
Requeensha membenarkan tali sepatu kets putihnya dan kembali melangkah panjang ke parkiran. Dari jarak dua meter dia bisa melihat wajah merengut Fey. Requeensha lebih mempercepat langkah kakinya hingga pria itu menyadari kalau dia sudah ada di depan.
"Lama banget ambil kunci motor aja!"
Fey menatap datar sosok perempuan yang ada di depan. Ia bersedekap di samping motor yang terparkir rapi di halaman RESTO.
Requeensha menghela napasnya pelan. "Ya, maaf," ujarnya dengan tangan menyodorkan kunci motor yang menggantung pita merah.
Fey menyambut dengan dingin.
"Fey!" panggil Requeensha pelan.
"Hm." Dia masih sibuk mengenakan helm.
"Kamu ada yang aneh nggak?"
"Nggak. Yang ada kamu yang aneh!" balas Fey acuh tak acuh, tidak suka.
Requeensha berdecak dan melipat kedua tangannya. "Fey, coba deh kamu pikir, ngapain Nisa jalan berdua bareng dengan gurunya!" Requeensha mulai mengacaukan pikiran Fey.
"Biasa aja kali, mereka kan saudara!" jawab Fey dengan ekspresi netral.
Requeensha berjalan ke sisi kiri motor. "Iya saudara. Tapi bukan saudara kandungkan?"
"Ya nggak masalahlah mau mereka saudara kandung atau bukan! Tapi Ustadz Azzam sama Nisa itu masih keluarga dekat. Orang tua kandung mereka aja adik beradik."
Requeensha menghentak kakinya ke tanah, dan berjalan satu langkah ke dekat Fey. "Ya masalah dong!" ketus Requeensha.
"Kok kamu yang sewot sih!" Fey menaikkan nada suaranya, mendengar ucapan Requeensha menohok. "Kenapa kamu nggak suka? Atau kamu merasa nggak punya kakak atau abang yang sepeduli seperti Ustadz Azzam dengan Nisa?
"Ihh, harusnya kamu yang nggak suka bukan aku!" cebik Requeensha, karena Fey belum juga masuk ke arah pembicaraan yang dia buat.
"Kenapa harus aku yang nggak suka?" Fey mengernyit, karena baginya kedekatan Ustadz Azzam dengan Dhanisa itu biasa. Seperti kedekatan dia dengan Kak Rinda. Saudara kandungnya sendiri. "Udah kamu nggak usah mengada-ngada. Buang pikiran buruk itu dan isi dengan yang positif."
"Fey kamu nggak takut dikhianati Nisa?" Dahi berkerut-kerut membentuk lipatan-lipatan kecil mendengar penuturan Requeensha.
"Nggak," jawab Fey yakin. "Aku malah ngerasa aku yang udah mengkhianati dia karena jalan berdua tanpa memberitahu Nisa!"
Requeensha melotot, tak terima tuduhan Fey. "Lho, kenapa jadi aku? "
"Iya, kamu selalu maksa aku buat dinner dengan serentetan ancaman kamu mau nyebarin foto itu"
Requeensha diam. "Ya, habis kamu nggak akan mau aku ajak dinner kalau nggak kayak gitu. Lagian kita nggak berdua kan? Buktinya kamu ngajak Jovan dan Sadam. Dan aku ngizinin kamu buat ngajakin mereka berdua. Jadi, aku nggak jahatkan." Requeensha mengangkat kedua bahunya, mendeklarasikan kalau dia bersikap wajar.
"Alahh, alibi doang," bantah Fey ketus.
"Kok kamu gitu sih!" Desis Requeensha kesal.
Fey bosan mendengar celetupan Requeensha. Ia ingin segera menaiki motornya. Tapi baru Fey akan mengangkat kakinya sebelah. Requeensha mencegah dengan menarik tangannya. Dia belum berhasil membuat Fey berpikiran buruk tentang hubungan Nisa dengan gurunya itu.
"Fey tunggu dulu!" Tarikan lengan Requeensha membuatkan Fey hampir terjatuh.
Fey benar-benar geram. "Apa lagi sih! Kamu tuh benar-benar cewek arogan ya! Nggak ada lembut-lembutnya."
Tangan Requeensha cepat-cepat melepas genggamannya melihat Fey marah.
"Maaf-maaf. Refleks. Habis kamu mau main berangkat aja. Aku belum selesai ngomong," Requeen menatap geram.
Fey menatap malas perempuan di sebelahnya. "Apa lagi buruan! Udah malam. Nggak liat nih jam berapa? " Fey mengangkat pergelangan tangannya yang menempel sebuah arloji berwarna hitam, dan mendekatkan tangan itu ke wajah Requeensha supaya dia bisa melihat angka yang tertera secara jelas.
