
Azzam sangat paham bahwa tubuh dan pikirannya saat ini sangat lelah dan sekarang semangkin lelah melihat apa yang terjadi di rumah.
“Nisa, ayo ikut abang sekarang.” Azzam menarik lenganku, namun bola matanya melirik Hanan.
“Hanan, tunggu di situ sebentar ya,” ucapku dan dibalas dengan anggukan kepala oleh Hanan.
Entah kenapa tiba-tiba Azzam mengajak aku untuk ikut bersamnya. Mungkin ada sesuatu yang serius yang ingin dia sampaikan.
Aku hanya pasrah mengikuti langkahnya yang mengarah ke kamar. Dia ingin berbicara empat mata saja.
"Duduklah," Azzam menarik sebuah kursi, lalu memintaku duduk.
Sejurus pandangan mengarah ke wajah Azzam yang beku. Aku diam dengan pandangan lurus ke matanya pula.
Sunyi.
Kami berdua masih saling bersitatap di kamar yang sepi. Sementara Hanan masih di luar menunggu.
Tidak lama setelah itu, dia pun turut duduk. Kami duduk berhadap-hadapan membeku satu sama lain.
Azzam menghela napas perlahan, lalu berujar, “Apa yang Nisa lakukan berdua dengan Hanan?” tanya memulai.
Aku menatap wajah Azzam yang merah padam. Cemburu. Mungkin iya, itu raut kecemburuan yang terpatri di wajahnya. Apakah dia akan membahas tentang perlakuanku tadi pada Hanan? Tapi itu benar-benar datang dari naluriku untuk mengusir nyamuk yang menempel di wajah Hanan. Tidak ada maksud terselubung lainnya.
“Kenapa? Apa abang cemburu?” Tanyaku menyelidik wajahnya yang gusar.
Azzam langsung terkesiap.
“Tentu,” sahut Azzam yakin. “Tidak ada satu pun suami yang suka bila melihat istrinya dekat dengan laki-laki lain. Baik di hatinya itu ada rasa cinta ataupun tidak.”
Aku melipat kedua tangan, berjalan menyandarkan tubuh ke dinding lemari pakaian.
"Hanan hanya mengantarkan selebaran buletin dan majalah. Hanya itu,” jawabku dengan jujur.
Netra mata Azzam mengikuti setiap gerakan yang aku lakukan.
“Lalu kenapa harus ada adegan mengusap wajah di sana?” Ingatannya terlempar ketika Dhanisa kedapatan sedang memegang wajah Hanan.
“Abang jangan salah paham dulu, kenapa!?” Aku mengerucutkan bibir, karena dia langsung saja main menghakimi seseorang tanpa mendengarkan penjelasanku dahulu. "Tadi itu Nisa hanya mencoba menyingkirkan nyamuk yang ada di wajahnya," sahutku lagi, sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Azzam menghela pelan, dia membuang tatapannya ke arah lain.
“Siapa yang tidak akan salah paham jika melihat seorang istri berdua dengan pria lain yang bukan mahromnya dalam satu rumah,” nada Azzam sedikit meninggi.
“Tapi kita tidak berdua di rumah. Ada Marvin juga," jawabku membantah tuduhan yang tidak mendasar itu.
Azzam menoleh kembali. “Memang ada Marvin, tapi apakah Marvin ada di sana menemani kalian berdua!” Sanggah Azzam kembali. "Tidak ada kan?"
Aku menggeleng pelan.
“Oke. Nisa tau sekarang! Kalau dari tuturan abang barusan, itu mengisyaratkan bahwa Nisa memang harus mengakui kesalahan Nisa! Itukan mau Abang?” Aku mengertapkan gigi dan meremas jari-jemariku, tanda geram.
