
Hawa sejuk pendingin udara menyapa kulit ketika pintu pertama kali dibuka. Umi yang baru masuk membawakan makanan, perlahan mendekati menantunya yang masih terbaring di tengah ranjang. Sebagian tubuhnya tertutup selimut berwarna cream. Dari raut wajahnya dia tampak sudah mulai membaik, tidak seperti waktu pertama kali Azzam membopong tubuhnya ke rumah dengan keadaan bibir memucat.
“Nisa” panggil umi.
“Nisa bangun, Nak.” Umi mengguncang pelan bahu menantunya.
Perempuan bermata coklat itu mulai menunjukkan reaksi. Matanya mengerjap pelan, diikuti gerakan kedua kelopak matanya yang perlahan terbuka, meski nampak terasa berat. Pandangan awalnya sedikit blur saat menatap platfon langit-langit rumah. Tak lama pandangan itu tertuju pada wanita yang duduk di sebelahnya.
“Makan, Nak.”
Gendang telinga pertama kali menangkap suara Umi yang sedang membelai pipinya.
Aku bangun dan beringsut duduk seraya memegangi bagian kening yang terasa sedikit berdenyut. Mataku memandang dalam-dalam wanita paruh baya yang aku panggil umi. Pembawaan umi yang tenang, lembut membuatku selalu merasa nyaman ketika didekatnya. Hal itu terkadang membuat aku rindu dengan ibu kandungku.
“Umi.”
Dia melempar senyum tipis.
“Ayo, makan siang dulu.”
Pandangan mataku tertumpuk pada sarapan yang ditaruh umi di atas nakas. Kemudian pandangan itu aku edarkan lagi ke tepat lain. Aku sadar kalau sekarang aku sedang berada di kamarku sendiri. Tanpa sengaja mata menangkap pantulan bayangan diriku yang masih mengenakan seragam sekolah dari kaca lemarin pakaian. Mataku mengekor ke arah jam beker di atas nakas. Pukul 12.45. Aku menarik mundur ingatanku tentang peristiwa yang terjadi sebelumnya.
“Nisa, apa kamu pikirkan?” Umi membuyarkan ingatanku.
“Umi, bukannya Nisa harusnya di sekolah?”
“Nisa pingsan tadi di sekolah.”
“Terus, kalau pingsan di sekolah. Kenapa tiba-tiba bisa sampai rumah?” tanyaku polos.
“Azzam yang membawa Nisa pulang ke rumah. Kata Dokter di sekolah, Nisa di suruh istirahat di rumah.”
“Kemana abang sekarang?”
“Barusan tadi setelah sholat dzuhur. Dia balik lagi ke sekolah, katanya masih ada jam mengajar. Makannya dia balik lagi.”
Aku mengangguk.
“Nah, makan dulu.” Umi menyodorkan sepiring nasi.
Mungkin makanan itu terasa enak dan lezat dilidah orang sehat. Tapi kali ini aku rasa lambung dan lidahku sedang bekerja sama untuk menolak makanan itu. Benar-benar tidak ada keinginanku untuk makan saat ini. Aku menyambut piring nasi pemberian umi, namun aku taruh lagi di tempat semula.
“Lho kenapa di taruh lagi? Bukannya dimakan?” tanya umi bingung.
“Nisa belum mood makan Umi.”
Umi menghela.
“Apa perlu Umi telepon lagi Azzam supaya dia yang datang untuk menyuapi makan Nisa?”
“IHH! Jangan Umi, masa abang sudah ke sini, balik lagi ke sekolah trus balik lagi ke sini,” ujarku menolak.
“Makannya itu. Dimakan sekarang, sudah itu minum obat.”
Akhirnya aku mengalah dan mengambil kembali makanan yang aku taruh.
“Kalau begitu Umi ke dapur dulu, tadi Umi buat adonan kue soalnya,” tutur Umi, lalu bangkit dari duduknya. “Umi tinggal dulu. Makan yang banyak,” pesannya lagi.
