
Sinar matahari pagi tampak malu-malu menyinari bumi. Meskipun demikian, detik selanjutnya dengan izin dari Allah sinar mentari dengan berani menyebarkan hangatnya ke seluruh penjuru bumi.
Aku menarik napas panjang, dalam. Bibir yang masih kusut turut menyungging seutas senyum. Aku membuka tirai jendela. Menyibak gorden berwarna abu-abu. Hingga seluruh mentari lagi menghangatkan tubuhnya. Udara sejuk seketika langsung mencelos masuk saat jendela kamar aku buka lebar-lebar. Perasaanku begitu tenang, ketika melihat sajian indahnya pagi ini.
"Alhamdulillah, Allah masih menginginkan aku untuk berpijak pada bumi-Nya," gumamku.
Aku menggerakkan kepala menoleh ke ranjang. Melihat Azzam masih meringkung di sana. Tidak biasanya dia begitu.
Pikiran memaksa menyeret kakiku, duduk di tepian ranjang. Menatap wajah Azzam dengan matanya yang masih terpejam.
"Bang! Abang!" Lembut aku bersuara, membangunkan Azzam yang masih terlelap.
Ia belum menunjukkan reaksi yang berarti. Aku mengguncang tubuhnya pelan. "Bang, bangun!"
Kelopak mata Azzam perlahan terbuka. Ia mengerjap pelan. Napasnya masih teratur, namun pandangannya sayu. Aku bisa melihat itu ketika matanya pertama kali dibuka, dengan netra langsung tertuju padaku.
"Bang, kenapa jam segini belum bangun, tumben."
Ia menggeliat dari posisi memiringkan tubuhnya. "Tidak apa-apa, Nisa. Abang hanya pusing sedikit." Azzam mengucapkan itu dengan seumbar senyum yang tampak dibuat-buat.
Aku mengarahkan tanganku, mengusap rambutnya yang hitam dan berkilauan. Tapi ketika telapak tanganku menyentuh keningnya. Aku merasakan kening Azzam panas.
Aku membolak balik tanganku berkali-kali, mencoba memastikan. Benar, ini panas.
"Bang, abang sakit? Badan abang panas sekali." Aku masih menempatkan tanganku keningnya.
"Tidak apa-apa nanti minum obat sembuh."
"Sebentar Nisa ambil kompresan dulu"
Azzam memijit-mijit kepalanya. Demamnya saat ini mungkin saja bukan tanpa sebab. Ia begitu terbeban dengan ucapan Sarah semalam.
Dan ternyata Nisa dan Sarah sudah pernah bertemu sebelumnya, hal itu diketahui Azzam ketika dirinya memperkenalkan Nisa sebagai istrinya dihadapan Nisa. Ternyata Sarah yang membantu Nisa ketika kejadian itu, ia yang mengobati luka di kepala Nisa.
Dengan langkah tergopoh-gopoh, cepat aku melangkah masuk ke kamar lagi. Meletakkan baskom kompresan untuk Azzam.
Tanganku bergantian mengompres dahi Azzam dengan kain berwarna putih. Kemudian meletakkan di dahinya .
"Bang, apa lagi yang sakit?" tanyaku khawatir dan cemas.
"Nisa, abang tidak apa-apa." Senyum Azzam. "Tidak usah cemas."
"Iyalah, karena sebelumnya Nisa nggak pernah liat abang sakit."
"Abang pun manusia, Nisa. Bukan robot. Robot pun kalau trus bekerja dia sistemnya bisa erorkan? Sama seperti manusia juga begitu."
"Ya sudah, kalau gitu abang istirahat ya!" Aku memperbaiki selimut yang menutupi tubuh Azzam.
Aku diam sepersekian detik, sebelum beranjang dari duduk di tepian ranjang. Kepalaku sedikit aku tundukkan, mendekat ke telinga Azzam. "Bang cepat sembuh. Nisa, tidak suka melihat laki-laki yang aku sayangi sakit, karena aku sayang abang," bisikku begitu lirih.
Raut wajah Azzam tampak merah merona seperti tomat, tampaknya dia sangat terkesan dengan ungkapan sayang yang aku berikan untuknya tadi.
"Nisa, keluar dulu ya," kataku sambil berdiri. Namun, baru hendak aku berbalik. Terasa ada tangan yang dengan cepat menyergap pergelangan tanganku. Membuat tubuhku berbalik arah kembali.
Ia mengarahkan, lalu melekatkan tanganku tadi tepat di atas dadanya. "Hati ini sepenuhnya untuk Nisa, istri abang sampai kapan pun. Tidak ada yang akan mampu mengusinya selain perempuan ini." Azzam menyentil hidungku, membuat aku mengeram kesal karena hidungku sedikit sakit akibat jentikan jarinya tadi.
Tapi setelahnya aku tersenyum kembali, tatkala ungkapan Azzam itu mengalahkan rasa sakit di hidungku.
Dengan tangan masih digengamannya. Aku memberi kecupan sayang di dahi Azzam yang tertutup kain berwarna putih.
