Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 116. ..... Baby (3)


__ADS_3

Aku mencoba menghabiskan nasi uduk yang tidak habis-habis dari tadi. Namun, tiba-tiba aku merasakan kram perut yang begitu menyakitkan, pinggang serasa tertekan. Kupegang gagang pintu kamar dengan begitu erat sambil jongkok. Aku berjalan terseok ke tempat tidur. Merenggangkan perutku berharap kramnya bisa berkurang.


"Lho kenapa sudah makan langsung tidur?" suara Azzam menegur tiba-tiba. "Itu nasinya juga belum habis lagi, sayang. Mubazir," tuturnya, melihat nasi di atas meja masih bersisa setengah.


Sudah tiga malam aku menginap di rumah ibu sejak pernikahan Fikri dan Sarah usai di gelar.


"Sudah nggak kuat. Abi saja yang habiskan."


"Iya tapi jangan langsung baring begitu sesudah makan." Ia mendekat sambil mengusap area kepalaku. Ia mengambil beberapa bantal dan menumpuknya di belakang. "Ayo bangun dulu sayang."


"Kenapa? Sakit?" tanyanya saat mendengar ringisan kecilku ketika perlahan aku meringsut membenarkan posisiku.


"Nggak cuma sedikit kram aja. Udah sana, ambil nasinya. Habisin yang punya Nisa." Ia menurut apa yang aku katakan.


Malam tepat pukul dua pagi. Tiba-tiba aku terbangun karena rasa sakit di area perut bagian bawah. Yap, lagi-lagi aku menyebutnya kram biasa saja dan aku belum memberi tahu Azzam. Tidak terlalu kuat, tapi cukup membuatku tidak bisa tidur. Aku berusaha memejamkan mata, tapi selalu saja gagal setiap kali nyeri itu datang karena rasa yang tidak nyaman.


Sudah detik ke 45 tapi masih juga kram. Aku mulai merasa aneh, aku merasa ini bukan kram biasa. Kayaknya aku kontraksi beneran deh!


Otak mulai tidak fokus. Perut semakin tidak karuan. Aku berusaha mengatur napas untuk menenangkan diri.


Sudah dua kali aku menguncang tubuh Azzam yang terlelap di sebelahku. Ia belum juga bangun ternyata. Akhirnya aku memilih bangun, dan sedikit berjalan di sekitar area kamar saja. Berharap rasa sakit itu mereda sebentar.


Setelah itu aku kembali ke tepian ranjang, disertai ringisan kecil. Sampai aku mendengar gumaman Azzam.


"Astagfirullah, aku kesiangan ya sudah hampir waktu subuh."


"Sayang sudah bangun?" tanyannya.


Aku hanya diam. Bukan malas menjawab pertanyaannya, aku hanya sedang menahan rasa sakit.


"Ssssttt.... " ringisku seraya memegangi perut. "Sakit... " lirihku.


"Nisa. Sa-sayang. Sakit?" Ia turut mengelusnya.


"Ini sangat sakit sekali" Aku merapatkan mata, tanda benar-benar menahan rasa sakit yang luar biasa.


Dengan suara agak sedikit panik Azzam memanggil ibu.


Ibu dengan langkah tergopoh dan sedikit tergantung datang menemuiku. Aku menangis saat ibu datang dan memeluknya.


"Hust... Kamu yang tenang ya Nak. Sekarang coba tarik napas. Supaya Nisa sedikit tenang." Arahnya.


Azzam ikut mendekat dan duduk memelukku dari belakang. "Yang kuat sayang."


Aku berusaha menelan salivaku dengan susah payah sambil menahan rasa mules.


"Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang ya." Ibu berbicara pada Azzam.


"Ibu, ini benar Nisa akan lahiran. Mengingat ini belum waktunya Bu."


Benar. Seharus memang jadwal kelahiran masih sangat jauh. Usia kandunganku saja baru hendak menginjak usia ke delapan bulan. Nampaknya si Boy harus lahir dengan prematur.


"Ada banyak kasus bayi yang lahir dengan prematur, dan dunia medis akan menjelaskannya dengan spesifik. Sekarang sebaiknya kita bawa istrimu ke rumah sakit"

__ADS_1


Sudah pukul tiga lewat sepuluh menit. Semua sudah berada di mobil menuju menuju rumah sakit Harapan Bunda.


Lima belas menit perjalanan berlalu. Azzam turun lebuh dulu memanggil dokter dan suster rumah sakit.


Ibu membantu memapah tubuhku turun dari mobil. Baru sampai ambang pintu masuk RS dua suster dengan cekatan langsung menghampiri kami dan memindahkan tubuhku ke atas brankar.


