
Sedari tadi aku hanya menekan-nekan tombol remote televisi. Belum sampai semenit aku melihat tayangan, aku kembali memindahkan mencari siaran lain. Itu terus yang aku lakukan. Entah sudah berapa kali aku mengganti stasiun. Semua tayangannya tidak ada yang menarik bagiku. Akhirnya aku menekan tombol merah, seketika layar televisi yang tadinya bercahaya berubah menjadi hitam.
Aku mengembuskan napas keras-keras, dan menghempaskan punggung pada sandaran jok kursi sofa. Netra mataku menatap pada jam yang berdenting.
Tidak tahu kenapa baru sehari Azzam pergi meninggalkan rumah. Tapi aku sudah merasa sepi. Mungkin karena tidak ada teman yang diajak untuk berantem lagi. Biasanya tidak hari untuk aku dan Azzam tanpa membuat keributan, meskipun itu hal sepele sekalipun. Huft!
Aku mengusap wajahku dengan kasar. Argh, kenapa aku bisa punya perasaan begini! Apa aku rindu dengan Azzam.
Aku menepis tanganku ke sembarang arah. Plis Nisa, Azzam baru pergi sehari dan dia akan balik lagi esok lusa. Kenapa kau harus gelisah dan galau.
Nggak! Nggak! Ini pasti perasaan yang salah! Ini cuman ilusi yang dibuat otakku karena lelah seharian dengan rutinitas sekolah, belum lagi ujian-ujian dadakan yang diminta Ustadz Imron yang menggantikan mata pelajaran yang diajarkan Bang Azzam tadi. Hufft!
Aku melangkah malas masuk ke kamar. Kamar ini kamarnya Abang Azzam. Tidak banyak barang yang menempel di dinding hanya ada dua ukiran kaligrafi, selebihnya bersih. Netra mataku menangkap satu bingkai foto yang terletak di nakas.
Aku duduk di tepian ranjang, meraih foto yang sudah terbingkai itu. Terasa dingin, saat tanganku meraba permukaan kaca bingkai. Laki-laki di foto ini, tampak tersenyum dengan balutan jaket berwarna dark, dengan latar sebuah gendung pencakar langit, aku rasa ini foto Azzam ambil ketika dirinya kuliah di Mesir. Tanpa sadar aku tersenyum, melihat foto ini.
Aku meletakkan foto itu kembali dan mengambil handphone yang tergeletak di sebelahnya. Tanganku sedikit ragu. Ada terbesit dipikiranku untuk menelponnya sekedar ingin mendengar suara Azzam.
"Ah, nggak ah! Nanti abang ge-er lagi, dikiranya aku kangen!" Aku simpan lagi ponsel itu ke tempat semula.
Tak sampai sedetik telepon berdering. Tanpa melihat nama yang tertera di layar aku langsung menggeser panel hijau.
"Halo, abang" sapaku begitu bersemangat.
"Heloww, nggak salah kamu manggil aku abang. Harusnya kamu itu panggil aku mbak atau ayuk," celetuk suara di balik handphone.
Aku mengerut dahi, mengangkat ponsel tepat di depan muka. Membaca nama si pemanggil. J.I.H.A.N, kataku mengeja namanya satu-satu.
"Eh, kamu Jihan, sorry aku kira siapa," balasku usai meletakkan benda pipih itu kembali ke telinga.
"Memang kamu kira, yang telepon siapa sih?"
"Nggak penting. Sekarang kamu mau ngomong apa?" Aku menepis pertanyaan Jihan. Tak perlu dia tahu tentang telepon siapa yang aku harapkan saat ini.
"Nisa, kamu lihat buku komik yang aku bawa tadi nggak?" suara Jihan gusar.
Huft! sangat tidak penting hanya untuk menanyakan komik miliknya. "Ya ampun. Kamu telepon malam-malam gini cuman mau nanyain komik doang? Nyadar kenapa udah besar bacaannya masih komik aja."
"Yee, memangnya kenapa? Semua buku bisa jadi bahan bacaan kan!? Dan itu bukan sembarang komik, punya filosofi tau buat aku"
"Arrg, terserah. Yang jelas aku nggak tau," cebikku.
"Ish! Ya udah. Assalamu'alaikum."
Jihan menutup panggilan teleponnya.
Aku menghembuskan napas lelah. Pikiran dan perasaan aneh saat ini semangkin menguras energiku. Tak lama teriakan abang Fikri dari luar ditangkap gendang telingaku.
"Kenapa Bang?"
"Ini ada paket katanya untuk kamu," ujar Abang Fikri memberikan bingkisan paket berwarna coklat.
"Makasih, Bang," Aku membawa paket itu masuk ke kamar. "Nis, Ayo makan dulu. Tuh semuanya sudah kumpul," pekik Abang Fikri lagi.
"Nanti dululah Bang. Sebentar lagi ya!" balasku sedikit berteriak dari dalam.