Baru berapa detik Umi memutar balik lagi langkahnya dan berbisik ke telingaku dengan begitu lirih. “Kalau Nisa tau, Azzam sangat mengkhawatirkan Nisa tadi.”
Sekejap tanganku menghentikan suapan.
Umi Salamah beranjak pergi dari kamar. Dengan sedikit bergetar tanganku menaruh kembali piring ke atas nakas. Aku mendesah napas panjang. Pikiran membawaku pada beberapa peristiwa tentang apa yang sudah aku lalui. Tentang Azzam, sikap dan perlakuan Azzam padaku selama ini. Dia laki-laki baik dan akan selalu baik. Terkadang aku berpikir bahwa Azzam harusnya tidak perlu menerima nasib perjodohan ini, ujung-ujungnya dia yang akan tersiksa begitupun dengan aku. Jujur aku menyayanginya, tapi rasa sayang yang hadir itu hanya sebatas saudara kakak dan adik yang saling membutuhkan dan saling melindungi. Terkadang aku merasa tidak pantas untuk disandingkan dengan laki-laki seperti dia, tapi hidup memang tidak selalu berjalan mulus sesuai dengan apa yang kita kehendaki, karena manusia punya Allah yang sudah mengatur skenarionya bahkan mungkin jauh lebih indah dari apa yang manusia inginkan.
Aku membaringkan kembali tubuhku di atas tempat tidur tanpa peduli bahwa peluh mulai mengerayang karena belum mengganti pakaian. Saat ini pikiranku melayang-layang tak tentu arah tentang perasaan yang tak bisa aku jelaskan, tentang sikap yang sulit terurai.
Tiba–tiba ingatanku terlempar kembali pada ucapan Abang Azzam setelah ijab qabul 'saya terima ini semua karena Allah subhanahuwata’ala. Kita ijab qabul maknanya adalah bahwa abang memang ditakdirkan untuk berjodoh dengan Nisa. Itu maksud abang karena Allah. Kalau Allah tidak mengizinkan, tentu kita tidak akan menikah. Abang hanya mau suatu saat nanti Nisa bisa ikhlas. Ikhlas terima abang sebagai suami.'
Ku hembuskan napas lelah. Benar-benar lelah.
Dalam hati aku bertanya, bisakah aku membangun perasaan cinta itu? Bagaimana kalau aku benar-benar tidak bisa. Semua orang mendambakan untuk menikah. Membangun kehidupan rumah tangga sakinah, mawaddah dan warahmah.
Orang-orang selalu memiliki harapan untuk bisa membangun sebuah rumah tangga yang penuh kasih sayang seumpama rumah tangga Rasulullah bersama Khadijah binti Khuwailid, Ummul Mukminin atau manisnya perjuangan cinta seperti yang dirasakan Fatimah Azzahra bersama suami tercintanya Ali bin Abi Thalib. Azzam sudah memperjuangkan perasaannya untuk mendapatkan cinta itu dariku. Aku sadar itu dari sikapnya selama ini.
Arrrgghhh! Pikiran itu semangkin membuatku merasakan nyeri di kepala. Aku menghela napas kasar, lalu menyibak selimutku dengan kasar. Tidak mau berlaru-larut aku bersegera melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Berharap dinginnya air bisa menyejukkan sejenak pikiranku.
***
Berkutat dengan kasur dan selimut hanya akan membuat tubuh semangkin terkulai lemas. Aku harus melakukan sesuatu supaya tidak bosan dan stres. Memang itulah penyakit terparahku yang aku derita sejak dulu.
__ADS_1
Jika aku ingat betapa protektifnya ibu Hamidah, ibu angkatku untuk selalu menyuruhku agar istirahat total pasca kecelakaan motor ketika diboceng Kak Farid─Kak Farid adalah teman bermainku waktu SMP─, tapi bagaimana lagi, aku benar-benar bosan dan tidak bisa menahan diri. Akhirnya dengan keadaan kepala masih diperban dan tangan dipasang arm sling aku meloncat kabur lewat jendela demi bisa bermain dengan teman-teman satu komplek.
