
Seorang wanita berusia kisaran dua puluh enam tahunan menyerahkan Fatih supaya digendong suaminya.
"Mas, tolong kamu bawa dulu Fatih menjauh." Pria yang tak lain istri Naya, kakak dari Rara itu berlalu membawa anak mereka.
Naya dan kedua orang tuanya menatap tajam pada laki-laki, yang ada di depan. Pria tersebut diam saja, tidak menunjukkan wajah takut ataupun membalas tatapan tajam dari orang-orang di depannya.
Sama denganku, aku juga melihat pria itu dengan tatapan penuh amarah, bahkan saat ini aku sangat sakit hati dengan apa yang diperbuatnya. Meski ia mengatakan bukan dirinya yang meminta lelaki bernama Galang untuk melakukan hal buruk itu.
Tangannya mencengkram gelas di atas meja, bahkan tidak sadar jika buku-buku punggung tangannya sampai memutih dibuatnya.
"Apa yang kamu lakukan Ridho dengan adikku!" Wanita tadi terlihat sangat marah. Kakak yang sangat dekat dengan adiknya itu mengusap kasar wajahnya. Tangannya bergerak, berpindah dari gelas putih berhiaskan tumbuhan menuju dadanya, mengusapnya pelan. Berupaya mendapatkan ketenangan untuk dirinya sendiri.
Semua pasang mata menatap pada Ridho. Menghujangkan tatapan tajam dan sinis. Seluruh keluarga Rara tak terima dengan perlakuan yang diterima Rara selama ini. Termasuk dengan insiden yang merenggut nyawa Rara yang diketahui ada keterlibatan Ridho di dalamnya.
"Ridho, apa aku dan keluargaku pernah melakukan kesalahan padamu sampai kau melakukan itu?" tanya dengan napas naik turun. Nada bicaraku yang semula tinggi sekarang pelahan melemah, bahkan tubuhku terasa lemas.
Ridho mengangkat kepalanya, menatap padaku dalam waktu yang lama.
"Sa, jujur aku tidak pernah berpikir untuk menghabisi nyawa Azzam dengan cara demikian" sahut Ridho.
"Lalu, apa yang dikatakan laki-laki bernama Galang itu?"
"Galang telah berkata dusta, Dhanisa. Aku tidak pernah menyuruhnya untuk membunuh Azzam."
"Tidak mungkin dia melakukan itu kalau Galang tidak disuruh olehnya."
"Oke. Baik, akan aku ceritakan semuanya tanpa ada rekayasa dan kebohongan. Waktu itu di atas rooftop aku dan Galang memang bertemu dan aku ceritakan semuanya, bahwa aku sangat membenci Azzam, dan aku meminta Galang untuk melakukan sesuatu padanya. Tapi, aku benar nggak habis pikir kalau Ridho akan melakukan tindakan demikian."
Ridho menelan salivanya sebelum kembali berujar. "Dan untuk kalimat cinta yang sering aku lontarkan untukmu. Jujur. Itu hanya ucapan belaka. Aku sama sekali tidak pernah menyimpan perasaan suka atau cinta denganmu. Cintaku masih sama hanya untuk istriku, Rara. Bukan wanita lain. Aku sama sekali tidak menyukaimu saat itu Dhanisa, aku hanya menjadikanmu sebagai pelampiasan atas semua masalah yang menimpa aku dan keluargaku. Aku tidak tau harus melakukan apa, orang tuaku trus mendesakku dan bahkan memilihkan pilihan yang berat untukkku. Aku sendiri tidak bisa menempatkan diri dimana, Sa."
Ridho menggeleng lagi. " Apa yang aku katakan ini benar. Percayalah denganku, Dhanisa. Lagi pula, buat apa aku melakukan itu, itu sama saja aku juga membunuh istriku, Rara!"
P L A K ...!!
Tanganku terasa panas usai mendaratkan tamparan keras ke pipi mulus Ridho.
