak lama umi juga duduk di sebelahku.
“Kalian ribut?”
Aku mengusap kasar wajahku, lalu menoleh.
“Umi, Abang kayaknya marah Umi. Bagaimana?”
Umi menghela, kemudian mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu.
“Nisa, yang mesti Nisa tau bahwa abangmu itu memang kerap bersenda gurau, melempar candaan. Tapi semata-mata itu dia gunakan untuk membuat orang-orang di sekitarnya tersenyum dan tertawa. Kita mesti berhati-hati ketika bercanda atau sekedar mengusik orang lain sebab hal-hal yang dibuat berlebihan itu bisa menjadi tidak baik. Kita tidak pernah tahu isi hati seseorang apakah candaan itu dalam batas wajar atau malah akan menyakiti orang lain, hingga pada akhirya malah menjadi akar dari pertengkaran. Umi yakin Nisa pasti tau karakter Azzam kan dari dulu, kalian berteman sejak kecil.”
Umi mengelus pundakku.
“Sudahlah Nisa, dia tidak akan betah berlama-lama untuk mendiami, Nisa.” Senyum Umi, mencoba mencoba menghibur.
“Umi, keluar dulu,” lanjutnya setelah itu.
Aku mengela berat, dengan kepala tertunduk dalam-dalam. Kesunyian di ruangan ini seperti sedang ikut menghakimi perbuatanku. Sementara di luar senja merah tembaga dengan bola matahari kekuningan seperti telah siap untuk ditelan malam.
***
Aku menghirup napas panjang.
__ADS_1
Perlahan demi perlahan, kini perasaanku sedikit tenang. Buaian angin ikut berpartisipasi menyegarkan pikiranku kembali. Aku masih betah berlama-lama di taman samping rumah, tempat biasa aku menyendiri kala perasaan dan pikiran tidak hendak bertaut.
Aku mendongak sesekali ke langit. Hanya dia yang setia menemani dan menghiburku malam ini. Hembusan angin malam terus menerpa tubuhku, aku tidak tahu sudah pukul berapa sekarang yang jelas aku belum enggan untuk masuk ke dalam rumah masih betah untuk bertahan di sini sampai batinku puas.
Aerphone terpasang ditelinga. Aku memutar lagu dengan volume paling keras, supaya tidak bisa mendengar apapun yang ada di sekitarku termasuk suara jangkrik yang tidak pernah absen setiap malam. Bibir tipisku bergerak-gerak mengikuti lantunan lagu yang sedang terputar dari aerphone. Sesekali kadang tiupan angin keras datang menggoyangkan lampu pijar yang menggantung pada sudut taman. Hembusan angin itu menjatuhkan dedaunan yang sudah mulai merangas di ranting pohon, kemudian berguling-guling beterbangan sekehendaknya. Aku mengusap-ngusap lenganku demi menghalau perasaan dingin yang sedikit demi sedikit mulai mengerayang meskipun tubuhku sudah mengenakan jaket sweater.
***
Malam ini Azzam sedang keluar bersama Marvin untuk bertemu dengan beberapa tim yang telah mereka bentuk jauh-jauh hari untuk kegiatan pelatihan yang akan diadakan tiga hari kedepan. Mereka sedang mengadakan rapat kecil-kecilan membahas pergelaran acara Pelatihan Kepemimpinan Sekolah dan Manajemen Pendidikan yang akan dilaksanakan di Balikpapan. Acara yang mereka susun khusus disponsori oleh BMH Balikpapan yang bekerja sama dengan Sekolah Islam Karang Bugis dan Pendidikan Gunung Tembak. Dalam kegiatan tersebut tentunya para tim menginginkan kegiatan berjalan dengan lancar sesuai dengan agenda yang telah dicanangkan. Mereka sangat mewanti-wanti hal itu, karena peserta yang akan hadir atau dikirim adalah kepala-kepala sekolah beserta wakil-wakilnya dan beberapa guru potensial dari berbagai daerah.
“Saya sudah mengontak Ustadz Habib Ghofar katanya beliau setuju bila materi pertama yang diangkat adalah masalah penilaian kinerja oleh sesama dan kepada diri sendiri, dan Ustadz Habib Ghofar sendiri yang akan mengisi materinya. Bagaimana?” Marvin menyampaikan usulnya.