Requeensha tidak peduli dengan waktu. Baginya pulang malam atau larut malam sudah biasa. Orang tuanya pun tidak peduli. Entah dia mau balik malam ini atau besok. Terserah.
"Malah diam. Di kasih kesempatan malah diam!" celetupan Fey membuat Requeen sadar kembali. Ia kemudian menggeleng, semangkin tidak paham dengan perempuan ini.
Requeensha terkesiap tiba-tiba.
"Fey, kalau kamu pulang larut malam. Bakalan dicariin nggak?"
Fey terkekeh. "Nggaklah. Kalau aku pulang jam tiga pagi baru aku bakalan dimaki habis-habisan"
"Cemen!"
Dia berbalik arah menatap arah jalan raya. Tanpa peduli sisi parkiran semangkin lama semangkin penuh.
Fey terbelalak. Matanya terbuka sempurna. Ucapan Requeensha seperti sedang meledek dan meremehkannya. "Cemen? Apa maksud kamu!"
"Alahh, aku pulang besok pun nggak bakalan dicariin. Mungkin aku mati pun mareka nggak peduli," cetus Requeensha kemudian tergelak sinis.
Fey menarik pundak Requeensha, hingga membuat badan Requeensha kembali berbalik ke arah.
"Gila! Mana ada orang tua yang nggak peduli!"
Requeensha tertawa sinis. "Ya adalah. Banyak!"
"Ha-ha. Memangnya kamu sudah melakukan survey!" balas Fey. Baginya Requeensha hanya sedang melempar dongeng pengantar tidur.
Requeensha menepis tangannya ke sembarang arah. "Buang-buang waktu, tanpa survey pun aku tau!"
"Orang-orang terlalu berambisi, mementingkan keinginannya sendiri. Tanpa tau perasaan orang lain," lanjut Requeensha.
"Ya betul. Dan yang kamu bilang sekarang itu, adalah apa yang ada dalam diri kamu!"
Requeensha bersikap datar seraya berujar, "Memang aku sengaja! Aku mau tau gimana enaknya menjadi orang yang berambisi untuk merebut sesuatu tanpa berpikir akibatnya. Dan ternyata itu sangat mengasikkan. Seperti drama yang aku mainkan saat ini." Requeensha terus berbicara dengan tatapan kosong, entah dia sadar atau tidak.
Fey duduk di atas motor, seraya netranya menatap tajam ke Requeensha.
__ADS_1
"Kamu bilang ini drama?"
"Iya apa lagi!"
Fey menyengih, lalu tersenyum miring. "Kamu memang pintar memainkan peran! Kamu bahkan lebih gila lagi, dengan mengatakan ini mengasyikkan?" Fey membuang muka ke arah lain.
Requeensha mengangguk. "Iya. Karena batin aku puas jika sudah melakukan itu."
Fey bergidik. Ia semangkin takut bergaul dengan perempuan ini. Bisa jadi malam ini dia akan menjalankan drama lebih rumit, hingga ia tidak bisa melihat lagi hari esok.
Ia memilih untuk menaiki motor, lalu menyalakan mesin. Suara deru mesin motor matic menyeringai ketika starter motor pertama kali di tekan.
Fey melihat Requeensha dari kaca spionnya. Dia masih tak bergeming dari tempatnya berdiri.
"Ayo buruan naik!" ajak Fey dengan tidak sabar.
Fey berpikir. Baginya sangat bahaya bila terus di luar bersama Requeensha.
Dengan buru-buru Requeensha menarik helm yang ada di belakang motor, lalu mengenakannya. Dari boncengan belakang Requeensha bisa melihat wajah cuek Fey. Ia tahu Fey tidak menyukai dirinya. Tapi Requeensha tidak peduli. Ia bersikap bodo amat, yang penting rencana dinner malam ini berjalam sukses dan sesuai rencana. Ia puas.
"Ayo, aku udah naik nih" ucap Requeensha dengan nada sok dingin.
Fey tidak menyahuti apapun dari ucapan Requeensha. Ia segera menjalankan motor matic kepunyaan Requeensha dan meninggalkan RESTO.
Sesekali Fey mengintip wajah Requeensha dari pantulan kaca spion. Fey sedikit takut ketika melihat Requeensha seperti tersenyum sinis saat di bonceng. Dia agak ngeri.
"Sha, kamu nggak usah pegang pinggang aku. Pegang jaket aja."
Requeensha menurut. Ia merubah pegangan tangannya.
***
"Bang!" Aku lihat dia masih menyuap nasi ke mulutnya.
"Hm" sahut Azzam singkat. Tanpa Azzam sadar kalau sudut bibirnya yang berlepotan saus yang berwarna hitam.
Aku tertawa seraya menutup mulutku. Azzam beralih menatap aku yang tertawa pelan.
"Kenapa?"
"Bibir Abang celemotan," kataku memberitahu dengan masih menahan senyum.
