
"Sayang, aku berangkat ke rumah sakit dulu, ya? Kamu belum mau pergi kerja juga?" tanya Rara mendapati suaminya masih menikmati santap paginya.
"Belum Ra. Pukul sembilan nanti aku akan berangkat," ucap Ridho sedang mengoles selai kacang ke roti tawarnya. "Kamu benar nggak mau aku antar, Ra?"
"Nggak usahlah. Aku bawa mobil aja hari ini." Rara mencium tangan suaminya. "Aku berangkat dulu ya sayang."
"Iya. Hati-hati ya. Kalau ada sesuatu atau ada yang perlu hubungi saja aku," pinta Ridho.
"Oke, bos!" Rara memberi hormat.
Ridho tersenyum dan mengusap pelan kepala Rara. "Ya sudah berangkat sang geh, Bu suster cantik!" goda Ridho pada istrinya.
Sekarang hanya Ridho di rumah ini sendirian. Sepi. Ridho menyadari sudah empat tahun pernikahan mereka namun belum juga mereka berdua dikarunai buah hati. Padahal sudah segala cara ia lakukan untuk mendapatkan anak. Seperti program kehamilan, bayi tabung. Namun semuanya berakhir dengan sia-sia, tidak ada yang berhasil. Mereka berdua sudah mengecek pula ke dokter spesialis kandungan, dan sekaligus berkonsultasi. Menurut hasil pemeriksaan keduanya baik-baik saja. Rahim Rara bagus. Mereka berdua dikatakan subur oleh dokter, tidak ada masalah yang berarti. Mungkin Allah saja yang belum hendak memberikan rezeki itu.
Tapi desakan orang tua Ridho untuk segera menimang cucu membuat Ridho menjadi gusar. Dia bahkan sudah menjelaskan semuanya, tapi ibunya nampak tak sabar dan terlalu berlebih menyikapinya. Sampai-sampai terlontar meminta Ridho untuk menikahi wanita lain agar ia bisa segera memiliki anak.
Ketika Ridho diberi tanggapun begitu, membuat hatinya berkecamuk sekaligus bingung. Menikah lagi? Ridho rasa Rara tidak akan mau menanggung nasib sebagai wanita yang mau dimadu. Ia kadang tidak tega melihat Rara, yang menangis saat mendengar permintaan orang tuanya itu. Berkali-kali Rara dan Ridho mencoba untuk saling menguatkan diri. Tapi orang tua Ridho nampak memang tak menyukai menantunya itu sejak awal.
Ridho menyudahi lamunan nasibnya dan pergi ke kamar untuk mengambil ponsel yang tergeletak di meja nakas. Ingin menghubungi rekan satu kerjanya. Namun, ia sadar pinselnya tak berfungsi. Ridho mengacak rambutnya dengan kasar. Saat ia melihat layar handphone-nya pecah.
"Ah, aku lupa. Handphone-ku kan sedang rusak. Akibat wanita sialan itu!" cebik Ridho mengingat kejadian kemarin hari.
Ridho pagi-pagi sudah nampak kesal.
"Arrgg! Brengsek!" teriak Ridho dengan mengupat kesal.
Ia pun membanting dengan keras gawainya yang tak lagi mampu menyala itu ke lantai hingga isinya berhamburan ke lantai. Ada satu hal yang sadari Ridho saat ini dalam dirinya. Ia lebih mudah terbawa emosi sesaat dan bahkan sulit mengendalikan diri.
Napas Ridho masih memburu hebat.
"Dia harus mengganti semua barang-barang ini."
Ridho meraih jaket yang tergantung di dalam lemari dan mengenakannya. Pintu berdebam keras saat Ridho menutupnya dengan kencang. Ia berjalan keluar rumah dengan ekpresi menahan kesal. Ridho ingin menemui Dhanisa. Yang menurutnya patut mengganti barang-barang yang sudah dirusaknya.
***
Dengan mengenakan gamis berwarma mocca dipadu dengan kerudung segi empat yang berwarna senada membuat aku merasa semangkin cantik dan manis.
