
Sudah beberapa kali aku bolak-balik kamar mandi. Beruntung di kamar tidur utama kami memiliki kamar mandi jadi tidak perlu keluar masuk ataupun naik turun dari kamar ke toilet, kamar ke toilet tentu itu sangat melelahkan. Terlebih lagi tubuhku sudah merasa lemas sekarang.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Dari arah toilet mataku mengekor melihat ke sisi tempat tidur. Belum ada Azzam di ranjang, mungkin saja dia masih beres-beres di bawah bersama ayah. Aku memegang perutku yang masih saja melilit.
"Ya Allah apa aku salah makan? Kenapa aku pusing dan mual begini?" kataku memijat pelipusku. Saat ini aku bisa merasakan keringat telah bercucuran di kening. Kepala semangkin pening dan bahkan mulai samar-samar aku melihat benda-benda yang ada di sekitar.
"Apa jangan-jangan aku ke racunan makanan lagi?" pikirku menduga-duga.
Dengan sekuat tenaga, aku berjalan terseok menuju kasur. Aku meraih handphone yang berada di atas nakas ingin menelepon Azzam.
Telepon tersambung.
"Sayang, masih sibuk di bawah?"
"Tinggal membereskan bagian ruang tamu lagi sayang. Kenapa?
"Bisa ke atas sebentar?"
"Kenapa? Tidak sabar ingin tidur berdua abang ya," tegelak Azzam di seberang usai menggodaku.
Aku masih menyeka keringatku, dan berusaha membalas tawaannya pula, meski ucapan Azzam semangkin membuat kepala semangkin pusing.
"Oh ya sudah. Abang lanjutkan saja membereskan beberapa barang di bawah," sahutku lemah seraya menyandarkan punggungku ke kepala ranjang.
"Ada apa, sayang? Kenapa abang dengan suara Nisa seperti tak bersemangat?"
"Nggak papa kok?" balasku singkat.
"Hmm... Abang tidak yakin. Ya sudah, abang naik ke atas sekarang ya."
Aku menutup teleponku, lalu meletakkan ponsel kembali di nakas.
Dengan tangan gemetar aku berusaha meraih geras berisikan air mineral. Tenggorokanku terasa sangat kering, mungkin karena aku telah banyak mengeluarkan keringat meski malam semangkin larut dan udara di luar mulai merambat dingin.
Suara dentingan keras menghantam lantai, suaranya begitu nyaring. Gelas yang aku pegang malah terjatuh ke lantai. Nampaknya pekerjaanku bertambah dengan harus membersihkan pecahan gelas ini.
"Sayang, apa yang Nisa lakukan?" tanya Azzam menatapku yang tengah berjongkok memunguti pecahan gelas.
"Ini, tadi gelas di nakas pecah."
Azzam turut berjongkok dan memegang pergelangan tanganku. Ia membuang pecahan beling yang aku pungut.
"Astagfirullah Nisa jangan begitu nanti tanganmu luka, bagaimana? Sudah biar abang yang bersihkan nanti."
Aku mengalah dan kembali berdiri. Sementara Azzam mengambil sapu dan serokan sampah. Ia membersihakan pecahan gelas tadi lalu membuangnya ke tempat sampah.
Dengan masih berdiri di tepian tempat tidur, aku mengerjap-ngerjap mata, kadang sesekali aku memejamkannya berharap pusing yang aku rasakan saat ini bisa hilang. Tapi alhasil pusing itu malah bertambah. Aku mulai terhuyung, tidak mampu menyeimbangkan badan. Akhirnya aku memilih untuk duduk di tepi ranjang.
Azzam kembali dengan membawa segelas air dan turut duduk di sebelahku setelahnya.
"Ini minumlah?" Azzam menangsurkan segelas air mineral.
Dengan kedua tangan aku mengenggam erat gelas yang ada di tangan Azzam. Tapi Azzam turut membantu untuk merapatkan gelas ke bibirku.
"Nisa kenapa? Kenapa gelasnya bisa jatuh?" tanya Azzam dengan tatapan sendu, melihatku yang pucat. "Apa sakit lagi, sayang?" Azzam meraih beberapa helai tissue dan menggunakannya untuk menyeka keringat di dahiku.
"Entahlah. Beberapa hari ini badan Nisa lemas," ucapku,
Netra Azzam mengekor pada jam beker yang menunjukkan angka sebelas.
"Sudah jam sebelas. Istirahatlah."
Aku mengiyakan dan berlanjut membaringkan tubuh di atas tempat tidur. Azzam membantu manarik selimut menutupi hingga sebatas perut.
"Apa masih sama seperti kemarin?" sambil membenarkan selimut.
"Iya."
Azzam meraih tangan kananku dan mengecupnya. "Tangan Nisa dingin sekali," ucapnya.