Yusuf mengacungkan tangan ke udara. “Sip, menurut saya itu topik yang sangat bagus dan cukup strategis karena sekarang banyak orang yang menilai seseorang hanya terjebak pada subyektifitas sehingga aku pikir bahwa perlunya alat ukur yang berkaitan dengan integritas, loyalitas dan kualitas diri.”
“Baik, untuk tim yang lain bagaimana perkembangannya?” tanya Marvin kembali sebagai ketua yang memimpin diskusi malam ini.
Sementara teman-teman yang lain sibuk berdiskusi merancang pelaksanaan pelatihan yang tinggal beberapa pekan lagi. Tapi Azzam masih bersemedi dengan pikirannya sendiri. Dia tidak dapat membawa pikirannya untuk berkonsentrasi mendengarkan apa yang disampaikan oleh Marvin dan tim kerja lainnya. Setiap apa yang dijelaskan dan disampaikan Marvin selaku pemimpin diskusi malam ini hanya di balas dengan anggukan kepala saja.
Pikirannya masih melayang-layang pada kejadian tadi sore. Tidak seharusnya ia mengungkapkan itu semua di depan Dhanisa, tentang perasaannya cintanya yang sudah lama dipendam. Tapi itu benar-benar tidak bisa cegah, saat itu dirinya benar-benar emosional. Bagaimana tidak hal itu dilakukannya demi menuntun ingatan istrinya bahwa dia sudah menjadi miliknya secara sah lewat penikahan, bagaimana dia bisa lupa itu. Namun, setelah tahu kalau dirinya hanya sandiwara membuat Azzam merasa dipermainkan. Azzam selalu ingin meluapkan kekesalannya tapi dia tidak pernah mampu dan kuasa untuk melakukan itu pada orang yang telah dia pilih untuk menemani menjadi pendamping hidupnya.
“Azzam?” Marvin memanggil.
Dia masih mengetuk-ngetuk penanya ke meja.
Yusuf menyenggol pelan bahu Azzam, kebetulan dia duduk tepat di sampingnya.
“Iya, kenapa?” tanyanya seketika.
“Boleh disampaikan untuk materi studi kasusnya?” pinta Marvin.
Azzam mendengus, lalu membuka buku catatannya yang terhampar di atas meja.
“Untuk materi studi kasusnya itu adalah Ustadz Muzakkir, beliau yang akan menguji peserta dalam menyelesaikan masalah, memutuskan masalah dan kreatifitas problem solving. Itu waktunya dari siang hingga sore hari,” jelasnya. “Materi ini sebenarnya sederhana tapi strategis untuk mengetahui daya nalar dan kemampuan dalam menyelesaikan masalah,” lanjut Azzam kembali.
Marvin mengangguk dan merasa puas setelah mendengarkan penjelasan Azzam.
“Untuk waktunya dipagi hari itu pembuatan makalah dengan tema keterampilan, setelah selesai akan dilaksanakan interview oleh tim pewancara yang terdiri dari empat tim. Dua tim ustadz dan dua tim ustadzah dengan durasi masing-masing 15-20 menit,” lanjut Marvin mengambil alih kembali bahan pembicaraan pada penyusunan durasi waktu.
Setelah diskusi dirasa telah cukup Marvin selaku yang ditunjuk dalam mempimpin diskusi ini mengakhiri kegiatan rapat kecilnya.
“Saya rasa rapat tim kita, kita cukupkan dulu. Saya harap kita bisa menjaga kekompakan demi terselenggara dan suksesnya acara ini.”
Sementara teman yang lainnya satu per satu mulai pamit pulang, Azzam masih membereskan beberapa lembar kertas yang menjadi agenda rapat tadi. Tanpa Azzam sadari sebenarnya Marvin dari tadi sedang memperhatikan dirinya. Dalam pikirannya ia tahu sepertinya sedang ada sesuatu yang dialami rekan satu timnya itu.
“Zam, sehat?” tanya Marvin menyelidik.
“Iya,” jawabnya singkat, seraya sibuk merapikan tumpukan buku dan kertas.
Marvin duduk di atas meja sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
“Tidak tau ya, mungkin ini perasaan aku saja. Kenapa kau tampak lain hari ini? Apa sedang ada masalah?”
Azzam menghela. “Tidak ada.”
Marvin tertawa pelan seraya menepuk pundak temannya itu.
