Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 53. Mencari Cara


__ADS_3

Sarah kembali duduk di kursi dan mengarahkan perhatian sepenuhnya ke layar ponsel yang menampilkan perempuan memakai jas dokter. Dialah Eliza. Sahabat seperjuangannya waktu koas dulu. Susahnya kuliah kedokteran mereka rasakan bersama, sampai koas pun mereka memilih tempat yang sama.


"Tidak ada pasien, Sarah?" tanya Eliza yang dijawab gelengan oleh Sarah.


Sekarang temannya itu sudah bekerja di salah satu poliklinik di kampus, tepatnya di Bandung.


"Iya enggaklah, kan jam istirahat."


Dari layar handphone Sarah melihat Eliza sedang mengecek jam dipergelangan tangannya.


"Oh iyaiya. Jam istirahat rupanya."


Sarah tahu bahwa temannya itu sedang menjalani LDM dengan suaminya. Enam bulan lalu, alumni grup kelas dan grup koas sedang heboh ketika tiba-tiba Eliza mengirimkan video yang berisi undangan digital. Dan saat ini ia sedang mengandung anak pertamanya.


Sarah menyangga dagunya dengan kedua tangannya, sambil berkata memelas. "Jadi kepingin deh menunggu suami pulang kerja juga, tapi wujudnya belum nampak." Sarah menjeda kemudian tangannya dilipat dua di atas meja. Wajahnya dia dekatkan ke layar ponsel. Dengan raut serius Sarah bertanya. "Menurut kamu jodoh aku dimana ya, Za?"


"Masih disimpan dalam brangkas mungkin Sarah," jawab Eliza asal-asalan lalu terkekeh.


"Kamu mau cowok yang kayak mana? Biar aku carikan aku punya banyak rekan kerja di sini, dokter muda-muda yang masih jomblo pun banyak. Ntar aku kirim foto-fotonya, kamu tinggal pilih mau di taarufin dengan yang mana"


Sarah mengangkat kepalanya kembali. "Nggaklah. Aku tidak mau dapat yang profesi dokter lagi."


"Kamu masih trauma dengan kejadian dulu? Waktu Dokter Gabriel—"


"Stop jangan sebut nama itu lagi!" tekan Sarah. Ia sangat tidak suka pria yang menyakitinya terus disebut-sebut.


"Iya-iya maaf. Aku nggak maksud membuka luka lama kamu Sarah. Tapi untuk sekarang perasaan kamu gimana? Apa kamu sudah membuka hati kembali untuk pria di luar sana?"


"Entahlah, Za. Aku pun bingung dengan perasaan aku saat ini." Sarah membuang tatapannya.


"Sarah, umur selalu bertambah, dan hidup terus berlanjut. Memangnya kamu tidak mau berkeluarga dan memiliki keturunan?"


Sarah menatap wajah temannya dari layar dengan raut gusar. "Bukannya aku tidak mau dan menutup diri untuk menerima laki-laki lain. Cuman aku hanya selektif saja."


"Iya selektif si selektif, hanya kamu juga pertimbangin nasib kamu dong, jangan karena kamu sibuk jadi wanita pemilih sampai kamu jadi perempuan yang gak nikah-nikah jadinya." nasehat Eliza.


"Za, sebenarnya salah tidak perasaanku, saat aku menyukai pria yang tlah beristri."


Dari layar tampak Eliza langsung mendekatkan wajahnya ke layar ponsel. "Sarah, jangan bilang kamu mau jadi pelakor ya!"


Sarah mendengus. "Astagfirullah pikiran kamu jauh sekali, Eliza. Aku nggak sama sekali berpikir untuk menjadi perempuan seperti itu."


"Alhamdulillah deh. Aku juga nggak mungkin yakin wanita sholehah kayak kamu jadi pelakor. Tapi kenapa kamu bilang, salah atau tidak menyukai pria yang sudah beristri. Kamu menyukai pria beristri yang mana?"


"Ada. Dia teman kuliah S1 dulu, kakak tingkat," singkatnya.


"Sebenarnya nggak salah sih. Yang salah itu pria itu kenapa bisa membuat kamu bisa


suka dengannya."


"Menurut kamu gimana?"


"Menurut aku sih, ya kamu coba aja bilang tentang perasaan kamu ke dia," saran Eliza.


"Tapi Sarah, apa kamu yakin? Aku takut kamu malah patah hati lagi. Saat dia menolak kamu."


Sarah diam, memikirkan apa yang dikatakan Eliza. Ia memang harus menerima kenyataan itu. Mengingat Azzam memang sudah beristri.