Dia mengusap ke sisi yang salah berkali-kali sampai aku berinisiatif untuk mengambil tissue sendiri.
"Ini nih" ucapku sambil mengulurkan tangan untuk membersihkan sudut bibirnya dari saus tiram.
Azzam terlihat menatapku dengan dalam. Aku yang ditatap begitu, langsung menarik tangan kembali. Kepalaku tertunduk karena salah tingkah.
"Nisa!" panggilnya. Membuat kepalaku terangkat kembali menatap wajah Azzam di depan. Dia melempar senyum dan berkata, "Terima kasih, ya. Istri abang memang perhatian."
"Abang, tidak menyindir. Memang begitukan?" Azzam menggoda istrinya, yang dilihatnya semangkin cantik dan manawan. Rasanya dia tidak tega ingin meninggalkan dia, meskipun hanya dalam waktu tiga hari.
Setelah berbicara begitu Azzam melanjutkan makan yang sedikit lagi.
"Abang?" Rasanya aku senang sekali memanggil dia.
"Kenapa lagi, Nisa?" balasnya gemas.
Aku mengesap es krim yang belum habis. "Abang, kenapa berubah?"
"Berubah apa?"
"Penampilan abang lain sekarang!" kataku dengan jujur. Mata masih leka melihat dia mengunyah makanan.
"Apa salahnya kalau abang meng-handsome-kan diri untuk istri abang." Dia menyugar rambutnya ke belakang.
Aku menggeleng. "Nggak"
"Bukannya kriteria laki-laki yang Nisa suka seperti teman-teman Nisa itu?"
Azzam meraih segelas air yang tinggal setengah dan meneguknya sampai habis.
"Maksud abang seperti Fey, Sadam dan Jovan? Makanya abang mau merubah penampilan Abang?" tanyaku langsung demikian.
Azzam mengiyakan.
"Hmm begitu!" Aku bergumam. "Nisa rasa semua fans abang, bakalan terpikat dengan perubahan baru abang Azzam." Aku tersenyum senang.
"Nisa, abang tidak merubah penampilan. abang masih seperti biasa. Dan abang hanya ingin terlihat tampan di depan istri abang."
"Abang mau Nisa puji?"
"Memangnya abang bilang begitu?"
"Nggak sih."
Azzam membuang napas untuk melegakan sedikit perasaan kakunya. "Sebenarnya siapa yang tidak ingin dipuji. Hampir semua laki-laki pasti senang mendengarkan pujian. Apalagi pujian itu datang dari seorang istri yang paling dicintainya yang ditujukan untuk suami yang juga dicintai pasangannya."
"Tuh kan?" Aku memotong cepat.
"Nisa tunggu dulu," cegah Azzam karena aku main potong ucapannya.
"Memuji suami adalah sesuatu yang dianjurkan bagi para istri. Ini termasuk perkara yang terpuji dalam rangka menyenangkan hati suami. Kalau itu ikhlas dilakukan demi suami tercinta, insya allah akan berpahala," lanjut Azzam.
"Oh begitu ya? Kalau gitu Nisa puji abang dulu ya," balasku dengan senyum jail. Tidak tahu kenapa aku sekarang senang menjahilinya, sama seperti dulu.
__ADS_1
Aku mencari posisi duduk yang paling nyaman dan mencoba rileks. Wajah aku dekatkan dengan mukanya. Aku lihat wajah Azzam dari dekat. Dia kaku. Tidak biasanya. Aku hanya terkekeh dalam hati.
"Abang Nisa, ganteng banget," bisikku sangat lirih, dan nada manja.
Azzam tersentak, jantungnya berdebar hebat. Perasaan aneh bergejolak dan membuncah di dalam dada. Ini pertama kali istrinya melempar pujian. Azzam menarik napas dalam-dalam. Meskipun Azzam tidak tahu itu betulan atau hanya gurauan Nisa saja. Tapi itu cukup membuatnya kaku sesaat. Azzam tersenyum merekah.
Azzam melakukan hal yang sama. Ia memegang kepalaku hingga membuat wajah kami makin dekat. Deru napas yang hangat saja bisa aku rasakan.
Bagi kami berdua ini adalah interaksi yang paling dekat yang pernah kami lakukan sebagai sepasang suami istri, karena selama ini aku selalu menjaga jarak dengan Azzam.
"Kalimat Nisa itu salah!" ucapnya lirih
Dahiku berkerut. "Bener kok. Apanya yang salah?"
"Bukan. ABANG NISA GANTENG! Tapi SUAMI NISA GANTENG!" koreksi Azzam, penuh penekanan, dan senyum merekah tiada henti terpancar.
Aku melepaskan tangannya yang masih menempel di kepala dan menjauh.
"ABANG!" tekanku.
"SUAMI!" balas Azzam tak mau kalah.
"ABANG!"
