
Rara duduk termenung di mejanya, tatapan Rara kosong sementara tangan kanannya memegang bulpoin yang telah digunakannya tadi untuk menis resep obat untuk pasiennya. Ia tampak sesekali membolak balik bulpoin hitam itu, dan mengetuk ngetuknya ke meja berkali-kali.
Perasaannya semangkin tak karuan. Rara hanya sedang memikirkan sesuatu tentang kesalahan apa yang telah diperbuatnya hingga suaminya bersikap demikian pada Rara. Padahal selama ini, mereka berdua tidak pernah bertengkar perihal masalah yang besar. Rara juga masih melayani Ridho dengan baik, membuat sarapan, membereskan pekerjaan rumah, yang jelas pekerjaan rumah tangga selalu ia lakukan. Termasuk melayani Ridho. Tapi Rara masih heran saja, kenapa bisa Ridho berubah menjadi lebih sering emosi dan berkata dengan nada meninggi.
"Ra...!" Panggil Nabila, rekan perawat Rara yang bekerja di RS Medical.
"Rara!" karena panggilan Nabila tidak direspon Rara. Nabila kemudian menepuk pundak Rara dengan keras. Wanita yang sedang melamun itu sontak terkejut.
"Astagfirullah!" ucap Rara mengusap dadanya. Ia melihat Rara sedang berdiri di hadapannya.
Rara memperbaiki posisi duduknya. "Nabila?"
Nabila menatap bingung pada Rara, ia memilih duduk di kursi berhadapan dengan Rara.
"Kamu kenapa Ra? Dari pagi aku lihat kamu murung terus." Nabila mengamati raut wajah Rara. Nabila adalah teman kuliah Rara dulu, dan tidak menyangka ketika Rara bekerja di RS Medical ini, mereka kembali bertemu dan satu tim kerja.
Rara mencoba rileks. Ia menghembuskan napasnya dengan berat.
"Nggak. Nggak papa kok, Bil."
Nabila mendengus. Ia tahu kalau teman satu profesinya itu sedang berdusta.
"Ra, udahlah kamu nggak usah bohong gitu? Aku udah tau pasti ada sesuatukan? Ayo ceritalah" bujuk Nabila dengan tenang.
Rara menatap dalam manik mata Nabila. Perempuan yang selalu setia berbagi keluh kesahnya selama ini. Termasuk juga ketika Nabila sedang mengalami masalah, wanita itu tidak pernah tertutup, ia selalu terbuka tentang masalahya.
Rara mendehem. "Bila... "
"Ya"
"Kamu beneran mau tau apa yang sedang ada dipikiranku?"
Nabila mengiyakan.
"Bil, suami aku, Ridho. Aku ngerasa ada yang aneh dengan dia?"
"Aneh? Aneh gimana maksudmu?"
Rara menutup buku kecil di depannya, menatap Nabila dengan intens.
"Ridho sekarang sering banget menghindar dari aku, Ra. Setiap apa yang aku lakukan untuk dia selalu dia buat seolah-olah aku melakukan kesalahan. Dan setiap aku ajak dia jalan bersama dia nggak mau, Bil. Alasannya selalu sibuk."
Nabila menatap iba. "Kamu yang sabar ya, Ra."
Nabila tampak diam seperti sedang memikirkan sesuatu. "Apa dia kehasut dengan ucapan ibunya Ra? Kan kamu pernah bilang kalau, mertuamu sangat tidak menyukai pernikahan kalian."
Rara termenung. Selain alasan itu, ada hal lain yang mungkin membuat Ridho berubah. Itu dipikiran Rara saat ini.
"Bil, apa Ridho sangat kecewa dengan aku?"
Nabila mengerut kening. "Apa yang mesti dikecewakan dari seorang Rara, perempuan yang baik sepertimu."
"Bil, aku belum bisa memberi anak untuknya. Aku kecewa dengan diriku sendiri, Bil."
"Ra, plis. Kamu jangan menyalahkan dirimu sendiri. Ini hanya tentang waktu, Ra. Mungkin Allah belum mengizinkan di waktu ini, tapi mungkin Allah mengingin waktu yang tepat untuk kalian menerima kebahagian itu. Allah tau semua yang baik untuk kita, Ra. Dan bukannya Ridho pernah bilang tidak pernah mempermasalahkan itu kan?"
