
Gemerlap malam bersama deru angin mengiringi lekatnya malam yang sudah menyapa. Lampu-lampu gedung pencakar langit tampak tak ingin mengalahkan ramainya bintang yang mengangkasa. Sepanjang mata memandang, warna-warni gemerlap lampu memang mendominasi membuat jiwa bergelora untuk selalu memeluk malam bersama dengan rembulan yang tersenyum miris.
Manusia-manusia yang banyak ragam ini mungkin tengah bersuka ria, mungkin pula tengah berduka, atau berkeluh kesah pada diri dan kehidupannya sendiri.
Ridho tengah duduk sambil membekap kedua lututnya dengan napas memburu hebat. Tubuhnya menahan gelojak emosi, serta kegeraman yang membabi buta. Pria itu lalu meremas erat botol mineral yang ada di sebelahnya. Membanting botol itu dengan keras, hingga terpelanting, menghilang terjun dari rooftop dimana Ridho berada.
"Ah sial! Pria sialan! Pasti dia yang sudah menghasut Nisa supaya dia tidak mau bertemu denganku lagi. Aku tau itu, dia pasti tidak suka dan cemburu jika istrinya aku goda." Ridho tersenyum meringis.
Sebuah tepukan mendarat dengan cepat di pundak Ridho. Ridho menoleh dengan cepat.
"Hei bro! Apa kabar?" Pria yang barusan datang, tak lain Galang duduk merapat pula menghadap pemandangan lepas dengan background gemerlap gedung pencakar langit berhias rainbow yang mengugah pupil untuk leka memandangnya.
Ridho menoleh sejenak, lalu kembali menatap ke depan.
"Kau tidak lihat muka aku gimana saat ini?"
Galang sedikit mencondongkan kepalanya demi melihat ekpresi Ridho. Ia mengangguk dan bahkan mungkin paham dengan teman akrabnya itu.
"Apa yang kau kesalkan?"
"Pria alim itu," sahut Ridho singkat tanpa menoleh.
Agaknya Galang sedang berusaha mencerna kalimat Ridho.
"Pria alim?" Galang menoleh kembali. "Apa pria yang kau maksud itu Azzam. Pria yang pernah kau sebut di bar waktu itu?"
"Iyalah. Siapa lagi!" celetuk Ridho ketus.
"Apa yang dia lakukan sampai dia bisa membuat kau sekesal ini?"
"Galang, sepertinya Azzam itu sudah menghasut Dhanisa supaya enggan untuk menemuiku, Lang. Buktinya ketika aku ingin menemui Dhanisa tadi sore, suaminya mengatakan kalau istrinya itu tidak bisa untuk ditemui siapapun. Sementara, Ketika Rara yang meminta untuk menemuinya dia diperbolehkan apa maksudnya coba."
Flashback on
Ridho dan Rara masih berbicara berdua di sudut ruangan sedikit menepi supaya tidak orang lain tidak mendengar obrolan singkat keduanya.
"Sayang, kamu nggak usah cemberut apalagi curiga begitu ya. Aku dan Azzam itukan berteman juga kita saling bertetangga satu kompelk jadi rasanya tidak ada yang salahkan kalau aku menjenguk kalau ada saudara kita yang tengah sakit." Ridho merubah posisi berdirinya lebih mendekat ke Rara. Ia meraih kedua tangan Rara. "Aku minta maaf, tidak mengatakan kalau tadi Dhanisa menelepon ke handphonemu untuk meminta kau datang kemari. Karena aku kira kamu memang nggak ada di rumah sayang."
Rara memandangi tangan Ridho yang mengusap-usap punggung tangannya dengan lembut.
Suami Rara tersebut menyunging senyum samar dan kembali berucap. "Oh iya, tadi katanya kamu mau ke salon kecantikan kan? Kamu nggak mau pergi sekarang?"
"Iya. Harusnya saat ini aku di sana karena kami sudah booking jamnya. Tapi, dengan sakitnya Dhanisa masa Rara langsung pergi dan tidak menemuinya dulu. Apa aku batalkan saja."
"Ra, Mas udah bayar semuanya. Bukannya kamu mau tampil cantik di depan Mas, katamu." Ridho mencubit dagu Rara pelan. "Mas yakin setelah ini istri manja Mas ini pasti akan membuat pria di luar sana kelepek-klepek. Mas pun bisa tambah kesemsem bisa-bisa," tawa Ridho.
Rara tersipu malu. "Ah, kamu bisa aja."
"Tapi, nggak apa-apa nih aku pergi tanpa pamit ke Dhanisa atau Azzam. Nggak enak soalnya aku udah janjian sama dia lho."
Ridho mengangguk dan meyakinkan Rara. "Biar nanti Mas yang sampaikan permintaan maaf kamu ke Dhanisa ya. Kan sudah ada Mas juga di sini. Jadi, sama sajalah. Nanti setelah ini, Mas juga akan langsung lanjut ketemu dengan rekan kerja Mas, sayang. Oke"
"Ya sudah. Kalau gitu aku pergi sama Fatih sekarang ya."
