Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 25. Pingsan


__ADS_3

Di luar sang langit telah terlihat tenang, setelah semalam angin mengamuk hebat. Banner-banner sekolah yang terlepas sudah dipasang kembali. Namun, di taman sekolah masih meninggalkan bekas dengan banyaknya bunga yang patah dan sisa-sisa daun yang masih tertinggal. Biasanya taman sekolah ini selalu bersih karena Pak Janus rutin membersihkannya. Tapi tidak tahu kali ini kenapa Pak Janus belum juga bergerak untuk membersihkan ranting yang menyerak dan beberapa daun kering yang menumpuk di beberapa sisi bagian taman.


Tanah yang lembab akibat embun sudah mulai kering karena terik matahari yang mulai membakar bumi. Langit biru hadir dengan begitu ceria di tengah-tengah matahari yang menghangat. Awan tipis seperti kapas sedang berbondong-bondong berarak karena tertiup angin. Di bawah pohon dekat taman aku dan Jihan menikmati cemilan yang dibawanya khusus untukku. Katanya itu oleh-oleh dari ibu dan ayahnya yang baru pulang dari Bali.


Seperti dengan awan yang tampak ceria hari ini, aku juga dengan lincah dan semangat menjelaskan tentang kejadian yang menimpaku kemarin, karena Jihan ingin sekali aku menceritakan peristiwa itu. Aku nyerocos tanpa titik koma sementara Jihan menyimak sambil mengangguk. Berapa kali juga dia bertanya dan memberi tanggapan. Dia sangat antusias kalau aku menceritakan tentang Hanan yang menolongku kemarin. Ia ingin sekali agar aku memperkenalkannya dengan Hanan.


“Sumpah aku penasaran dia seganteng apa sih!?” kata Jihan penasaran. “Kira-kira dia udah punya pacar belum ya?”


Aku mengangkat bahu. “Nggak tau. Aku rasa sudah, ya kan secara cowok ganteng gitu belum punya pasangan. Ya nggak,” kataku kemudian menyikut bahu Jihan jail.


Jihan mendengus lesu.


“Ngomong-ngomong kau suka juga nggak?” Jihan mengangkat alisnya sebelah.


“Ya, kali aku suka,” kataku tersenyum. “Eh, tapi nggaklah Fey mau aku kemanain. Aku cuman sekedar mengagumi dia.”


Jihan beringsut mendekat. “Eh, tapi kalau kamu belum punya pacar, pasti bakalan disikat jugakan?”


Aku menjitak kepala Jihan.


Doorrr...


Jovan menepuk pundakku dari belakang dengan cepat hingga membuatku tersentak kaget.


“Nisa coba lihat wajah aku.” Dia mendekatkan wajahnya ke mukaku. “Kamu masih ingat dengan aku nggak?”


Aku mendorong kepalanya jauh-jauh. “Ya, masihlah Jo. Emang aku anemia.”


Jihan mengeram gemas. “Hmm... bukan anemia. Amnesia Nisa Dhanisa!”


Aku tertawa rikuh.


“Aku baik, Jo. Kenapa?”


Dia beringsut duduk di dekatku. “Aku kira, kamu beneran luka parah.”


“Tapi Jo, kalau dia beneran lupa ingatan. Kita yang bakalan payah ngebalikin ingatannya,” kata Jihan mengusik.


Mereka semua terkekeh.


“NISA!!” suara teriakan yang sangat keras membuat mereka semua berhenti tertawa.


Kami sama-sama mencari asal suara itu. Mataku sedikit menyipit melihat Fey dari kejauhan setengah berlari mendekati kami.


Jovan melihat jam arlojinya saat melihat Fey baru datang, padahal jam sudah menunjukkan angka 9.


“Dari mana Fey, baru sampe?”


“Telat! Aku bersihin toilet sekolah dulu di suruh Bapak Herwin,” ujarnya dengan napas setengah habis karena habis berlari.


“Kasian!” Jovan menggeleng-geleng.


“Eh, Nis itu kening gimana?” Dia mendaratkan tangannya ke wajahku.


“Aww... Sakit! IHH!”


Aku menyingkirkan tangan Fey jauh-jauh.


“Sorry, sorry.”


Mata Fey mengekor melihat situasi lapangan yang masih sepi.


“Pak Chandra belom datang? Kok kalian belum baris?"


“Belum. Nggak tau tuh. Mungkin Pak Candra nggak masuk hari ini,” teka Jihan.


“Mungkin Pak Chandra lagi sibuk nyariin rumahnya, kan semalam angin kencang banget,” timpal Jovan.