"Tahan sayang. Kamu harus kuat." Berkali-kali Azzam memberikan kecupan dan mengusap lembut tanganku.


Beberapa suster yang bertugas menanganiku langsung membawa ke bagian ruangan untuk persiapan menuju persalinan. Setelahnya, barulah dua suster tadi pamit permisi untuk menyiapkan peralatan buat bersalin.


Azzam menganggukkan kepalanya dan dua perawat tadi telah keluar.


"Sayang" lirihnya selalu berusha untuk tetap berada di sebelahku. Tangannya masih terulur mengusap calon bayinya yang akan segera melihat dunia. Dan entah kenapa rasa nyeri itu perlahan memudar seiring usapan lembut darinya.


"Apa sudah lebih baik?" tanya Azzam lalu menatapku yang juga tengah menatapnya.


"Sedikit," jawabku, yang membuat kedua sudut bibir Azzam terangkat ke atas.


Ia mengambil tissue di nakas dan mengelapnya ke keningku yang berkeringat. Kemudian tangannya mengansurkan botol minuman berisi air putih.


"Minum dulu ya..." Aku meneguk air mineral dalam botol separuhnya.


"Nisa mau sesuatu? Biar abang belikan."


Aku menggelengkan kepala. Saat ini sungguh aku tidak selera untuk mencicipi makan apapun. Mungkin saja aku terlalu cemas. Entah juga.


Tiba-tiba saja air mataku mencelos jatuh.


"Hey sayang kenapa menangis. Jangan begini. Abang menjadi tidak tega sayang melihatmu beginj. Kalau bisa biar abang yang menggantikan rasa sakit itu. Itu saja." Ia mengusap bekas lelehan air mata yang melintas menuruni pipiku.


Azzam naik ke ranjang kemudian membawa tubuhku dalam dekapannya.


"Banyak beristigfar sayang. Jangan takut, ada abang di sini, dan akan selalu berada di sebelah Nisa. Semua akan baik-baik saja," bisik Azzam ketelingaku dibarengi dengan mengusap punggung naik turun.


Kali ini kontrasi itu datang mulai beruntun dengan interval yang dekat. Kalimat istigfar, tasbih terus aku lisankan dalam hati, saat nyeri itu kembali mendera.


Istighfar berharap Allah mengampunj bersama dengan rasa sakit ini. Bertasbih sambil mengingat-ingat bahwa hanya Allah lah yang bisa menghindarkan segala keburukan selama proses persalinan ini. Hamdalah karena rasa syukur bahwa Allah berkenan memberikan nikmatnya kontraksi sebagai tanda bahwa proses persalinan terus mengalami kemajuan.


"Assalamu'alaikum. Nak, gimana sekarang?” tanya umi yang baru saja tiba.


Belum sempat menjawab, mendadak kontraksi luar biasa datang lagi. Napasku mulai tersengal-sengal. Aku peluk gymball kecil di depanku sambil kuremas-remas menahan sakit.


Mungkin Azzam tahu bagaimana perasaanku saat ini. Akhirnya ia menerangkan semuanya ke uminya.


Ibu Hamidah, ayah Ahsan dan Umi Salamah berdiri di sebelah kananku. Aku menatap mereka satu per satu.


Aku berujar meminta maaf dengan tulus pada mereka atas kesalahan dan dosa pada ayah dan ibu juga kepada mertuaku. Aku meminta doa mereka supaya semuanya berjalan lancar.


"Kita sudah memaafkan Nisa. Anak ibu tersayang. Kamu nggak ada salah dengan ibu dan ayah. Kita semua di sini akan senantiasa mendoakan kesehatan dan keselamatan Nisa yang saat ini tengah berjuang menjadi seorang ibu," jawab Bu Hamidah mewakili keluarga.


Dan tiba-tiba terasa dorongan yang begitu kuat dari jalan lahir. Membuat aku mengeram kesakitan.


"Air ketubannya sudah pecah... " ucap Umi Salamah yang kemudian langsung meminta anaknya untuk memanggil suster.

__ADS_1


***


Setelah melewati pembukaan demi pembukaan. Hingga dokter memindahkan aku ke ruang bersalin, semua peralatan telah melekat di tubuh. Infus juga telah tertancap sempurna di tangan.


Seluruh keluarga menunggu di luar. Dokter hanya memperkenankan suami mendampingi proses persalinan ini.


Azzam berdiri di sampingku. Genggamannya tak pernah ia lepaskan sembari ia membisikkan ayat-ayat al-quran ke telingaku dengan lirih. Mengajakku untuk selalu beristigfar, meninggat Allah.