"Iya sayang. Nggak apa sendiri kan? Habis Mas memang ada pertemuan sayang, hari ini."
"Iya, nggak apa. Kalau gitu aku berangkat ya. Sampaikan salamku dengan Dhanisa. Assalamualaikum"
"Iya, wa'alaikumsalam"
Ridho tersenyum miring. Melihat Rara sudah turun dan menjauh darinya.
"Misiku meyakinkannya, sudah berhasil." Ridho melonjak girang. "Ha-ha Rara... Rara... " Ridho tegelak puas, ia tak sadar tawanya, lepas begitu saja. Tanpa tahu bahwa Azzam baru saja keluar dari kamar. Menyadari itu, Ridho mencoba bersikap biasa, dengan membenarkan kerah bajunya.
"Ayo, aku ingin bertemu dengan Dhanisa," ucap Ridho begitu bersemangat. Azzam menarik tangan Ridho, menatapnya dengan pasti. "Maaf, Nisa untuk saat ini dia belum bisa ditemui oleh siapapun. Aku harap kau tidak tersinggung. Sebab Dokter Tommy mengatakan demikian." Singkat Azzam.
"Tap-tapi sebentar saja, Zam. Tidak boleh?"
__ADS_1
"Iya."
Ridho mencoba bersikap manis dan ramah. Sedetika kemudian ia bedehem, meredakan tenggorokannya yang seolah kering. "Oh begitu," ucapnya.
"Kalau begitu aku titip buah tangan ini untuknya, sampaikan pula salamku untuk Dhanisa." Ridho mengangsurkan parcel buah yang dibawanya.
Azzam menerimanya dengan senang hati. "Kalau begitu mari aku antar ke bawah."
Dalam hati Ridho tiada henti mengupat kesal pada Azzam. Berjalan mengekor di belakang Azzam, sambil menuruni anak tangga kedua tangan Ridho mengepal hebat. Ia bahkan sempat memukul besi tangga yang dipegangnya.
Sampai tera depan, tanpa banyak basa basi, Ridho pamit undur diri. Menunggangi motornya meninggalkan rumah nomor 35 itu.
*
"Mas ayo kita makan sama-sama," ajak Rara saat melihat suaminya melintas dari arah gudang usai mengganti lampu kamar mereka yang mati.
Tanpa membantah Ridho mengikuti ajakan istrinya untuk makan bersama. Tengah menyendok nasi untuknya. Ridho diam-diam mengamati air muka Rara. Ia menyadari saat ini Rara benar-benar menunjukkan penampilan terbaiknya di depan suaminya sendiri. Ia menghias diri untuk menyenangkan Ridho.
Ridho tersenyum sambil mengulum senyum. "Rara" panggil Ridho membuat Rara menatap ke Ridho.
"Iya, kenapa? Nasinya kebanyakan ya? Ya sudah aku kurangi ya." Rara menaruh kembali sebagian nasi yang sudah di sendoknya ke dalam piring berwarna putih, tapi tangan Ridho menahannya.
Tatapan Ridho terkunci beberapa detik pada Rara. Ia malah mengumbar senyum. "Kamu cantik sekali Ra malam ini?"
Rara mengulum senyum dan meletakkan piring yang telah terisi nasi di depan Ridho. "Tumben godain aku begitu, Mas."
"Lho benar, Ra. Kamu nggak senang aku puji?" Ridho menatap Rara yang masih sibuk menuangkan air ke gelas.
"Bukan gitu, lagian siapa yang tidak senang sih Mas dipuji suami. Istri diseluruh dunia dimana pun itu pasti senang." senyum Rara.
"Mas, bilang tadi aku cantik malam ini. Berarti hari-hari sebelumnya aku nggak cantik dong."Rara menggoda suaminya, usai memasukkan ayam kecap ke piring Ridho.
Ridho tegelak. "Cantik sih. Cuman malam ini aku tergoda."
"Bisa aja. Udah ah makan." Rara menghentikan aksi suaminya yang terus menggoda istrinya.
"Iya."
"Abang nggak mau ayam" ngambek Fatih.
"Maunya menu apa sayang?"
"Ikan itu bunda." Fatih menunjuk ikan panggang buatan Rara yang berada di ujung meja makan. Rara mengambilkan ikan keinginan Fatih dan memintanya untuk segera memulai makannya.
"Mas, sebenarnya aku kasihan sama Dhanisa?"
"Kasih kenapa?"
"Tadikan aku balik lagi ke rumah Dhanisa karena tas kesayangan yang Fatih bawa itu ketinggalan di rumah Dhanisa jadi aku balik lagi ke sana tadi."
"Trus apa hubungannya tas Fatih dengan kasihannya Dhanisa, Ra?"
"Ternyata kontraksi kecil yang dialami Dhanisa itu karena dia stres dan aku menduga dia terganggu dan terlaku kepikiran dengan kiriman pesan yang diterimanya."