Perlahan aku melangkah mundur, ketika aku semangkin tak kuasa menerima keadaan atas pengakuan Ridho barusan.
Kak Soraya menahan tubuhku, saat aku mulai limbung.
"Apa kamu bilang? Hah! Bisa-bisa kamu mengatakan itu dengan mudah, lelaki brengsekk!!" umpat Fikri penuh amarah. Ia maju selangkah seraya mengepalkan tangannya kuat-kuat.
B R U K...
Ridho kembali mendesis kesakitan, ketika tubuhnya terhempas keras ke lantai, usai Fikri melayangkan kepalam tinju dengan keras ke wajah Ridho.
Saat itu pula oranh yang ada di ruangan itu menahan tubuh Fikri, agar tak melanjutkan pukulan berikutnya. Sementara, polisi yang telah berdiri pula di tengah kami ikut melerai. Ia mengambil paksa tubuh Ridho, dan memborgol kedua tangannya. Meski Ridho tak merasa terlibat dengan kasus ini, polisi tetap akan membawa Ridho ke kantor polisi untuk membuktikan semuanya.
Mau bagaimana pun perkataan dan pengakuan yang dibuat Ridho keluarga Azzam tetap tak menerimanya. Mereka semua ingin Galang yang jelas-jelas telah ditetapkan sebagai tersangka, supaya Ridho juga dinaikkan statusnya pula sama seperti Galang. Mereka harus menanggung perbuatan bejatnya. Meski sebenarnya itu tak dapat mengembalikan nyawa Rara dan Azzam kembali. Tapi setidaknya perasaan keluarga sedikit lega, sebab keadilan bisa ditegakkan. Pelaku bisa dihukum berat.
Fikri tersenyum sinis. "Bagaimana, sakit?" Fikri menatap penuh amarah deru napasnya masih belum stabil.
"Sakit yang kau terima belum ada apa-apanya dengan sakit ketika kita harus kehilangan orang-orang yang kita cintai!"
***
Setelah selesai melipat rapi dan menata baju-baju kepunyaanku dan Azzam. Dengan langkah terseok-seok aku menuju kasur merebahkan tubuhku di atas sana. Aku memejamkan mata ketika rasa pusing kembali aku rasakan.
"Ya Allah, kenapa pusing lagi" gumamku memijit-mijit pelipis dengan tangan.
Aku menoleh melihat jam ternyata sudah pukul dua belas malam. Aku akhirnya memutuskan untuk tidur, berharap rasa pening ini akan menghilang.
Ketika baru saja beberapa menit aku terlelap, aku merasa ada sebuah tangan melingkar di perutku, sambil mengusap-usapnya.
__ADS_1
"Sayang, sudah tidur?" bisiknya ketelingaku.
'Aduh, siapa sih yang meluk-meluk aku begini. Apa kak Aya?Apa Umi? Tapi suaranya laki-laki.' Batinku dengan mata masih terpejam.
"Ayah, please jangan ganggu Nisa. Nisa ngantuk dan merasa pusing. Nisa mau tidur dulu ya... " ucapku tanpa menoleh ke sumber suara.
"Sayang, tidak rindukah dengan abang?"
Kelopak mataku langsung terbuka lebar. 'Hah, abang? Abang siapa? Bang Fikri apa?' Aku masih bertanya-tanya sampai aku memutuskan untuk memutar balik badanku, dari posisi tidur menyamping.
"Bang Fik...ri... " suaraku perlahan memelan saat menyadari ternyata dia bukan orang yang aku maksud.
Pria begitu tampan itu, tengah melempar senyum tepat di depan wajahku. Mengenakan pakaian dengan jubah putih. Laki-laki itu adalah Azzam.
Aku terkesiap, menatapnya dengan lurus tanpa berkedip sedikitpun.
"Az... Azzam?"
"Iya sayang ini abang," sambutnya.