Tapi, bagaimana benar Azzam akan mengatakan itu. Jika aku mengungkapkan semuanya. Apa aku harus bersiap melepaskan dia, dan menelan pil pahit kembali.


Bagaimana kalau aku menjadi istri keduanya?


***


Semua siswa berhamburan keluar kelas dengan menampilkan raut lelahnya.


"Jihan! Jihan! Tunggu aku," teriakku memanggil Jihan, sambil sedikit berlari mengejar Jihan yang keluar kelas dengan langkah terburu-buru. Aku berusaha menyamakan langkah kakiku dengan Jihan.


Jihan mendengus. "Kenapa, Nisa?"


"Kamu kok cuekin aku sih? Kamu masih marah? Kan cuman salah paham dan aku juga udah minta maaf," kataku cemberut sambil melipat kedua tangan di depan dada.


"Cuekin apanya? Buktinya aku masih menanggapi perkataan kamu?" bantah Jihan.


"Trus kenapa muka kamu nggak enak gitu?" tudingku.


"Nggak muka aku biasa aja," sahut Jihan.


Aku mengangkat jari kelingkingku. "Kalau gitu kita masih bisa bersahabatkan?"


Jihan sedikit menarik sudut bibirnya, dan hanya membentuk senyum samar.


"Iya" Jihan menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking. Aku senyum sumringah.


Kami berdua kembali melangkah gontai menuju gerbang sekolah bersama siswa lainnya. "Kamu dijemput siapa, Jihan?"

__ADS_1


"Itu" Jihan menunjuk kakaknya yang sudah menunggani motor di depan gerbang sekolah. "Kamu pasti dengan Ustadz Azzam kan?"


"Iya," balasku singkat, sambil memainkan jari-jariku. "Jihan, ustadz Azzam masih marah dengan aku karena kejadian itu." Aku sedikit curhat.


"Terus?"


"Ya trus. Kamu punya solusi nggak kira-kira hal apa yang aku lakukan supaya Ustadz Azzam nggak marah lagi dengan aku? Bagaimana cara meminta maaf, supaya dia mau memaafkan aku."


Jihan berhenti sejenak, sambil berpikir. "Kamu ajak aja makan bersama."


Aku mendengus. "Yah aku nggak punya modal banyak buat bikin acara-acara makan begitu. Ada cara lain nggak?"


"Kamu kasih cokelat sama bunga aja," saran Jihan selanjutnya. Lalu kembali melangkah.


"Yakin?" tanyaku tidak yakin dengan saran Jihan. "Kalau nggak berhasil gimana? Kamu punya cadangan ide lain nggak?"


Jihan menggeleng. "Nggak tau. Lagian kenapa kamu nggak minta maaf langsung aja, kayak biasanya kamu minta maaf."


Aku menggeleng pelan. "Nggak ah ... "


"Kenapa?"


"Aku takut."


Jihan tertawa meledek. "Ha-ha... Sejak kapan kau takut untuk meminta maaf, Nisa?"


Aku diam.


"Sejak aku menikah dengan Ustadz Azzam"


Jihan balik terkekeh. "Atau nggak kamu search di internet cara meminta maaf paling romantis," kata Jihan yang diakhiri dengan melempar senyum.


"Kalau ujung-ujungnya minta bantuan mbah google mendingan aku tadi tidak usah minta saran dengan kamu, langsung aja dengan mbah google." Aku mencebik geram.


Jihan menggaruk keningnya. "Yaudah lah, terserah kamu aja yang jelas aku udah bantu ya. Kamu tinggal pilih yang mana. Jangan pernah bilang lagi, aku teman yang nggak peduli dengan nasib temannya sendiri," tekan Jihan diujung kalimatnya.


"Iya. Iyalah." Akhirnya aku mengalah juga dengan Jihan.


"Jihan, terima kasih ya kamu sudah mau memahami aku." Aku menatap Jihan serius.


"Hm, aku cuman mendengarkan kata hatiku aja, lagi pula kita kan sahabat. Tidak ada gunanya juga aku marah denganmu." Jihan tersenyum, setelahnya Jihan pamit meninggalkan aku.


Sore ini agak mendung, angin berhembus dengan kencang. Menerbangkan debu-debu jalanan, ranting-ranting pohon bergoyang hebat saat dihantam badai.


Aku masih duduk tempat di halte seorang diri. Menunggu Ustadz Azzam. Jam sudah menunjukkan pukul 16.05 WIB. Pelajar sudah semangkin sepi, di sini tinggal hanya aku, sementara di lingkungan sekolah hanya ada adik kelas yang melaksanakan ekstrakurikuler sekolah.