Ridho mengunyah nasi di mulutnya dengan pelan.
"Kiriman pesan apa?" Ridho mengerutkan dahi tanda bingung menyergap pikirannya atas penyataan Rara.
"Tapi, aku cuman cerita ke Mas aja ya tentang apa yang Dhanisa ceritakan ke aku tadi."
Ridho mengesap minuman di depannya lebih dulu. "Lho kamu sempat ketemu tadi dengan Dhanisa?"
"Iya. Bahkan kami sempat bercerita sebentar tadi."
"Azzam membolehkanmu menemui Dhanisa? Bukannya dia harus istirahat."
"Boleh kok. Meski kami bercerita hanya sebentar. Karena memang Dhanisa butuh istirahat."
__ADS_1
'Wah, berarti tadi itu akal-akalan Azzam saja mengatakan Dhanisa tidak bisa ditemui karena tengah istirahat. Buktinya Rara bisa menemuinya. Kurang ajar. Awas kamu!' geramnya membatin.
"Memang Dhanisa cerita apa ke kamu?"
"Katanya mendapat pesan berupa kiriman foto tentang suaminya yang dia bilang tengah berselingkuh dengan wanita lain. Dan beberapa pesan yang mencoba mempengaruhi dirinya supaya Dhanisa itu mempercayai apa yang orang itu kirimkan. Bahwa Azzam diluar sana memang tengah dekat dengan wanita lain."
Ridho terbatuk, kembali meneguk air mineral di depannya hingga setengah.
"Terus apa respon dia?"
"Ya Dhanisa nggak percaya, Mas. Katanya bisa jadi ikut editan dan akal-akalan si pengirim pesan saja, untuk merusak reputasi suaminya dan juga kepercayaan yang Dhanisa berikan untuk Azzam. Lagi pula Dhanisa percaya, bahwa Azzam tidak akan pernah mengkhianatinya."
Ridho meringis. "Hmm dari mana dia tahu. Mentang-mentang suaminya itu alim. Maka, setan akan menjauh dan tidak mengoda ia untuk berbuat demikian?" Ridho menggeleng-geleng. "Azzam itu juga manusia. Kan bisa saja dia khilaf."
"Kamu kok malah berbicara begitu, Mas. Seolah kamu menjudge Azzam memang telah melakukan itu." curiga Rara.
"Tapi Mas setelah aku pikir menjadi sosok Dhanisa yang sangat mempercayai suaminya sepenuh hati, bahwa dia tidak akan mengkhianati cintanya begitu sulit. Termasuk itu dengan diriku." Rara menatap piring yang ada di depannya.
"Maksud kamu?" Ridho kembali melanjutkan makan yang tersisa.
"Aku boleh tanya sesuatu."
"Hm, tanya apa?"
"Aku menemukan foto, dan aku tau itu foto Dha.. "
Dering ponsel dari Ridho menyala berkedip-kedip.
"Sebentar ya."
Ridho menjauh sebentar, saat mengangkat ponselnya. Rara menghela napas. Keinginanya untuk menanyakan perihal kenapa foto Dhanisa ada di rumah ini harus urung sejenak. Rara hanya ingin tahu apakah Ridho mengetahui tentang itu, atau bahkan dia yang??
"Bunda, sudah habis." Fatih mengangkat piringnya yang telah kosong melompong, membuat Rara berhenti larut dalam pikirannya.
"Wah, hebat. Kalau begini terus abang Fatih bakalan cepet gedenya." Rara mengusap kepala Fatih.
"Iya Bunda, abang mau cepet gede supaya bisa jadi insinyur hebat. Seperti yang ibu dan ayah cerita ke Fatih."
"Amiin. Semoga ya sayang. Kalau gitu sekarang cuci tangannya. Abang kalau mau main boleh. Bobok juga boleh."
"Iya bunda." Bocah kecil itu berlari ke dapur belakang.
Bersamaan dengan menghilangnya Fatih. Ridho kembali bergabung di meja makan. Cepat menghabiskan makannya.
"Aku harus segera ke rumah Pak Darmansah. Tadi Vero mengabarkan kalau beliau meninggal pukul tujuh tadi di rumah sakit Tiara Sella. Sekarang aku akan kesana."
"Ya sudah kamu habiskan makannya, setelah itu siap-siap ke sana, Mas."
Akhirnya keinginan Rara harus tertunda kembali untuk melanjutkan obrolan mereka.
Flashback of...
"Bro, kayaknya kamu harus benar-benar cari cara yang ampuh kalau kau benar ingin memilikinya."
"Bagaimana Galang?"
Galang tersenyum jahat.
"Kamu jangan ngasih ide yang aneh-aneh ya, dan aku nggak mau mengotori tanganku sendiri jika kau ingin memberiku ide licik."
Galang menepuk keras pundak Ridho lalu berdiri.
"Tenang, kali ini bukan kau yang akan bertindak. Tapi aku." Galang menyeringai.
"Memangnya kamu ingin melakukan apa?"
"Ada."
__ADS_1
****