Rara menyandarkan punggung di kursi, matanya menerawang langit-langit plafon berwarna putih. "Tapi Bil. Kalau bukan itu, apa lagi? Apa coba yang membuat dia berubah. "
Nabila mengendikkan bahunya. "Ya, mana aku tau Ra." Perempuan itu, sedikit memajukan kepalanya mendekat ke Rara. "Kamu coba aja cari tau apa yang membuat di berubah seperti yang kamu bilang. Atau nggak kalian bicarakan lah dengan tenang dan secara baik-baik alias dengan kepala dingin. Apalagi yang aku taukan kalau Ridho itu orangnya mudah emosi gitu." saran Nabila.
Rara menyetujui saran Nabila.
***
Aku dan Azzam bingung ketika Dokter yang bernama Heriansyah merujuk untuk ke dokter kandungan.
"Sayang, kok kita mesti ke ruangan ini sih?" tanyaku heran dan bingung.
"Udah, kita turuti saja apa kata Dokter Heriansyah tadi." Azzam membawaku ke ruangan yang telah di tunjuk oleh Dokter Heriansyah. Di kursi tunggu sudah ada beberapa ibu hamil yang tengah menunggu antrian untuk melakukan pengecekan. Azzam turut duduk di sebelahku.
Lebih kurang sepuluh menit kemudian, aku mendongak ketika namaku dipanggil. Aku berdiri dan ikut menarik tangan Azzam agar ikut bersamaku. Ia hanya pasrah tanpa protes.
Seorang suster cantik menuntun kita menuju ruangan spesialis kandungan. Aku dan Azzam masuk ke dalam disambut oleh dokter muda berkacamata yang sebelumnya tengah sibuk memeriksa laporan.
"Selamat datang nyonya," sambutnya ramah juga senyum manis terukir di wajahnya.
"Tidak aku sangka dokter spesialisnya adalah laki-laki. Apa dokter manis ini yang akan memeriksaku. Beruntunglah aku mengajak Azzam masuk. Kalau tidak tentu aku malu sendiri." Batinku, lalu tersenyum melihat wajah dokter itu.
"Nisa, jaga pandangan!" bisik Azzam.
Aku mencubit pinggangnya. "Sayang, cemburu amat sih!" bisikku pelan.
Dokter muda itu membenarkan kursinya, menyingkirkan lembaran kertas putih yang ada di hadapannya. Tangannya di tautkan ke depan, menatap aku sebagai pasiennya dengan serius.
"Dengan Ny. Dhanisa?" tanyanya selepas membaca lembaran yang baru saja di antar suster tadi.
Dokter Heriansyah mulai menanyaiku beberapa hal. Sesekali aku mengangguk ketika dokter melontarkan beberapa pertanyaan untukku. Di akhir pertanyaannya dokter bernama Heriansyah itu tersenyum kemudian meminta aku untuk melakukan pengecekan di bilik sebelah.
"Tuan boleh tunggu di sini sebentar. Saya akan memeriksa Ny. Dhanisa sebentar ya."
"Mari Ny. Dhanisa!"
Aku mengikuti kemana Dokter Heriansyah akan membawaku. Ketika tiba di ruangan pemeriksaan, ternyata sudah ada perawat pula di sana, mungkin dia yang membantu pekerjaan Dokter Heriansyah.
Setelah berbaring di brankar, dokter mulai melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
__ADS_1
***
Di luar gerbang Ridho sedang diam-diam mengintai rumah yang ditempati Azzam. Ia ingin mencuri-curi waktu untuk bisa menemui istri Azzam itu. Di garasi, tidak ada mobil. Ridho tersenyum singkat.
"Pasti Azzam sedang keluar pagi ini," ucap Ridho.
Dengan langkah gontai ia mencoba memasuki halaman rumah Azzam. Tapi, baru hendak melangkah. Seorang wanita dan pria paruh baya keluar dan duduk di teras rumah. Ridho melihat keduanya sedang bercengkrama di depan.
Ridho memukul tembok pagar. "Ah, sial. Ternyata ada orang lain di rumah ini? Apa Dhanisa ada di dalam ya?"
Ridho kembali menatap benda yang ada di tangannya. Sebuah rangkaian bunga berwarna pink, diperuntukkan untuk Dhanisa.
"Bagaimana caranya aku memberikan bunga ini untuk Nisa, sementara di depan ada orang lain. Tidak mungkin aku memberikan bunga ini terang-terangan bisa-bisa mereka curiga dan tau maksudku." Ridho mulai berpikir.
Pria yang mengendap-ngendap tadi melihat situasi sekitar. Tanpa sengaja netra matanya menangkap sosok pengendara ojol yang tengah mengantar penumpangnya.
"Mas... Mas... " Ridho melambaikan tangannya. Dan sepertinya si ojol menyadari dan melihatnya.
Si pengendara mendekat.
"Ada apa, Pak?"