Abang Fikri berlalu menuju meja makan lagi. Aku lihat di sana ada Abah, Umi dan Kak Soraya duduk di meja makan. Aku sendiri belum berminat untuk makan malam. Penasaran dengan isi paketan ini.
Tanganku merobek bungkus kertas berwarna cokelat. Sebuah kotak berwarna putih. Covernya bergambar handphone. Dengan semangat aku membongkar kotaknya
Aku terbelalak dan benar saja isinya sebuah handphone. Bahkan ini handphone keluaran baru. Aku meloncat senang.
"Siapa yang mengirim ini ya?" gumamku berkali-kali membolak-balik tapi tak menemukan namanya.
Drrt...Drtt
Itu pasti Jihan yang menelpon, sudahlah!
Ponselku sudah bergetar dua kali, dipanggilan ketiga baru aku mengangkatnya.
"Aduh! Apalagi sih, kan aku udah bilang kalau aku nggak nemu apalagi ambil komik itu. Ya udah kalau kamu masih ngotot, sebagai sahabat yang bertanggungjawab besok aku bantu cari deh!" celotehku tiada putus.
"Assalamu'alaikum" sapa pemilik suara dengan nada baritonnya.
__ADS_1
Mataku membulat, kenapa suara pria yang aku dengar. Aku cek kembali nama pemanggi. Azzam. Aku menyengir lebar seraya penepuk jidat. "Wa'alaikumsalam," jawabku pelan, tak enak karena salah orang kedua kalinya. Harusnya aku gembira karena bukannya waktu Jihan menelpon tadi aku sangat berharap itu panggilan telepon dari Azzam. Huft!
"Nisa, sedang apa?"
"Sedang duduk santai"
"Sudah makan?"
"Belum"
"Kenapa belum?
"Sebentar lagi, Nisa belum lapar." Aku menghela napas sebentar. "Bang, apa kabar? Abang kenapa baru telepon Nisa sekarang?" Aku mengigit bibirku, entah timbul niatan dari mana aku jadi bertanya demikian.
"Kan Nisa sekolah, abang hanya tak ingin menganggu belajar Nisa di sekolah. Jadi, malam ini abang rasa waktu yang pas untuk menelepon"
"Abangkan bisa kirim Nisa pesan kalau abang udah sampai. Atau nggak pagi-pagi abang telepon Nisa. Bikin Nisa khawatir seharian nggak ngasih kabar!" kataku merajuk.
Aku dengar suara abang Azzam terkekeh pelan.
"Abang kenapa ketawa, memang ada yang lucu?"
"Nisa? Abang minta maaf kalau sudah buat Nisa khawatir. Tapi abang senang karena Nisa sudah mengkhwatirkan diri abang," kekehnya lagi.
Aku diam. Iya-ya, sejak kapan aku cemas memikirkan Azzam.
"Ng...nggak. Nisa cuma heran, tumben aja gitu abang nggak telepon. Kirain Nisa abang betah di sana dan dapatin gebetan baru jadi lupa telpon."
"Nisa, tidak boleh suudzhon dengan suami seperti itu"
"Iya-iya Nisa bercanda kok."
"Abang, sudah kirim messenger dengan Nisa tengah malam tadi. Tapi mungkin Nisa yang lupa atau memang belum membacanya. Abang sudah beritahu kalau abang sudah tiba dengan selamat. Coba Nisa cek inbox"
Aku menyengih dan menggaruk kepala. Aku memang belum mengecek messenger. Terasa mukaku panas karena malu he he.
"Nisa sudah terima paket belum?"
"He'em"
Aku menatap pada kotak ponsel di atas ranjang.
"Ada. Tadi ada paket. Isinya handphone baru kesukaan Nisa. Apa itu dari abang?"
"Iya"
Seketika wajahku sumringah bekali-kali lipat saat aku tahu pengirimnya adalah Azzam. "Bang, abang memang hebat dan pandai. Selalu tau apa-apa kesukaan Nisa. Love you abang!"
"Love you to sayang"
Eits 'sayang' apa aku juga perlu menggunakan kata itu. Ah, Nisa rasa nggak perlu!
"Nisa, suka?"
"Suka sekali, Bang."
'Semua pemberian abang Nisa suka. Termasuk saat abang terus di dekat Nisa. Abang itu paket komplit buat Nisa' ujarku tapi hanya aku ucapkan dalam hati sambil senyum-seyum tidak jelas.
"Halo, Nisa, kenapa diam?"
"Haloo, nggak kok"
"Ya sudah sekarang pergi makan," pinta Azzam.
"Iya, abang juga" balasku tersenyum.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam"
***
Suara dentingan sendok masih terdengar di meja makan. Aku pun ikut bergabung makan dengan mereka.
__ADS_1
Tanganku meraih sendok dan garpu, lalu meraih beberapa lauk ke dalam piring.
"Nisa?" panggil paman Hamzah.
"Iya Abah"
"Bagaimana sekolahnya. Aman?" Tanya ayah mertua usai meneguk segelas air mineral.