Azzam berjalan mendekat. Tatapan yang semula tajam mulai meredup. “Ini bukan tentang salah menyalahkan, bukan tentang saling menghakimi. Tapi ini tentang moral. Abang tidak ingin istri abang dituduh bersyubhat dengan pria lain hingga menimbulkan fitnah. Hanan itu bukan mahkram bagi Nisa, tidak bagus bagi seorang perempuan berdua-duan dalam bilik rumah, apalagi bersama dengan orang yang jelas-jelas bukan mahkramnya.
Dada Azzam terasa sesak. Sebenarnya ada banyak kata-kata yang ingin terlontar dari mulutnya, namun tertahan di bibir.
Sabaarrrr ..... Hati kecil Azzam senantiasa melontarkan kata sabar hingga ia mencoba menurunkan egonya.
“Abang berkata demikian bukan berarti abang manusia suci yang tidak luput dari dosa. Manusia tempatnya dosa. Entah sengaja ataupun tidak, manusia bisa kapan saja melakukan itu. Tapi satu hal yang hanya abang ingin lakukan dan tujukkan saat ini," suaranya tercekat. "Abang hanya ingin menjadi imam yang baik untuk istri abang. Bertanggung jawab atas keluarga yang sedang abang pimpin. Termasuk menuntun akhlak seorang istri menuju jannah. Abang ingin kita meraih ridho atas surganya Allah secara bersama-sama," Azzam berujar dengan lembut.
Tanganku meraih pergelangan tangan Azzam, lalu mengecupnya. Aku meminta maaf jika memang apa yang kami lakukan menurutnya salah dan kurang pantas. Aku hanya tidak ingin dicap sebagai istri yang membangkang atas nasehat suami.
Azzam masih bungkam. Aku menunggu dia mengucapkan sepenggal kalimat. Tapi setelah beberapa menit, rasanya obrolan akan terputus di sini.
“Kalau tidak ada lagi yang mau dibicarain. Nisa mau keluar, nggak enak Hanan nunggu di luar,” kataku, lalu berbalik badan.
“Tunggu dulu!” cengkal Azzam.
Aku kembali berbalik. “Apa?”
"Lain kali perkara demikian jangan diulang lagi." Tatapannya penuh penekanan. “Satu lagi pesan abang, lain kali kalau keluar bertemu dengan orang lain pakailah hijab," seru Azzam.
Keningku berkerut. “Nisa kalau keluar pakai hijab terus kok,” bantahku, karena selama ini selain ke sekolah yang mengharuskan mengenakan hijab. Keluar rumah pun aku juga tetap mengenakan hijab.
“Ketika menerima tamu tadi?” sangkal Azzam, ketika melihat istrinya menerima tamu tanpa mengenakan hijab. "Seluruh bagian tubuh wanita adalah aurat kecuali telapak tangan dan wajah. Maka rambut pun yang menjadi mahkota bagi wanita, termasuk aurat perempuan yang mesti dijaga."
__ADS_1
“Nisa rasa nggak masalah, kan cuman ada Hanan dan Marvin di luar,” jawabku dengan enteng, seraya menaikkan sebelah alis.
Azzam merubah posisi berdiri lebih dekat ke sisi istrinya. Dia berusaha memberi ruang untuk menasihati Dhanisa. Azzam tidak pernah lelah melontarkan petuah yang merupakan ajakan menuju kebaikan. Sedapat mungkin ia berbicara dengan hati-hati supaya tidak menyinggung hati istrinya.
“Nisa, mereka berdua itu orang lain, Hanan dan Marvin. Mereka bukan makhram. Tidak seharusnya mereka melihat auratmu itu! Nisa, mesti tahu batasan aurat seorang perempuan.” Azzam menelan saliva sebelum berujar kembali. “Jilbab dikenakan untuk menutup aurat seorang perempuan dan melindungi dirinya karena Allah swt. Bukan untuk dilihat orang lain, termasuk laki-laki yang bukan makhramnya. Dengan berhijab juga bisa menghindarkan perempuan dari gangguan para lelaki,” lanjut Azzam.