Azzam menarik laci nakas dan mengeluarkan minyak telon, mengusapkannya pada kedua tanganku.
"Apa kita ke dokter saja malam ini, sayang." tutur Azzam, mengusap pipiku dan keningku.
"Tapi ini sudah larut malam. Sepertinya besok saja."
__ADS_1
"Sudah makan?"
Aku menggeleng.
"Ya Allah. Ini yang abang tidak suka," kesal Azzam yang melihatku keras kepala. "Jadi dari tadi ini perut belum terisi?" Azzam mengusap perutku.
"Tapi Nisa nggak mood," ucapku manja.
"Tidak bisa Nisa. Kalau terkena maag bagimana? Sudah jangan membantah perkataan suami, sayang."
Aku hanya bisa menghela napas, melihat Azzam yang sudah pergi meninggalkan kamar.
Pasti dia mau menyiapkan makan. Huft!
***
Rara menatap suaminya yang tengah berbaring sebelahnya. Tetapi mata suaminya itu belum terpejam ia sibuk memainkan ponsel. Tidak tahu apa yang sedang diketiknya di ponsel.
"Mas, kok belum tidur?"
"Udah kamu aja Ra yang tidur duluan."
Rara menarik napas. Ia menyadari beberapa hari ini ia melihat gelagat suaminya yang semangkin dingin, dan cuek bahkan acuh tak acuh. Rara hanya berpikir bahwa ini efek ucapan orang tua Ridho tentang masalah belum hadir anak di tengah-tengah kami.
"Mas"
"Hmm" sahutnya dengan mata masih belum leka menatap ponsel.
"Kenapa aku merasa kamu berubah sekarang."
Ridho memalingkan wajahnya dari ponsel. "Berubah apa sih, Ra? Udah nggak usah mikir aneh-aneh," jawab Ridho dengan malas.
"Nggak tau aku sih ngerasa gitu."
"Ah, terserah kamu lah." Ridho menyingkap selimutnya dan beranjak dari tempat tidur.
"Kamu mau kemana, Mas?"
"Mau nonton televisi di depan. Aku belum ngantuk."
Tanpa sadar air mata Rara mencelos jatuh. Rara merubah posisi tidur menyamping. Menatap foto pernikahan mereka yang terpajang di atas nakas. Foto manis dan nampak begitu bahagia dengan balutan pakaian berwarna putih. Putih yang melambangkan kesucian. Sama sucinya dengan penyatuan ikatan pernikahan mereka, meski dengan tantangan yang bergitu berat. Dua keluarga yang saling menentang hubungan mereka. Namun, Ridho dan Rara. Mereka sama-sama berjuang untuk memberikan kepercayaan itu. Tapi saat ini mereka dihadapkan kembali pada cobaan, dengan belum hadirnya buah hati di antara Rara dan Ridho. Hal itu membuat hubungan keluarga Ridho dan Rara kembali merenggang. Apalagi ibu mertua Rara atau orang tua Ridho menginginkan putranya agar menikah lagi demi menimang cucu.
Air mata Rara semangkin rapat jatuh membasahi bantal yang menyangga kepalanya, ditemani dengan lampu yang temaram.
"Mas, apa itu yang membuatmu berubah? Sikapmu begitu semangkin membuatku merasa bersalah. Mungkin benar kata orang tua kita Mas, kita memang tidak pantas untuk bersanding," ucap Rara lirih sambil mengusap dingin foto mereka berdua.
***
"Zam, makan untuk siapa itu?" tanya Umi—ibu Azzam, melohat anaknya sedang menyendokkan nasi dan beberapa lauk ke dalam piring berwarna putih.
"Untuk Nisa, Umi. Ternyata dia belum makan daritadi umi."
"Padahal umi sudah menyuruhnya tadi, tapi Nisa nanti. Alasannya tidak selera"
"Memang begitu Umi, keras kepalanya masih belum hilang."
"Kenapa lagi Nisa, Zam?" tanya ibu saat menghampiri menantunya itu. Ia baru muncul dari arah pintu belakang.
"Kata Nisa tadi lemas, dan pusing," jawab Azzam.
"Sudah cek ke dokter belum?" Umi bertanya sambil menyusun piring-piring ke rak-rak piring.
"Belum, Umi."
"Coba saja besok antar istrimu ke rumah sakit, Nak," saran Umi.
"Nisa, cerita sama ibu katanya sudah dua hari dia mengeluh dengan sakit sama."
Azzam mengalihkan tatapan ke Ibu Hamidah. "Iya memang, Bu. Kemarin dia mual dan pusing."
Umi mendekat ke Bu Hamidah. Ia mencolek lengan Hamidah. "Jangan-jangan ngisi dia, Idah," senyum Umi.
