Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 117. ..... Baby (4)


__ADS_3

Dari ekor mata, aku bisa menangkap langlah Azzam yang menuju ke dinding yang bertempel pembersih tangan sebelum mendekat ke box tempat Faaz berbaring nyaman.


Faaz Nufail Syairazy. Nama yang sangat bagus yang ternyata telah dipersiapkan untuk putranya. Nama yang terdiri atas tiga kata, menyimpan makna besar yang berisi doa dari sepasang orang tua baru.


"Wih, anak abi sudah tidur, Nak?" Azzam membungkuk mengecup dahi Faaz dan menggendong bayi yang tengah terlelap itu.


"Sudah, abi. Sekarang kita pulang ke rumah ya, Nak." Mengusap bibir Faaz yang tengah dalam pangkuan sang ayah. Alhamdulillah, kondisi Faaz semangkin baik, dokter telah mengecek kondisi Faaz dan kami telah mempersilahkan untuk membawa si Faaz pulang ke rumah.


Ruang rawat sudah heboh sejak pagi tadi. Umi Salamah juga membantu menyiapkan keperluan kepulangan kita. Sementara Faaz telah berpindah gendongan ke pangkuan Ibu.


***


Tanpa sepengetahuanku ternyata Azzam sudah menata sendiri kamar untuk di kecil dengan dekorasi berwarna biru terlihat mendominasi. Aku benar-benar takjub apa yang aku lihat sekarang.



"Bagaimana bagus tidak?" ucap Azzam berdiri di sebelahku tenggah menggendong Faaz. "Kalau di rasa kurang pas, biar abi rubah."


"Jangan, ini sangat bagus... Terima kasih ya."


"Sama-sama ibunya Faaz." Azzam memberi kecupan dalam di dahi.


Azzam membawa tubuh Faaz yang pulas dalam pangkuannya ke tempat tidur yang khusus untuk Faaz.



"Masyallah tampan sekali anak abi ya. Cepat besar ya biar ada teman abi buat mengusili bunda." Gelak Azzam yang berdiri di belakangku. Dengan posisi tangan melingkar di pinggang secara sempurna.


"Mulai anak sama ayah kerja sama yang nggak-nggak." ucapku lalu membalikkan tubuh menghadap ke arahnya.


"Bercanda."


Abi Faaz itu balik lagi mendekat pada Faaz, kemudian melihat ke arahku. Seperti dia sedang menemukan sesuatu antara aku dan Faaz.


"Ada apa?" tanyaku.


Ia menggeleng. "Tidak. Abi hanya berusaha melihat kemiripan yang ada di wajah Faaz dengan Nisa."


Aku mendehem. "Iya deh, Faaz itu banyakan mirip abinya. Matanya, hidung."


"Apa iya, sayang. Nggak juga. Bibirnya mirip Nisa. Sungguh abi jatuh cinta dengan Faaz dia begitu tampan kulitnya bersih putih karena ibunya demikian," pujinya menyenangkan hatiku.


Aku beralih menatapnya serius. "Bi...?" panggilku.


"Iya kenapa?" Ia mengalihkan tatapannya dari menatap Faaz.


"Terima kasih ya. Terima kasih karena sudah dengan sabar menghadapi sikap Nisa selama ini, sejak awal pernikahan kita, Nisa tidak pernah memberi kesan yang baik sebagai seorang istri. Selalu menyakiti perasaan abang. Ampuni Nisa karena sebagai seorang istri yang masih banyak kekurangan, begitupun dalam mengurus rumah tangga." Setetes air mata jatuh mengenai pipiku. "Terima kasih selama ini selalu setia dan sabar untuk mendampingi, Nisa."


Beberapa menit ia terdiam, meresapi keadaan yang terjadi saat ini.


"Suami adalah nakhoda dalam rumah tangga. Maka, sudah tugas abang mengarahkan istri anak dalam membina rumah tangga yang sakinah, mawadah dan warahmah." Ia mengambil dua tanganku. "Abang juga ingin mengucapkan terima kasih telah menerima abang dengan tulus. Memberikan buah hati yang sangat manis dan tampan di tengah-tengah keluarga kecil kita. Abang tau peran seorang ibu-lah yang paling berat kala ia harus mengatur segala keperluan rumah tangga, mengurus anak. Semuanya, sayang."