Aku melangkah kemudian berhenti di depan cermin besar, berkaca sebentar. Dari pantulan cermin aku bisa melihat penampilanku, mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Rambut hitam lurus tergerai sebahu, dengan baju kaos oblong berlengan panjang melekat di badan. Dan bawahan mengenakan celana jeans panjang.
Aku menyengir ketika sadar dengan penampilanku sendiri.
“Abang"
Azzam menyahut.
“Abang kalau penampilan Nisa ini, bagaimana?” Aku meminta pendapatnya. Entah kenapa tiba-tiba pertanyaan itu mengalir dari bibir tipisku.
Aku tahu kalau Azzam melihatku dari pantulan cermin. Dia sedang mengulas senyum melihat aku mematut bayangan sendiri.
Dia sudah pakai pakaian yang tertutup tapi ketat hingga menampakkan lekuk tubuh yang molek dan indah, itu terlihat jelas, batin Azzam.
"Pakaian yang Nisa kenakan sudah sopan, hanya sedikit ketat,” komentar Azzam singkat. “Tapi tidak apa-apalah, memang semua akan berubah secara bertahap-tahap, hingga menjadi pribadi yang baik.”
Suasana sunyi kembali.
“Abang harap, Nisa tidak tersinggung dengan ucapan abang barusan. Apapun yang abang katakan itu tidak lain demi kebaikan supaya istri abang bisa mendapatkan syafaat Rasulullah di hari akhir nanti."
Aku memutar balik tubuhku, menatap Azzam dengan seulas senyum. “Tidak. Nisa tidak marah. Nisa senang karena masih ada orang baik yang mau mengingatkan Nisa.”
Senyum Azzam merekah. Entah mengapa Azzam merasa hati istrinya kali ini, sudah mulai melunak, sikap jutek dan cueknya sedikit demi sedikit berkurang.
Sekarang mereka kembali bersitatap dengan pandangan yang lekat. “Nisa, kau adalah istriku. Kehidupanmu, akhlakmu, dan segala perilakumu menjadi tanggung jawabku sebagai seorang suami. Pemimpin dalam rumah tangga,” tutur Azzam dengan lembut.
Aku menatap cermin kembali usai mendengar perkataan Azzam.
“Sudahlah jangan terus menatap cermin itu!”
“Kenapa?” alisku bertaut.
“Abang takut cermin itu akan merasa tersaingi dengan kecantikan perempuan di depannya,” goda Azzam. Ini kali pertama Azzam berani menggoda istrinya. “Pergilah ambil hijab,” pinta Azzam kemudian, “Nisa perlu tau kalau perempuan mengenakan jilbab itu bukan pilihan tapi kewajiban. Apalagi kalau dia sudah baligh”
"Sesungguhnya Rasulullah telah mewariskan dua hal, yaitu sunnah dan Al-Qur’an. Manusia diperintahkan untuk mengikuti ajaran yang berpedoman pada sunnah, dan ayat-ayat Allah. Salah satunya dengan mengenakan jilbab. Mengenakan jilbab adalah satu cara bagi wanita untuk menjaga aurat bagi laki-laki yang bukan makhramnya. Artinya jika perempuan tidak mengenakan hijab berarti perempuan itu telah mengingkari hukum yang ditetapkan Allah," terang Azzam dengan panjang lebar.
Adapun perintah untuk menggunakan jilbab diturunkan oleh Allah SWT dan tertulis dalam QS. Al-Ahzab ayat 59, yang artinya: wahai nabi, katakanlah pada istri-istri dan anak-anak, perempuan dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali, oleh sebab itu mereka tidak diganggu. Dan Allah maha pengampun lagi Maha Penyayang. Ini adalah hukum syariat islam yang digariskan Allah dalam ayat-ayatnya. [QS. Al-Ahzab: 59]
Ayat lain juga menyebutkan demikian, dalam QS. An-Nuur ayat 31, yang berbunyi: Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan ***********, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain tudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka .... [QS. An-Nuur: 31]
Ada dua sebab atau alasan Allah SWT memerintahkan perempuan muslimah untuk mengenakan hijab. Pertama, agar muslimah bisa dikenali dan menjadi ciri pembeda dari perempuan lainnya. Kedua, agar terjaga wibawa dan watak keperempuanannya, maksudnya supaya tidak diganggu dan disakiti serta terhindar dari fitnah.