"Dasar, memuji diri sendiri!" gumamku, menatap pantulan bayangan diriku di depan cermin.
Aku meraih tas toothbag yang akan aku kenakan. Hari ini rencananya aku akan ke panti asuhan. Memberikan bantuan berupa sumbangan tunai untuk anak-anak panti seperti yang Azzam perintahkan semalam. Karena dia tak punya waktu banyak untuk ke panti akhirnya ia menyerahkannya saja kepadaku.
Tanganku menggulirkan layar ponsel mencari nama panti yang aku tuju. Azzam pernah mengirimkan alamat panti itu, dan sekarang aku ingin mengeceknya.
Panti Asuhan Media Kasih. Yah, ini namanya. Aku memasukkan kembali ponsel ke dalam tas dan bersiap untuk berangkat. Aku kembali ke kamar kembali saat aku lupa untuk mengambil kunci motor. Menuju ke panti aku memilih untuk menggunakan motor saja, lebih cepat sampai.
"Oke, aku rasa sudah semua. Sekarang siap berangkat!" tuturku bersemangat.
"Astafirullahaladzim!" Aku meloncat kaget sambil mengelus dada. Ketika pintu pertama kali aku buka, seketika mendapati pria yang berdiri menampilkan wajah muram tak bersahabat.
"Kamu?"
Aku melihat ke sekitar. Aku kira dia datang dengan siapa ke sini. Tapi tidak ada orang, dia datang seorang diri.
"Kamu darimana tau rumah aku di sini?" tanyaku cuek dan malas harus berhadapan lagi dengan pria menyebalkan ini.
"Nggak penting!" balasnya dingin.
"Yang pentinglah, kamu tiba-tiba datang bertamu ke rumah orang. Udah tiba-tiba nonggol lagi nggak ngucap salam atau ngetuk pintu. Kayak setan aja!"
__ADS_1
"Aku kesini nggak mau bertamu ya!" tegas Ridho penuh penekanan.
"Terus mau kamu apa? Cari masalah lagi?"
"Aku mau kamu tanggung jawab!" sergapnya.
Aku berpikir. 'Apalagi yang laki-laki aneh ini katakan. Memangnya aku sudah melakukan apa padanya?' Aku membatin.
"Tanggung jawab apa?" tanyaku tak mengerti.
"Tanggung jawab pada benda yang sudah kau rusak!" Ia mengeluarkan ponsel yang layarnya susah pecah.
Mataku membulat. Yang jelas aku tahu saat ini, rusaknya ponsel itu bukan karena ulahku tapi akibat dia sendiri yang asal menabrak orang. Huft!
"Kenapa kamu minta ganti dengan aku. Yah, jelas-jelas kamu yang salah!"
"Yah kamu lah!" kata Ridho keukeuh tak mau turut disalahkan.
'Hmm! Masalah hanya akan tambah runyam berdebat dengan pria yang tak tahu malu ini. Dasar tidak punya etika!' upatku kesal.
"Terus sekarang mau kamu? Aku nggak punya banyak waktu nih!" Aku melihat jam dipergelangan tanganku.
"Aku mau kamu ganti barang ini!" ucapnya nada menekan tegas seolah perkataannya tak bisa terbantahkan.
Aku menghela napas berat. "Ya udah, ntar aku ganti. Tapi nggak bisa sekarang. Aku harus pergi saat ini."
Aku menutup pintu rumah dan mengguncinya rapat.
"Minggir!" Aku menyenggol tubuhnya kuat-kuat.
"Hey, nggak bisa gitu dong! Semua orang punya urusan. Dan urusan pekerjaan aku juga tertunda karena kamu!"
Mendengar kalimat yang seolah semuanya dilimpahkan kepadaku. Aku menghentikan langkah dan memutar balik badanku.
Ia mendekat dan menarik tangan tanganku menuju mobilnya.
"Kamu harus ikut aku sekarang!"
Aku berusaha merontak dan melepas pegangan tangannya. "Nggak! Nggak mau!"