Mereka lagi-lagi terkekeh.


PRIIIITT!...PRIIITTTT!


Suara peluit menggema memenuhi lapangan basket.


“SEMUA SISWA KELAS 12-A! AYO BERBARIS DI LAPANGAN SEKARANG JUGA!”


Suara teriakan Pak Candra terdengar dari lapangan memanggil murid-muridnya untuk berbaris. Dari kejauhan aku melihat wajahnya berubah garang karena kami lambat sekali menuju lapangan. Jovan dan Jihan sudah berlari lebih dulu menuju lapangan basket. Aku yang juga tidak mau ketinggalan segera menyusul, tapi tanpa sengaja aku menginjak tali sepatu hingga membuatku hampir terjatuh, beruntung Fey yang masih berada di belakang berhasil menarik tanganku, hingga tubuhku tidak jadi jatuh tersungkur ke dasar lantai.


“Kamu hati-hati makanya,” tegur Fey khawatir.


“Iya. Maaf-maaf. Ayo buruan! Pak Candra udah melotot tuh!” seruku.


Baru selangkah aku melangkahkan kaki, Fey menarik lenganku lagi hingga membuat langkahku tertahan seketika.


“Kamu, mendingan nggak usah ikut olahraga dulu. Nanti itu kepala sakit lagi lho.”


“Udah tenang aja. Aku masih bisa kok. Kamu jangan khwatir.” Aku mencoba tersenyum meyakinkan kepada Fey bahwa diriku akan baik-baik saja.


“AYO! CEPAT! CEPAT!”


Suara Pak Candra berkali-kali memberi peringatan kepada siswanya supaya berbaris dengan tertib. Aku yang barusan masuk bergabung di barisan hanya bisa diam. Setelah memastikan kami tertib, Pak Candra kembali menyisir barisan-barisan siswanya. Beberapa menit setelah barisan rapi. Sadam baru datang menghadap Pak Candra dengan napas ngos-ngosan setelah berlari dari arah ruang ganti baju.

__ADS_1


“Selamat pagi, Pak Candra,” sapa Sadam menyengir lebar.


Pak Candra menatap Sadam dengan tajam. Dahinya berkerut. “Kamu kenapa?”


Sadam meneguk ludahnya, mencoba tegar dan tidak takut. “Maaf Pak, saya terlambat karena baju di loker ketinggalan Pak.”


Pak Candra menatap Sadam dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Terus itu yang kamu pakai baju olahraga siapa?”


“Punya Angga, Pak. Siswa kelas 12-B.”


Pak Candra mangut-mangut.


“Ya sudah. Tapi sebelumnya kamu pungutin dulu sampah-sampah dedaunan yang berserakan di lapangan basket, baru kamu boleh masuk dalam barisan.”


“Siap, Pak.”


Pak Chandra mengendikkan dagunya, memberi isyarat agar Sadam segera melaksanakan hukumannya jika ingin cepat bergabung ke barisan.


“BARISAN SIAP GERAK!” suara Pak Candra lantang. “LENCANG DEPAN GERAK!”


Murid-murid mengikuti intruksi Pak Candra.


“TEGAP GERAK!”


Setelah melihat anak muridnya sudah berbaris rapi. Pak Candra memulai mukadimah.


“Assalamu’alaikum wr wb”


“Wa’alaikumsalam wr wb,” jawab murid-murid berbarengan.


“Baiklah. Sebelum kita memulai kegiatan kita hari ini marilah kita berdoa agar apa yang kita kerjakan senantiasa mendapat perlindungan dari Allah. Berdoa mulai!”


“Berdoa selesai.”


“Oke. Sesuai dengan apa yang saya katakan minggu lalu, kalau hari ini kita akan melakukan praktik gerakan dasar, teknik-teknik dalam mengoper bola basket, menggiring bola basket, dan memasukkan bola basket ke dalam ring. Seperti biasa sebelum mulai kegiatan olahraga, kita akan melakukan pemanasan terlebih dulu dengan berlari mengitari lapangan basket sebanyak 5 kali putaran. PAHAM!”


“PAHAM, PAK!” seru para murid.


Aku pun segera berlari keluar barisan dan mulai berlari.


“Nisa tunggu!" teriak Fey berusaha mengejar Nisa yang berada di depan.


Fey mempercepat langkahnya ketika berlari demi menyusul Nisa yang sudah di depan. Dalam pikiran Fey, sebenarnya dia masih menaruh rasa khawatir dengan kesehatan teman sejolinya itu. Tidak sampai semenit Fey dapat menyusul dan menyamakan langkah kedua kakinya dengan Nisa.