Allah subhanallah wata’ala juga menekan tentang aurat bagi perempuan, secara keseluruhan disebut sebagai aurat dan hanya boleh diperlihatkan kepada makhramnya.
Diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud dalam HR. Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda, “Wanita adalah aurat, maka apabila dia keluar (rumah), maka setan tampil membelalakkan matanya dan bermaksud buruk terhadapnya.”
Aku hanya terdiam. Menyimak saksama, jika Azzam telah mengeluarkan sepenggal ayat dan hadistnya.
Diam-diam aku menghela napas pelan, mencoba menimbang-nimbang permintaan Azzam. “Jadi Nisa harus makai jilbab nih?”
Azzam menyungging senyum, lalu membalas, “Iya.”
Karena aku masih diam nematung, Azzam mengendikkan dagu. Menyuruhku untuk segera mengenakan hijab. Aku berjalan menuju lemari dan menyela-nyela lembar demi lembar pakaian yang tersusun rapi di lemari untuk mencari jilbab di antara tumpukan baju.
“Kata Nisa ada Marvin di luar tadi kan?” Azzam bertanya sembari menaruh tas di atas meja kerja. “Kenapa di luar hanya ada Hanan?” lanjutnya.
Aku menjawab pertanyaan Azzam sambil sibuk memasang dan merapikan hijab.
“Tadi Marvin pergi keluar sebentar mencarikan Mou yang hilang. Entah dari tadi dia belum juga kembali.” Aku mengendikkan bahuku singkat. “Jangan-jangan dia ikutan hilang, lagi” guyonku.
Balutan jilbab berwarna abu-abu telah melingkar di kepalaku menjuntai hingga ke dada. Disisi lain, Azzam sedang mengganti baju kerjanya dengan baju kaos yang biasa dia kenakan sehari-hari.
“Sudah,” gumamku. “Abang, Nisa keluar duluan.”
Azzam menoleh dengan senyum mengembang dipipi. “Nah, kan cantik,” puji Azzam, usai melihatku mengenakan hijab.
Sudut bibirku melebar, membentuk tersenyum. “Terima kasih.” Aku membalas seadanya kemudian keluar kamar.
“Abang! Buruan tadi dicari Marvin!” pekikku dari luar kamar.
__ADS_1
Aku mempercepat langkah untuk menemani Hanan yang masih duduk di ruang tamu.
“Maaf lama, ada masalah dikit tadi.” Aku langsung menghempaskan tubuh ke kursi sofa. Tepat dihadapan Hanan yang sudah duduk sedari tadi menungguku.
Hanan mengulas senyum, lalu memasukkan kembali ponselnya ke saku celana. “Iya, nggak apa-apa.”
Hanan menyeruput minuman yang masih setengah. Sekaligus melegakan tenggorokan yang terasa kesat.
“Nisa!”
“Hmm," sahutku tanpa menoleh ke arah Hanan. Aku sibuk merapikan jilbab.
“Aku mau tanya tentang apa yang dikatakan Om Azzam tadi. Apa iya kalau Om Azzam itu suami kamu.”
Aku terkesiap. Spontan aku menoleh, menatap wajah Hanan tanpa berkedip.
Dengan berat aku menganggukkan kepala, mengakui kebenaran ucapan Hanan barusan.
Hanan diam dan tidak bertanya apa-apa lagi. Tapi, sebenarnya dalam hati, Hanan sangat ingin bertanya lebih lanjut tentang bagimana saudara sepupu ini bisa menikah. Hanan merasa ada yang aneh. Dia hanya memendam pertanyaan itu dalam-dalam. Rasanya ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu dulu.
