
Azzam berlari kembali menuju mobilnya, merayap masuk ke balik kemudi. Dia memutar starter mobil, membuat putaran seratus delapan puluh derajat lalu mengarahkan mobil itu keluar gang dan berbelok ke arah jalan raya. Dia tidak ingin membuang waktunya sedikit pun untuk menolong istrinya, stir kemudi dibelokkan melewati jalan lintas untuk mempercepat jarak tempuh.
Dada Azzam mulai terasa panas. Pikiran-pikiran negatif mulai memenuhi isi kepalanya. Dia mencoba tenang dengan menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Dalam hati tiada hentinya ia berdzikir, memohon supaya Allah turut membantunya, karena tiada lain daya dan usaha kecuali hanya memohon kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
Huft! Kabut disepanjang jalanan itu semangkin menebal. Azzam seolah sedang memejamkan matanya rapat-rapat. Cahaya yang keluar dari lampu mobilnya saat ini tidaklah cukup digunakan sebagai penerang jalan. Terlebih lagi lebatnya hujan yang turun dan menutupi jarak pandang kaca mobilnya, membuat Azzam semangkin kesusahan menatap ke depan.
Tidak butuh waktu setengah jam mobil tiba di lokasi. Azzam langsung keluar dari mobilnya, berlari tanpa henti sedikit pun. Dia masih berusaha mencari istrinya. Matanya memutar melihat sekitar, tanpa sengaja kaki Azzam menginjak sebuah benda. Ia menemukan handphone Dhanisa yang masih menyala.
“Nisa, ada di sekitar sini,” gumamnya, cemas.
Otak Azzam diputari dengan suara tangisan dan jeritan Dhanisa beberapa menit. Hal itu membuatnya semangkin yakin kalau Dhanisa ada sekitar sini.
“NISA!”
“NISA!”
Azzam teriak berkali-kali.
Ia terus menelusuri jalan. Tidak berhasil menemukanya, Azzam mencoba masuk lebih dalam ke arah semak belukar berharap dia bisa menemukan Dhanisa di sana. Ia hanya dibantu oleh cahaya lampu yang remang-remang dari sudut jalan. Cahayanya tidak menyebar rata ke seluruh bagian karena rerumputan yang tumbuh lumayan lebat dan tinggi-tinggi.
Tiada hentinya Azzam berteriak memanggil nama Nisa. Namun suara jeritan yang samar-samar tadi dia dengar mulai memudar. Azzam takut sesuatu yang buruk sedang menimpa istrinya.
Setelah berputar-putar tidak jelas dengan menerjang derasnya hujan yang turun. Azzam mendapati seseorang di bawah sebuah pohon besar. Dengan kasar Azzam mengusap wajahnya, demi menyingkirkan buliran-buliran hujan yang menerpa hingga membuat penglihatan menjadi kurang jelas.
Begitu leganya perasaan Azzam kala berhasil menemukan istrinya. Tapi, panca indra juga menangkap sosok lain yang berada di dekat Nisa. Pria itu tampak sedang membekap mulut Nisa rapat-rapat supaya tidak berteriak keras. Azzam mendengar ringis tangis Nisa yang menderu. Sementara laki-laki itu tampak perlahan melepaskan baju kaos yang melekat di tubuhnya.
Azzam mengatur napas sebentar. Dia mengertapkan gigi dan kedua tangannya mengepal hebat. Begitu emosinya dia saat mendapati pria itu berani menyakiti istrinya.
“HENTIKAN!!” teriak Azzam begitu keras, sampai membuat keduanya menoleh
Tangis Nisa semangkin menjadi-jadi saat dia melihat Abang Azzam berdiri di seberang sana. Dia datang untuk menjemput dan menolong dirinya. Azzam masih terus menahan emosi kali ini dia benar-benar tidak terima, langkah kakinya semangkin di arahkan mendekat ke arah pria itu.
“Kau jangan berani menyentuh istriku!” gumamnya, dengan menahan gejolak emosi.
Pria itu tidak mau kalah. Dia menatap Azzam dengan sorotan mata yang sangat tajam. Urat-urat lehernya menyembul keluar, dari rautnya tampak pria tersebut sangat tidak suka dengan kehadiran pria lain yang mencoba mengusik kesenangannya malam ini.
Pria itu tertawa terbahak-bahak.
“Ouh, sang pangeran datang menjemput permainsuri rupanya,” ledek pria itu.
Azzam diam, mengatur napas yang terus naik turun. Tidak stabil.
“Kenapa? Kau takut hah?!” ujar Azzam tersenyum sinis.
“Aku tidak pernah takut dengan siapapun, apalagi dengan laki-laki macam kau,” balasnya penuh percaya diri.
“Oh, benarkah begitu?”
Tanpa menunggu lama pria tersebut langsung melayangkan tinju yang mengarah ke kepala Azzam, beruntung dia dapat menangkis, lalu membalasnya. Dia terhuyung, sulit menyeimbangkan tubuh. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan Azzam kembali melayangkan pukulan berikutnya ke arah perut. Tubuhnya langsung terbanting jatuh ke tanah.