"Mas, boleh pinjam helm dan jaketnya."
"Tapi?"
Ridho menyodorkan uang berwarna merah. "Ini untuk kamu."
Si tukang ojek menyambutnya dengan senang hati.
"Ya sudah ini, Pak." Pria itu mulai melepaskan jaket dan helmnya lalu memberikan pada Ridho.
Ridho mulai mengenakan masker dan menunggangi motor matic berwarna hitam, melajukannya motor itu masuk ke perkarangan rumah Azzam.
"Selamat pagi menjelang siang Pak, Bu," sapa Ridho, mengelabui dua orang di depannya.
"Ya ada apa, Mas?" tanya ayah Ahsan.
"Maaf dengan siapa ya, Pak?"
"Saya Ahsan dan istri saya Hamidah. Ada apa?"
Ridho yang menyamar pura-pura membacakan pesanan paket.
"Apa ini rumah Dhanisa? Dan kalau saya lihat alamatnya di sini, Pak." Ridho celingak celinguk.
"Iya betul."
"Apa Dhanisa nya ada?"
'Oh ini orang tua Dhanisa toh' Ridho membatin kemudian tersenyum samar dibalik maskernya, meski dua orang paruh baya di depannya tak melihat.
"Ini, Pak ada pesanan. Saya diminta untuk mengantar pesanan ini." Ridho menyodorkan buket bungga berwarna pink.
"Dari siapa ya?" tanya Umi Hamidah, yang ikut berdiri di sebelah suaminya.
Ridho menggaruk kepalanya. 'Dari siapa ya? Tidak mungkin aku bilang dari Ridho. Bisa-bisa ketahuan."
"Dari suaminya Buk."
Umi Hamidah mengernyit, lalu menatap suaminya.
"Yah, tadikan Azzam keluar dengan Nisa. Kenapa Azzam mengirim paket bunga seperti ini segala, kan dia bisa langsung saja memberikannya ke Nisa?" Heran ibu Hamidah.
"Hm, Pak Bu. Kayak nggak tau anak muda zaman sekarang aja kan bisa jadi itu cara romantis pasangan saat ini, Bu," senyum Ridho berusaha menghilangkan kecurigaan wanita paruh baya itu. Ridho tidak ingin mereka tahu kalau dirinya sedang mengincar istri Azzam.
"Kalau bergitu saya permisi, Pak, Bu. Terima kasih," pamitnya kembali menuju motornya.
Sebelum menyalakan starter motor, Ridho tersenyum puas. "Nisa I Love You," lirihnya kemudian menyalakan mesin motor meninggalkan rumah Azzam.
***
Dokter Hediansyah telah keluar lebih dulu, usai memeriksa istrinya.
"Tuan silahkan duduk," pinta Dokter Heriansyah
Azzam berdiri dan duduk di kursi tepat dihadapan Dokter Heriansyah.
"Anda suaminya Ny. Dhanisa?"
Azzam mengangguk. "Iya, Dok. Bagaimana keadaan istri saya? Apa ada sesuatu yang terjadi dengannya?"
Dokter Heriansyah tersenyum. Tenang saja, istri anda hanya kelelahan karena tidur dan makannya tidak teratur."
"Iya dokter, memang dua hari ini istri saya sulit sekali untuk makan. Apa ada yang salah dok?"
Sang dokter menatap Azzam dengan pembawaan tenang bersahaja. "Anda hanya perlu memperhatikan istri anda saja, karena dia tengah mengandung. Dan usia kandungannya baru dua minggu. Usia yang sangat rentan sebenarnya apalagi usia istri anda juga masih di bawah 20 tahun." Penjelasan sang dokter membuat muka Azzam menegang. Apa dirinya tidak salah dengar? Nisa hamil. Azzam tersenyum lebar ada perasaan bahagia yang teramat besar.
"Iya dokter, saya akan memberi perhatian lebih untuk istri saya."
"Kalau begitu ini resep obat dan vitaminnya. Sekali lagi selamat ya tuan!" Dokter Heriansyah menjabat tangan Azzam.
"Bang, gimana nggak papakan?" tanyaku usai keluar dari kamar pemeriksaan.
Azzam tersenyum manis, dan bahkan aku merasa tatapannya berbeda dan begitu dalam.
__ADS_1
"Iya, kata dokter tidak masalah, Nisa hanya perlu banyak minum vitamin. Ya kan dokter?"
Dokter Heriansyah mengangguk dan turut tersenyum.
"Terima kasih atas resep obatnya ya dokter. Nanti saya akan belinya di apotek rumah sakit. Kalau begitu saya pamit permisi. Assalamu'alaikum." Kita berdua pamit keluar meninggalkan ruang praktek Dokter Heriansyah.
