
"Ya Allah, Nak. Jam segini baru pulang." Umi melirik ke jam yang melekat di dinding. "Sudah jam 3 sore, kalian pergi tadi jam 9 pagi." Umi menggeleng-geleng.
Ibu keluar dari kamar, mungkin mendengar aku dan Azzam sudah pulang. "Nisa, ya ampun kalian berdua kalau sudah jalan berdua udah pula pulang ya," goda ibu mentapa aku dan Azzam bergantian.
Aku menyengir sambil menggaruk keningku. "He-he. Maaf umi. Maaf ibu kalau kita keluarnya lama."
Ibu mengusap pelan lenganku naik turun. "Iya. Kalian dari mana sih? Emang ke dokter selama itu ya?"
Azzam menatapku lalu kemudian menjawab pertanyaan ibu. "Di rumah sakit tadi kita sebentar, Bu. Hanya kita berdua jalan-jalan dulu tadi."
"Nah, betul itu Bu," timpalku. "Ayah mana, Bu. Kok nggak nampak dari tadi?"
"Ayah kamu sedang keluar. Beli oleh-oleh."
"Oleh-oleh? Ibu sudah mau pulang?" tanyaku.
"Iya, nanti sore ayah dan ibu sudah mau pulang."
"Kenapa cepat sekali ayah, ibu? Baru dua hari lho ayah, ibu." Tambah Azzam. "Mi, umi juga mau ikut pulang juga hari ini?" Azzam meraih tangan uminya. "Umi tinggal saja dulu di sini beberapa hari lagi ya, Mi."
"Iya Umi. Nisa, bosen sediri di rumah nggak ada temen ngobrol. Umi jangan pulang dulu yahh," rengekku pada Umi.
Umi mengekor ujung pupilnya pada ayah dan ibu. "Bukannya ibu menolak cuman Azzam dan Nisa, Abi kalian kan besok pulang dan di rumah hanya ada Abang Fikri. Siapa yang memasak untuk abi nanti?"
"Mi, bukannya Kak Sarah sering berkunjung ke rumah kan Mi, nah kan ada kak Sarah umi."
"Nisa, gimana cerita Sarah yang masak? Lagi pula Sarah kan belum menjadi istri abangmu," sahut Umi pula.
"Ih, abang Fikri sih lama banget nikahin Kak Sarah. Ntar di ambil orang aja baru nyesel," cemberutku.
"Nisa, biar abang yang bujuk umi ya. Nisa sekarang sebaiknya mandi, bersihin badan. Setelah itu istirahat."
"Tapi—"
Azzam meraih tanganku dan memberikan kantong plastik bening berisikan obat-obatan yang dibeli di apotek tadi. "Ini obat yang disarankan dokter Heriansyah tadi. Sekarang Nisa harus istirahat lalu minum ini teratur ya."
Aku menghela napas. "Hemmmm.... Ya udah deh!"
"Ingat bujukan umi ya!" bisikku, dengan nada menekan kemudian mengambil bungkusan yang masih menggantung di tangan Azzam.
"Iya. Sana!" Azzam mengendikkan dagunya. Memintaku untuk segera masuk.
***
Sosok laki-laki berambut sedikit cokelat itu, berdiri menikmati suasana sore di balkon rumahnya. Langit belum senja, tapi awan yang ditatapnya seolah menguratkan senyum manis sosok wanita yang sedang di ilusikan otaknya. Pria itu tiada henti meyinggingkan senyumnya sambil menengadah menata langit yang bergumpal-gumpal awan putih mirip kapas. Hari ini sangat cerah, mungkin saja secerah hati Ridho saat ini.
Ridho menghela napas dengan tenang, menikmati setiap detik hembusan angin yang menerpa wajahnya.
Wanita yang tak lain istrinya itu, memilih mendekat saat tahu suaminya ada di luar balkon kamar mereka. Derap langkahnya dipelankan. Rara yang tak lain istri Ridho mendekap tubuh suaminya dari belakang mencoba mencari kehangatan yang selama ini hilang darinya. Rara hanya merindukan perhatian dan kasih sayang yang dulu selalu berikan Ridho untuknya.
Ridho menoleh cepat, ketika sadar ada sesuatu yang melingkar di pinggangnya.
"Mas," lirih Rara, menyandarkan kepalanya di punggung Ridho.
Ridho diam melihat apa yang dilakukan Rara padanya. Ia mengeliatkan badannya, mencari ruang untuk melepaskan pelukam Rara. Namun, wanita itu semangkin mengeratkan pelukannya. Tak ingin melepaskan rengkuhan itu.