“Hei, yang aku tau seorang Azzam tidak pernah tertutup seperti ini. Dia selalu mau berbagi tentang ceritanya. Disaat aku yang sedang bingung dengan masalahku sendiri kalau selalu memberi wejangan bahwa kita harus melalui kehidupan ini dengan sabar, karena hidup memang selalu melatih kita supaya selalu sabar menghadapi sesuatu. Ya kan?” Dia menyikut dengan jail bahu Azzam.
Azzam duduk kembali di kursinya. Dia masih bingung apakah harus menceritakan itu semua. Azzam melihat Marvin masih setia menunggunya untuk membuka mulut. Marvin terus melotot ke arah Azzam berharap supaya dia bisa cepat sedikit dalam berkisah supaya dirinya tidak perlu menghabiskan setengah waktu istirahat malamnya hanya untuk menunggu Azzam membuka mulut. Akhirnya, Azzam menyerah memang tidak ada pilihan lain selain dengan Marvin-lah dirinya selama ini saling membantu dan bertukar pikiran satu sama lain.
Cerita yang disampaikan Azzam sesekali di balas Marvin dengan anggukan kecil, dan di akhir cerita Marvin hanya terkekeh seraya menggebrak meja. Melihat reaksi temannya itu sontak membuat Azzam bingung. Adakah yang lucu dari ceritanya itu? Padahal dia sedari tadi bercerita dengan serius tidak ada unsur komedi di dalamnya. Tapi kenapa dia tertawa sampai memegangi perutnya.
Azzam mengernyit dahi.
“Kau kenapa? Sakit perut?”
“Iya aku sakit perut,” balas Marvin dengan masih membungkuk memegangi perutnya yang sakit karena menahan tawa. “Aku sakit perut karena cerita yang kau bawakan tadi.”
Azzam semangkin tak paham, dia rasa menyesal menceritakan itu ke Marvin. Temannya yang satu ini jika sedang serius, seriusnya nggak ketulungan seperti tadi contohnya dengan penuh wibawa dia mempimpin diskusi dan mengarahkan anggota tim lainnya lagaknya bak seorang direktur pemegang saham terbesar di asia. Tapi kadang sikapnya demikian silih berganti dengan guyonan yang dibuatnya sendiri, mungkin untuk mengusir kepenatan atas sebidang pekerjaan yang membuatnya stres dengan pikiran yang bertumpuk-tumpuk.
“Sudah tertawanya?” tanya Azzam yang merasa kesal. “Kalau sudah ayo kita pulang!”
“Sebentar, sebentar. Jangan gitu dong,” tuturnya sambil Marvin menepuk-nepuk pundak Azzam.
“Begini ya, aku sebagai orang yang lebih senior dalam membangun rumah tangga, sedikit banyak sudah mengetahui betapa memang dalam kehidupan rumah tangga tidak selalu mulus dan harmonis, ada-ada saja batu sandungan saat menjalani biduk rumah tangga. Cuman menurut aku istrimu itu, istri yang romantis.”
Azzam lagi-lagi mengernyit sambil merubah sedikit posisi duduknya. Romantis? Darimana dia menggambil sisi romantisnya? Azzam membatin.
Marvin lanjut berujar kembali, “Azzam aku langsung to the point saja. Dia begitu bisa jadi hanya ingin menunjukan kalau dia juga punya sisi romantis meskipun kadang jutek dan keras. Dia hanya mau mengujimu apa kau benar-benar suami yang sabar dan tulus mencintai dia,” nadanya kali ini serius.
__ADS_1
Azzam bengong, mencoba mencerna.
“Ayolah kau ini orang pandai, yang begituan tidak perlu dibawa pusing. Ayo pulang! Sudah jam 10,” ujarnya melihat jam alroji yang melekat di tangan.
“Kasihan istriku pasti sudah menunggu untuk mengajakku tidur bersama,” goda Marvin dengan tersenyum rikuh. “Memangnya kau tidak mau pulang? Pasti istrimu sama seperti istriku yang juga sedang menunggu suaminya pulang,” sindir Marvin lagi.
Azzam menuruti keinginan Marvin yang mengajaknya untuk segera pulang ke rumah. Setelah satu per satu lampu ruangan dimatikan. Mereka berdua beranjak keluar menuju parkiran.