__ADS_1


Kami di dalam ruangan ini langsung berbalut haru, mendekap erat satu sama lain. Sementara keluarga yang lain masih berbenah di luar. Yang pasti mereka masih enggan berpisah dengan cucunya.


***


An-Nashir


Di kamar yang berbau khas bayi mengalun suara murottal qur'an dari salah satu qori muda di Indonesia. Aku memutuskan pandangan ketika suara rengekan menyapa telinga.


"Dingin ya?" ujarku sembari menepuk pelan paha bayi yang hanya mengenakan popok terbaring di atas ranjang. Tubuhnya tersinari matahari yang menerobos kaca jendela. Bayi kecil itu menggeliat dengan mata yang sengaja ditutup.


"Nanti kita berjemur ke samping rumah ya, Nak," kataku mengecup pelan jari jemari Faaz.


"Masyaallah belum pakai baju tapi sudah minum susu ya Nak? iya?"


Aku menoleh ketika Umi sudah duduk di sampingku sembari mengusap lembut pipi Faaz yang berada di pangkuanku. Faaz tengah menyusu. Meskipun hanya sedikit, setidaknya sudah lebih baik daripada kemarin-kemarin yang tidak keluar sama sekali. Sehingga harus dibantu dengan susu formula untuk mencukupi kebutuhannya.


"Ganteng sekali sih cucu Umi, Nak. Pipinya sudah mulai tembem ya?" monolog Umi pada Faaz.


Faaz menangis keras dan menghentikan minum susunya.


"Cup... Cup... Kenapa sayang dingin? Kita pakai baju dulu yuk... "


Aku memberikan Faaz dalam pangkuan Umi. Wanita paruh baya itu membantu meredakan tangis Faaz.


"Azzam sudah berangkat, Mi?" tanya sembari menyiapkan pakaian Faaz.


"Belum, itu masih di luar ya kayaknya," balas umi meletakkan tubuh Faaz di atas tempat tidur.


Dengan cepat umi melesat ke luar kamar dengan langkah terburu-buru. Di sisi lain, tangis Faaz mangkin mengeras. Tak tau apakah dia merasa risih baru bangun tidur atau bagaimana. Aku kembali menggendongnya dalam pangkuanku berusaha menengkannya.


CEKLEK...


Pintu kamar terbuka, Azzam muncul di baliknya. Ia langsung menanyakan perihal Faaz yang tangisnya begitu keras terdengar sampai keluar.


"Biar abi bantu, sayang"


Azzam mengambil alih si kecil, berusaha menenangkannya. Ia mengayun-ayun lemah tubuh Faaz sambil menepuk-nepu bokong Faaz yang masih dalam gendongannya. Alunan senandung sholawat nabi turut menyertai.


Ayah Faaz itu mencium gemas pipi Faaz saat tangisnya mulai mereda. "Kenapa Nak, mau dicium abi, ya. Apa mau ikut abi kerja, Nak?" Sembari menggesekkan ujung hidung ke hidung Faaz yang mungil.


Seakan mengerti, bayi kecil itu menggeliat dengan kedua tangan mungil terangkat ke udara. Tidak tertinggal senyum kecil dari bibir merah itu mencuat membuat Azzam semangkin jatuh cinta.



Faaz melenguh kecil.


"Jangan abi, Faaz macih kecil. Nanti ya calau Dedek Faaznya udah becal," kataku ikut mencium pipi Faaz.


Azzam telah mengenakan pakaian rapi. Ia sudah biasa menyiapkan sendiri segala keperluannya mungkin ia paham kondisiku dan ditambah riwehnya pagi-pagi harus lebih dulu mengurus Faaz. Aku bersyukur memiliki suami yang pengertian dan sigap bahkan ia lebih banyak berperan membantu dan mengurus bayi baru lahir meski ada Umi atau ibu angkatku yang juga ikut andil.


Sudah pukul sembilan pagi, pagi ini ia mengisi mata kuliah umum di kampus tempatnya mengajar.

__ADS_1


"Abi mau berangkat dulu kerja, sayang. Sekarang sama bunda dulu ya. Nanti sore kita ketemu lagi."


Cup.


Kecupan itu dijatuhkan lagi ke putranya.


"Nisa, abang berangkat dulu. Jangan lupa jaga kesehatan ya sayang."