Tak mampu berkata-kata lagi, aku langsung membawanya dalam pelukanku. Aku menangis bahagia, ketika mampu melihat wajah dan senyumnya lagi.
"Nisa rindu dengan abang tidak?" tanyanya usai aku melepaskan pelukan kerinduan itu.
"Sayang, Nisa rindu sekali. Setiap hari Nisa selalu membayangkan wajah abang. Nisa merasaka kehilangan. Tidak ada lagi orang yang perhatian dengan Nisa, kalau Nisa malas makan atau minum obat, seperti abang" kataku bermanja, lalu kembali memeluknya lagi.
"Abang pun merindukan istri abang dan anak abang. Kalian sehatkan?"
"Tidak. Nisa tidak sehat. Nisa sakit seperti Laila bahkan hampir gila seperti Majnun karena tau abang pergi selama-lamanya meninggalkan Nisa." Tanpa sadar, buliran bening yang keluar dari mataku mencelos begitu saja.
"Cup... Cup... Jangan menangis sayang." Azzam menghapus jejak air mata dipipiku.
"Sayang, Nisa mohon jangan tinggalkan Nisa lagi ya" Aku mengalungkan tanganku di lehernya, muka Azzam dijatuhkannya tepat di atas wajahku.
Sudut bibirku mengembang senyum.
"Ssstt... " Aku sedikit meringis ketika merasakan sedikit ngilu pada bagian perutku.
"Sayang, sakit lagi kah?"
"Nggak kok. Nggakpapa." Aku memaksa mengembang senyum.
"Benar tidak apa?" tanya Azzam khawatir.
"Iya. Ngilu biasalah. Mungkin dedek juga kangen sama ayah. Ya sayang."
"Hm begitu ya. Abang tak sabar ingin melihatnya lahir ke dunia sayang. Rasanya kebahagiaan dalam hidup abang akan semangkin lengkap."
"Doakan semoga semua berjalan dengan lancar sampai persalinan sayang."
"Sayang," panggilku manja.
"Iyaa."
"Nisa, sangat rindukan abang. Boleh malam ini Nisa bobok dalam pelukan hangat suami Nisa?"
Sebelum ia mengiyakan, aku telah lebih dulu mencuri kesempatan mencium bibirnya lalu membenakan kepala di dadanya.
"Hem nakal ya istri abang. Emmm... " Azzam melingkarkan erat tangan besarnya di tubuhku. Memelukku dengan sangat erat, dan ia melakukannya dengan sangat gemas.
Aku tertawa sambil menarik janggut tipisnya yang belum dicukur.
Rasa kantuk yang mendera, perlahan menuntunku untuk melelapkan tidur. Malam ini, akan menjadi malam dimana aku bisa tertidur lelap seperti biasanya. Tanpa beban pikiran.
__ADS_1
***
Allahuakabar ... Allahuakbar...
Aku menggeliat ketika suara adzan berhasil ditangkap gendang telingaku.
"Sayang bangun sudah subuh"
Tangaku meraba-raba ke kasur sebelah. Kosong. Aku tidak merasakan apa-apa. Saat aku menoleh begitu kagetnya aku mendapati beberapa bantal tidur masih tersusun rapi di sebelah aku berbaring.
'Harusnya di sebelah ada Azzam tidur. Kemana dia?' Tanyaku.
"Bang? Abang dimana?" panggilku dengan sedikit berteriak.
Langkahku membawa ke bagian pintu menuju toilet kamar mandi. Siapa tahu aku menemukan Azzam di sana. Namun nyatanya setelah aku cek, tidak jua aku menemukan keberadaan Azzam yang semalam tidur denganku.
"Bang! Abang dimana? Sudah berangkat ke masjid ya. Kok nggak bangunin Nisa?"
Mungkin ibu mendengar panggilan dan teriakanku hingga ia masuk demi melihat keadaanku di kamar.
"Nisa, ada apa?"