“Kamu, yakin kuat?”


Aku menoleh saat menyadari Fey hadir di samping. “Ya iyalah.”


Aku mengangguk.


Baru beberapa putaran aku sudah merasa ada yang aneh dari tubuhku. Aku memegang kepala yang terasa berdenyut-denyut. Aduh, penyakit kamu jangan kambuh dulu dong. Aku nggak mau dipandang cewek letoy. Dikit-dikit sakit! Dikit-dikit sakit!, batinku.


“Ini udah berapa putaran sih?” Aku bergumam sendiri.


Dengan segala sisa-sisa tenaga yang ada, aku mencoba mengejar Charisa yang berlari di depanku.


“Cha,” kataku menepuk pundaknya. “In... ini... ud...udah...pu...putaran.. ya...yang ke...ke berapa, sih?”


“Tiga,” jawab Charisa singkat. Tak lama dia menoleh lagi. “Kamu kenapa Nisa? Wajah kamu pucat lho.”


Aku menggeleng, lalu kembali melanjutkan lari menyalib Charisa yang tadi berada di depanku.


Dadaku mulai terasak sesak dan kepala semangkin berdenyut. Aku menutuskan untuk berhenti sebentar dengan posisi membungkukkan badan. Mencoba mengatur napas yang tersengal-sengal. Kepalaku semangkin sakit tidak tertahankan. Beberapa kali juga aku terbatuk-batuk, terasa mau muntah.


Fey yang dari kejauhan melihat gelagat Nisa yang mulai aneh, langsung mengambil langkah sprint. Sebelum kekasihnya itu benar-benar kelelahan.


BRUUKKK


“NISA!!”


Belum sempat Fey menahan tubuhnya. Dia sudah jatuh tersungkur di lapangan. Seketika teman-teman sekelasnya yang di lapangan panik. Nisa pun menjadi bahan tontonan mereka semua. Fey terhenyak dan mematung di tempat saat mendapati tubuh Nisa sudah amruk.


“Fey, buruan tuh si Nisa pingsan? Apa perlu aku yang menggendong dia?” Suara Jihan muncul dari samping.


Fey melanjutkan kembali langkahnya dan mulai membopong tubuh Nisa menuju ruang UKS. Banyak murid-murid yang mengikutinya di belakang karena penasaran termasuk juga Pak Candra, yang khawatir dengan muridnya.


Fey dan Pak Candra sudah memasuki ruang UKS, lalu membaringkan Nisa di salah satu kasur kabin. Dia masih belum siuman. Sementara murid lainnya menunggu di depan pintu UKS. Pak Candra yang merasa kehadiran teman-temannya itu malah akan mengganggu istirahat Dhanisa meminta mereka untuk kembali ke lapangan dan berbaris dengan tertib dan rapi.


“Fey, kamu silahkan balik ke lapangan!” perintah Pak Candra.


“Tapi, Pak ...”


“Sudah, biar Bapak yang mengurus ini, sebentar lagi saya akan menyusul kembali ke lapangan.”


“Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu.”


Pak Candra merogoh sesuatu dari saku celananya dan mengeluarkan handphone.


📞Pak Candra


Halo, maaf Ustadz kalau menganggu jam mengajarnya. Saya hanya ingin memberitahu kalau Dhanisa, istri Ustadz pingsan sewaktu mengikuti pembelajaran saya.

__ADS_1


📞Azzam


Di mana sekarang?


📞Pak Candra


UKS, Ustadz


📞Azzam


Baik terima kasih atas informasinya. Saya sebentar lagi akan ke sana.


Telepon terputus.


Dua menit kemudian ....


Pintu UKS terbuka, Azzam masuk dengan langkah terburu-buru.


“Kenapa dia?” tanya Azzam cemas seraya menggenggam telapak tangan Nisa.


“Dia tadi pingsan Ustadz, setelah berlari mengitari lapangan,” jelas Pak Candra.


“Ini yang saya khawatirkan. Sebenarnya dia memiliki riwayat penyakit vertigo ditambah lagi kesehatannya yang belum pulih usai benturan di kepala karena insiden lemparan batu yang mengenai kepalanya.”


“Maaf ustadz, kalau saya tau mungkin saya tidak akan meminta Dhanisa untuk mengikuti pelajaran saya dulu.”


Azzam menghela napas. “Tidak masalah Pak Candra. Harusnya saya yang merasa bersalah karena tidak melarangnya dulu untuk sekolah hari ini.”


“Saya sudah menelepon Dokter Fredy. Beliau sedang diperjalanan.”


Azzam mengangguk.


