
Drrt...drttt ...
Deringan handphone berbunyi.
Aku terbangun dengan keadaan setengah sadar, lampu tidur aku nyalakan dan beringsut pada senderan tempat tidur.
📞Dhanisa
Halo, kamu ngapain telepon tengah malam gini?
📞Fayzulen
Emang sekarang jam berapa sih?
📞Dhanisa
Nanya lagi. Jam 12.30.
Terdengar suara Fey terkekeh di ujung telepon.
📞Fayzulen
Aku nggak bisa tidur mikirin kamu, Nis.
📞Dhanisa
Iya, kan besok lusa bisa ketemuan di sekolah.
📞Fayzulen
Kamu hati-hati ya tidur sendirian kalau hujan-hujan gini, biasanya banyak komplotan pencuri yang berkeliaran.
📞Dhanisa
Ah, kamu yang benar?
Aku melihat-lihat ke arah jendela takut-takut apa yang Fey bilang itu benar.
📞Fayzulen
Iya. Yang paling aku takutin kalau dia bakalan mencuri hati kamu.
Suara Fey tertawa terpingkal-pingkal.
📞Dhanisa
Ha... ha... lucu sekali.
Kataku berdecak kesal.
Tanpa aku sadar obrolan kami berdua sedikit mengganggu Abang Azzam yang tidur di sebelahku. Dia tampak sedikit menggeliat, merubah posisi tidurnya menghadapku.
Mataku terpejam kuat.
“Aduh! semoga dia nggak bangun,” gumamku, diam menahan napas.
📞Dhanisa
Fey, udah ah, aku ngantuk.
Desisku pelan namun penuh penekanan.
📞Fayzulen
Sebentar... sebentar. Kali ini aku serius. Ini tentang buletin kita yang akan dimuat di mading sekolah.
Tampak dari nada suaranya menahanku supaya jangan cepat-cepat menutup telepon.
📞Dhanisa
Apaan?Awas ya.
📞Fayzulen
Besok itu aku dapat informasi akan ada aksi demo besar-besaran tolak omnibus law. Kita bisa masukkan itu juga ke dalam buletin di mading kelas kita. Gimana? Kalau jadi besok aku jemput.
Tidak ada pilihan lain selain mengiyakan usulan Fey. Kalau tidak obrolan malam ini bakalan lebih panjang. Sebenarnya tidak masalah kalau Abang Azzam tidak ada di samping aku, tapi kalau begini ceritanya dia bakalan bangun dan menceramahiku.
📞Dhanisa
Iya. Oke-oke.
📞Fayzulen
Oke kalau gitu kamu stay di rumah, aku bakalan jemput kamu.
📞Dhanisa
Eh, kamu jemputnya jangan di depan rumah. Di depan gang komplek aku aja.
📞Fayzulen
__ADS_1
Kenapa?
📞Dhanisa
Masalahnya, orang yang nemenin aku di rumah ini, galak. Suka marah-marah. Kalau udah aku tutup ya, teleponnya. Mau tidur udah ngantuk berat.
Aku berbicara dengan sedikit berbisik, supaya tidak menganggu tidur Abang Azzam.
📞Fayzulen
Gitu ya? ya udah deh, kalau gitu. Good night sayang.
📞Dhanisa
Good night.
Tut... tut...
Telepon terputus.
Aku mematikan lampu tidur dan menarik selimut dalam-dalam untuk melanjutkan tidur yang sudah terputus karena obrolan tadi.
***
Kalau dihitung-hitung mukin sudah tujuh kali aku mondar-mandir di depan televisi ini, kalau dia manusia pasti bakalan protes berat. Sebenarnya aku sedang mencari solusi bagaimana caranya supaya aku bisa keluar rumah hari ini tanpa harus membawa motor. Kalau aku bilang dengan Abang Azzam aku tidak membawa motor karena dijemput oleh Fey, pasti dia bakalan marah dan mengutukku dengan ceramah-ceramahnya itu. Huh! nasib se-rumah dengan ustadz.
Aku mau saja berkata jujur, hanya masalahnya kalau aku berkata jujur yang ada aku tidak akan keluar hari ini, dan mading sekolah tidak akan selesai ditangan kami. Huft!
Aku lihat umi baru keluar dari kamarnya, dengan cepat aku menghampirinya. “Umi, Umi hari ini dengan Abang Azzam mau keluar lagi tidak?”
“Tidak Nisa, kenapa?”
