
Aku masih sibuk menyapu halaman depan rumah. Membersihkan sisa-sisa bekas botol air mineral yang berserakan. Di sisi lain Azzam dan juga ayah membantu melepas tenda yang terpasang di depan rumah, yang juga dibantu dengan orang pemilik tenda.
"Lho, kalian berdua kok belum siap-siap, katanya mau ke rumah sakit," dumel ibu.
"Iya, bu sebentar lagi."
Ibu mengambil paksa sapu yang ada di peganganku. "Sudah sana, kamu mandi. Ini biar ibu aja yang menyapunya."
"Iya-iya."
Dengan aktivitas yang sudah diambil alih oleh ibu, aku masuk ke dalam dan bersiap untuk mandi, membersihkan badan.
Sesampai di kamar aku merasa aneh, rasanya ada yang kurang di kamar ini ketika aku menatap ke arah rak kayu yang ada di sudut kamar. Rak yang secara sengaja khusus di isi oleh foto-foto. Di sana ada foto-foto keluarga, foto pernikahan kami juga foto-foto ku bersama teman and the genk. Tapi aku merasa ada foto yang kurang.
Aku mencoba mengingat foto yang tidak ada di sini.
"Apa yang kurang ya?" pikirku.
"Hah iya foto aku di sini kemana." Sekarang aku berhasil menemukan satu foto ku lenyap di rak ini kolase foto ini. Foto di mana ketika aku sedang di berada didermaga. Moment di mana ketika Azzam mengajakku untuk menghabiskan waktu berdua. Karena aku suka laut, maka aku mengambil latar laut dengan pemandangan jejeran kapal besar yang menjadi latar fotoku. Dan sekarang foto itu tidak ada.
"Ada apa? Nisa cari apa di situ?" tanya Azzam yang baru datang. Ia mengambil handuk yang tergantung di dekat balkon hendak menyegerakan diri mandi.
"Abang sini."
"Hm, ada apa?"
Azzam mendekat.
"Abang yang mindahin foto Nisa di sini ya?"
"Mindahin? Mindahin kemana?"
"Ya mana Nisa tau. Kalau tau pun Nisa nggak akan tanya abang lah. "
"Tidak, abang tidak pernah memindahkan foto Nisa. Untuk apa juga."
"Ya kan siapa tau. Trus siapa yang mindahin? tanyaku berpikir.
"Ya mana abang tau. Mungkin dicuri, kan istri abang cantik."
Aku mencubit pinggang Azzam. "Ihh, orang serius juga."
"Bercanda, sayang. Mungkin Nisa lupa aja menaruhnya dimana. Lagian mana mungkin ada orang yang masuk kamar kita kan, sayang. Apa lagi si pencuri hanya mengambil foto."
"Nisa nggak pernah mindahin, bang. Dan juga kalau memang pencuri ngapain ngambil foto? Kan ngga bisa di-uangin lagian kan mestinya yang diambil itu uang ya kan, Bang?"
"Udahlah. Jangan terlalu dipusingkan, nantikan bisa kita cetak lagi fotonya." Azzam mengalungkan handuk berwarna putih di lehernya.
"Bukan masalah cetaknya, cuman Nisa bingung aja gitu kemana coba." Aku masih memikirkan tentang kemana foto itu menghilang.
__ADS_1
Azzam menggelengkan kepala. "Sekarang siapa yang mau mandi duluan. Abang atau Nisa?"
"Nisa!" kataku menunjuk jari dengan semangat. Handuk yang telah aku letakkan sebelumnya di tempat tidur aku raih. Tapi baru hendak beranjak Azzam memanggil.
"Tunggu!" cegah Azzam menghentikan langkahku. Dengan cepat tangannya menyambar pipiku, ia mendaratkan cubitan gemas ke kedua pipiku. Kemudian masuk ke kamar mandi mendahuluiku. "Abang duluan!" ucapnya enteng sambil meledek ke arahku.
Aku terperangah. Tidak menduga azzam akan mengerjaiku dengan menyerobot masuk ke kamar mandi duluan. Tepat setelah pintu ditutup, dengan geram aku menggedornya. "Abang! Buka! Kan Nisa duluan tadi! Dasar abang ngeselin!" teriakku tak tertahan.
Azzam tak merespon. Di dalam kamar mandi Azzam malah terdengar seperti cekikikan berhasil mengelabuiku.
"Abang Azzam!" pekikku keras.
Tapi aku malah mendengar suara kran air dinyalakan. Aku yakin suara pekikanku tidak akan begitu terdengar olehnya.
Huft! Terpaksa aku harus mengalah, menunggu giliran. Aku kembali duduk ditepian ranjang. Menenangkan kekesalan itu di dalam hati. Meski sedetik kemudian, kepala aku tolehkan pada rak foto tadi. Sungguh pikiranku masih menduga-duga tentang lenyapnya foto itu. Seingatku aku tidak pernah memindah foto apapun.
Tiba-tiba hatiku bergetar. Perasaanku menjadi panik seketika. Sekarang aku mengingat sesuatu tentang kejadian semalam.
"Ridho? Ridho sempat masuk ke kamar ini semalam" Aku mengigit ujung kuku. "Ah tapi apa iya?"
Jantungku kian berdetak semangkin cepat. Tidak tahu kenapa firasatku mengatakan demikian, dan bisa jadi dugaanku ini memang benar.
"Nisa?" Sebuah tangan mendarat di mendarat di pundakku.