Tidak lama setelahnya mobil Azzam berhenti benar-banar tepat dihadapanku. Tiba-tiba saja aku merasakan debaran, jantungku berdetak tak beraturan aku menjadi takut masuk ke dalam mobil. Tadi pagi, sebenarnya aku tidak berangkat dengan Azzam, aku naik angkutan umum. Dan hari ini aku berinisiatif menemui Azzam di ruang guru untuk mengajaknya pulang bersama. Meskipun aku harus menahan malu, saat guru-guru menatapku sambil tersenyum. Aku hanya mencoba menebalkan muka. Termasuk ketika aku berpapasan dengan Bu Lydia. Berbeda dengan guruku yang lain, Bu Lydia menampilkan raut tak biasa. Iya, mungkin saja dia tidak suka, saat aku yang berada di posisi sebagai istri pria yang ia sukai, bukan dirinya.


Aku beringsut bangun dari duduk. Tanganku meraih buku teks di sebelah. Sebelum masuk ke dalam mobil, aku menoleh takut ada barang yang tertinggal. Setelah memastikan, barulah aku membuka pintu samping mobil.


"Assalamu'alaikum..."kataku memberi salam dengan Azzam, ketika masuk ke dalam mobil.


Azzam hanya berdiam diri. 'Dia pasti menjawab salam dalam hati' Aku mencoba menetralkan diri, mencoba untuk tenang. Tidak gugup.


Tidak ada percakapan yang berlangsung selama beberapa menit perjalanan. Suasana di dalam mobil sunyi sepi.


Aku menggenggam erat tanganku, aku bingung memikir ide untuk mengajaknya berbicara.


"Bang."


Abang Azzam tidak memberikan reaksi apa-apa.


"Abang?"


"Hm"


Aku senang akhirnya Azzam bersedia juga untuk menyahuti panggilanku.


"Hmm... " Aduh! Sekarang aku yang grogi, dan terkial-kial ingin mengucapkan sesuatu. "Abang, Nisa mau..." Mataku sedikit terpejam. Apa aku mengatakan langsung. "Nisa mau ..."


Azzam mendehem, sementara aku meremas perutku. "Kayaknya enak makan bakso... " gumamku, tidak melanjutkan kalimat yang belum selesai tadi.


Saat ini, aku sangat selera ingin makan bakso ketika mobil Azzam melewati gerobak tukang bakso yang sedang mangkal di pinggir jalan.


Sejujurnya memang aku sangat lapar, nampaknya menunggu Azzam dua jam benar-benar membuat aku lapar.


Tanpa berbicara Azzam langsung menepikan mobilnya tepat di mana tukang bakso sedang mangkal.


Aku mengernyitkan dahi, setelah sadar mobil Azzam sudah berhenti dan menepi di pinggir jalan. Sebenarnya aku tadi hanya bergumam, aku tidak minta supaya Azzam menuruti keinginanku.


Aku turun dari mobil menyusul Azzam yang sudah lebih dulu menghampiri bapak tukang bakso.


"Pak, baksonya dua," pinta Azzam pada bapak-bapak berkaos partai.


Aku hanya diam melihat apa yang dilakukan Azzam. Ia beranjak duduk di bangku plastik yang telah disiapkan. Azzam duduk dengan tenang memperhatikan kendaraan yang berlalu lalang. Berbeda dengan Azzam aku lebih tertarik melihat penjual bakso itu sedang meracik bakso pesanannya. Sesekali juga aku melirik Azzam yang terlihat tenang, kemeja polos berwarna dongker sudah tergulung sedikit diujungnya.

__ADS_1


Angin masih berhembus dengan kencang. Dedaunan kecil dengan mudahnya terangkat dibawa hembusan angin. Aku menyadari ada sesuatu yang mengotori rambut Azzam.


"Abang, ada daun," kataku sambil mengambil daun yang menempel disela rambutnya, sambil merapikan rambut Azzam yang acak-acakan dengan tangan. Dari jarak yang sedekat ini, raut wajah suamiku terlihat begitu jelas.


Azzam menoleh saat aku merapikan rambutnya dengan tanganku.


"Udah bersih," komentarku setelah merapikan rambut Azzam, kami memang duduk bersebelahan sekarang posisiku menyerong ke arahnya.


Azzam mengusap rambutnya, usai aku memandanginya.


Tidak lama, dua mangkok bakso sudah di antar oleh bapak berkaos partai tersebut. Aku dan Azzam kompak mengucapkan terima kasih. Setelah masing-masing berada di tangannya.


"Huft, panas!" ujarku.


Aku langsung mendongak saat mangkok bergambar ayam jago di tanganku sudah lenyap. Azzam sudah mengambil alihnya, laki-laki itu menarik satu bangku lain hingga berada tepat di depanku.