Aku tersenyum getir. “He-he tidak Umi. Ya udah Nisa mau ke depan dulu,”
Umi menggeleng-geleng melihat menantunya itu. “Nisa, Nisa, masih saja kebawa sifat kekanak-kanakannya, padahal dia sudah SMA, sudah jadi istri orang lagi,” ucap Umi setelah melihat Nisa berlalu.
Aku melirik jam yang melingkar dipergelangan tangan. Jam sudah menujukkan pukul 13.03 WIB. Aku masih mondar-mandir di depan seraya mengigit ujung kuku, tanda cemas.
“Aduh! Gimana ayo Nisa mikir! Mikir! Pukul 13.30 WIB Fey akan menjemputmu di depan gang komplek.”
Aku menepuk-nepuk kepalaku.
Dari kajauhan aku melihat Abang Fandi sedang mendorong motornya, aku berlari ke depan pintu gerbang tanpa mengenakan alas kaki.
“Abang kenapa motornya?”
Abang Fandi memiringkan bibirnya. “Tidak liat ban-nya, kenapa?”
Aku kemudian melirik ke arah dua ban motor Abang Fandi. Bagian ban depan tampak biasa-biasa saja, tidak ada yang salah. Ban belakang yang tampak kempis, sepertinya benar-benar tidak ada anginnya.
“Nah, itu tahu!”
“Ya udah Abang lanjutin geh dorongnya, selamat berjuang,” kataku memberi semangat.
Abang Fandi menggeleng-geleng. “Nggak sekolah?”
Aku menghela berat. “Nisa tau, Abang cape dorong motor dari rumah. Dan bengkel masih beberapa meter lagi. Tapi nggak juga dengan mendorong motor bisa membuat orang menjadi pikun. Ya nggak?” kataku dengan menaik-turunkan alis.
Abang Fandi mengernyitkan dahi.
“Abang, sekarang itu hari Minggu, selama Nisa sekolah dari TK sampai SMA Nisa belum pernah nemuin sekolah yang ngadain kegiatan pembelajaran di hari Minggu. Kecuali ....”
“Husstt!” Abang Fandi memotong seketika. “Itu mulut nggak ada remnya ya. Abang jadi heran, kira-kira betah nggak ya Ustadz Azzam beristri bawel dan cerewet seperti Nisa,” katanya meledek.
“Abang seperti nggak kenal aku aja.” Aku menoleh ke belakang, memastikan kalau di belakangku tidak ada siapa-siapa. “Abang Fandi tau nggak tiap hari Nisa itu dapat ceramah singkat dari dia,” suara aku pelankan.
Abang Fandi tertawa. “Wajarlah, orang pecicilan kayak Nisa, memang butuh siaraman rohani tiap hari supaya insyaf,” ledeknya lagi. “Udah mendingan kamu masuk sebelum dapat ceramah lagi sana.”
“ISHHH! Ya udah sana Abang lanjutin dorong motornya. Bye.”
Kursi rotan berderit-derit saat aku duduk di atasnya. Pandangan mataku terhenyak melihat motor matic-ku masih bertengger di garasi rumah.
drrt..drrtt..
📨Fayzulen
Aku otw, kamu tunggu aku di depan gang rumah ya? Sesuai kesepakatan semalam.
Aku mengela berat, meletakkan handphone di atas meja. Aku duduk bertopang dagu, dengan terus melongo ke arah motor.
Seperti ada sebuah lampu pijar yang menyala terang di atas kepalaku. Aku mendapatkan satu ide.
“Ah! Bodoh kenapa nggak dari tadi coba! Giliran mepet-mepet gini baru dapat ide."
Aku menyeret kakiku ke arah gudang untuk mencari sesuatu yang bisa aku gunakan. Tepat sekali aku menemukan tumpukan paku dalam ember kecil bekas cat rumah. Aku memilih salah satu paku dan membawanya keluar.
Aku tersenyum licik.
“Si Biru maafin aku, ya. Aku terpaksa nyakitin kamu sebentar. Ini demi tugas aku.”
Dengan berutal aku menusuk ban motor dengan menggunakan paku yang panjangnya seperti jari kelingking. Seketika suara desisan angin keluar dari motor membuat ban mengempis dalam waktu hitungan detik. Hingga benar-benar tidak ada angin yang tersisa. Sementara paku dengan sengaja aku tinggalkan di ban, supaya ada alasan kalau ban bocor karena tertusuk paku besar ini.