Ibu Hamidah yang kebetulan mengecek ke kamar, dan tidak menemuiku di sana, alhasil marah besar. Dia berjalan keliling komplek memanggil-manggil namaku dengan menggunakan TOA supaya aku mendengar panggilannya untuk segera pulang. Aku terkadang menertawakan diriku sendiri jika mengingat kelakuanku dulu ha-ha-ha.
Dan sampai detik ini pun otoritas Bu Hamidah masih mendominasi. Dia selalu seperti mempunyai kuasa besar untuk mengatur hidupku. Salah satu buktinya ya ini. Dia bersikukuh supaya aku menikah dengan Abang Azzam. Sementara Paman Hamzah─ayah angkatku, dia seperti rakyat terjajah selalu ikut ini dan itu kemauan istrinya. Padahal selama ini aku hanya bisa berharap bisa berlindung di balik sifat Paman Hamzah yang lemah lembut.
Aku mengibaskan tanganku untuk menghalau segala kenangan bertapa bandelnya aku diwaktu kecil. Meskipun sekarang sebenarnya masih terbawa sedikit - sedikit.
“Umi. Iya Umi sekarang pasti sedang di dapur. Diakan hobi sekali memasak.”
Sebuah ide datang. Jam segini pasti umi sedang berkutat di dapur. Aku menyeret kakiku menuju dapur. Hari ini aku mau belajar memasak dengan Umi.
“Umi, umi sedang buat apa?” Tanganku melingkar erat di pinggangnya yang tampak masih sibuk mengaduk-ngaduk sayur soup.
“Ini, memangnya Nisa tidak lihat?”
Aku terkekeh.
“Umi setelah itu mau masak apa lagi?” tanyaku dengan melempar-lempar telur ke udara yang aku ambil dari wadah kecil.
“Ih, jangan dilempar-lempar gitu nanti jatuh ke lantai,” seru Umi. “Umi, tinggal mau menggoreng telur ceplok.”
“Biar Nisa, Umi,” kataku menawarkan diri.
Aku mengambil wajan dan memasukkan beberapa sendok minyak makan. Setelah panas, aku mulai memasukkan telur yang diceplok ke wajan. Sekejap suara letupan-letupan kecil muncul tidak lama setelah telur mendarat di dalam minyak mendidih. Meskipun cipratan minyak yang melompat-lompat keluar wajan tidak separah sewaktu aku belajar menggoreng ikan tetap saja membuatku takut. Takut minyak panas itu akan mengenai wajah.
“Umi, ini kayaknya udah masak,” ucapku kepada umi yang sedang menata beberapa lauk yang sudah berhasil di masak tadi.
Umi datang mendekat.
“Iya Nisa, ini udah masak. Nisa bisakan angkatnya?”
Aku mengangguk, pertanda memang aku bisa melakukan apa yang umi perintahkan. Beberapa menit sejumlah makanan yang telah tersaji di meja makan plus dengan telur ceplok yang baru saja aku goreng dengan tenaga ekstra, maklum baru pertama kali aku menggoreng telur jadinya ya ribet sendiri.
“Alhamdulillah akhirnya selesai juga. Umi, makasih ya sudah mau ngajarin Nisa masak. Nisa sayang deh sama Umi,” kataku seraya mencium pipinya.
Bagaimana excited-nya aku lantaran berhasil memasak, untung ada Umi yang mau menjadi gurunya.
“Iya, Umi juga sayang Nisa.”
Umi tidak mau kalah terharunya melihat sang menantu begitu bahagia lantaran sudah berhasil memasak.
“Wa’alaikumsalam,” sahut umi.
“Itu kayaknya Abang Azzam ya Umi?” tanyaku.
Umi menoleh dan memukul pelan lenganku.
“Nisa, sudah sebulan lebih tidur satu kamar dengan Azzam, masih juga belum kenal dengan suara suami sendiri?" Umi mengeleng kepala.