Lumayan lama pria itu terdiam, tapi tangannya tampak seperti meraba-raba sesuatu di balik tubuhnya. Dia tersenyum miring. Akhirnya, laki-laki itu bangkit kembali dan langsung menodongkan benda tajam dari ke arah Azzam.
Mata Azzam terbuka lebar saat melihat benda tajam yang digenggam pria di depannya. Perlahan Azzam memundurkan langkah kakinya, mencoba menjaga jarak demi meminimalisir kemungkinan terburuk.
Aku masih duduk meringkuk. Jantungku berdebar tak menentu melihat apa yang terjadi dihadapanku. Ini benar-benar situasi yang buruk.
Aku masih terus berteriak meminta pertolongan, tetapi tidak satu pun yang datang menolong kami. Suasana yang sepi seperti ini, hanya sesekali kendaraan yang lewat. Aku semangkin mengkhawatirkan keadaanku dan juga Abang Azzam.
Aku menggelengkan kepala. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Azzam? Bagaimana jika pria itu berhasil menancapkan senjata tajam ke tubuh Azzam?
Aku semangkin ketakukan, Abang Azzam dan pria itu masih beradu tinju. Mereka saling menyerang satu sama lain.
“STOP!!” suara teriakan dari kejauhan, memaksa mereka berhenti saling adu jotos.
__ADS_1
Keduanya langsung menoleh ke arah sumber suara. Yang tampak raut wajah si pria langsung berubah panik dan menegang ketika matanya menangkap satu pemandangan seorang pria berseragam cokelat sedang berdiri dan siap menangkap pria tersebut. Aku sangat bersyukur karena polisi patroli malam bisa datang tepat waktu untuk membantunya. Tapi, pria itu tidak mau menyerah begitu saja. Dia berusaha melarikan diri tunggang langgang menjauh masuk ke dalam semak belukar. Petugas patroli malam tidak tinggal diam ketika sampah masyarakat itu semangkin meresahkan.
Tubuhku bergetar hebat. Aku duduk meringkuk dengan kedua kaki terlipat dan kepala terbenam di sana. Air mataku mengalir tanpa henti. Meskipun sudah mati-matian aku menahannya, tetap saja aku menangis.
Azzam memelankan derap langkahnya mendekat ke arah Nisa.
“Nisa...” panggil Azzam.
Azzam menjongkokkan badan, tangannya perlahan menyentuh pundak Nisa.
“Dhanisa...” panggilnya lagi.
Aku memberanikan diri untuk mengangkat kepalaku dengan wajah yang basah penuh dengan air mata yang bercampur dengan air hujan. Aku terisak-isak.
"Ayo kita pulang," bujuk Azzam.
“Abang... ” panggilku. “Abang ada yang terluka?” tanyaku dengan suara bergetar menahan dingin, bagaimana tidak aku khawatir kalau pria tadi berhasil melukai Abang Azzam dengan senjatanya.
“Nisa, jangan pikirkan Abang. Yang penting Nisa selamat,” suara Abang Azzam sedikit tersengal.
Bibirku masih bergetar-getar menahan dingin.
Azzam tidak tega melihatku mengigil hebat kemudian melepaskan jaket dan menangkupkan ke badanku demi sedikit menghalau hawa dingin yang turut terbawa bersama derasnya hujan. Azzam berusaha untuk membantuku berdiri.
“Sudah, jangan menangis,” ucap Azzam seraya menyeka wajahku.
Azzam merengkuh tubuhku, membantu untuk segera berdiri.
"Kita harus pulang sekarang juga," tuturnya
Aku merasa sedikit kesulitan saat akan berjalan, agaknya Abang Azzam dapat merasakan apa yang tengah terjadi pada tubuhku hingga ia membimbing langkahku dengan pelan. Kami berdua berjalan keluar semak belukar ditemani oleh rintik-rintik hujan yang mulai mereda.
Di dalam mobil keheningan sangat kentara. Abang Azzam terus menoleh menatapku. Aku masih duduk terdiam, dengan kepala tertunduk dalam-dalam. Bahuku bergetar menahan hawa dingin yang merasuk ke tubuh. Tangan Abang Azzam mengarah ke seat bealt lalu memasangkan ke tubuhku. Tatapan matanya masih juga belum lepas.
"Masih dingin?"
Aku diam.
Sekejap dia bertanya lagi, “Nisa, ada yang sakit?” tanya Abang Azzam khawatir seraya menatapku, sebaliknya aku juga melakukan hal yang sama. Kami saling bertukar pandang untuk waktu yang cukup lama.
Aku menggelengkan kepala.
“Abang?”
“Apa?” sahut Azzam.
“Abang kenapa melakukan hal seperti tadi? Kalau laki-laki jahat itu menusuk tubuh Abang bagaimana?” tanyaku, cemas.
“Kan Nisa yang minta,” jawabnya datar.
Aku mengerut dahi. “Kapan Nisa minta?” nadaku masih bergetar.