__ADS_1
Aku kembali masuk ke kamar mengambil catatan kecil. Di leherku sudah menggantung sebuah kamera yang siap diajak tempur. Tangan kanan memegang tripod yang akan digunakan untuk mengabadikan aksi demo di lapangan. Sekarang aku merasa sudah seperti wartawan sungguhan. Dengan penuh percaya diri aku melangkahkan kaki keluar kamar.
“Abang! Abang!” pekikku.
Abang Azzam muncul dari belakang rumah, mungkin habis memperbaiki kebun mini berisi berisi beberapa tanaman, seperti cabe, tomat dan daun soup. Sekiranya hanya itu dapat ditanam di lahan yang tersisa di belakang rumah.
“Abang Nisa mau pergi wawancara sebentar, untuk mengisi buletin mading sekolah minggu ini. Tapi Nisa nggak naik motor ya.”
“Memangnya motor Nisa, kenapa?”
“Kempis, kena paku,” kataku tanpa rasa berdosa.
Ya Allah! Ampuni Nisa karena sudah berbohong dengan Abang Azzam.
“Biar Abang antar.”
“Abang,” kataku dengan senyum pura-pura dimaniskan. “Nisa bukan anak kecil yang mesti dikawal dan di antar kemana-mana!" kataku culas.
Azzam seperti hendak membalas ucapanku, namun aku memotong cepat.
“Kenapa?" kataku menyelidik. “Abang marah? Abang mau menyuruh Nisa supaya bawa mobil? Sini!” tanganku menengadah dengan bola mata memutar malas.
Aku mendekat satu langkah dan berbicara dekat telinganya. “Tapi, awas jangan salahin Nisa kalau nabrak pohon," kataku dengan nada menekan.
Aku lihat napasnya memburu-buru, tangannya mengepal. Kini giliran dia yang mendekat satu langkah ke arahku, dengan keadaan tangan yang berayun ke arah kepalaku. Dalam hati aku berujar, ini sesuatu yang buruk.
Mataku terpejam kuat.
Ini sesuatu yang tidak aku duga. Sebuah kecupan mendarat di keningku.
“Hati-hati di jalan.”
Aku hanya bisa diam membeku. Tidak aku bayangkan sebelumnya, aku kira dia akan memukul ke arah wajahku. Aku seperti di skak mat! tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Kepalaku tertunduk dalam-dalam.
Ya Allah maafkan, Nisa.
Aku menggapai tangannya yang tadi aku lihat mengepal keras, lalu menciumnya. “Abang, Nisa berangkat dulu. Assalamu'alaikum"
Langkah kaki aku ayunkan dengan cepat meninggalkan Azzam yang masih berdiri di ruang tengah. Aku berlari ke luar rumah, dengan membawa ingatan tentang kejadian beberapa detik lalu. Dalam hati aku bertanya-tanya sebenarnya dia tadi benar-benar marah atau tidak? Tapi kalau tidak kenapa napasnya seperti menahan emosi. Tapi kalaupun tidak, kenapa dia tidak melanjutkan tamparannya?
Citttttttttt ...
Bunyi rem motor berdecit kencang. Laki-laki yang membawa setumpukan galon menghardikku.
“Hoy Neng!! Hati-hati dong kalau mau nyebrang jalan. Untung cantik kalau nggak...!”
“Kalau nggak apa? Hah!?” ujarku juga menantangnya tak mau kalah.
Dia membuang putung rokoknya yang hampir habis ke arah sepatuku, lalu menarik tuas gas motornya tanpa berkata sepatah katapun.
“Huh! Dasar beraninya sama cewek doang!” hardikku.
Napasku masih terasa tersengal-sengal sehabis berlari tadi, sekarang aku sudah sampai di muka gang.
“Fey, belum sampai,” ujarku dengan napas setengah habis.
Aku merasa tenggorokanku begitu haus karena habis marathon kecil-kecilan. Mataku melirik ke sebuah minimarket dengan dekat aku berdiri saat ini.
“Mumpung Fey belum datang, mending aku beli minum dulu.”
Lima menit usai Nisa pergi masuk ke dalam Minimarket, terdengar suara deru mesin motor Fey yang berhenti tepat di dekat gang komplek. Fey melihat-lihat ke kiri dan ke kanan. Tapi dia belum mendapati Nisa menunggunya di depan gang. Dia merogoh handphone dari kantong celananya, sekedar untuk mengirimkan pesan kalau dirinya sudah sampai di depan.