“Karena sudah ada Ustadz di sini, saya permisi dulu kembali ke lapangan karena murid-murid saya masih menunggu di lapangan,” lanjut Pak Candra.


“Iya Pak Candra, terima kasih banyak.”


Sambil menunggu Dokter Fredy datang, Azzam meraih minyak kayu putih dan mengusapnya pada telapak tangan Nisa yang terasa dingin. Beberapa kali dia menggosok-gosok kedua tangan istrinya supaya kembali hangat.


Beberapa saat pintu UKS terbuka kembali, Dokter Fredy muncul dari belakang pintu.


“Yang mana pasiennya?”


Azzam bangkit dan berdiri. “Ini Dokter.”


Azzam menunjuk wanita yang berbaring di salah satu kasur kabin. Kebetulan juga hanya ada Dhanisa di sana, tidak ada siswa yang lain.


Dokter Fredy mulai memasang alat medis dengan cekatan ke bagian wajah Nisa kemudian memeriksa detak jantung dan pernapasan beberapa kali.


“Gimana, Dokter?”


“Tidak masalah, hanya stabilitas tubuhnya memang menurun. Begitu juga dengan tekanan darahnya. Dia seperti habis mengeluarkan darah yang banyak. Apa sebelumnya dia pernah terluka atau pendarahan yang menyebabkan tubuhnya banyak mengeluarkan darah?”


Azzam diam dan berpikir. “Saya tidak tau pasti Dok, kalau dokter melihat perban di keningnya itu. Itu adalah luka bekas akibat lemparan batu yang mengenai kepalanya.”


Dokter Fredy mengangguk. “Nanti biar saya beri resep obatnya. Nanti Bapak bisa tembus di apotek terdekat.” Dokter Fredy mengeluarkan kertas dan menulis beberapa obat di sana. “Yang jelas kalau boleh saya menyarankan supaya dia istirahat dulu selama satu atau dua hari ke depan. Untuk mengembalikan kembali stabilitas sistem di tubuhnya,” lanjut Dokter Fredy.


Azzam bernapas lega. “Begitu ya, Dok. Baiklah.”


“Bapak ini guru siswa ini, bukan? Kenapa saya melihat Bapak terlihat begitu khawatir.”


Azzam mendehem. “Iya saya gurunya sekaligus suaminya, Dokter.”


“Oh, begitu ya. Iya-iya,” ujar Dokter Fredy mengangguk. “Ini ceritanya guru kepincut murid? Atau murid kepincut guru?” Dokter Fredy tertawa pelan.


Azzam tersenyum, menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Sudah, Bapak tidak perlu khawatir. Kalau bisa sebaiknya dia istirahat saja di rumah. Supaya lebih nyaman dan leluasa tidak terganggu dengan kebisingan siswa yang lain,” saran Dokter Fredy.


“Iya, kalau begitu saya pamit permisi dulu.”


“Terima kasih banyak Dokter Fredy.”


Azzam menjabat tangan Dokter Fredy.


Setelah Dokter Fredy pamit, tanpa berpikir panjang ia membopong tubuh Nisa keluar dari ruang UKS menuju mobilnya. Baru pintu mobil mau dibuka. Pak Candra sudah datang menghampiri Azzam.


“Bagaimana Ustadz? Apa kata Dokter Fredy tadi?”


“Tidak masalah, hanya butuh istirahat beberapa hari.”


“Lalu, Ustadz dan Dhanisa mau kemana?” tanya Pak Candra saat melihat Azzam menggendong Dhanisa dipangkuannya dalam keadaam belum sadarkan diri.


“Saya akan membawanya untuk beristirahat di rumah. Kata Dokter Fredy jika di sini takut terganggu dengan murid-murid yang lain.”


“Oh begitu. Biar saya bantu,” Pak Candra membantu untuk membukakan pintu mobil.


“Terima kasih, Pak Candra. Saya mohon izin sebentar. Nanti saya akan kembali lagi ke sekolah, karena jam mengajar saya juga full hari ini.”


“Iya, Ustadz. Hati-hati di jalan.”


Azzam masuk ke dalam mobil. Tidak lama suara deru mesin menyeringai dan perlahan berlalu meninggalkan parkiran Madrasah Aliyah.

__ADS_1


Seraya memegang kemudi stir mobil, sesekali dia melirik wajah istrinya yang masih terlelap dan sedikit pucat. Azzam menghentikan laju mobilnya ketika dihadang lampu merah di depan. Masih ada beberapa menit sebelum lampu berubah menjadi hijau. Ia mengambil beberapa helai tissue dan mengelap kening Nisa yang sedikit berkeringat.


__ADS_2