Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 96. Jebakan (2)


__ADS_3

Dengan perasaan senang, Azzam melangkah masuk sembawa katong plastik berisikan buah kedondong.


"Nisa kamu dimana sayang, abang bawa nih buat kamu," Azzam sudah mencari ke kamar bahkan sampai dapur tak jua mendapati sosok yang dicarinya.


"Umi, mana Nisa ya?" tanya Azzam tengah mendapati Ibunya menata bunga-bunga yang tergantung di samping beranda rumah.


"Tadi keluar sebentar katanya," ucap ibu dengan masih memotong tangkai daun bunga yang telah mengering dan terlihat menganggu.


Azzam mengernyit dahi. "Keluar kemana, Umi?"


"Katanya mau ke rumah Rara. Nggak tau Umi ada apa yang jelas tadi umi lihat Nisa buru-buru begitu," jelas Umi singkat.


"Dari tadi?"


"Nggak kok, barusan mungkin sudah lebih 10 menit lalu. Kenapa sih memangnya? Lagi pula biarlah, dia hanya ingin berkunjung ke rumah Rara. Kamu ih!" gemas Umi Azzam melihat anak sekhawatir itu saat tahu Nisa tidak di rumah.


Bukan masalah melarang atau tidaknya yang tengah Azzam pikirkan saat ini. Tapi rasa takut Azzam pada Ridho jika ia melakukan sesuatu hal pada istrinya. Terlebih cerita yang pernah Azzam dengan bahwa ia pernah dengan lancang menyelipa masuk ke kamar mereka berdua. Berbicara pada Azzam bahwa Nisa telah mengoda dan bahkan menyukainya hampir saja membuat Azzam panas hati. Laki-laki itu hanya ingin merusak kepercayaannya saja.


Tanpa berpikir panjang, Azzam melangkah masuk kembali ke dalam rumah. Meletakkan buah kedondong di atas meja makan dan mencari kunci mobilnya kembali.


Berkali-kali Azzam mengecek saku baju dan celananya, tapi tak berhasil menemukan kunci tadi.


"Ya Allah dimana kunci mobil aku letakkan tadi?"


Sebuah dering panggilan masuk dari istrinya berbunyi, dengan cepat Azzam mengangkatnya.


"Assalamualaikum, Nisa. Nisa dimana? Apa benar di rumah Rara."


Tak ada sahutan dari ujung telepon, samar-samar hanya suara gaduh dan benda jatuh yang berhasil ditangkap gendang telinganya.


Azzam semangkin tak mampu membendung kekhawatirannya. Takut terjadi sesuatu. Dengan cepat ia berusaha mencari lagi kunci mobil itu. Azzam berlari masuk ke dalam kamar dan hampir saja kepalanya kejedot pintu karena buru-buru. Pikiran sudah kalut, di kamar pun tidak ada.


"Astagfirullah Azzam! Hampir saja!" kaget Umi ketika tengah membawa seember air Azzam muncul kelyar dari dalam kamar sambil sedikit berlari dan bahkan hampir menabrak umi.


"Maaf Umi. Umi. Umi lihat kunci tidak?"


"Kunci apa? Kalau kunci rumah itu di atas meja"


Azzam menggaruk keningnya. "Bukan mi, bukan kunci rumah tapi kunci mobil."


"Mana umi tau. Orang kamu tadi yang pakai kenapa tanyanya dengan umi."


"Ya, siapa tau umi menemukan kuncinya."


"Tidak, umi tidak melihatnya."


"Ya sudah, terima kasih, Umi. Kalau begitu Azzam pakai sepeda saja. Azzam susul Nisa dulu Umi ke rumah Rara. Assalamu'alaikum," pamit Azzam kemudian berlari menjauh dari umi menuju garasi mengambil sepedanya yang terparkir di sebelah mobil.


"Wa'alaikumsalam" Umi menggeleng-geleng melihat tingkah anaknya yang akan menjadi seorang ayah itu.


***

__ADS_1


Air mataku semangkin berderai. Tubuhku bergetar hebat. Aku sangat takut saat ini. Ridho tengah marah hebat dan membanting guci kecil di atas meja.


"Aku mohon Ridho jangan lakukan apapun!"


Napas Ridho masih tak beraturan. "Apa? Kamu mau berbicara apa lagi sayang! Tenang aku tidak akan melukaimu, karena kamu hanya milikku," ucap Ridho sembari melangkah untuk lebih mendekat ke padaku yang terdiam di sudut ruangan.


"Ayo sini mendekatlah denganku. Kau jangan takut begitu!"