Di apotek, aku melihat Azzam tengah sibuk membeli obat. Entah obat apa saja yang dibelinya, dari tadi aku hanya di minta untuk menunggu di sini.
"Dhanisa?" sapa seorang wanita yang tentu aku mengenalinya.
"Mbak Rara?"
Rara melihat ke kiri dan ke kenan, mungkin sedang mencari dengan siapa aku kemari.
"Kamu ngapain kemari?"
"Oh itu, tadi habis cek kesehatan aja. Soalnya beberapa hari ini aku nggak enak badan, Mbak"
"Begitu ya? Gimana? Apa kata dokter?"
"Nggak tau tuh tadi dokternya cuman berbicara dengan suamiku aja. Azzam bilang sih disuruh banyak minum vitamin." Aku mengendik bahu. "Mbak sendiri tugas di sini, apa bagaimana?"
"Aku kerja di rumah sakit ini, Dhanisa."
"Oh gitu ya, Mbak."
Tak berselang lama obrolan singkat kami berdua, Azzam datang menghampiri dengan kantong plastik bening di tangannya. "Sudah?" tanyaku.
"Iya." Azzam menatap pula pada wanita yang tadi berbicara denganku.
"Rara ya?"
"Iya, aku istrinya Ridho. Oh iya aku mau minta maaf ya, karena waktu itu si Ridho sempat marahin istri kamu karena kejadian salah paham itu."
"Ah, sudah lupakan saja. Lagi pula Nisa juga sudah memaafkan Ridho. Benar begitu kan, Nisa?"
"Iya, Mbak. Nggak usah khawatir. Kan beberapa hari lalu aku udah bilang ke mbak nya. Supaya nggak usah merasa nggak enak gitu."
Rara menyengir. "Iya udah deh. Oh iya habis beli apa, Azzam?"
"Ini habis beli vitamin ini, perintah dari Dokter Heriansyah tadi." Azzam menunjukkan salah satu obat botolan yang tadi di belinya di apotek.
Rara meraih obat suplemen vitamin itu. Rara seorang perawat, tentu ia paham tentang obat-obatan termasuk obat yang dipegangnya saat ini.
"Hmm... Ya, ya. Aku tau sekarang." Rara menatap Azzam dan aku bergantian.
Azzam memicingkan mata ke Rara. Berharap agar Rara jangan membocorkan itu pada istrinya dulu, jika ia tahu semuanya.
Rara menutup mulutnya menahan tawa.
"Kenapa, Mbak Rara?"
Rara mendehem. "Hm nggak kok." Rara menilik jamnya sebentar. "Aku lanjut kerja dulu ya. Tapi sebelumnya aku mau mgucapin selamat buat kalian berdua. "
"Selamat apa?"
"Aduh, aku duluan ya." Rara berlalu tanpa memberitahu maksud ucapannya padaku.
***
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Melewati jalanan lurus yang mulai senggang. Lantunan musik islami terdengar dari audio mobil yang diputar Azzam.
"Bang!"
"Iya, Nisa?" jawabnya tanpa menoleh.
"Nisa sakit apa sih?"
Bukannya di jawab Azzam malah tersenyum.
"Mulai sekarang Niaa harus banyak istirahat tidak boleh cape-cape."
"Memangnya sakit Nisa parah banget ya?" tanyaku polos dan menatap Azzam dengan sendu.
"Tidak sayang, kan abang bilang tadi Dokter Heriansyah hanya meminta Nisa untuk istirahat. Itu saja."
"Beneran?"
"Iya," jawabnya meyakinkan. "Tidak usah cemas begitu sayang" Azzam mengusap kepalaku dengan lembut. Mobil masih melaju dengan pelan.
Aku merangkul sebelah tangan Azzam, dan menyandar di pundaknya. "Kita jalan hari ini?"
"Jalan kemana?"
"Kemana aja. Nisa bosan di rumah. Abang enak bisa kerja, setiap hari keluar rumah. Lha Nisa teperam di rumah terus, nunggu jadwal pendaftaran kuliah juga masih lama. Ijazah aja belum keluar."
"Iya-iya. Nisa, mau kemana? Abang ikut."
"Kita ke tempat Flavor Bliss Alam Sutera, setelah itu ke wisata alam kota. Boleh?"
"Boleh. Apa sih yang tidak boleh untuk istri abang?"
Aku memeluknya. "Hemmm... Makasih sayang." Hari ini tidak biasanya kalau aku mengajak Azzam dia menerima dengan mudahnya.
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
__ADS_1