
Di dalam mobil terdapat Azzam yang fokus menyetir mobil sementara aku memainkan handphone, sibuk melihat-lihat hasil foto-foto tadi.
"Huft! Nggak banget!" Aku memanyunkan bibir beberapa centi. Merasa kecewa, karena foto-foto hasil jepretan bagiku kurang memuaskan. Ada yang blur, ada yang goyang, muka nggak siap. Azzam ikhlas nggak sih fotoinnya, atau memang kamera aku yang jelek, batinku. Aku membolak-balik handphone beberapa kali sambil menggelap lensanya yang mini lalu mencoba memotret kembali.
"Huft! Sama aja!" gumamku. Aku menaruh smartphone kembali ke dalam tas.
"Kenapa?" tanya Azzam ketika melihat dahiku berkerut-kerut masygul.
"Bang!" panggilku dengan pelan.
Aku memainkan jari-jamariku.
"Nisa minta dibeliin handphone baru boleh nggak?" kataku sedikit merayu.
"Handphone itu kenapa memangnya?"
"Handphone Nisa udah jelek, kadang error. Apalagi habis kena air hujan, waktu Nisa dikejar-kejar laki-laki jahat," kataku dengan wajah memelas. Biasanya kalau aku meminta sesuatu dengan Ayah Ahsan atau Bu Halimah. Tapi sejak Azzam sudah menjadi suamiku, aku tidak mungkin meminta ini dan itu lagi dengan mereka karena aku bukan lagi tanggungan mereka lagi.
"Tapi masih bisa dipakai untuk telepon kan?"
"Ya. Bisa sih. Cuman telpon aja nggak cukup. Sekarang smartphone itu segala-gala, semua kegiatan bisa dikendalikan lewat benda canggih ini," kataku seraya mengangkat benda pipih itu kembali dari dalam tas. "Apalagi di zaman milenial gini atau kidz jaman now gitu," kataku mengakhiri kalimat.
"Pakai aja dulu apa yang ada, dan gunakan sesuai peruntukannya," balas Azzam datar. "Handphone memang dianggap segala-galanya sekarang. Tapi kebanyakan orang menyalahgunakan benda itu untuk hal lain."
Aku mulai tidak paham lagi maksud kalimat Azzam.
"Handphone hanya membuat orang sibuk di dunianya masing-masing. Coba lihat siklus orang-orang sekarang. Ke masjid bawa handphone, sedang makan pegang handphone, mau makan di foto dulu, bangun tidur nyari handphone. Padahal ada satu hal yang dia lupa"
HUAAA...
Aku menguap, menahan kantuk.
"Apa?" tanyaku sedikit menanggapi pernyataannya.
"Lupa kalau mati itu tidak membawa handphone dan malaikat juga tidak akan menjual paket data internet di sana. Lailahailallah... " Azzam mengucap kemudian menggeleng-geleng.
Aku menghela pelan dan menatapnya beberapa detik, menyembunyikan rasa kecewa di dalam hati. "Ya udah terserah abang aja," kataku pasrah dari kalimatnya aku sudah tahu pasti dia enggan mengabulkan permintaanku.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam lewat lima belas menit. Sungguh luar biasa malam ini. Tidak disangka ini adalah durasi waktu terlama selama aku jalan berdua dengan Azzam. Biasanya aku selalu tidak betah kalau dia mengajakku jalan karena bawaannya selalu kaku dan membosankan. Tidak tahu sudah seminggu ini pembawaan Azzam aku rasa agak lain. Dia tidak sekaku dulu waktu awal-awal kepulangannya dari mesir. Kalau awal mula dulu, bercanda saja sudah sangat jarang dia lakukan. Bawaannya selalu mingkem.
"Kenapa sekarang abang mulai terlihat sedikit luwes?" tanyaku memulai obrolan di tengah keheningan di dalam mobil.
"Kalau dulu kenapa memangnya?"
"Kalau dulu abang itu setelah pulang dari kuliah luar negeri. Abang sedikit lebih pendiam dan kaku. Nisa aja jadi sungkan buat negur abang. Abang itu sangat berbeda dengan abang yang Nisa kenal dulu. Abang, seperti seolah membuat jarak dengan perempuan."
__ADS_1
"Abang hanya berusaha menyesuaikan diri kembali. Selama menuntut ilmu di sana, abang banyak menggali tentang islam, banyak memperdalam berbagai ilmu pengetahuan tentang agama di sana," jelas Azzam.
"Enak nggak menjalani hidup di negara orang?"
"Jika ditanya enak tidaknya. Ya pasti ada kedua-duanya."
"Tidak enaknya apa?" tanyaku sedikit tertarik untuk mendengar cerita pengalaman Azzam semasa kuliah di Mesir.