Ridho menatap tajam. "Katanya kamu mau ganti gawai ini. Ya udah ayok. Aku antar sekarang"
Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. "Memang iya aku bilang begitu. Cuman nggak sekarang juga kalik. Aku harus ke panti sekarang!"
"Oke nggak masalah. Kita ke panti dulu. Setelah itu kita ke Griya Ponsel, untuk kamu mengganti ponsel ku tadi."
Aku mendesis sebal. Pria ini benar-benar si kepala batu.
"Ya udah buruan!"
Pria itu menampilkan raut senyum kemenangan.
"Ayo masuk!" pintanya membukakan pintu mobil depan untukku.
Aku menggeleng. "Nggak. Aku nggak mau duduk depanan sama kamu!" tolakku.
Ridho mengernyit. "Kenapa?"
"Bukan muhrim. Aku nggak mau orang berpikiran lain. Mengingat aku sudah punya suami. Dan kau lun juga sudah punya istri," jelasku.
__ADS_1
Ridho tak ingin mempermasalahkan itu. Ia menutup pintu mobilnya kembali.
"Ya udah. Terserah!" Ia berjalan ke sebelah kemudi mobil. Sementara aku duduk di kursi bagian belakang.
Mobil mulai melaju meninggalkan perumahan dan berjalan keluar area jalanan raya. Tidak ada obrolan yang berlangsung. Aku melihat keluar jendela mobil memandangi apa yang bisa aku lihat tanpa harus memperhatikan Ridho yang aku tahu melihatku dari kaca mobil.
Aku mulai tidak nyaman. Risih.
"Plis. Nggak usah mandangin aku lewat cermin ya!" tegurku.
"Siapa juga!" elak Ridho tegas.
"Kamu mau ke panti mana? Panti jompo? Panti asuhan"
"Panti Asuhan!" jawabku singkat.
"Yang jelas dong! Di sini banyak nama panti panti apa?"
"Panti Asuhan Media Kasih."
Ridho menanggapinya dengan anggukan kecil, sambil tangannya masih memegang kemudi stir dengan santai. Mobil harus rela berhenti ketika di depan lampu lalu lintas berubah berwarna merah, dan angka yang terpampang di monitor mulai berhitung mundur.
"Kamu sendiri di rumah?" tanya Ridho memecah sunyi dimobil.
"Iya."
"Suami?"
"Suami kerja"
"Kerja dimana?"
"Di kampus Islam Negeri Tangerang."
Ridho mengangguk atas jawabku.
"Lha, kamu jam segini. Nggak kerja? Apa kamu pengangguran?" Tanyaku balik.
"Enak aja. Gini-gini, aku juga kerja sebagai staf dikampus juga. Tepatnya staf bagian akademik kemahasiswaan."
"Oh, trus kenapa kamu nggak masuk kerja!"
"Masuk. Tapi agak siang."
"Lho kenapa begitu? Tugas kamu kan memberi pelayanan ke mahasiswa harusnya kamu datang lebih awal dong! Gimana kalau tiba-tiba ada mahasiswa yang ada keperluan untuk mengurus-ngurus KRS."
"Masih ada staf cadangan lainnya, jadi slow aja," jawabnya enteng.
Mobil kembali melaju menyusuri jalanan kota. Kemudian berbelok ke sebuah gang yang tak jauh dari jalan raya. Sekarang kami berhasil menemukan panti asuhan itu, saat melihat plakat besar menempel di depan pintu masuk panti. Mobil Ridho mulai menepi dan terparkir sempurna di perkarangan panti.
Aku segera turun dari mobil.
"Kamu nggak turun?"
Ridho menyandarkan kepalanya ke jok kursi mobil dengan santai.
"Nggak! Aku tunggu di mobil aja. Kamu aja yang kesana. Kan kamu yang ada urusan!" cebiknya.
"Ya udah!"
__ADS_1
Terserah dia saja. Lagi lupa dia tidan ada urusannya yang ada dia hanya membuat moodku hancur.
♥♥♥♥♥♥♥