Untuk saat ini, Hanan tak ingin mengulik lebih lanjut tentang kehidupan yang menurutnya itu privasi bagi Dhanisa.
Meau ... meau ....
Suara Mouzine hadir di tengah-tengah kami. dia berjalan menuju tuannya. Dan mengeluskan tubuhnya ke kakiku. Mou seperti tahu bahwa sudah membuat cemas majikannya itu.
Aku berjongkok kala melihat Mou mendekat. Dengan gemas aku memeluknya dan menaruh di pangkuan.
“Nisa, aku tidak berhasil menemukan anak kalian?” Marvin masuk dengan napas sedikit tersengal. Mungkin dia habis menyusuri seluruh bagian rumah ini, pikirku demikian.
Dari Hanan membentuk lipatan-lipatan kecil ketika mendengar ucapan laki-laki yang berdiri di ambang pintu.
“Kamu dan Om Azzam sudah punya anak?” tanya Hanan penasaran.
Aku terkekeh pelan.
“Kapan aku bilang begitu, Hanan.”
Hanan semangkin bingung.
“Lha tadi kamu bilang? Mouzine!” Marvin menyahut, menimpali kebigungan yang juga Hanan rasakan.
“Ini” Aku mengangkat Mou yang masih ada dipangkuan.
Marvin menggeleng, lalu memejamkan matanya beberapa detik. Marvin merasa dikerjai Dhanisa.
Gila! memang istri Azzam ini aneh! Kalau aku yang jadi Azzam nggak akan betah buat tinggal serumah dengan Dhanisa. Yang ada darah tinggi melulu!, Marvin membatin.
Tidak lama Azzam juga muncul dari belakang dengan wajah yang fresh usai membersihkan tubuhnya dari peluh.
“Marvin, kamu dari mana? Aku tunggu dari tadi.”
Marvin ikut duduk di kursi sofa bersama Hanan. “Harusnya aku yang nanya ke kamu! Kamu kemana baru muncul?” Marvin bertanya dengan gigi mengerat, menahan kesal.
Melihat raut wajah temannya berubah. Azzam bertanya lagi. “Kamu kenapa seperti capek, lelah begitu?”
Hanan mengela napas keras-keras seperti mengeluh. “Aku capek habis keliling rumah kalian demi mencari anak yang hilang!” balas Marvin, seraya melotot ke arahku.
Aku tertawa rikuh.
“Anak siapa yang hilang?” tanya Azzam bingung. Lalu menatap juga ke arah aku yang masih terkekeh pelan.
“Anak kalian,” balas Marvin jengah.
Azzam tertawa pelan. “Kamu taukan aku menikah baru dua bulan. Mana bisa tiba-tiba langsung punya anak,” sangah Azzam dengan logikanya.
Marvin mengangkat kedua bahunya. “Ya, siapa tau kalian adopsi anak!" balasnya. "Eh! ternyata yang hilang anak kucing!” Marvin mencebik geram.
Azzam mendekat dan menepuk pundak Marvin. “Aku mewakili istriku minta maaflah. Kalau kamu merasa dikerjain.”
“Iya. Bang Marvin, maafin Nisa ya,” cengirku.
Tanpa sadar Marvin mengesap minuman di atas meja, yang tak lain minum milik Hanan.
“Ya sudah. Sekarang aku mau minta rundown dan presensi buat acara besok.”
__ADS_1
Azzam menghilang sebentar kemudian kembali beberapa lembar kertas yang sudah ditata di dalam map plastik. Setelah Marvin menerima berkas yang dibutuhkan dia pamit untuk pulang. Karena tanda adzan maghrib sebentar lagi akan berkumandang.
Hanan menoleh ke arah Azzam yang berdiri di dekat ambang pintu. Dia berdiri dan menyalimi tangan Azzam untuk permisi pulang juga.