“Umi, mau bantu Nisa nggak?” tanyaku mendekat ke sisi umi yang masih memindahkan sayur soupnya ke dalam wadah kecil.
“Apa?”
“Umi, Nisa mau mengajak Umi untuk bekerja sama,” ujarku seraya menaikkan sebelah alisku.
“Kerja sama, apa?”
“Nisa mau ngerjain Abang Azzam, dengan Nisa bersandiwara pura-pura lupa semuanya, kayak amnesia gitu?”
Umi menoleh dengan tatapan mata terbuka lebar. “Nisa, tidak baik ah ngerjain suamimu begitu!”
“IH! Umi, sekali ini aja, ya?” kataku memohon.
Umi mengangguk, tanda setuju.
Aku tersenyum riang.
“Nisa dengan Umi di sini rupanya,” ujar Azzam yang baru datang dengan keadaan handuk sudah melingkar di lehernya bersiap-siap untuk mandi.
Aku langsung menggambil posisi, dengan pura-pura mengambil nasi dari rice cooker untuk dipindahkan ke dalam wadah. Aku mencuri-curi pandang Abang Azzam sedang berjalan mendekat ke arahku.
“Nisa!” Dia menyapaku dari belakang. “Nisa, bagaimana sudah sehat?”
Aku masih sibuk dengan centong nasi yang aku gunakan untuk mengambil nasi dari rice cooker. Hingga belum menjawab pertanyaannya.
“Nisa?” Dia menyapa sekali lagi.
Aku menoleh. “Kamu tau nama aku?”
__ADS_1
Azzam mengernyit, mencoba mencerna apa yang aku katakan.
“Tau nama? Maksudnya?” Azzam memasang raut bingung.
“Iya, padahal kita baru kali ini ketemu dan bertatap muka tapi kamu sudah tau namaku.”
Mendengar kalimat itu. Aku lihat dahi Azzam membentuk lipatan-lipatan kecil, masih tidak mengerti ucapanku. Azzam memutar balik tubuhku demi dia bisa menatapku leluasa.
“Hei, lihat abang, Nisa itu sudah menikah dengan abang dan menjadi istri abang. Ini buktinya.” Dia mengangkat tangannya yang mana melingkar sebuah cincin di jari manisnya.
Perlahan aku mengangkat telapak tanganku juga.
“Tapi kenapa Nisa tidak punya?” ujarku setelah mengamati jari manisku tidak melingkar cincin sepertinya.
Azzam menghela napas berat.
“Nisa!” ujarnya seraya memegang kedua pundakku. “Nisa memang tidak pernah menggunakan cincin itu karena Nisa .....” Azzam tidak melanjutkan kembali kalimatnya. Tapi dia malah menoleh ke arah Umi.
“Kenapa, apa?” tanyaku jengah.
“Jangan di sini bicaranya. Ayo ikut Abang.”
Tanpa menunggu jawaban yang keluar dari mulutku. Azzam langsung menarik tanganku, membawaku menuju kamar. Aku yang pasrah hanya menurut saja. Azzam menggiringku duduk di tepi ranjang.
“Kenapa kita malah ke sini? Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku tadi?”
Dalam hati sebenarnya aku sedang terkekeh.
Azzam bangkit dari duduknya.
“Astagfirullahaladzim.” Bibirnya senantiasa berlafadzkan zikir.
Dia tampak mengigit ujung jarinya, tanda cemas.
“Bagaimana bisa seperti ini? Tadi dokter Fredy bilang kalau dia baik-baik saja,” gumamnya pelan, meskipun demikian aku masih bisa samar-samar mendengar apa yang dia ucapkan.
Tiba-tiba dia menarik tanganku. “Nisa, kita ke rumah sakit sekarang!”
Aku berdiri dan melepaskan genggaman tanggannya. “Kenapa? Aku baik-baik aja kok. Aku sehat."
Azzam mendudukkan aku kembali di tepi ranjang dan Azzam ikut duduk setelahnya. Aku melihat wajahnya gusar.