"SUAMI!"
"ABANG!"
"SUAMI!"
Semangkin lama kami berdua mengucap kata-kata itu dengan cepat. Tidak ada yang mau kalah.
"SUAMI!" sampai akhirnya kami bertemu pada satu kata yang sama. SUAMI.
Aku mendengus sebal dengan kedua tangan terlipat.
Azzam tertawa. "Abang menang!" seru Azzam senang.
"Ayo ulang lagi!" pinta Azzam.
"Nggak mau!" Aku memanyunkan bibir.
"Istri yang tidak taat dengan perintah suami adalah istri yang... "
"Ish! Iya-iya." Aku memotong cepat, sebelum ayat dan hadist yang ditujukan kepadaku keluar dari mulutnya.
Aku menarik napas sabar, bibirku sebenarnya berat untuk mengucapkan kalimat itu. Mata terpejam beberapa detik, kemudian bibir perlahan mulai terangkan. "SUAMI NISA GANTENG! titik!"
Azzam tersenyum. "Ikhlas tidak? Kalau tidak ikhlas percuma Nisa tidak dapat pahala"
Aku merengek, lelah dengan ucapan Azzam yang aneh.
"Iyaa." Aku membalas dengan mengeram kesal.
"Kalau ikhlas itu suaranya lembut dan mukanya tidak ditekuk seperti itu, sayang," komentar Azzam lagi.
Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan.
"Iya." Aku berujar dengan sangat lembut disertai dengan wajah menampakkan senyum manis.
Azzam kembali berujar, "Abang hanya ingin menghadirkan kemesraan sebagai seorang suami terhadap istrinya, dan itu bisa dimulai dengan mempertampan diri. Sebagaimana seorang suami ingin istrinya tampil dengan mempesona di hadapannya. Dengan begitu istri abang tentu akan merasa lebih senang kalau memandang suaminya dalam kondisi yang lebih menarik dan indah dipandang mata. Dan ...." Azzam tidak melanjutkan ucapannya.
Aku memutar bola mata malas. "Dan apa lagi, abang? Plis?"
Aku membuang napas berat, rasanya mau berteriak. Abang Azzam kenapa menyebalkan sekali malam ini? Apa ini efek dari penampilan barunya? Aku menggerutu dalam hati.
"Dan seorang istri juga harus menghadirkan kebahagiaan itu di depan mata suaminya. Walau hanya sekedar dengan pandangan mata. Seorang istri itu diharapkan bisa menggali apa saja yang bisa menyempurnakan penampilannya, memperindah keadaannya, di depan suami tercinta. Dengan begitu suami akan merasa tentram kalau di dekat istrinya."
Dahiku berkerut-kerut mendengar penuturan Azzam. Aku kemudian berusaha melihat penampilanku sendiri. Dan menyentuh wajahku dengan make-up tipis yang jelas sesuai dengan keinginanku sendiri, pas untuk perempuan seusiaku.
Azzam terkekeh pelan. "Nisa! Nisa itu selalu cantik. Apapun yang Nisa kenakan selalu tampak manis. Sama dengan gaun berwarna peach yang Nisa kenakan."
Aku lalu tersenyum rikuh.
Azzam merubah raut wajahnya menjadi netral, tangan Azzam merayap pelan menggapai jari jemariku.
"Cinta, perlindungan, dan kasih sayang sudah abang berikan. Apa Nisa mau memberikan itu juga untuk abang? Setidaknya Nisa buka sedikit hati Nisa itu diisi nama abang di situ"
Bagaimana aku bisa mengisi hatiku untuknya, sementara hatiku sudah diisi pria lain.
Aku membalas pegangannya. "Kenapa abang bersikeras? Kenapa abang nggak menyerah!"
"Abang tidak menyerah karena abang yakin. Asal Nisa tau ketika abah dan umi berbicara tentang perjodohan ini, abang juga tidak menyangka sama seperti Nisa. Abang bimbang. Meskipun dari dulu abang menyukai Nisa. Tapi tetap. Abang takut kalau Nisa sebenarnya bukan jodoh abang."
"Terus apa yang buat abang yakin?"
"Setelah melakukan sholat istikharah dan meminta petunjuk dari Allah." Azzam menghela "Selama tiga malam abang melakukan itu. Abang meminta dan memohon kepada sang pemilik cinta, agar kalau dia memang jodohku maka dekatkan dan ikatkan kami dengan hubungan sah yang diridhoi-Nya, dan jika tidak maka ikhlaskanlah hatiku dan mampukan aku untuk menemukan pasangan yang seiman."
Azzam mendekatkan kepalanya dengan jari tangan yang masih erat menggenggam tanganku.
"Kebulatan hati abang semangkin yakin, Nisa memang adalah jodoh terbaik yang dikirim-Nya." Dia mengecup jemariku.
***
SKIP
__ADS_1