"Ridho please jangan mendekat." Bentakku, tapi Ridho tak memperdulikan sedikitpun ucapanku. Semangkin lama ia semangkin dekat bahkan kini tangannya telah lancang memegang kedua pundakku sambil menatap netra mataku.


Aku memejamkan mata rapat-rapat. "Ya Allah tolong selamatkan aku dari laki-laki bejat ini!"


Dengan mengumpulkan keberanian, dan sekuat tenaga aku berteriak. "TOLONG!"


Tapi Ridho membekap mulutku dengan cepat, bahkan menyeret tubuhku ke atas tempat tidur dengan kasar. Aku benar-benar tidak menyangka kenapa aku bisa bertemu dengan laki-laki sekasar ini.


Tubuhku terhempas di atas tempat tidur. Ridho semangkin menatap penuh napsu. Membuat aku sangat takut menatap wajah di hadapanku. Aku memilih memalingkan wajah.


"Aku mencintaimu, Dhanisa! Tidakkah kau mau mengerti akan perasaanku, tolong lihatlah aku. Lihatlah sedikit saja wajah tampanku ini," ujar Ridho dengan suara berbisik.


Aku menangis terisak. Bisikan Ridho semangkin membuat aku merasa sakit saat pria ini melafalkan kalimat itu. Bagaimana mungkin Ridho bisa menyimpan perasaan obsesi untuk menyukaiku dan beringinan untuk memiliki aku, yang dia tahu bahwa aku telah menikah dengan Azzam, telah memiliki suami bahkan tidakkah dia tahu aku tengah mengandung anak Azzam.


Bibirku gemetaran, aku coba menatap mata Ridho. "Kubur dalam-dalam perasaanmu itu Ridho. Itu perasaan terlarang. Aku tidak mencintaimu, tidak menyimpan perasaan sedikitpun padamu. Aku hanya mencintai suamiku. Dan bahkan aku tlah mengandung buah cinta kami," tegasku.


Ridho menempelkan ujung telunjuknya ke bibirku. "Hustt! Sayang, aku tak memikirkan itu. Aku hanya ingin memilikimu." Ridho membelai wajahku, dengan cepat tangannya aku tepis. "Jangan sentuh aku!" teriakku, dengan suara bergetar.


Laki-laki mulai geram dengan bentakkanku. "DIAM!" ridho membekap mulutku, sehingga sudah ku pastikan aku tak bisa berteriak hanya dapat bergumam tak jelas, sambil terisak. Merasa dilecehkan dengan pria ini.


Tapi sungguh naas pintu tertutup rapat dan terkunci. Apakah hari ini aku akan menyerakan diriku pada laki-laki ini. Derasnya cairan bening semangkin tak terbendung saat mengingat wajah Azzam. Apakah aku akan melukai perasaannya kembali untuk kedua kalinya.


"Abang tolong Nisa!"


Aku menggedor-gedor pintu. "Tolong! Siapapun yang di luar tolong-tolong aku!"


Tawa Ridho menyeringai. "Kamu mau kemana? Pintu sudah aku kunci. Jadi kamu nggak akan bisa kemana-mana."


Aku berbalik badan kembali. Tubuhku seketika luruh tak berdaya di lantai. Di sisi lain Ridho merasa puas dan menang.


"Nisa! Nisa kamu dimana?" Samar-samar aku mendengar suara laki-laki berteriak dari luar memangil-manggil namaku.


Aku masih punya kesempatan. Cepat aku bangkit dan menggedor-gedor pintu, memberi tanda bahwa ada orang yang terkunci kamar ini. "TOLONG! siapapun di luar tolong aku. Aku mohon!"


Suara gedoran balasan dari luar bisa terdengar olehku. "Nisa! Nisa di dalam kah? Ini abang tolong bukakan pintunya?"


Aku menangis terharu ketika mendapati suara Azzam terdengar. "Bang...abang, Nisa di dalam tolong Nisa. Hiks. Nisa terkunci di dalam," kataku dengan suara lebih keras agar Azzam mendengarkan kalimatku.


"Sial, kenapa pria itu ke sini!" geram Ridho bukan kepalang.


Dengan muka memerah memendam amarah Ridho mengambil sesuatu di dalam laci nakas. Betapa terkejutnya aku saat di tangan kanannya telah menggenggam sebuah benda tajam yaitu pisau.


Ridho mengambil kunci dan membukakan pintu. Wajah Azzam khawatir langsung menyambut ketika pintu pertama kaki dibuka.

__ADS_1


"Bang!" panggilku.