Aku mengangguk dan menerima Faaz kembali. Kita berdua berjalan beriringan hingga teras depan. Tidak lupa ia memberi pesan supaya pangerannya harus menjadi anak baik, tidak rewel.


Azzam menegakkan kembali tubuhnya, lalu melihatku.


Seperti hari-hari biasa sebelum berangkat mencium tangan suami dulu.


"Ada mau pesan makanan nggak waktu abi pulang?" tawarnya.


Aku menggeleng.


Azzam tersenyum dan membawa tubuh merapat demi memberikan kecupan itu di kening. Ia lalu pamit sebelumnya mengucap salam.


Baru dua langkah kaki turun dari teras rumah. Suara lelaki menyapa, pria itu berdiri tegap di depan, bibirnya mengulas senyum lalu mengucap salam.


Azzam membalas salam pria itu perlahan dan lirih. Cukup membuat aku terperanjat, pria itu masih berani menunjukkan wajahnya di depan keluarga kami.


"Untuk apa lagi kamu kesini? Mau menghancurkan rumah tangga kami lagi," kataku dengan muka merah padam.


"Ridho ada kau kemari?" tanya Azzam dengan raut bingung.


Aku melangkah mendekati Azzam, tapi tatapanku belum jua leka dari melihat pria di depan.


"Sayang, hati-hati dia laki-laki jahat yang mau melukaimu dulu," bisiku.


Azzam berusaha bersikap tenang sambil merenggangkan urat-urat lehernya.


Sebuah pemandangan yang tak pernah aku pikirkan dan bayangkan sebelumnya. Belum sempat ia berkata. Sepatah katapun. Pria itu duduk bersimpuh, suaranya terisak memohon maaf sedalam-dalamnya.


"Aku belum sempat memohon maaf bahkan membahagiakan istriku sebelum ia benar-benar pergi dari kehidupanku untuk selama-lamanya. Sungguh itu penyesalan yang luar biasa dalam hidupku. Dan sekarang, dengan perasaan dan hati yang tulus aku memohon maaf pada keluarga kalian karena dulu sempat aku menjadi duri di antara kehidupan rumah tangga berdua. Sekali lagi aku meminta maaf," suaranya tersendat.


Azzam lama menatapku bergantian dengan melihat Faaz. Aku juga melakukan hal demikian, tidak ada alasan sebenarnya untuk menolak permintaan tulus Ridho. Hidupnya mungkin lebih malang kala harus bercerai dengan alm istrinya, Rara juga tak kalah pelak wanita yang dicintainya itu harus lebih dulu berpulang ke karibaannya dalam insiden yang juga melibatkan suamiku.


Azzam membungkukkan badan, mengangkat tubuh Ridho agar kembali berdiri.


"Jangan bersikap demikian, tidak elok dilihat orang. Ayo bangunlah." Suara isakan pelan masih jelas terdengar.


Ridho mengangkat kepalanya, perlahan mulai berdiri tegak kembali.


Azzam menepuk pundak Ridho sambil berujar, "Bro, Allah saja maha pemaaf, apalagi kita sebagai hambanya. Maka, insyaallah saya dan istri sudah memaafkan Mas Ridho sejak saat itu dan kami sudah mengikhlaskan semuanya. Itu mungkin bagian dari ujian untuk menguji kesabaran kita. Begitu dengan keluarga Mas. Semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari kejadian dan masalah yang menimpa kita. Dan tetap memperbaiki diri untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah."


Ridho mengangguk pelan, dengan kepala tertunduk dalam-dalam. "Iya, aku sedikit-sedikit mulai memperdalam agama, dan mengikuti majelis-majelis. Aku ingin merubah masa kelam itu, agar hidupku lebih baik," tulus Ridho.


Bibir Azzam melafadzkan kalimat hamdalah. Rasa syukur karena Ridho yang bertekad untuk lebih memperdalam ilmu agamanya. Jika diminta Azzam, siap untuk ikut belajar agama bersama. Belajar tak mengenal usia. Memperdalam agama tentu keharusan. Tentu Allah sangat senang pada hambanya yang selalu mau untuk terus mendekatkan diri, bermuhasabah diri, supaya hidup berjalan dengan damai dan jiwa terasa tentram.

__ADS_1


________


__ADS_2