"Bu, Nisa sebal. Semalam ada Azzam tidur dengan Nisa tapi Nisa cariin gak ada. Pasti dia ke masjid nggak bilang-bilang dulu, main asal pergi" kataku dengan memasang raut wajah kecewa.
"Ada apa Hamidah?" tanya Umi Salamah, yang baru menyusul bersama Kak Soraya.
Aku lihat ibu sedang membisiki Umi, tidak tahu pasti apa yang ibu katakan padanya. Aku sama sekali tidak bisa mendengar. Sementara, aku pula tak memperdulikannya, dengan masih celingak celinguk aku mencari Azzam di setiap sisi ruangan. Tapi, benar-benar aku tak mendapatinya.
"Bagaimana kalau Dik Nisa terus begini Umi. Kak Aya nggak mau nanti tetangga sekitar bilang Dik Nisa gila."
"Hust, kamu ngomong apa sih Aya."
Ibu memandang iba padaku.
"Nak, sini yuk ikut ibu. Kita sholat subuh berjamaah ya. Kita doakan keluarga kita senantiasa dalam lindungan dan selalu dilimpahkan berkah dan rahmat dari allah Swt."
"Bu, Abah sama ayah mana? Apa mereka pergi ke masjid juga dengan Azzam ya?"
"Tidak, Nisa. Mereka ada tengah bersiap sholat." Ibu bersikap tenang sambil menuntunku duduk di kursi sofa panjang yang ada di kamar ini.
"Nak. Boleh ibu minta satu hal dengan Nisa?" ibu berkata dengan raut serius. Di sisi lain Umi dan Kak Soraya turut mendekat, mereka semua tersenyum saat aku memandangi wajah mereka satu per satu.
"Permintaan apa?"
"Kita semua sudah mengikhlaskan Azzam pergi slama-lamanya. Nisa juga haru melakukan itu juga supaya arwah almarhum tenang disisi-Nya."
"Bu, benar tadi Nisa tidur berdua dengan Azzam. Dia datang tadi Bu. Kita tunggu ya, nanti sesudah sholat subuh pasti dia datang"
"Nisa, berhentilah bersikap bodoh! Kamu anak ibu satu-satunya, ibu nggak akan kuat dan tega jika kamu dibilang gila oleh orang-orang!" nada ibu meninggi disertai suara isakan pelan. Ibu mengatakan itu disertai hujaman air mata sedih.
"Bu... Ibu memarahi Nisa?" tanyaku sendu dengan mata berkaca-kaca. "Ibu bilang Nisa gila?"
"Hustt... Hamidah, sabar. Kita harus sabar menghadapi semuanya. Nisa begini karena dia belum mampu menerima keadaan yang menimpa dirinya." Umi membawaku dalam pelukannya. Mencoba menabahkan diriku.
"Tidak Nak. Ibu mu. Hanya salah berucap. Nisa anak yang baik dan tidak melakukan salah. Jadi tidak ada yang memarahi Nisa," ucap Umi Salamah dengan tenang dan segala kelemah lembutannya. Itulah karakter umi, aku memang tidak pernah mendengarnya marah ataupun memarahi putra-putrinya, ia mengajari anaknya tentang suatu hal dengan ramah dan lembut. Mungkin dengan begitulah ia bisa melahirkan sosok anak lelaki berkarakter lembut dan bijak seperi Azzam Alhusayn Zahidi itu juga dengan anak-anaknya yang lain.
"Astagfirullahal'adzim Maafkan ibu, Nak. Ibu tidak bermaksud berkata begitu."
Ibu dan Umi Salamah sama-sama mengunci tubuhku dengan dekapannya.
"Yuk kita ambil wudhu, ayah, abah dan Bang Fikri juga Ali pasti sudah meninggu kita."
Kami semua mengambil giliran untuk mengambil wudhu bersiap mendirikan ibadah sholat subuh berjamaah yang dilakukan di rumah.
__ADS_1