"Ra!" Ridho mengeram kesal, berusaha melepaskan lengan Rara yang melingkari perutnya.
"Mas, biarkan Rara begini. Aku rindu dengan kamu!" Rara menaikkan tanggannya mengelus dada bidang Ridho dari belakang.
__ADS_1
Ridho memejamkan matanya dengan rapat. Kali ini ia seperti menikmati setiap sentuhan yang wanita itu berikan. Tiupan angin lembut, seolah mengitari tubuh dua sejoli itu.
Bukan bayangan Rara. Ridho hanya membayangkan bagaimana wanita yang kini bersamanya itu adalah Dhanisa.
"Ah sial! Kau sungguh perempuan yang manis dan cantik!" batin Ridho dengan mata terpejam.
Tangan besar Ridho memegangi tangan lembut istri sahnya. Tidak sampai disitu, ia mengecup punggung tangan Rara, dengan masih mengiluskan Dhanisa dipikirannya. "Aku mencintaimu, Nisa!" lirik Ridho, usai mengecup lembut tangan Rara.
Rara tergagap mendengar ucapan yang terlontar dari bibir Ridho. Otaknya masih mencerna, sepotong nama yang yang dilirihkan Ridho. Wanita itu melepas pelukannya. Ridho masih memunggungi Rara.
"Mas, siapa Nisa itu?" tanya Rara.
Ridho sontak membuka matanya yang semula terpejam rapat. Ia menoleh. "Nisa?"
"Iya, siapa?"
Ridho memutar balik badannya menghadap Rara. Pria berambut kecokelatan itu menyugar rambutnya yang tertiup angin.
"Apa, yang siapa sih?" Ridho menatap tak suka.
"Apa dia perempuan?"
Ridho gelagapan. "Alahh, dari mana kamu tau dia perempuan? Kamu hanya mengada-ngada, Ra!" Ridho memalingkan wajahnya.
"Mas, lihat mata aku." Rara memaksa tubuh Ridho supaya mau menghadapnya. "Aku tau kamu bohong, sekarang jelasin siapa Nisa!?" paksa Rara dengan suara meninggi.
"Apa sih," Ridho menepis jauh tangan Rara.
Melihat perlakuan Ridho, bulirkan bening dari pelupuk mata Rara kembali jatuh. Bibirnya bergetar hendak berucap, "Apa kamu udah nggak cinta dengan aku, Ridho. Mana janji kamu dulu Ridho!" Rara tertunduk dalam.
Ridho menatapnya wanita yang menagis dihadapannya dengan iba. Ia kemudian mengusap wajahnya dengan kasar. Memilih pergi menjauh tanpa memperdulikan Rara.
"Ridho!" panggil Rara.
"Ridho! Kamu mau kemana lagi, Ridho!" pekik Rara dengan keras berharap Ridho akan menghentikan langkahnya namun usaha Rara sia-sia.
***
"Benar itu, Zam?" tanya Ibu dengan wajah sumringah. Ibu menatap Umi Salamah.
"Alhamdulillah, Nak" syukur tiada henti terucap dari bibir wanita paruh baya bernama Umi Salamah.
"Alhamdulillah kita senang mendengarnya," sambung ibu pula.
"Maka dari itu Umi, Azzam minta untuk tinggal bersama kami dulu beberapa hari ini. Kondisi Nisa juga belum stabil, dia masih sering pusing, Azzam hanya takut kalau terjadi apa-apa dengan Nisa kalau Azzam berangkat kerja, dan meninggalkan dia sendiri di rumah. Kalau ada Umi di rumahkan, aku jadi tenang, Umi. Bagaimana?"
Umi menarik sudut bibirnya membentuk guratan senyum bahagia. "Iya Nak, Umi akan tinggal di sini."
Azzam mencium tangan wanita yang begitu ia cintai. "Terima kasih Umi."
Ibu Hamidah mengusap lengan Azzam. "Azzam, maaf ya. Ibu bukan tidak ingin berlama di sini. Cuman besok ayah Nisa akan kembali mengurus pekerjaannya di Singapore jadi ia harus berangkat lebih awal besok. Dan pukul 5 sore ini kami akan berangkat kembali ke Jakarta, Nak."
"Iya, Bu. Tidak apa." Senyum Azzam.