"Baik, abah. Aman"
Abah mengangguk dan mengelap tangannya dengan tissue. "Syukurlah."
"Ada Azzam tadi telepon?"
"Hmm, ada," ujarku sambil mengunyah pelan nasi yang mendarat di mulut.
"Azzam itu sangat khawatir dengan Nisa. Kalau Nisa tinggal di rumah sendiri, katanya. Jadi, dia minta izin untuk bawa Nisa kemari"
Aku tersenyum rikuh. Abang memperlakukan aku seperti anak kecil saja, padahal aku sendiri nggak masalah kalau harus tinggal sendiri di rumah. Lagian cuman tiga hari. Aku bisa minta Jihan untuk menemaniku kalau malam.
"Hm memang begitulah ayah. Suami mana yang tak khawatir kalau istrinya tinggal sendiri di rumah. Kalau terjadi sesuatu bagimana?" timpal Kak Soraya, yang disambut sahutan lagi dengan Abang Fikri.
"Hem Kak kapan ya kita bisa punya keponakan? Sepi nih rumah. Abah dan Umi pasti kepingin cucu kan?" tanya Abang Fikri sambil mata menjeling ke arahku.
Uhuk!
Aku yang mendengar hal itu otomatis tersedak dan terbatuk-batuk. Aku meneguk air sebanyak-banyaknya. Perkataan Abang Fikri seperti menyindirku.
Mataku silih berganti melihar raut wajah abah dan umi. Aku rasa mereka memiliki impian dan harapan yang sama.
Kak Soraya menepuk pundak Fikri. "Tenang lagi diprogram." Kak Soraya ikut melempar tatapan menggoda ke arahku.
Aku merasa tubuhku mengecil, terasa asing. Saat mereka semua menyindirku pasal momongan. Aduhay! Cobaan. Padahal saat ini aku masih berusaha membangun cinta. Belum memikirkan anak. Hidup! Hidup! Apa semuanya hanya berkisar pada itu. Bagaimana cara membuat hidup sedikit tidak monoton.
Rasa malam ini, aku sedang dihakimi habis-habisan dengan saudara-saudara Azzam ini. Huft! Benar-benar menjadi santapan lezat.
Aku menarik napas, memaksa menyungging senyum.
"Siapa yang tidak mau Fikri," respon Abah cepat.
Umi mengelus lenganku. "Nisa, jangan pikirkan ucapan mereka. Fokuslah dulu pada studi dan cita-cita Nisa. Jangan terlalu dipaksakan"
Aku hanya bisa sedikit bernapas lega. Beruntung mereka semua tidak terlalu menuntut pasal momongan dariku. Masalahnya dari ketiga saudara Azzam, memang baru Azzam yang sudah menikah. Mungkin itu sebabnya kedua Kakak Azzam berbicara begitu. Kak Soraya sendiri baru akan menikah bulan depan. Sementara Abang Fikri yang sudah berumur 32 tahun sampai saat ini belum tahu sudah menemukan gadis pujaannya atau belum.
Kak Soraya menyenggol bahu Abang Fikri. "Kamu tuh yang seharusnya kita tanyain kapan kamu itu menemukan jodoh. Kalau Kakak kan bulan depan married," sindir Kak Soraya.
"Yah, gimana lagi belum nemu yang pas."
Abah menggeleng mendengar pengakuan anak pertamanya itu. "Sampai kapan Nak, kalau kamu mau cari yang pas."
Abah dan Umi ini sudah tua. Sebentar lagi pensiun. Kita berdua cuman mau lihat anak-anak ayah cepat-cepat membangun rumah tangga. Cepat-cepat menghalalkan pasangan kalian masing-masing.
"Kalau Soraya, nggak ya Abah," kata Kak Soraya mengangkat tangan. "Yang ada ini nih, udah jenggotan juga."
Fikri menjitak kepala adiknya. "Sabar dong. Kalau udah nemu jodoh juga bakalan cepat abang halalin. Kalau perlu tiga hari kenal besoknya khitbah." Abang Fikir terkekeh sendiri.
Aku pun ikut tertawa pelan, sambil sesekali tetap menyuap nasi yang tersisa dalam piring.
"Oh iya Nisa, itu tadi paketan dari siapa Nisa?" Umi menyoal sambil menumpuk piring bekas makan.
"Dari Azzam, Umi."
"Hemm so sweet baru ditinggal sehari udah dapat paketan aja. Aku nggak nyangka itu si bontot pendiam-pendiam tapi romantis ya," ujar Abang Fikri tertawa lepas.
"Hmm iya ya." Kak Soraya pun menangkupkan kedua tangannya di muka, merasa gemas.
"Memang begitulah menyenangkan hati istri." Abah ikut menyahut dan bangkit dari kursinya. "Dah, ayo siap-siap ke masjid."
Sudah selesai. Aku juga ikut membantu membereskan piring, mengelap meja makan dan membantu mencuci piring, yang jelas setidaknya aku jangan terlihat malas di depan Umi.
***
SKIP
__ADS_1