Drtt.. drtt...
Aku mendengar dering handphone dari dalam tas kecil, di layar muncul notifikasi pesan dari Fey. Aku yakin dia pasti sudah di depan. Dengan cepat aku melangkahkan kaki menghampiri Fey yang tidak jauh dari tempatku saat ini membeli minum.
“Fey!” pekikku dengan tangan melambai ke arahnya.
Fey menyipitkan mata untuk melihat dengan jelas wanita di seberang jalan.
“Buruan!” teriak Fey dari kejauhan.
***
Suara gemeruh orang-orang memenuhi badan jalan, beberapa dari mereka sengaja memblokade jalan raya agar bisa menyuarakan aksinya. Suara itu terdengar menggebu-gebu dari TOA pengeras suara yang ada di atas mobil bak terbuka. Mereka hanya ingin perjuangkan haknya sebagaimana dalam undang-undang tentang adanya kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat. Agaknya inilah yang coba mereka manfaatkan dengan berlindung dibalik undang-undang. Namun, apakah semua orang yang berkerumun di dalam aksi massa ini benar-benar memperjuangkan idealisme mereka? Atau hanya demi uang?
Aku menatap ke sisi kiri dan kanan jalan. Mereka ada yang menjajakan minuman dan makanan di antara kerumunan massa. Beberapa wartawan sibuk menyiarkan berita secara langsung. Hiruk-pikuk kendaraanpun tetap terlihat di sudut jalanan dengan segala kepentingan dan aktivitasnya. Memang kehidupan orang-orang di jalanan sepertinya tidak pernah sepi. Tidak pernah ada istirahatnya.
Hari ini cuaca begitu panas dan terik, tidak ada tanda-tanda matahari akan mengalah mengundurkan diri. Semangat para demonstran kian menggelora, kamipun begitu juga, tidak mau kalah. Dengan sigap aku memasang kamera di kepala tripod. Sementara Fey, sedang berusaha untuk mencari satu narasumber yang bisa dimintai wawancara terkait aksi demonstran. Dengan sedikit teknik yang aku ketahui tentang masalah pengambilan gambar, aku mulai mencoba menormalkan posisi lensa kamera. Mencari efek bokeh yang tepat dan tajam dengan latar belakang kabur. Sambil menunggu narasumber, aku membidik kondisi sekitar dari balik viewfider dan mulai menjepret dengan asyik.
Tiba-tiba suara seperti benda menghantam kaca terdengar sama-samar, dari arah aksi demonstran. Tidak lama setelah itu suara dentuman demi dentuman menyeringai dibarengi dengan ledakan beruntun di bawah flyover slipi. Beberapa polisi yang bertugas menjaga keamanan berusaha menertibkan massa yang membuat onar. Namun, massa yang lain ikut terpancing emosi. Mereka membalas serangan dengan menghujangkan beberapa kerikil dan batu-batu besar ke arah gedung dan flyover slipi. Orang-orang berhamburan ke sana kemari menghindari lemparan batu dan serangan flyover slipi. Tapi serangan beruntun terus berlangsung hingga beberapa menit.
Aku juga ikut berlari. Tapi tidak tahu harus berlindung kemana, sementara Fey belum juga kembali. Aku berjalan dengan gegap ketakutan di antara kerumunan orang-orang, yang seperti ingin membunuh satu sama lain.
BRUUKK!
Sebuah benda keras menghantam kepalaku. Aku jatuh tersungkur di antara ratusan orang yang berlarian tunggang langgang kesana kemari menghujangkan batu kerikil.
Perlahan aku coba bangun, sambil memegangi kepala yang gelimpungan menahan rasa sakit. Aku melihat bercak darah menetes ke jalan aspal. Pasti kepalaku sudah menguncurkan darah segar, batinku.
__ADS_1
Suhu jalan aspal yang sudah lebih dari 8 jam terpapar matahari begitu panas. Aku merasa kulitku seperti melepuh, terlebih telapak tangan yang terus menapak di aspal demi menopang tubuhku, supaya tidak benar-benar tertidur. Perlahan aku mencoba bangun, tapi sudah tiga kali aku coba tak kunjung berhasil. Aku malah jatuh tersungkur kembali.
Sebuah tangan terulur tepat di depan wajahku. Mataku menatap lurus pada apa yang sedang aku lihat. Tanpa tahu siapa pemilik tangan itu. Masih adakah orang yang peduli di antara para pendemonstran ini?