"Astagfirullah" Aku meloncat kaget sambil mengusap dadaku akibat kaget. "Abang, ih bikin kaget!" Aku memukul tangannya yang masih menempel di pundakku.
"Tad... Tadi... "ucapku ragu.
"Tadi kenapa sayang?"
Lidahku seketika terasa kelu untuk menceritakan perihal tentang apa yang dilakukan Ridho semalam.
'Rasanya aku tidak usah memberitahu Azzam tentang itu!" batinku.
"Hmm, udah mandikan. Sekarang giliran Nisa ya." Aku mengambil handuk kembali dan masuk dengan cepat ke kamar mandi.
***
Di kamar. Ridho sedang memandangi foto cantik istri Azzam itu.
"Dhanisa!" Ridho menyeringai. "Kau harus bertanggung jawab tentang semua ini. Kau telah membuat aku masuk dalam jeratan perasaan yang tak biasa ini." Ridho menarik sudut bibirnya dengan masih memandangi foto Dhanisa.
"Aku jatuh cinta padamu, Dhanisa."
Ridho mencium foto Dhanisa tersebut dengan perasaan yang mulai tumbuh di hati.
"Mas, kamu di sini rupanya." Suara Rara tiba-tiba hadir. Membuat. Ridho cepat-cepat menyembunyikan foto Dhanisa di belakang punggungnya.
Namun, raut panik tak dapat disembunyikan dari wajah Ridho. Hal itu membuat Rara menjadi aneh ketika melihat gelagat suaminya.
__ADS_1
"Kamu kenapa, Mas?"
"Kenapa apanya?" elak Ridho. "Kamu itu seharusnya kalau masuk kamar ketuk pintu dulu, bisa nggak sih!" bentak Ridho.
"Iya maaf, aku lupa."
Ridho mengembuskan napas berat. Seolah kehadiran Rara telah merusak suasana hatinya pagi ini. Rara masih berusaha membaca raut wajah suaminya dan tentang apa yang disembunyikan suaminya itu.
"Mas, apa yang kamu sembunyikan dari aku?"
Muka Ridho berubah panik. "Sem... Sembunyiin apa? Kamu jangan mengada-ngada dan buat aku emosi pagi-pagi ya!"
Rara memasukkan kedua tangan ke dalam saku jas, pakaian perawat yang dikenakannya. "Mas, kenapa kamu akhir-akhir ini sering marah-marah melulu?" tanya Rara sendu.
Ridho menjeling, sangat tidak suka dengan pertanyaan Rara. "Itu karena ulah kamu sendiri yang sering buat aku kesal," cebik Ridho.
"Aku telah melakukan kesalahan apa padamu, Mas?" Mata Rara mulai berkaca-kaca.
"Sudahlah. Sekarang mendingan kamu berangkat sekarang. Tapi aku nggak bisa ngantar, aku sibuk!"
"Iya, aku tahu jawabanmu selalu demikian. Sibuk dan sibuk. Kamu memang nggak ada perhatiannya lagi dengan aku Mas." Tanpa permisi atau pun berpamitan Rara pergi meninggalkan Ridho yang masih berada di kamar, sambil menuruni tangga, ia mengusap pipinya yang basah.
Sementara Ridho bersikap biasa saja tentang sikap Rara. Yang tanpa tahu sikap Ridho itu telah melukai hati Rara, wanita yang telah susah payah ia perjuangakan dahulu. Tapi ketika ia telah berhasil mendapatkan Rara, namun sikapnya kini mulai berubah.
"Terserah kamu lah!" Ridho kembali mengeluarkan foto Dhanisa yang berhasil disembunyikannya dari Rara.
***
Seperti saran umi, Azzam mengajakku untuk pergi ke rumah sakit untuk mengecek kondisi kesehatanku yang terus down berapa hari ini.
Kami sudah berada di dalam mobil Honda Jazz berwarna merah. Mobil milik Abah, yang dibawa dari Jakarta oleh Ayah Ahsan. Kebetulan mobil Azzam sedang di servis di bengkel. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, menyusuri jalanan pagi, pukul sembilan pagi jalanan mulai rapat.
"Kapan-kapan mau tidak abang ajarin menyetir mobil seperti ini?" tanya Azzam.
"Memangnya abang ngebolehin?" tanyaku balik.
"Ya tentu boleh. Kan enak kalau Nisa bisa menyetir mobil, kalau sewaktu ada keperluan mendadak dan abang tidak ada di rumah Nisa bisa keluar pakai mobil. Atau misalkan abanh sedang cape, kita bisa beegantian. Nisa yang menyetir dan abang yang meluk."
"Ih, dasar Pak Dosen genit! Jangan-jangan sama mahasiswanya juga gitu lagi!"
Azzam tertawa riang.
"Ya tidak lah sayang. Mana berani. Yang ada abang yang kena semprot sama istri," tawa Azzam.
Aku bergelenjotan di bahu Azzam, menyandarkan kepalaku di pundaknya. "Hmm, bener. Siapa istri abang?"
Tangan kanan Azzam masih memegang kemudi. Sementara tangan kirinya di arahkan ke kepalaku. Ia mengusap kepalaku yang tertutup hijab dengan pelan. "Yah yang ini lah, yang hobinya manja-manja seperti ini siapa lagi coba"
Aku tersipu malu. Azzam masih melajukan mobil menuju rumah sakit Harapan Bunda yang jarak tempuhnya hanya sekitar 18 menit. Sekarang mobil telah melesat ke arah selatan. Sebentar lagi akan sampai.
__ADS_1