"Dah makan," ujar Azzam setelah meletakkan mangkok milikku di atas bangku yang barusan diambilnya. Setelahnya, Azzam menyuap bakso miliknya. Tukang bakso itu memang tidak menyediakan meja, mungkin karena dia berjualan keliling dan tentu akan merepotkan bagi si bapak tukang bakso.


Sedangkan aku masih terpaku melihat Azzam, ini kali pertamanya, aku mendengar Azzam mengeluarkan kalimat dari mulutnya meskipun singkat. Abang Azzam sudah dua hari ini menjadi sosok pendiam, dingin. Jika aku bertanya kadang hanya dibalas dengan anggukan atau deheman saja.


Ish! Susah sekali membujuk kalau laki-laki merajuk.


***


Aku melirik Azzam yang sudah berada di atas ranjang sembari membaca buku seperti yang biasa dia lakukan ketika aku mulai mengenal kebiasaannya di awal menikah.


Netra mataku kembali menatap laptop. Aku memikirkan tentang apa yang disarankan Jihan tadi siang. Di mesin pencarian aku mengetikkan cara meminta maaf di google. Setelahnya berbaris-baris artikel yang muncul ketika aku mengetikkan kata itu.


Akhirnya aku memilih artikel berjudul Tips kreatif meminta maaf disertai dengan 8 inspirasi kado untuk si dia


Terkadang aku merasa bodoh sendiri saat mengikuti saran Jihan tadi. Tapi, tetap aku coba mengikuti sarannya.


1. Makanan kesukaannya


2. Kumpulan foto kenangan dalam bentuk hati


3. Sewa badut


4. Sewa penyanyi


5. Boneka rekam


6. Beli tiket konser


7. Tiket libur wisata


8. Bunga disertai dengan puisi


Sepanjang aku mencerna setiap kalimat yang ditulis penulis, aku mengernyit dahi. Dari 8 tips itu tidak ada yang sesuai, tapi mungkin tips nomor 1 dan nomor 8 bisa aku coba.


"Ups, tapi aku tidak pandai menulis puisi. Dan untuk tips yang ke-1 aku bisa saja memasak makanan kesukaan Azzam dengan meminta bantuan ibu," gumamku dalam hati.


Aku senyum sumringah, setidaknya aku sudah memiliki dua alternatif yang bisa aku gunakan untuk melunakkan hati Azzam. Setelah dirasa cukup, aku langsung menutup laptopku dan beranjak menuju ranjang.


Kepalaku aku tolehkan, melihat Azzam.


"Abang baca apa?" aku mulai menyoal, dengan posisi kepala menyandar di kepala ranjang. Aku menarik selimut hingga ke perut.


Azzam menoleh sekilas. "Buku."


Jawaban Azzam membuat aku mendengus kesal, tapi aku coba untuk tabah dan sabar. 'Anak balita pun tahu kalau yang dibaca itu buku' batinku.


Azzam menutup bukunya dan meletakkan di atas nakas samping ranjang. Ia beranjak ke meja kerja.


"Laptop tidak sedang digunakan kan? Abang ingin mengecek email sebentar," tanya Azzam saat laptop masih berada di atas meja, dalam mode sleep.


Aku yang baru saja beringsut, membenamkan kepala di bantal terkejut bukan main. Saat Azzam bersuara menanyaiku.


Abang Azzam berbicara denganku? Wah... Terasa sedikit lega perasaanku, meski dia berbicara mirip dengan ketika ia sedang mengajar di kelas, kaku dan dingin.


Aku mengiyakan sebagai jawabannya. Ketika aku mulai memejamkan mata, aku baru teringat sesuatu.


"Ya Allah, aku belum membersihkan mesin pencarianku, bagaimana kalau Azzam melihat. Aduh, kenapa kamu bodoh sekali, Nisa"


Azzam menyalakan laptop itu kembali, beberapa menit setelahnya ia senyum-senyum tidak jelas saat melihat riwayat pencarian hari ini.


Cara meminta maaf kepada pasangan yang wajib diketahui suami istri


10 cara meminta maaf yang meluluhkan hatinya


10 kata kata maaf untuk suami yang penuh makna


7 cara meminta maaf ke dia saat kamu melakukan kesalahan fatal.


Tips kreatif meminta maaf disertai dengan 8 inspirasi kado untuk si dia

__ADS_1


Dari arah ranjang, aku mengamati wajah Azzam. Aku lihat diam senyum. Aku menepuk jidatku. Pasti Azzam sudah membaca semuanya.


__ADS_2