"Kalau begitu terima kasih ya, Azzam. Terima kasih untuk semuanya. Kamu sudah menjadikan anak Ibu anak yang baik, ibu lihat dia sudah banyak berubah. Kau berhasil, Nak," puji Ibu Hamidah dengan bangganya pada menantu pilihan mereka. "Ibu menitipkan kembali anak umi itu, dan satu lagi calon cucu ibu" kekeh Ibu seraya menahan senyum merekahnya.
"Iya, Bu. Insyaallah. Doakan rumah tangga kami selalu dilimpahkan berkah dan rahmat dari allah."
"Pasti, Nak. Ibu akan selalu doakan kalian."
__ADS_1
Ibu mengangkat lengan kirinya melihat jam yang berwarna silver yang melingkar di tangannya. "Kemana ayahmu ini, sudah jam segini belum juga pulang. Nanti kemalaman kan nggak bagus."
Ibu kemudian pamit meninggalkan anak dan ibu itu di ruang tengah sementara ibu Dhanisa masuk kamar menyiapkan baju-baju mereka.
***
Aku duduk di depan meja rias sambil meneringkan rambutku yang basah usai keramas. Uh, rasanya segar sekali usai mandi.
"Nisa!" Azzam muncul dari balik pintu.
"Iya kenapa?" Aku melihatnya dari pantulan cermin.
"Ibu dan ayah sudah mau berangkat. Ayo!"
Aku menoleh cepat dan berjalan ke Azzam. "Abang gimana sih!" marahku karena Azzam tidak berhasil meyakinkan Azzam supaya menyuruh ibu jangan pulang lebih cepat.
"Kenapa?"
"Abang bilang mau bujukin ibu supaya jangan pulang dulu hari gimana sih!" bentakku dan memalingkan wajah darinya.
"Nisa, hey." Azzam memegang daguku.
Aku menatapnya malas.
"Sayang, kenapa marah begitu? Ibu tadi bilang ayah besok sudah ingin berangkat ke Singapore lagi, melanjutkan usahanya abang Khalid di sana. Masak abang mencegahnya, kan tidak mungkin, sayang" bujuk Azzam lembut.
Aku menetralkan kembali wajahku, mendengar penjelasan Azzam.
"Sudah jangan marah begitu. Lagi pula Umi tidak pulang hari ini. Umi akan bersama kita beberapa hari ini." Azzam mencoba memberi pengertian.
Usai percakapan itu, aku dan Azzam berjalan keluar menemui ibu dan ayah yang sudah bersiap berangkat sore ini.
Di garasi rumah, mobil sudah menderukan suara mesin halusnya. Ayah memasukkan barang-barang bawaan mereka ke bagasi belakang mobil.
"Ayah sini yah," panggil ibu, setelah ayah Ahsan selesai memasukkan semua barangnya.
"Nisa, ibu dan ayah berangkat dulu ya."
Aku mengangguk lalu memeluk ibu dengan erat. Lembut aku merasakan tangam ibu mengusap kepalaku.
"Ibu dan ayah akan berangkat ke Singapore besok. Nisa jaga diri ya. Dan jangan lupa untuk menurut dengan suami."
"Iya. Nisa pasti akan rindukan ayah sama ibu," kataku seraya melepas pelukan ibu.
"Kan kita bisa VC an sayang."
"Udah biasa aja mukanya anak ayah sayang." Ayah merengkuh tubuh putri angkat kesayangan mereka. "Sudahlah. Udah mau jadi ibu kok masih manjanya kelewatan sih," goda Ayah.
Aku mengernyit. "Hah! Ibu?"
Ibu memicingkan mata ke ayah. "Iya maksud ayah itu, Nisa kan udah jadi istri nih sekarang ya berarti calon ibu juga dong suatu saat nanti. Ya kan, Yah."
Ayah menyengir lebar. "Sini, ayah mau cium putri ayah dulu. Jangan cuman Azzam yang boleh cium ya," ucap ayah dengan menggoda.
Ayah yang aku tahu selalu bersikap ramah dan lembut, mendekapku dengan hangat. Terakhir ia mendaratkan kecupannya di kening. "Jangan diri dan jaga hati ya, Nak. Insyaallah kita akan tetap berkunjung kemari."
Aku mencium tangan ayah dan ibu bergantian bergitu juga dengan Azzam. Sementara Umi Salamah memeluk pula istri ayah Ahsan, lalu setelahnya mencium pipi kiri dan kanan ibu, sebelum berpisah.
"Yah, ayo berangkat sekarang. Umi Salamah, Azzam kita berangkat dulu ya. Assalamu'alaikum."
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam, hati-hati ya" nasehat Umi Salamah.
***