__ADS_1
Azzam merapatkan kelopak matanya saat kecupan itu mendarat. Ia merasakan sekujur tubuhnya dingin. Tapi tetap ia menikmati setiap sentuhan sayang dan perhatian yang diterimanya itu.
Wajahku aku angkat kembali, saat itu tangan Azzam meraih kepalaku dan menyelipkan anak rambut ke belakang telinga. Ia mengusap pipiku dengan sebelah tangannya.
Tatapan kami saling terkunci. Aku menatap dua manik matanya dari jarak yang begitu dekat.
Allah ya salam. Dimatamu kutemukan kata-kata terindah. Saat ini hatiku dan hatimu saling bertemu. Sungguh saat ini hatiku hanya dipenuhi oleh dirimu. Ini adalah cinta yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.
"Ya Allah terima kasih kabulkan doaku selama ini," gumam Azzam. Lafadznya demikian mengungkapkan bahwa usaha dan doanya yang senantiasa dipanjatkan disepertiga malam telah allah jabah. Ungkapan puji dan syukur mengalun lepas dari bibirnya yang masih pucat.
Sungguh doa dalam sholat tahajjud diibaratkan anak panah yang dilepas dari busurnya, yang takkan meleset dari sasaran.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka." (QS. As-Sajdah 32: Ayat 16)
"Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan."
(QS. As-Sajdah 32: Ayat 17)
Al-‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Cobalah renungkan bagaimana Allah membalas shalat malam yang mereka lakukan secara sembunyi dengan balasan yang Ia sembunyikan bagi mereka, yakni yang tidak diketahui oleh semua jiwa. Juga bagaimana Allah membalas rasa gelisah, takut dan gundah gulana mereka di atas tempat tidur saat bangun untuk melakukan shalat malam dengan kesenangan jiwa di dalam Surga. (Haadil Arwaah ilaa Bilaadil Afraah oleh Ibnul Qayyim (hal. 278).
"Yah, mana ba...ju se—" suara yang mulanya meninggi itu memudar secara perlahan saat ibu tahu bahwa dirinya telah salah kamar dan yang dilihatnya saat ini adalah pasangan suami istri itu sedang menikmati waktu kebersamaan mereka.
Kami menoleh bersamaan.
"Aduh, kayaknya ibu salah masuk." Ibu menutup pintu kamar lagi. Huff! Ibu mengelus dadanya.
Aku dan Azzam kembali menatap satu sama lain, kemudian terkekeh bersamaan setelahnya.
***
"Assalamu'alaikum." Tidak ada jawaban dari dalam, tapi pintu dalam keadaan tidak terkunci. Mungkin adiknya sudah ada di dalam.
"Hanan! Hanan!"
"Iya, Kak Sarah. Kenapa?" Hanan menyahut usai keluar dari arah dapur.
"Kamu kebiasaan ya, nggak pernah kunci pintu. Kalau ada orang jahat masuk bagaimana, Hanan?" cebik Sarah kesal, adik laki-lakinya ini sudah berapa kali diperingatkan demikian tapi tetap saja lupa untuk melakukan hal sekecil itu.
"Iya kak. Lupa."
"Lupa, lupa trus! Kalau kamu begitu trus kakak bisa-bisa tidak akan mengizinkan kamu kuliah di luar kota. Karena untuk hal sekecil itu saja kamu teledor, apalagi waktu tinggal ngekos sendirian, Han."
"Yah, jangan dong kak. Kakak kok tega!"
"Bukannya tega, Hanan. Kakak khawatir, kamu itu adik satu-satunya Kakak. Dan kita cuman berdua di sini. Lagian nanti kalau kamu benar mau lanjut kuliah di luar berarti kakak akan sendirian di rumah." Sarah duduk di kursi meja makan, mengambil ruang sedikit untuk mengobrol dengan adiknya.
Hanan menarik kursi dan ikut duduk di sebelahnya. "Gimana lagi Kak, aku maunya cari suasana baru. Lingkungan yang baru supaya hal-hal yang sebelumnya belum pernah kita dapat di tempat sebelum bisa menjadi bahan referensi tambahan."
Seperti ada sebuah lampu pijar yang tiba-tiba muncul di atas kepalanya. Hanan menjentik jari, lalu berujar. "Biar kakak nggak sendirian di rumah, kakak buruan geh nikah. Biar makan, jalan, ngobrol sampai tidur kakak pun ada yang menemani," tambah Hanan, sambil menyenggol pundak kakaknya, namun dibalas Sarah dengan memukulkan buket bunga mawar yang dibawa ke kepala Hanan.
Sambil memain-main helaian kelopak bunga itu sambil berujar. "Kakak sebenarnya sedang menaruh harapan dengan laki-laki yang sudah kakak kenal dari dulu, Han. Beberapa hari lalu kami bertemu lagi saat umi Salamah, ibunya menjadi pasien kakak.
"Nah, kan ketahuan sekarang." Hanan melirik bunga yang ditangan Kakaknya itu. "Itu bunga dari Kakak ipar kan?" gurau Hanan menjadi jadi membuat Sarah semangkin kesal, ditambah lagi tubuhnya yang sangat letih usai dinas seharian.