“Nisa,” panggilnya seraya menatapku lekat-lekat. Tangannya di arahkan ke keningku. Dia menyingkirkan poni yang menutupi keningku.
Aku hanya diam melihat apa yang dia lakukan.
Sesaat kemudian Azzam menangkup kedua pipiku, mengelusnya pelan dan setelahnya menyatukan dahi kami berdua. Sontak saja perlakuannya itu membuatku terkejut. Irama jantungku mulai berdetak tak beraturan.
Azzam menjauhkan kembali kepalanya. Ia melemparkan pandangannya ke arah lain.
“Abang harus bagaimana, Nisa? Abang harus bagaimana membuat Nisa mengerti bahwa abang menyayangi Nisa. Abang mencintai Nisa jauh sebelum Abang tau kalau kita akan dijodohkan seperti ini."
Azzam menarik napas dan menghembuskannya pelan.
"Awalnya Abang sendiri juga tidak paham tentang perasaan Abang. Abang pergi meratau kuliah dengan membawa perasaan ini sampai abang pulang pun masih tetap membawa perasaan yang sama. Awalnya abang berdoa bahwa jika memang kita berjodoh maka kita akan bertemu dan dipersatukan kembali namun jika tidak maka abang ikhlas dan memohon kepada Allah supaya diberikan jalan yang terbaik,” jelas Abang Azzam yang entah mengapa sukses membuat hatiku berdesir hebat, jantungku bekerja lebih ekstra.
Sekali lagi dia beralih menatap mataku. Sudut bibirnya terangkat, membentuk lengkung senyum tipis.
Cinta? Perasaan cinta? Azzam menyimpan sejak lama perasaan itu bahkan jauh sebelum dia memutuskan untuk kuliah ke Mesir. Tapi aku tidak pernah penyadari perasaan itu. Aku malah biasa saja. Aku kira kami yang selalu bersenda gurau, saling bercanda, saling menjahili satu sama lain, saling peduli satu sama lain. Ya, aku menganggapnya hanya sebatas perasaan cinta dan kasih sayang seorang kakak sepupu laki-laki dengan adik perempuannya. Nggak lebih. Kenapa dia bisa membangun perasaan yang begitu berlebihan, aku terus membatin.
Aku masih diam terpaku, belum merespon apapun.
Pengakuan Azzam membuat aku memandang dia menjadi berbeda. Untuk pertama kalinya aku memandang dia layaknya seorang laki-laki yang ingin mengatakan betapa Azzam sangat mencintaiku.
“Tunggu!” suaraku dengan sempurna mengunci langkah kaki Azzam ketika dia mau keluar kamar.
“Kamu mau kemana?”
“Abang mau keluar, menenangkan diri,” jawabnya dengan memutar kedua matanya ke arah lain.
“Yang kamu tau, apakah wanita ini yang kamu sebut sebagai istri juga mencintaimu?”
Pertanyaanku yang demikian, membuat Abang Azzam memutar balik badannya kembali.
“Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, manis menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat. Abang menganggap cinta adalah rahmat dari Allah yang diturunkan kepada hati manusia. Jika istri abang belum bisa mencintai abang, berarti Allah belum menginginkan rahmat itu tercurah untuk kami.”
Azzam menjeda sebentar. “Tapi abang selalu yakin bahwa sesungguhnya Allah maha membolak-balikkan hati seseorang. Ketika kita mengikhlaskan sesuatu dan berserah mempertaruhkan masa depan kita kepada-Nya. Maka Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik dan janji Allah itu pasti. Abang yakin suatu saat Allah akan menepati janjinya dengan menghadirkan perasaan cinta dari istri abang dengan cara yang jauh lebih indah, lebih indah dari cara abang menghadirkan cinta untuk istri abang.”
Aku diam terhenyak mendengar kalimat yang keluar dari mulutnya. Aku mengunci mulutku. Tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutku tak mampu untuk membalas ucapannya.
__ADS_1