"Kalau di negeri orang yang pertama kita lakukan adalah adaptasi dengan lingkungannya. Di Mesir kalau cuaca sedang panas. Panasnya itu bisa mencapai 48 derajat celcius, dan jika dingin pun akan sangat dingin sampai di bawah 10 derajat celcius."
"Wih, ekstrim juga ya Bang. Nisa nggak bisa bayangin deh Indonesia aja yang tropis suhu 40 derajat itu udah dianggap panas banget."
" Yang jelas butuh kesiapan fisik untuk bertahan di daerah radikal seperti itu."
"Terus kalau orangnya sama ramahnya dengan orang-orang Indonesia nggak?" Aku bertanya begitu karena selama Azzam pulang dari Mesir aku tidak pernah mendengar dia bercerita tentang pengalamannya ketika menuntut ilmu di negeri nabi.
"Satu hal yang perlu dipersiapkan ketika memilih kuliah di negeri Fir'aun yaitu perjuangan. Kalau kita tidak punya kesabaran, maka lebih baik undur diri sebelum terbang ke sana. Karena tanah yang akan di injak adalah tanah para pembangkang agama Allah dulunya. Sifat mereka keras, dan bar-bar itu akan sangat terasa jika kita sudah bermu’amalah dengan mereka secara intens."
Azzam memberi jeda sebentar, "Apalagi kalau menemukan keturunan Fir’aun yang keras kepala tak beradab. Mereka kerap cek-cok mulut di jalan-jalan sampai membuat jalanan macet. Tapi yang membuat salut adalah percek-cokkan itu tetap di akhiri dengan shollu ‘ala Muhammad,"
"Abang Nisa penasaran dengan cowok-cowoknya gimana ganteng nggak?" nadaku bersemangat.
"Kalau Nisa melihatnya pasti Nisa akan terkagum-kagum melihat paras mereka yang sangat rupawan, Allah sangat sayang pada mereka, keturunan Nabi Yusuf ini. Dibalik ketandusan negerinya, Allah berikan rupa yang menarik setiap mata yang memandang."
Mendengar penuturan Azzam rasanya aku meleleh, apalagi jika aku benar-benar bertemu dengan pria Mesir. Pasti kelpek-klepek, melihat wajah rupawannya.
"Memangnya mereka barang yang bisa dipaketin untuk dikirim. Atau nggak abang kasih miniaturnya dan posternya ajalah," gurau Azzam.
"Nggak ah! Di internet pun banyak, kalau mau Nisa tinggal cari aja sendiri."
Azzam menanggapinya dengan tertawa pelan.
"Bang, Nisa ada satu anekdot yang sangat menarik dari masyarakat Indonesia yang mengatakan, 'Jika satu wanita Mesir, maka yang cantik ada sepuluh orang. Sedangkan jika ada sepuluh wanita Indonesia, maka yang cantik hanya satu' memang perempuan di sana cantik luar biasa ya?"
Azzam tersenyum tipis. "Namanya saja anekdot, tentu itu guyonan yang di buat-buat orang Indonesia."
Azzam menghela pelan. "Kalau mau dibandingkan wanita Indonesia kalah dari sisi kecantikan fisik. Tapi perangai wanita Indonesia jauh lebih anggun dan lembut daripada wanita Mesir. Perbedaan kultur membuat wanita Mesir sering berbicara kasar. Tapi, walaupun begitu wanita Mesir tetaplah laksana bidadari surga yang diturunkan Tuhan ke bumi. Kecantikannya menjadi daya tarik tersendiri bagi siapapun yang melihatnya."
Mobil yang di kendarai Azzam berhenti ketika lampu merah menyala. Waktu hitungan 60 detik berjalan mundur. Tubuhku mulai terasa lelah, sesekali aku kadang menguap karena kantuk.
"Kaum perempuan di sana sangat dihormati. Bagi masyarakat Mesir, wanita seperti permata yang harus dijaga sebaik-baiknya. Jangankan bersentuhan memandang wanita bukan mahkram dengan lekat saja adalah aib bagi masyarakat Mesir."
"Abang nggak ada niatan gitu waktu kuliah buat nikahin perempuan Mesir? Kan lumayan memperbaiki keturunan," guyonku, demi menghalau rasa kantuk yang mendera.
Di sisi lain deru mobil kembali menyeringai usai ditahan lampu merah. Azzam kembali menginjak pedal gas mobil. Masih ada setengah perjalanan.
__ADS_1
"Nisa pernah baca karya sastra judulnya Pesona Cleopatra?" Azzam menggerakan kepalanya, menoleh ke arahku setelah bertanya.
Aku mengangguk pelan. Kemudian menatap jendela mobil yang mengabadikan gemerlap lampu di setiap sudut jalanan. Malam semangkin gelap dan jalanan yang mulanya padat dan ramai berangsur sepi.