"Sok tau, kamu," cela Sarah. "Kakak belum selesai berbicara. Han."
Hanan mendehem. "Nggak usah malu-malu mengakuinya, Kak. Itu pasti dari si calon imamkan?" usik Hanan kembali.
__ADS_1
Sarah menatap bunga itu dalam diam. "Nggak mungkin lah, Han. Kakak sebenarnya juga bingung. Sudah dua hari ini, kakak selalu dapat kiriman bunga. Tapi kakak tidak tau siapa pengirimnya."
"Sekarang lupakan itu. Kakak mau membersihkan badan dan istirahat." Sarah berlalu meninggalkan adiknya yang masih duduk di meja makan. "Hanan! Kamu jangan lalai dengan skripsi kamu ya, kejar tu target kamu lulus 3,6 tahun," pekik Sarah dari dalam kamar.
Hanan menoleh menatap pintu kamar Sarah yang sudah tertutup rapat. "Iya kak."
Hanan meraih bunga itu ketika matanya mendapati sebuah note kecil terselip di antara tangkai bunga. "Ini ada pesannya Kak.
To dokter hatiku, Sarah. Please call me 0899-xxxx-xxxx
Hanan membaca sepenggal kalimat yang mungkin itu adalah tulisan tangan si pengirim bunga.
Sebenarnya Hanan juga merasa tidak tega kalau harus merantau kuliah dan meninggalkan kakaknya sendiri di rumah. Meskipun ada Tante Arini. Tapi Tante Arini kan tidak setiap saat di sini. Akan lebih lega rasanya kalau kakaknya itu sudah memiliki pendamping hidup. Maka sudah pasti akan ada yang menjaga kakak satu-satunya.
Tatapannya dijatuhkan kembali pada bunga berwarna merah yang tergeletak begitu saja. Hanan membaca kembali note itu.
Sekarang, ia punya ide tentang apa yang akan dilakukannya saat ini.
Hanan mengetikkan sebuah pesan untuk nomor 0899-xxxx-xxxx.
📨Assalamu'alaikum. Terima kasih untuk bunga indah yang sudah kamu kirim setiap hari. Maaf, aku baru sempat menghubungimu saat ini.
📨Wa'alaikumsalam. Alhamdulillah kalau kamu suka, Dokter Sarah.
📨Maaf, kalau boleh aku tau kamu siapa? Dan apa maksudmu. Apa kamu mengenal aku?
📨 Aku Fikri, tentu kamu mengenalku Dokter Sarah. Kita sudah pernah bertemu sebelumnya di ruang Melati.
📨Aku senang akhirnya kau mau menghubungiku kembali. Bukan bermaksud apa-apa bunga itu aku harap bisa menjadi penyemangatmu untuk bekerja. Sekaligus sebagai simbol bahwa saat ini sedang ada hati yang semarak dikelilingi dengan bunga-bunga indah yang bermekaran. Penuh warna.
Hanan tertawa. Agaknya dia geli sendiri saat harus berkirim pesan dengan sesama laki-laki dengan kalimat demikian.
📨 Maaf maksud kalimatmu apa ya?
📨 Aku tidak bisa jelaskan itu lewat pesan. Lebih bagusnya kalau kita bertemu.
Aduh! Gimana yah! gumam Hanan sambil menepuk jidatnya. Padahal yang mengirim pesan ini bukan Sarah tapi aku. Trus gimana caranya aku mengatur semua ini!
Hanan membalas pesan itu lagi.
📨 Bertemu? Memangnya harus begitu?"
📨Iya, supaya kita bisa akrab. Aku bisa mengenalmu dan kamu bisa mengenalku lebih jauh. Tenang aku bukan orang jahat, kamu bahkan sudah mengenal ibuku dan adikku, dan bahkan kau Dokter yang menangani ibuku, Umi Salamah.
Tidak tahu kenapa pengakuan laki-laki ini membuat Hanan yakin bahwa dia pria yang baik. Bahkan kakaknya sudah mengenal ibu juga adiknya. Berarti kak Sarah sudah sering berhubungan dekat dengan keluarga Fikri.
Tanpa berpikir dua kali, Hanan mengirimkan share location rumahnya ke Fikri.
"Kalau dari kalimat-kalimat yang dikirim pria bernama Fikri ini. Nampaknya Ia menyukai Kak Sarah," gumam Hanan sendiri.
Fikri menggeleng-geleng. "Akhirnya ada juga laki-laki yang kecantol dengan Kak Sarah.
Sesaat Hanan berpikir, Apa pri ini yang disukai Kak Sarah itu? Kak Sarah bilang beberapa hari lalu mereka bertemu ketika menangani pasien yang bernama umi Salamah dan Fikri bilang..."
Hanan menggeleng-geleng, kemudian berujar, "Cinta memang rumit. Mereka sama-sama suka tapi sungkan mengungkapkan."
"Tenang Kak aku akan menyatukan perasaan kalian" tekad Hanan.
***
__ADS_1