“Tadi, bukannya ditelepon minta Abang buat menolong Nisa kan," jawabnya dengan menyungging senyum.
Aku mendengus, lalu mencoba melepaskan genggaman tangannya. Tapi dia terus menahan dan malah mengeratkannya.
“Lepasin tangan, Nisa!” pintaku segera.
Aku tak habis pikir tentang apa yang ada dipikirkan Abang Azzam, dia terus saja menatapku. Aku merasakan tatapannya kali ini lebih dalam. Garis bibir membentuk senyum kecil. Dia mengecup kedua tanganku. Kemudian bibirnya perlahan terbuka.
“Karena Abang, tidak mau melihat Nisa terluka,” jawabnya lirih. “Jika Nisa yang terluka, maka Abang akan merasa lebih terluka karena tidak berhasil menjaga istri sendiri.”
Azzam melihat luka di kening Nisa kembali mengeluarkan darah. Dia mengambil beberapa helai tissue dan membersihkan sedikit darah yang mengalir dari keningnya.
__ADS_1
Aku menahan tangannya.
“Nisa mau pulang!”
Azzam sadar kalau Nisa memang harus segera mengganti pakaian yang basah dan mengobati kembali luka dikeningnya. Dengan sigap dia menghidupkan mobil, menginjak pedal gas, lalu memacu kendaraan itu dengan cepat supaya bisa segera tiba di rumah.
***
Tok... Tok... Tok ...
“Nisa? Abang sudah boleh masuk?” suara Abang Azzam dari luar.
Aku memutar handle pintu kamar, lalu berbalik lagi ke tempat tidur.
Azzam menyodorkaan minuman jahe hangat untukku.
“Ini, minumlah. Abang mau ambil kotak P3K dulu.”
Aku menerima cangkir berisi minuman jahe tersebut dan menaruhnya di nakas. Lalu duduk tepian ranjang menahan dingin.
Tak lama Azzam datang dengan membawa kotak P3K. Dia duduk menghadapku dan mulai mengobati luka di kening. Selama aktivitasnya itu mataku tiada lepas menatapnya. Aku sadar bahwa disudut bibir Abang Azzam lebam. Mataku mengekor ke punggung tangannya yang juga demikian. Bisa jadi itu efek pukulan yang tadi.
“Sudah,” ujarnya. “Setelah ini pergilah tidur,” pinta Azzam. Kemudian membereskan kotak P3K tadi. Tanganku berusaha mencegah apa yang dia lakukan.
“Jangan dibersin dulu,” kataku, meminta.
Aku mengambil kapas dan membersihkan sedikit luka yang tercipta di sudut bibirnya lalu meraih obat merah dan meneteskannya, kemudian kembali mengusapnya lagi.
Abang Azzam terdiam menatap wajahku ketika aku mengusap sudut bibirnya dengan kapas. Setelah wajahnya, aku kemudian meraih tangan Abang Azzam terlihat buku-buku tangannya berdarah kerena terlalu banyak melayangkan pukulan pada pria yang bertarung tadi.
Dalam hati Azzam merasa sangat senang bercampur dengan sedih, karena baru kali ini ia bisa merasakan perhatian yang diberikan Nisa untuknya. Ia tahu betapa sulitnya untuk merebut perhatian Dhanisa, karena ia selalu saja bersikap jutek.
“Nisa.”
“Hm” gumamku dengan masih fokus mengobati luka di tangan Abang Azzam.
Tangan Abang Azzam meraih kedua tanganku, dan menumpuknya bersama tangannya juga. Dia menatapku, aku pun demikian.
“Kenapa Nisa tadi tidak minta antar dengan Kak Soraya atau Abang Fikri?”
Dengan tenang aku menjawab. “Nggak ada kendaraan di rumah Umi, semuanya dipakai.”
“Kenapa tidak menunggu mereka pulang?” tanya Azzam lagi.
Aku menunduk. “Nisa ingat Abang bilang tidak punya kunci serep rumah, makanya Nisa buru-buru memilih untuk langsung pulang.”
Azzam memang mengatakan hal demikian, tapi dia benar-benar tidak menyangka maka akan seperti ini jadinya. Padahal sebenarnya dia memiliki kunci itu. Tapi beruntung tidak terjadi sesuatu dengan dia. Kalau laki-laki tadi benar-benar berhasil merusaknya, maka Azzam tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.
Azzam menghela, dadanya terasa sesak.
Dia mengangkat tanganku dan mengecupnya pelan.
“Nisa pergilah tidur,” pintanya setelah itu.
Aku menurut, lalu bangkit untuk mengambil selimut terlebih dahulu.
Langkahku tercekat seketika, saat dia menahan pergelangan tanganku hingga memaksa aku berbalik badan.
“Abang meminta maaf jika selama ini Abang telah berbuat salah.”
Aku mengernyit, “Abang kenapa bilang begitu?”
Azzam tidak menjawab, dia malah mengendikkan dagu supaya aku melanjutkan apa yang hendak aku kerjakan tadi.
__ADS_1
“Siap-siaplah tidur.”