"Awas!" Ridho menjauhkan tubuhku dari sisi pintu, ia melangkah mendekat pada Azzam tangan kanannya menyembunyikan senjata tajam itu di belakang punggungnya.


"Kau sudah menganggu ketenanganku Azzam!" murka Ridho.


"Apa yang kau lakukan pada istriku, hah! Dari awal aku sudah menduga kau punya niat tak baik," celetuk Azzam.


"Hah! Kau tau? Dan sekarang mau kamu apa?"


"Kembalikan istriku. Kenapa kau menganggu apa yang bukan menjadi milikmu! Kau sudah punya istri masih ingin mengambil istri orang lain. Coba sekali saja kau pikirkan bagaimana perasaan istrimu saat tau suaminya bertindak demikian Ridho!"


Dagu Ridho mengencang. Menahan geram dan amarah. Tangan Ridho mengepal kencang, aku terus mengamati pisau itu yang gemetar saat digenggam Ridho.


"Ya Allah lindungilah suamiku," doaku dalam hati. "Aku harus melakukan sesuatu sebelum dia bertindak di luar kendali."


"Bang, awas!" Aku berlari menahan lengan Ridho yang hendak menghujamkan pisau ke arah tubuh Azzam. Melihat situasi di depannya, Azzam langsung diam membeku. Sekitar lima senti lagi pisau mendarat di dada kanannya. Beruntung aku mampu menahan melayangnya tangan Ridho demi menancapkan pisau kecil itu.


Ridho menggerakkan kepalanya ke samping, melihatku seperti penuh kesal. "Kau! Kau jangan menganggu aku, Dhanisa!" Pria tadi mendorong tubuhku dengan keras membuat aku terjerembab jatuh ke belakang dengan posisi kepala lebih dulu menghantam sudut meja, dan tubuhku langsung jatuh tersungkur ke lantai.


"Aw... Sssttt... " Meringis kesakitan, saat ini aku tak memperdulikan kepalaku yang memar atau berdarah yang terpenting pria itu tak berhasil menghujamkan pisaunya ke tubuh Azzam.


"Nisa!" Teriak Azzam langsung berlari melihatku jatuh tersungkur di lantai.


Ridho melihat situasi yang terjadi saat ini.


"Nisa, sayang ayo bangun. Apa yang sakit sayang." Azzam memelukku dengan erat dan sangat khawatir.


Aku memaksakan senyum meski menahan rasa sakit. Rasa sakit yang sama seperti waktu itu. Tapi aku mencoba untuk bersikap biasa. Supaya tidak menambah rasa khawatir Azzam.


"Sayang Nisa nggakpapa," ucapku lirih dan lemah. Pandanganku mulai kabur. Netraku masih bisa menangkap sosok wanita berdiri di belakang Ridho.


"Ridho!" panggil wanita itu. "Aku nggak menyangka kamu akan berbuat senekat ini! Apa yang kamu lakukan Ridho kamu hampir saja membunuh dua nyawa. Kamu sadar itu tidak!" murka wanita tersebut.


"Ra. Rara!" Pisau itu luruh tangan tangan Ridho menghantai ubin lantai kamar yang berwarna abu-abu.


"Mbak, Mbak Rara. Aku baik-baik saja. Tidak usah khawatir." Aku cepat melepaskan pelukan Azzam dan mencoba bersikap biasa di depan Rara supaya ia tak sebegitu marah pada Ridho.


Tapi. "Arrhhhggg... " Aku tak bisa menyembunyikannya, aku kembali mengeram kesakitan sambil memegangi area perutku.


"Sayang, sayang... Sudah-sudah jangan dipaksakan. Kita kerumah sakit sekarang. Sebelum sesuatu yang buruk terjadi. Ayo!" Azzam membantu memapahku.


"Bang, Nisa nggak papa kok." Meski berucap demikian tapi aku benar-benar tak mampu menahan sakit di tubuhku. Rasa sakit yang teramat, membuat pandanganku mulai menggelap.


"Bang, ayo pulang" ajakku. Namun, baru mencapai ambang pintu aku sudah tak kuasa. Aku tidak bisa melihat apa-apa lagi. Tubuhku tak mampu menumpuh beban lagi tubuhku hampir jatuh ke dasar lantai. Beruntungnya, Azzam mampu menggapai dan menimang tubuhku.


"Nisa. Nisa, bangun sayang," suara itu samar-samar terdengar dari gendang telingaku. Tapi aku tak mampu membalasnya ataupun membuka mata. "Ridho! kalau samlai istriku dan bayiku kenapa-kenapa, aku tidak akan mengampunimu Ridho!"


***


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2