"Sudah siap ya, Bu. Sekarang ibu tarik napas dalam-dalam lalu dorong. Ayo satu... Dua... Tiga... Dorong Bu. Ya bagus dorongnya lebih kuat lagi" seru dokter wanita itu menginterupsi.


"Akkhhhh.... Huhhhuhhh"


Meremas dan mengenggam erat tangan Azzam, seperti memberitahu bahwa betapa sakitnya untuk mengeluarkan bayi dari rahim seorang wanita.


"Iya, ayo lebih semangat lagi. Kepala bayinya sudah terlihat!" dokter cantik itu kembali bersuara.


"Dikit lagi sayang." Azzam menitihkan air mata. Bagaimana selama perjuangan itu ia tiada henti melantunkan kalimat tasbih.


Kembali menarik napas dalam-dalam. Memanfaatkan sisa-sisa tenagaku untuk kembali mengejan.


Ooekkkk... Ooeeekk...


Suara tangisan bayi mungil itu memenuhi ruang persalinan.


Azzam mendekatkan wajahnya. "Sayang anak kita lahir. Kau berhasil" ucapnya kemudian mengecup dahiku dan segera melihat anaknya.


"Selamat ya. Bayinya laki-laki," ucap dokter sembari menunjukkan bayi kecil nan merah itu pada Azzam. Air mata itu luruh seketika melihat seorang bayi kecil dan merah yang ada di gendongan sang dokter.


Aku sendiri tak percaya bisa melalui semua ini. Jantungku berdetak kencang kala menatap makhluk kecil nan lemah.


"Beratnya 2,2 kg panjangnya 45 cm. Semua organnya lengkap. Namun bayinya harus dimasukkan ke dalam inqubator. Kami akan membersihkan bayi bapak lebih dulu nanti bapak boleh mengadzaninya."


Dokter mengatakan bayi kami harus dimasukkan ke dalam inkubator karena terlahir prematur. Bayi yang terlahir prematur harus dirawat dengan inkubator sebab pengaturan suhu tubuhnya belum stabil dan dia akan gampang kedinginan. Inkubator dapat menjaga suhu sebuah ruangan agar suhu tetap konstan dan stabil. Suhu diinkubator sudah diatur dan disesuaikan dengan berat lahir.


"Alhamdulillah terima kasih ya sayang. Terima kasih," sembari menyatukan dahi kita berdua. Sementara si bayi tengah dibersihkan suster.


Allah memberikan satu pengalaman yang sungguh luar biasa dalam menjalankan peran sebagai seorang wanita. Sebuah peristiwa yang begitu mendebarkan, mengharukan, sekaligus penuh hikmah dalam mengantarkan seorang manusia lahir ke dunia. Peristiwa yang membuatku semakin yakin bahwa manusia hanya bisa berencana, tapi Allah sebaik-baiknya penentu takdir bagi sang hamba.


Proses dari hamil hingga melahirkan ini mengajarkan bahwa betapa luar biasanya pengorbanan sebagai orang tua, terutama ibu. Ketika hamil saja, banyak sekali terjadi perubahan dalam tubuh yang mengakibatkan rasa lelah yang berangsur-angsur.


Berusaha memahami dan mengambil hikmah dari tingginya kedudukan orang tua dalam Islam. Intinya, sekurang-kurangnya orang tua atas pendidikan dan perawatan terhadap anaknya tidak bisa mengalahkan besarnya pengorbanan dan kasih sayang mereka. Oleh karena itu, tidak ada celah dan alasan untuk kemudian menyakiti hati mereka.


Semoga di sisa usiaku dan suami, kami bisa menjadi anak yang berbakti bagi orang tua kami, sekaligus menjadi orang tua yang baik untuk anak kami.


Isakan haru itu kembali menguar kala keluarga satu per satu mendekapku. Berbagi suka dengan kehadiran keluarga baru di tengah mereka.


***


"Bapak bisa mengadzaninya, setelah itu nanti bisa keluar."


Azzam menghela napas dan mengusap air matanya. Dengan perlahan, ia mendekatkan kembali wajahnya ke arah telinga kecil putranya, dan mulai mengadzaninya.


Dengan merdu dan lembut suara adzan itu mengalun indah ke telinga bayi laki-laki yang tengah terlelap dengan tenang itu. Tangannya pelan mengusap rambut tipis putranya. Kemudian berpindah ke jari jemari yang sangat kecil.

__ADS_1


Sebelum meninggalkan anaknya. Azzam menatap dengan dua mata terpejam.


_________


__ADS_2