***
Suara iring-iringan motor masih setia menyerbu jalanan. Beberapa dari anak muda tampak bergerayangan keluar dari sarangnya untuk nongkrong dan berkonvoi ria di tengah jalanan ibu kota yang digemerlapi dengan lampu-lampu penghias jalan. Beberapa kali aksi mereka sempat dibubarkan oleh petugas patroli, namun kembali digelar hanya dalam selang beberapa menit. Tampaknya mereka tidak pernah ada jeranya meski kerap mendapatkan peringatan dari polisi dan teguran keras dari warga sekitar karena kerap menganggu tidur malam mereka dengan erangan suara motor berknalpot bising.
Lebih kurang lima belas menit motor yang dikendarai Marvin ditelan tikungan jalan dan berbelok ke sebuah gang komplek perumahan. Rumah Marvin dan Azzam memang searah hanya berbeda blok saja.
“Terima kasih. Kamu tidak ingin mampir dulu?” tawar Azzam.
“Tidak, sudah larut malam ini. Bukan waktunya bertamu tapi waktunya istirahat,” ujar Marvin tertawa pelan.
“Apa salahnya mampir dulu.”
“Tidak masalah sih, cuman istriku sudah nunggu di rumah. Aku pulang dulu.”
Suara deru mesin motor Marvin kembali memecah keheningan malam yang kentara.
Dengan cepat Azzam melangkah masuk ke dalam rumah. Namun, baru hendak menyentuh handle pintu, geraknya terhenti seketika saat mendapati Nisa masih duduk di taman samping rumah. Dia tampak berayun-ayun pada sebuah ayunan besi yang ada di taman.
Hattchiii!!
Suara bersinnya terdengar. Azzam melirik jam di tangan. Pukul 10.12 menit.
Tidak lama setelah itu suara batuk lagi yang menyusul terdengar.
Uhuk!
Uhuk!
Suara Nisa terus saja terbatuk sambil tangan kanannya memukul pelan bagian dada kanan dengan pukulan kecil. Azzam kembali melangkahkan kaki masuk ke dalam. Bukan tidak peduli atau hendak tidur, dia menuju dapur lalu keluar kembali dengan memegang segelas air mineral. Dia berjalan mendekati Nisa yang masih duduk berayun dengan posisi aerphone masih menempel di telinganya.
Tenggorokanku yang masih terasa gatal membuat aku terbatuk tiada putusnya. Sesaat tiba-tiba sebuah gelas hadir tepat di depan mataku. Pemandangan itu membuat mataku mengerjap-ngerjap karena kaget.
“Minum,” ucap suara itu sehingga memaksa leherku untuk menoleh ke arah samping mengikuti arah tangan orang yang menyodorkan gelas.
“Cepatlah minum,” sambungnya lagi ketika melihat aku yang masih terus saja terbatuk tapi tidak menerima uluran minum itu darinya.
Aku yang memang sudah sangat membutuhkan air, tidak peduli langsung mengambilnya dan meneguk dengan cepat.
“Kenapa masih di luar? Di luarkan dingin, masuklah ke dalam,” bujuk Azzam.
“Abang kenapa di sini? Abang pergi sajalah nggak usah dekat-dekat," ujarku, lalu memutar bola mata pencari pemandangan yang lain.
“Kenapa begitu?”
“Iya. Kan abang marah dengan Nisa tadi sore, dan tidak mau maafkan, Nisa,” kataku kecewa.
Azzam diam. Dia teringat kembali saran Dokter Fredy.
“Ayo! Nisa harus di dalam bukan di sini?” Azzam kembali menarik pergelangan tanganku supaya beranjak dari ayunan dan segera masuk.
“Apaan sih!” Aku berdecak kesal seraya melepaskan genggaman tangannya.
Azzam menghela berat.
“Iya oke. Abang maaf kan Nisa, sekarang ayo masuk," bujuknya lembut.
Aku tersenyum.
“Apa? Nisa nggak dengar,” ujarku pura-pura tidak mendengar.
Azzam mendengus dan merampas aerphone yang terpasang di telingaku.
“Iya, Abang maafkan.”
Dalam hati aku tersenyum senang, memang memang kalimat itulah yang ingin aku dengar.
Hatchii!
Lagi-lagi aku bersin untuk kesekian kalinya, hingga membuat hidungku memerah.
“Hah! Kan, siapa suruh di luar cari penyakit saja!” ujar Azzam menggerutu.
__ADS_1
Aku juga yang sudah tidak tahan dengan dinginnya udara, akhirnya mengalah juga dan pergi masuk ke dalam rumah.