"Pernah. Tokohnya itu seorang laki-laki yang sudah lama menetap di Mesir dan sangat menginginkan untuk menikah dengan perempuan Mesir yang cantik titisan Cleopatra. Tapi dia malah dijodohkan ibunya dengan perempuan Jawa yang sederhana bernama Raihana. Raihana perempuan yang sangat sabar mencintai suaminya, tapi sampai menikah laki-laki itu masih belum mencintai Raihana," kataku menceritakan secara ringkas cerita yang pernah aku baca.
"Akhirnya bagaimana?"
"Akhirnya dia bertemu dengan seorang dosen yang bercerita bahwa istri Mesirnya pergi saat dirinya bangkrut. Dan si tokoh utama laki-laki baru sadar ketika istrinya sudah meninggal."
"Dari cerita itu abang ingat tentang quotes Eyang Habibie, Tak perlu yang seseorang yang sempurna, cukup temukan orang yang selalu membuatmu bahagia dan membuat berarti lebih dari siapapun.
Aku diam menatap Azzam yang masih memegang kemudi stir dengan tenang. Aku melihat sudut bibirnya terangkat, ia ingin mengatakan sesuatu.
"Jadi kalau tujuan kita hanya ingin mencari pasangan yang sempurna, maka sampai kapan pun kita tidak akan pernah menemukannya. Karena tidak ada pasangan yang sempurna. Setiap manusia pasti punya kelebihan dan kelemahan masing-masing. Jadi membina hubungan itu tentang komitmen untuk saling melengkapi kekurangan pasangan satu sama lain." Di akhir kalimatnya Azzam tampak tersenyum samar.
Degg...
Perkataan Azzam seperti sedang menghakimi diriku. Harusnya saat ini aku bisa mengikhlaskan apa yang sudah menjadi takdirku dan tidak perlu memaksa sesuatu yang memang bukan ditakdirkan dalam hidupku saat ini. Jangan sampai Allah murka dan mencabut semua kebahagiaan yang sudah diberikan Allah untukku.
"Nisa?" Azzam memanggil ketika aku dilihat tak bereaksi lagi menyahuti ceritanya.
Mata mengerjap, saat Azzam memanggil namaku.
"Selama Abang kuliah di sana abang belajar tentang perjuangan, dan kesabaran,"
Aku membalasnya dengan senyum biasa. Bukankan tidak antusias dan bersemangat hanya saja kelopak mata sudah berat, ototnya tak sanggup menarik.
"Dari sekian perbedaan yang abang temui. Ada satu hal yang akan membuat kita terkagum, yaitu kesholehan warga negara Mesir yang bisa diacungi jempol. Setiap kata-kata yang dilontarkan tidak terlepas dari Rabbuna (Tuhan kita) atau Allah, setiap saat kita akan terkagum dengan mereka yang membaca Al-qur’an di manapun, di dalam bis, di pasar, bahkan polisi pun membaca Al-qur’an. Kecintaan mereka pada agama Allah sangat patut untuk ditiru."
Azzam masih terus bercerita dengan tatapan lurus ke depan. Sementara mataku benar-benar menahan katuk, berkali-kali kepalaku bergoyang ke atas dan ke bawah, seperti kucing anakan. Tubuh pun agak menolak ajakan mata. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin menetapkan kelopak mata agar tidak tertutup. Namun, sekali saja berkedip, kelopak mata tak mau diajak kompromi tersangkut dengan kelopak mata bawah. Mata pun akhirnya tertutup juga, dipeluk mesra malam yang syahdu, dengan posisi tubuh masih duduk bersandar di kursi jok mobil.
"Nisa, kira-kira ada niatan untuk kuliah di sana setelah tamat?"
Beberapa menit Azzam menunggu jawaban Nisa, namun tak kunjung terdengar.
"Nisa?"
Masih tidak ada sahutan. Azzam menggerakkan kepalanya dan melirik ke arah Dhanisa. Ia hanya bisa tersenyum geli kala mendapati istrinya sudah terlelap dengan posisi kepala bersender ke samping kaca mobil.
Selang beberapa menit kemudian.
Mobil Azzam memasuki pekarangan rumah. Ia lagi-lagi menatap wajah istrinya yang tertidur dengan nyenyak.
Azzam yang tidak ingin menganggu tidur pulas Dhanisa, berjalan keluar dari balik kemudi mobil lalu membuka kunci pintu rumah serta membiarkannya terbuka. Baru kembali berjalan ke samping mobil dan membuka pintu di sisi kiri Nisa. Dengan sigap Azzam mengangkat tubuh istrinya.
__ADS_1
Azzam membopong tubuh Nisa, lalu membawanya ke kamar. Setelah menidurkan di atas kasur. Ia membuka tas dan sepatu yang masih terpasang di tubuh istrinya itu dan menarik selimut hingga sebatas dada Nisa. Azzam duduk duduk sebentar di sebelahnya dan mengelus pelan pucuk kepala Nisa, lalu mengecup singkat kening istrinya yang terlelap.