Ibu Hamidah mengangguk. "Bisa jadi."
Azzam yang mendengar mengernyit. "Hah?"
__ADS_1
"Biar anak umi ini tahu dan kami juga tidak penasaran, sebaiknya besok kamu antar Nisa ke rumah sakit, Nak." senyum ibu sumringah.
"Iya Umi. Besok Azzam memang rencana Azzam ingin membawa Nisa ke rumah sakit. Kalau gitu Azzam ke atas dulu ya, umi, ibu." Azzam meninggalkan dapur menuju ke kamar lantai atas kembali dengan membawakan sepiring nasi dan juga susu untuk istrinya.
***
Aku masih berdiam diri dalam balutan selimut berwarna biru laut yang menutupi separuh tubuhku. Mataku terpejam rapat, tapi sebenarnya aku belum tidur. Hanya berusaha untuk meredam rasa nyeri di kepala.
KRIEKK...
Pintu kamar terbuka, Azzam muncul di balik pintu.
"Nisa?" Azzam mengusap pipiku pelan.
Aku mengerjap, ketika menyadari adanya suara dan sentuhan yang mengenai wajahku. Pelan dan perlahan aku membuka mata.
"Makan dulu, sayang." Azzam duduk di tepi ranjang dan meletakkan gelas di nakas.
Aku beringsut bangun.
Azzam mulai menyuapkan sejumput nasi dan mendapatkannya ke mulutku.
"Ayo.. Aa" Azzam memintaku untuk membuka mulut. Tapi aku menolaknya, sama sekali aku tidak minat untuk makan malam ini.
"Nisa?" Azzam melototkan matanya, isyarat agar aku menuruti keinginannya. "Ayolah dikit saja," nada lembut.
Aku menuruti keinginannya.
Tapi baru tiga suapan berturut-turut aku meminta Azzam untuk menyudahi suapan beikutnya.
"Sudah?"
"Iya"
"Ayolah satu sendok lagi sayang."
"Nggak mau." Aku menggeleng.
Azzam menghela dan meletakkan piring ditangannya, lalu mengambil gelas berisi air mineral.
"Besok pagi kita ke rumah sakit ya, abang khawatir sudah dua hari Nisa mengeluh sakit yang sama."
"Iya,"
Azzam tersenyum seraya mengelus kepalaku. "Nah begitu dong, nurut. Sekarang Nisa boleh tidur."
"Abang nggak tidur juga?"
"Iya sebentar lagi. Abang mau taruh ini di bawah dulu, ya" Azzam menunjuk piring makan yang dibawanya tadi untukku.
Aku menarik tangan Azzam. "Abang biarlah piring itu sana. Nisa mau abang tidur dengan Nisa sekarang."
"Ya Allah. Kenapa istri abang jadi manja begini sih," colek Azzam.
Aku tersenyum merona ketika Azzam mencoel pipiku.
"Biarin." Aku menggandeng tangannya.
"Ya sudah. Tapi lepasin dulu tangannya sayang. Abang mau ke toilet sebentar."
Azzam melepaskan peci yang melekat di kepalanya menutupi rambut hitam Azzam. Ia menuju kamar mandi. Aku tahu dia pasti ingin mengambil air wudhu. Azzam selalu begitu ketika hendak berangkat kerja atau hendak tidur, ia tentu selalu berwudhu lebih dahulu.
Wudhu tentu sebagai suatu anjuran sebelum orang melakukan ibadah-ibadahnya kepada Allah. Berwudhu berarti bersuci. Berwudhu juga mengandung nilai ibadah yang tinggi. Sebab ketika seseorang dalam keadaan suci. Jika seseorang berada dalam keadaan suci, berarti ia dekat dengan Allah karena Allah akan dekat dan cinta kepada orang-orang yang berada dalam keadaan suci.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa tidur dimalam hari dalam keadaan suci (berwudhu’) maka Malaikat akan tetap mengikuti, lalu ketika ia bangun niscaya Malaikat itu akan berucap ‘Ya Allah ampunilah hamba mu si fulan, kerana ia tidur di malam hari dalam keadaan selalu suci". (HR Ibnu Hibban dari Ibnu Umar r.a.)
Dari Umar bin Harits bahwa Nabi bersabda :
”Barangsiapa tidur dalam keadaan berwudhu ,maka apabila mati disaat tidur maka matinya dalam keadaan syahid disisi Allah”.
Maka, orang yang berwudhu sebelum tidur akan memperoleh posisi yang tinggi disisi Allah. Sehingga dengan berwudhu sebelum tidur merupakan anjuran Rasulullah SAW yang harus dikerjakan bila seseorang ingin memperoleh kemuliaan disisi Allah.
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
__ADS_1